TEORI Z: BAGAIMANA AMERIKA MENGHADAPI JEPANG DALAM DUNIA BISNIS


TEORI Z

BAGAIMANA AMERIKA MENGHADAPI JEPANG

DALAM DUNIA BISNIS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang

Pendahuluan

William Ouchi, memperkenalkan teori Z pada tahun 1981 untuk mengambarkan adaptasi Amerika atas perilaku organisasi Jepang. Adapun teori Z didasarkan pada perbandingan manajemen dalam organisasi Jepang disebut tipe perusahaan Jepang dengan manajemen dalam perusahaan Amerika yang disebut tipe Amerika.

Berikut adalah perbedaan organisasi tipe Amerika dan tipe Jepang.

  • Para karyawan selalu bekerja berpindah-pindah (short term employment)

Bagi oang Amerika untuk mencari kesempatan, kemajuan dan perubahan karir dengan cara berpindah-pindah diantara majikan dan organisasi merupakan hal yang biasa.

  • Dalam pengambilan keputusan selalu bersifat pribadi (individual decision making)

Umumnya orang Amerika cenderng mempercayai pertimbangan indiviual dan lebih suka membuat keputusan sendiri.

  • Mempunyai tanggungjawab individu (Individual responsibility)

Para pekerja Amerika lebih suka berinisiatif secara pribadi dan memikul tanggungjawabnya sebagai individu dan bukan kelompok.

  • Kemajuan yang cepat (Rapid evaluation and promotion)

Keberhasilan para keryawan diukur dengan cepat dimana para karyawan secara ekonomi dan sosial mendapatkan kemajuan yang cepat, dengan suatu kelebihan.

  • Spesialisasi dalam karir (specialized career paths)

Pada organisasi di Amerika didasarkan pada spesialisasi ketrampilan dan tenaga kerja; karyawan menciptakan intensitas dalam perilaku karir dan mengukir jalur karir

  • Mekanisme pengendalian yang eksplisit (exsplicit control mechanism)

Oraganisasi Amerika memiliki standar dan pengendalian yang eksplisit dalam pekerjaan dan penilaian sehingga para karyawan menginginkan mekanisme pengendalian yang ekplisit serta petunjuk-petunjuk kerja.

  • Perhentian yang terpusat pada karyawan (focus consern for employees).

Perusahaan-perusahaan Amerika cenderung hanya memandang peran karyawan pada pekerjaan mereka dan, memberikan sedikit perhatian secara menyeluruh seperti keluarga, masalah-masalah sosial, kesehatan pribadi dan kesejahteraan umum.

Kalau kita melihat hasil observasi dan penelitian para pakar mereka memenuhi type para pekerja Jepang yang berbeda dengan type Amerika. Adapun Manajemen Tipe Jepang

  • Bekerja seumur hidup (lifetime employment)

Pekerjaan Jepang cenderung melakukan komitment seumur hidup terhadap organisasi mereka, sehingga organisasi memikul tanggung jawab untuk mempekerjakan karyawan seumur hidup.

  • Pengambilan keputusan secara kolektif (collective decision making)

Karyawan dan manajer mencari konsensus keputusan dan mendorong proses pengambilan keputusan secaro kolektif.

  • Tanggung jawab kelompok (collective responsibility)

Masyarakat Jepang lebih suka memproses dan menerima tanggung jawab secara kelompok melalui komunikasi bersama, ganjaran kelompok adalah umum.

  • Kemajuan yang sistematis secara perlahan (evulution and promotion)

Karyawan maju dengan perlahan melalui tingkatan yang telah ditentukan, dimana promosi, loyalitas dan prilaku yang harmonis dipertimbangkan.

  • Perspektif karier umum (non Specialized career paths)

Organisasi Jepang tidak menekankan spesialisasi, akan tetapi lebih menyukai eksibilitas dan pelatihan internal, sehingga mereka dapat menugaskan kembali personel dan mengembangkan keterampilan di antara mereka sebagai anggota­nggota organisasi. Karir dihubungkan dengan organisasi, bukanlah profesi.

  • Sistem pengendalian yang implisit (implicit control mechanism)

Bangsa Jepang selalu menekankan pengendalian mutu (Quality Control) dan metode pengendalian proses, dimana pada kegiatan operasional standar-standar dan kriteria pekerja merupakan tujuan utama dan pengendalian secara implisit sangat tergantung pada keputusan yang terjadi di lapangan.

  • Perhatian holistik terhadap pekerja (Wholistic concern for people)

Organisasi Jepang sangat memperhatikan para pekerja hingga di luar lingkungan pekerja dan membantu pekerja secara menyeluruh dalam berbagai bidang yaitu perumahan, pelayanan untuk kesehatan mental dan fisik, dan sebagainya. Karyawan dipertimbangkan sebagai anggota yang integral dari organisasi total.

Ouchi dalam tulisannya menjelaskan ada perbedaan budaya atau kultur antara bangsa Jepang dan Amerika yang menghalangi para manajer Amerika untuk dapat mengadopsi teknik-teknik Jepang secara menyeluruh hal ini disebabkan para pekerja Amerika suka pindah-pindah kerja, mereka terus berusaha mencari kesempatan, pekerjaan yang baik, dan kemajuan karier dengan berpindah perusahaan sebaliknya pekerja yang cenderung melakukan komitmen seumur hidup terhadap organisasi (perusahaan) yang dimasuki. Walaupun demikian Ouchi juga melihat adanya kesamaan antara praktek-praktek di perusahaan terkemuka Amerika Serikat dan perilaku organisasi Jepang. Sebagai contoh, Hewlett-Packard dan IBM, kekaryaan jangka panjang merupakan norma, walaupun lebih pendek daripada komitmen seumur hidup.

Perusahaan tipe Amerika mempercayai pengambilan keputusan manajemen secara individual, sedangkan perusahaan-perusahaan tipe Jepang sangat mempercayai pengambilan keputusan secara konsensus, akan tetapi ada sejumlah perusahaan­perusahaan Ame rika yang unggul juga proses pengambilan keputusannya “Kolaboratif” mendekati perilaku tipe Jepang.

Berdasarkan observasi yang dilakukan Ouchi adalah unsur yang paling dalam teori Z merupakan gabungan dari konsep hubungan manusiawi dengan teknik-teknik manajemen ilmiah. Perusahaan-perusahaan menurut tipe Z haruslah sangat tanggung jawab secara kolektif, melalui suatu komitmen terhadap pengambilan tulisan partisipatif. Organisasi ini juga memperhatikan kebutuhan individual dan kelompok, akan tetapi secara simultan terus mengembangkan teknik-teknik pengendalian mutu dan metode kerja ilmiah. Gaya manajemennya menggabungkan prinsi-prinsip klasik, ajaran perilaku serta, konsep hubungan manusiawi untuk menekan dan produktivitas.

Teori Z dapat memberi inspirasi kepada para ilmuan karena melihat secara lebih dalam tentang organisasi-organisasi tipe Jepang, dan organisasi tipe Amerika, dan bagaimana organisasi tipe Z dapat bekembang pada masa yang akan datang dan teori ini memperlihatkan besarnya pengaruh budaya terhadap manajemen Jepang dan manajemen Amerika dalam organisasi suatu perusahaan.

 

Pengaruh Budaya Indonesia terhadap Manajemen Indonesia.

Setelah membahas masalah manajemen, budaya, nilai dan sikap secara umum maka dibahas masalah manajemen Indonesia, Apakah manajemen Indonesia sama dengan manajemen gaya Jepang atau Amerika?

Tidaklah mudah membahas manajemen khususnya manajemen Indonesia, sebab perlu melalui dengan penemuan konsep kebudayaan. Dengan demikian kita perlu membahas dan menelaah bagaimana konsep budaya Indonesia. Pertama sekali yang perlu disadari bahwa bangsa indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam yang sering dlsebut dengan “Bhinneka Tunggal Ika”. Adanya berbagai perbedaan budaya atau sistem nilai diantara sesama masyarakat Indonesia sudah tentu akibatkan perbedaan reaksi terhadap unsur-unsur manajemen.

Bila kita tinjau nilai-nilai luhur bangsa Indonesia termuat secara mengkristal dalam Pancasila. Walaupun demikian kita tidak dapat menyebutkannya sebagai manajemen Pancasila karena Pancasila adalah pedoman dan penghayatan seseorang sebagai warga Indonesia sedangkan cakupan manajemen sangat erat kaitannya dengan gaya nimpinan seorang manajer, pengambilan keputusan, hubungan antar manusia dan lainya. Untuk itu dalam menyusun konsep manajemen Indonesia, Pancasila perlu kan lebih rinci dalam nilai dan aturan-aturan yang lebih khusus bagi masing-masing kegiatan, ataupun profesi yang dapat diaplikasikan oleh para Manajer Indonesia sehingga merupakan pedoman bertindak dalam pekerjaan manajemen.

Manajemen Indonesia dalam perkembangannya akan mempengaruhi perkembangan ekonomi dan masyarakat Indonesia yang diharapkan menjadi bangsa mandiri yang bisa melepaskan diri dari berbagai kesulitan hidup yang menerpa bangsa ini sejak tahun 1997 akhir.

Dalam upaya mengembangkan sistem manajemen yang cocok di Indonesia telah dilakukan berbagai seminar, diskusi bahkan penelitian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu penelitian dilakukan oleh Dr. Andrean A. Damandjaja dalam upaya identifikasi sistem manajemen pada masyarakat Indonesia yaitu mengenai pola sistem nilai manajer di Indonesia menyatakan :

Para manajer beranggapan bahwa tempat mereka bekerja cukup penting, yang berorientasi pada hubungan vertikal yaitu pemilik harus dihormati, berpendidikan cukup tinggi, memiliki kesetiaan bersyarat (perhitungan) tergantung dari kepuasan yang diberikan perusahaan, rekan kerja merupakan bagian dari pekerjaan, tidak menganggap bawahannya aset yang harus dijaga sedangkan untuk luar organisasi para manajer tidak merasa perlu terlalu memperhatikan pihak konsumen, masyarakat, sedangkan pemerintah sangat perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor penentu perubahan suatu organisasi.

Kesimpulan

Bila dilihat dari gambaran diatas, profil manajer di Indonesia kurang memperhatikan kepentingan lingkungannya dan masih sangat mementingkan diri atau individunya. Sangatlah pesimis Indonesia dapat bangkit dengan perekonomiannya bila para manajer di Indonesia tidak rnengubah sikap dan sistem nilainya ke arah yang berorientasi sosial.

 

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: