KONSEP MBS


KONSEP MBS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya reformasi dalam dunia pendidikan. MBS juga merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan yang ditandai adanya kewenangan pengambilan keputusan yang lebih luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang relatif tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

Pada hakekatnya MBS adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait langsung dengan sekolah dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

 MBS mengupayakan sekolah menyelenggarakan suatu pendidkan yang lebih baik dan lebih memadai bagi siswa. Adanya kewenangan dalam pengelolaan pendidikan merupakan kesempatan bagi sekolah secara optimal dan fleksibel meningkatkan kinerja staf, mewujudkan partisipasi langsung dengan kelompok-kelompok terkait dan meningkatkan pemahaman terhadap pendidikan.

Secara leksikal menurut Nur Kholis, Manajemen Berbasis Sekolah  (MBS) terdiri dari 3 kata, yaitu manajemen, berbasis dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau azas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat memberikan dan menerima pelajaran. Maka dapat diartikan sebagai penggunaan sumber daya yang berazaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses  pembelajaran.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Management (SBM) merupakan strategi untuk mewujudkan sekolah yang efektif dan produktif, yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhannya. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.

Pelaksanaan MBS di sekolah akan melahirkan rasa tanggung jawab, keterbukaan yang dapat meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan akan memacu siswa lebih berhasil, baik ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga secara kualitatif hasil pembelajaran akan tercapai secara optimal. Dalam MBS sekolah dapat (1) menyelenggarakan, mengupayakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi siswa, (2) meningkatkan kinerja staff, (3) mewujudkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan, (4) pengelolaan sumber daya, (5) mengembangkan kurikulum  lebih luas, dan (6) guru didorong berinovasi.

Dengan demikian menurut penulis konsep dasar MBS adalah penyesuaian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan stakeholder yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu pendidikan di  sekolah.

Menurut Tim Teknis Bappernas dengan Bank Dunia, sebagaimana dikutip Sufyarma, komponen-komponen manajemen berbasis sekolah antara lain:

  1. Manajemen, yang terdiri dari (a) manajemen organisasi/ kepemimpinan sekolah, (b) menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan, (c) mengelola operasional sekolah, (d) menjamin adanya komunikasi efektif  antara sekolah dengan masyarakat terkait (school community), (e) mendorong partisipasi masyarakat, (f) menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab (accountability).
  2. Proses belajar mengajar yang (a) mempromosikan kualitas belajar siswa, (b) menyusun kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan semua siswa, (c) pengajaran yang efektif, dan (d) menyediakan progam pengembangan pribadi siswa.
  3. Sumber daya manusia yang terdiri dari (a) staf personel yang dapat memenuhi kepentingan sisiwa, (b) memilih staf yang berwawasan school based strategies, (c) menyediakan  pengembangan profesi staf, (d) kesejahteraan, dan (e) penampilan sekolah.
  4. Sumber daya dan administrasi yang terdiri dari, (a) mengidentifilasi dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan, (b) mengelola sumber dana, (c) dukungan administrasi, dan (d) mengelola pemeliharaan gedung dan sarana.

Komponen-komponen manajemen berbasis sekolah yang bertujuan untuk peningkatan mutu pembelajaran pada pendidikan dasar dan dikembangkan oleh Depdiknas terdiri dari tiga komponen yaitu:

  1. Manajemen  Sekolah
  2. Peran Serta Masyarakat (PSM). dan
  3. Peningkatan Mutu Belajar Mengajar melalui Peningkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) di SD-MI, dan Pembelajaran Konstektual di SMP-MTs.

Ketiga komponen tersebut sebagai acuan model  yang dikembangkan Depdiknas yang memungkinkan  dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kondisi sekolah, tidak jauh berbeda dengan pendapat yang pertama.

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat, maka sekolah secara legalistik bertanggungjawab kepada pemerintah/ yayasan, namun secara moral bertangungjawab kepada masyarakat.

Sekolah sebagai lembaga publik perlu terbuka terhadap stakeholdernya, sehingga perlu disampaikan informasi mengenai perencanaan melalui Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), pelaksanaan kegiatan, dan penggunaan anggaran. Hakekat dari manajemen sekolah terletak pada pelimpahan wewenang dan tanggungjawab, pengambilan keputusan bersama, transparansi, dan akuntabilitas.

Manajemen sekolah yang menitikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri keterbukaan dan transparansi, pelaksanaannya diawali dari perencanaan sampai dengan pelaporan dilaksanakan secara terbuka. Transparansi pengelolaan pendidikan di sekolah antara lain mencakup 1) pengelolaan keuangan, keterbukaan  dalam pendapatan dan pengeluaran sekolah baik dari pemerintah/ yayasan, donor, maupun dari sumber lain, 2) pengelolaan staf/ personalia  yang mencakup kebutuhan ketenagaan, kualifikasi, kemampuan dan kelemahan, 3) pengelolaan kurikulum termasuk keterbukaan dalam hal prestasi dan kinerja siswa, ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan kurikulum, visi, misi, dan program peningkatan mutu pendidikan.

Akuntabilitas yang disampaikan tidak hanya berupa pertanggungjawaban administrasi keuangan saja, tetapi mencakup pula penggunaannya, dan hasil kinerjanya. Melalui transparansi, pengambilan keputusan, pengelolaan sekolah  harus mempertanggunggugatkan hasil kerjanya kepada pemerintah tetapi juga kepada orang tua dan masyarakat. Keterbukaan dan akuntabilitas sekolah dapat dilakukan dengan melakukan berbagai pertemuan dan rapat dengan komite sekolah atau perwakilan masyarakat dan membeberkan secara terbuka semua persoalan sekolah. Transparansi sulit dilaksanakan tanpa adanya akuntabilitas, sedangkan penerapan transparansi dan akuntabilitas akan melahirkan kredibilitas sekolah di mata masya- rakat.

Menurut penulis dalam menjalankan manajemen sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan dibutuhkan adanya partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas.  Partisipatif dimaksudkan bahwa semua agenda pengembangan dan peningkatan mutu sekolah melibatkan berbagai pihak seperti pengelola sekolah, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang ikut berkepentingan dalam pendidikan, mulai perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Ada transparansi atau keterbukaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pelaporan yang merupakan pertanggungungjawaban pengelola sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dengan adanya partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas maka akan lahir rasa memiliki,  kepercayaan, dan partisipatif dari masyarakat.

Kewenangan dan keleluasan yang diberikan kepada sekolah setelah diterapkan MBS tidak hanya menyangkut peran serta masyarakat dan manajemen sekolah, melainkan juga pada manajemen kelas melalui pembelajaran. Karena apapun bentuk pembaharuan yang dilakukan di sekolah kalau tidak menyentuh  pada kebutuhan pokok belajar, yaitu untuk meningkatkan mutu, proses, dan hasil belajar maka akan sia-sia. Dalam mengelola kelas peran guru sangat penting, oleh karena itu hanya guru yang profesionallah yang dapat menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: