Tafsir ayat Perilaku Manusia


TAFSIR AYAT TENTANG PERILAKU MANUSIA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Surah al-Anfal: 27

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (27)

Terjemah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Mufradat(Kosa Kata)

تَخُونُوا: مصدره خيانة

Merupakan fi’il dari masdar Khianat yang artinya mengkhianati atau menyalahgunakan wewenang.

Analisis Kebahasaan

Maksud dari ayat tersebut adalah hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu sekalian mengkhianati Allah dan Nabi Muhammad dan juga janganlah kamu sekalian mengkhianati kepercayaan yang dipercayakan kepadamu. Apabila kamu sekalian mengetahui bahwa perbuatan khianat itu tidak diperbolehkan.

 

Sabab Nuzul

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lainnya yang bersumber dari Abdillah bin Abi Qatadah yang berkata: “Bahwa turunnya ayat “ Laa Takhunu dts” ini berkenaan dengan Abi Lubabah bin Abd al-Mundzir (seorang muslim) yang ditanya oleh (Yahudi) Bani Quraidhah pada waktu perang Quraidhah: “Apa peristiwa ini?”, DIa memberi isyarat tangannya diletakkan ke lehernya (maksudnya akan disembelih). Maka turunlah ayat ini. Abu Lubabah berkata: “Tiada henti-hentinya kedua tapak kakiku (tak dapat digerakkan), sehingga aku sadar bahwa aku mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dan lainnya yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, bahwa Abu Sufyan keluar dari Mekkah (untuk memata-matai dan mengawasi rencana kaum muslimin). Maka datanglah malaikat Jibril menghadap Nabi dan berkata “sesungguhnya Abu Sufyan berada di sini dan sini”. Maka bersabdalah Rasulullah saw: “sesungguhnya Abu Sufyan berada di sini dan sini, maka keluarlah kalian menuju tempatnya dan tangkaplah ia!” lalu seorang laki-laki munafik surat kepada Abu Sufyan, yang isinya “bahwa Muhammad hendak menyerang kalian, maka berhati-hati dan bersiap siagalah”. Maka Allah menurunkan ayat “Laa Takhunu dst” hadits ini amat gharib di dalam sanadnya dan susunan bahasanya perlu diteliti dengan cermat.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan mengenai tempat yang diberikan kepada kaum muslimin karena mereka takut dengan perilaku orang-orang kafir terhadap mereka yang berupa penculikan dan penganiayaan terhadap mereka. Tempat yang diberikan Allah tersebut adalah kota Madinah. Maka pada ayat ini Allah menerangkan dan menjanji agar orang-orang Islam selalu memegang teguh  atau tidak mengkhianati amanah  yang dipercayakan kepada mereka yaitu selalu beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan tidak membicarakan amanah ini kepada orang-orang kafir. Pada ayat selanjutnya Allah menerangkan konsekuensi yang diberikan Allah kepada orang yang selalu menjaga amanah tersebut.

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu sekalian mengkhianati Allah dan Nabi Muhammad dan juga janganlah kamu sekalian mengkhianati kepercayaan yang dipercayakan kepadamu hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu sekalian mengkhianati Allah dan Nabi Muhammad dan juga janganlah kamu sekalian mengkhianati kepercayaan yang dipercayakan kepadamu.

Khianat merupakan salah satu perbuatan yang tercela yang menjadikan seseorang yang melakukannya tidak dipercaya lagi oleh manusia secara umum. Hal tersebut sebagaimana hadits Nabi sebagai berikut:

عن أبي هريرة، رضي الله عنه، أن رسول الله، صلى الله عليه وسلم، قال: آية المنافق ثلاثٌ: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان متفقٌ عليه.

Tanda-tanda orang munafik itu ada 3, yaitu ketika berbicara berbohong, ketikam janji tidak ditepati, dan ketika dipercaya khianat

Apabila ada amanah maka tidak dilaksanakan Menunaikan amanah adalah salah satu perintah Allah, yang wajib untuk dilaksanakan dan dalam surat al-Mu’minuun dijanjikan Allah dengan surga sebagai balasan bagi mereka yang berlaku amanah. Amanah adalah nilai fitri, yang setiap hati merah manusia, baik Muslim ataupun kafir mengakuinya.  Inilah ciri akhlaq  islami, ciri yang tak dipunyai kaum munafiq.   Di awal masa tegaknya risalah Allah ini, Rasulullah Muhammad telah mencontohkan keharusan menegakkan amanah. Meski dalam keadaan sulit, sehubungan dengan persiapan hijrahke Madinah, Rasulullah tetap menjaga amanah dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau melalui Ali. R.A. Di tengah kondisi yang terjepit dan mendapat incaran para pembunuh bayaran, menjaga dan mengembalikan barang yang di- amanahkan orang lain tetap merupakan hal yang utama.    Inilah diinul Islam.  Dia tegak di atas sendi-sendi aturan “langit”, di atas nilai-nilai luhur, dan berkembang dalam basis fitri kemanusiaan.  Apalah artinya hijrah kalau amanah dilanggar; apalah artinya persiapan teliti untuk suatu perjuangan islam kalau amanah diabaikan ?  Sesungguhnya Islam tegak dan ditegakkan untuk dan melalui nilai-nilai luhur yang datang dari Allah, bukan menegakkan kekuasaan untuk kekuasaan.  Dan bukan pula meraih ke- kuasaan dahulu baru menegakkan nilai-nilai samawi. Sejak panji risalah ini dikibarkan, maka nilai-nilai “langit” ditegakkan di bumi dengan kekuasaan ataupun tidak.  Karenanya dalam titik ini, menegakkan amanah, menegakkan satu nilai islami dalam diri seorang Muslim berarti menegakkan Islam dan memancarkan keharumannya. Inilah agama yang lurus. Islam adalah agama yang mulia.  Hanya dengan kemuliaan dia ditegakkan dan untuk kemuliaan dia tegak. Hanya orang-orang yang berhati mulia ikut dalam barisannya dan tidak untuk mereka yang munafiq.  Maka dalam pemahaman aqidah ini kekuasaan hanyalah alat bukan tujuan, perangkat kekuasaan dan politik adalah sarana bukan ghoyyah. Qiadah (kepemimpinan) muncul dari tegaknya nilai-nilai islami dalam dada setiap Muslim, dan nilai-nilai itu yang ingin ditegak- kan dengan ataupun tanpa kekuasaan dan perangkatnya.  Sesungguh- nya qiadah itu akan muncul dengan sendirinya, manakala kondisi islami telah tercipta.  Ibarat buah, manakala tepung sari sudah menempel pada putik, secara alamiah sunatullah, buah akan muncul perlahan tapi pasti.  Inilah diinul islam dengan misi tunggal rahmattan lil alamiin.

Dari sini, maka khianat itu merupakan perbuatan yang jelek dan tercela sehingga orang yang melakukannya diancam masuk neraka. Khianat bisa berada dalam berbagai konteks dan dalam berbagai keadaan.

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Pokok kandungan yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah:

  1. Larangan mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Hal tersebut dapat terwujud apabila seseorang istiqamah dalam menunaikan kewajiban agama.
  2. Larangan mengkhianati amanah yang diberikan oleh orang lain. Karena hal tersebut akan menyebabkan orang itu tidak akan dipercaya lagi.

Surah al-Nisa’: 133-134

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآَخَرِينَ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى ذَلِكَ قَدِيرًا (133) مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (134)

Terjemah:

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. Barang siapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Mufradat(Kosa Kata)

يُذْهِبْكُمْ :يفنكم

Musnahkan

Analisis Kebahasaan

Jika Allah berkehendak, maka Allah akan memusnahkan suatu kaum dan Ia menggantinya dengan kaum yang lain, karena Ia berkuasa untuk berbuat hal tersebut. Maka jika seorang manusia itu hanya menghendaki pahala di dunia saja ketika ia melakukan amal baik, itu merupakan hal yang sia-sia dan ia sendiri merugi. Karena bagi allah terdapat pahala dunia maupun akhirat.

Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab al-nuzul pada ayat ini.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan bahwa Ia adalah penguasa Langit dan bumi, tidak ada yang bisa menandingi kekuasaannya, Ia juga pemelihara langit dan bumi tersebut. Pada ayat ini yaitu 133, Allah menerangkan salah satu hak kekuasaannya adalah memusnahkan suatu kaum dan menggantinya dengan kaum yang lain. Maka dari itu, hendaklah manusia melakukan refleksi atas perbuatan yang telah diperbuatnya. Pada ayat 134 Allah menerangkan bahwa apabila seorang manusia hanya mengharapkan balasan di dunia karena amalnya, maka ia termasuk golongan orang yang merugi. Ayat tersebut dikemukakan oleh Allah agar manusia tidak hanya berniat untuk dunia dalam beramal dan selalu melakukan refleksi atas perbuatannya

Pada ayat selanjutnya Allah menerangkan salah satu perbuatan yang bisa diniati untuk dunia dan akhirat, yaitu menjadi penegak hukum yang adil.

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Jika Allah berkehendak, maka Allah akan memusnahkan suatu kaum dan Ia menggantinya dengan kaum yang lain, karena Ia berkuasa untuk berbuat hal tersebut. Maka jika seorang manusia itu hanya menghendaki pahala di dunia saja ketika ia melakukan amal baik, itu merupakan hal yang sia-sia dan ia sendiri merugi. Karena bagi allah terdapat pahala dunia maupun akhirat. Dalam ayat lain diterangkan:

…وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآَخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ (145)

….Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(Q.S.Ali Imran/3: 145)

Berdasarkan ayat tersebut, maka manusia harus berniat untuk mencari ridha Allah dalam segala perbuatan baik yang dilakukannya. Karena dengan demikian, maka Allah akan memberikan balasan dunia akhirat kepada amal perbuatan manusia tersebut.

 

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Terdapat beberapa pokok kandungan dari ayat tersebut yang dapat diambil, antara lain:

  1. Kekuasaan Allah Maha besar dan mutlak.
  2. Setiap manusia yang beriman hendaklah berniat tidak hanya untuk dunia ketika melakukan sesuatu.
  3. Setiap orang yang hanya berorientasi pada dunia, maka ia termasuk orang yang merugi.

 

Surah al-Baqarah: 153

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153)

Terjemah:

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Mufradat(Kosa Kata)

الصَّبْرِ:

Sabar adalah suatu perbuatan menahan hawa nafsu.

Analisis Kebahasaan

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dari maksiat dan menjalankan ibadah, dan dengan mendirikan shalat, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, maksudnya selalu mengabulkan doanya dan pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kesabaran.

Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab al-nuzul pada ayat ini.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan tentang orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan perintah kepada mereka agar mereka selalu ingat kepada Allah, maka Allah akan selalu mengingatnya, dan juga perintah kepada mereka agar mereka senantiasa bersyukur kepada Allah dan jangan mengkufuri nikmatNya. Maka pada ayat ini Allah melanjutkannya dengan menerangkan mengenai perintah agar manusia senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan menjalankan shalat. Karena Allah akan mengabulkan permintaan orang-orang yang sabar. Pada ayat selanjutnya Allah menerangkan mengenai keistimewaan orang yang mati di jalan Allah, bahwa mereka tidak mati, namun mereka semua itu hidup, tetapi kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dari maksiat dan menjalankan ibadah, dan dengan mendirikan shalat, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, maksudnya selalu mengabulkan doanya dan pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kesabaran.

Al-shabr dalam pandangan para sufi diantaranya berarti tabah di dalam menghadapi segala kesulitan tanpa ada rasa kesal dalam diri. Sabar juga berarti tetap merasa cukup meskipun realitasnya tidak memiliki apa-apa. Sabar merupakan salah satu dari sekian maqamat untuk menuju kepada ma’rifat billah. Dengan kesabaran seseorang akan menjadi lebih terang hatinya sehingga lebih mudah dalam meyakini keAgungan Allah. Menurut al-Ghazali, sabar itu dibagi menjadi 3, yaitu sabar dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban karena Allah. maksudnya adalah menjalankan kewajiban-kewajiban agama dengan teguh dan tahan uji, tidak akan mundur dan surut walaupun menemui kesulitan dan tantangan, tetap istiqamah dan ikhlas hati, semata-mata mengharap ridha Allah. Sabar menjaga diri dari larangan-larangan Allah, yang dimaksud adalah tetap tidak mau mengerjakan sesuatu yang sudah menjadi larangan agama, berlaku jujur dan tidak mau menyimpang dari tuntunan syari’at Islam adalah termasuk karakter dari orang yang sabar. Sabar bila mendapat cobaan, yang dimaksud disini adalah tetap tabah dan tahan uji apabila dalam hidupnya menemui halangan-rintangan, malapetaka dan penderitaan. Cobaan-cobaan yang dimaksud bisa berupa gangguan kesehatan, krisis ekonomi dan bencana alam dan lain sebagainya.

Dengan kesabaran yang ada pada diri seorang manusia maka mental manusia akan lebih tertata dan siap untuk menghadapi sesuatu yang datang dari luar, baik itu berupa musibah, cobaan dari seseorang atau menjalankan perintah Allah. Hakikat dari kesabaran adalah proses menahan gejolak yang ada dalam hati agar tetap konsekuen dengan apa yang dijalaninya.

Apabila nilai kesabaran sudah mendarah daging pada diri manusia, maka manusia akan mampu untuk berakhlak mulia dalam pergaulan sosial di masyarakat dan tidak tergoyahkan dengan gejolak yang melanda atau terjadi di masyarakat. Anak juga akan mampu menempatkan dirinya untuk berperan di masyarakat.

Dalam ayat yang menerangkan tentang shalat biasanya memakai redaksi lafadh aqim bukan if’al. Hal itu menunjukkan bahwa perintah mendirikan shalat mempunyai nilai-nilai edukatif yang sangat mendalam, karena shalat itu tidak hanya dikerjakan sekali atau dua kali saja, tetapi seumur hidup selama hayat masih dikandung badan. Penggunaan kata aqim tersebut juga menunjukkan bahwa shalat tidak hanya dilakukan, tetapi nilai shalat wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kedisiplinan, ketaatan kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Penegakan nilai-nilai shalat dalam kehidupan merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Allah. Shalat merupakan komunikasi hamba dan khaliknya, semakin kuat komunikasi tersebut, semakin kukuh keimanannnya.

Maka dari itu, realisasi nilai-nilai yang ada dalam penegakan shalat inilah yang perlu dibina dari seorang manusia. Dengan menjelaskan mengenai hikmah yang dikandung dalam ibadah berupa shalat lima waktu tersebut, maka manusia akan mampu menggunakan logikanya untuk berpikir bagaimana seharusnya ia bersikap dan merealisasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-harinya. Maka selanjutnya manusia akan mampu berakhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka dari itu, dapat dikatakan kesabaran dan shalat merupakan sarana penolong manusia dari kesusahan dan sarana mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dengan sabar manusia akan mampu memikirkan hikmah dibalik suatu kejadian yang ditetapkan oleh Allah. Dengan shalat manusia akan mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan Allah.

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut dapat diambil pokok kandungan sebagai berikut:

  1. Perintah untuk sabar dalam segala hal.
  2. Perintah untuk selalu menjalankan shalat dalam keadaan apapun, karena shalat merupakan sarana berkomunikasi dengan Allah.

Surah al-Nisa’: 148

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (148)

Terjemah:

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Mufradat(Kosa Kata)

الْجَهْرَ بِالسُّوءِ: لا يحب أن يذكر بالقول القبيح لأحد من الناس

Maksudnya ucapan yang jelek atau buruk yang keras dan terang-terangan sehingga didengar orang lain.

Analisis Kebahasaan

Allah tidak menyukai perbuatan yang berupa mengucapkan kata-kata buruk yang diucapkan dengan terang dan jelas juga keras kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah mengetahui segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia, karena Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Sabab Nuzul

Dikemukakan oleh Hanad bin al-Sirri di dalam kitab al-Zuhd yang bersumber dari Mujahid. Mujahid berkata: “Turunnya ayat “Laa Yuhibbullaahul Jahra Bissu-I Minal Qauli Illaa Man Dlulima” mengenai seorang laki-laki yang bertemu ke rumah seorang laki-laki Madinah dan menerima perlakuan yang tidak baik, sampai ia pindah dari rumah orang itu. Si tamu itu menceritakan apa yang diperlakukan terhadap dirinya tadi.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan mengenai ketetapan bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia jika manusia tersebut bersyukur dan beriman juga melaksanakan konsekuensi dari syukur dan imannya tersebut. Maka pada ayat ini Allah menjelaskan mengenai larangan berkata kotor dengan jelas dan terang, kecuali bagi orang yang dianiaya, karena hal itu termasuk salah satu perbuatan tidak mensyukuri nikmat Allah yang berupa mulut. Pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan mengenai perbuatan baik yang merupakan lawan dari berkata kotor yaitu mengatakan kebaikan dan juga memaafkan kesalahan.

 

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Allah tidak menyukai perbuatan yang berupa mengucapkan kata-kata buruk yang diucapkan dengan terang dan jelas juga keras kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah mengetahui segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia, karena Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Setiap manusia diharuska melunakkan suara dengan berkata dengan sopan kepada siapa saja, agar tidak menyakiti hati orang tersebut. Karena apabila seseorang berkata keras kepada orang lain, maka secara otomatis orang lain akan tersinggung dan tersakiti hatinya. Bentuk bicara dengan baik ini juga disebutkan dalam al-Qur’an antara lain dalam ayat berikut ini:

…وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)

Artinya:… dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(Q.S. al-Isra’/17:23).

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (5)

Artinya: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. llah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. al-Nisa’/4:5)

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (9)

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. al-Nisa’/4:9)

 

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا (28)

Artinya: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.(Q.S. al-Isra’/17: 28)

Beberapa ayat di atas mengemukakan tentang berkomunikasi atau berkata-kata yang baik dan tidak membuat orang lain marah, yaitu dengan perkataan yang benar, perkataan yang pantas, perkataan yang mulia dan perkataan yang baik. Disamping itu, juga nada bicara seseorang itu juga harus dijaga, karena walaupun bicaranya dengan menggunakan kata-kata yang sopan, namun nadanya keras, maka hal itu juga akan membuat orang lain merasa sakit. Selain itu, raut muka ketika bicara juga perlu dijaga. Jangan sampai seseorang dalam setiap bertemu dengan orang lain menunjukkan raut muka yang masam. Jika dalam bicara atau berkata, seseorang menunjukkan raut muka yang masam, maka orang yang diajak bicara juga akan merasa tidak enak.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam berkata-kata dan berbicara itu terdapat etika yang harus dipenuhi oleh seorang muslim.

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

  1. Hendaklah manusia selalu mengucapkan kebaikan dan mengatakan perkataan yang baik.
  2. Mengatakan perkataan yang jelek dengan keras dan terang-terangan hukumnya haram.
  3. Bagi orang dianiaya terdapat keringanan tersendiri yaitu boleh mengatakan ucapan yang buruk dengan jelas dan terang.

Surah Muhammad: 38

هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ (38)

Terjemah:

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).

Mufradat(Kosa Kata)

يَبْخَلُ

Maksudnya adalah bakhil atau kikir atau pelit.

الْغَنِيُّ

Orang yang kaya yang hartanya banyak dan melimpah.

الْفُقَرَاءُ

Orang-orang yang membutuhkan maksudnya ia tidak mempunyai penghasilan tetap dan penghasilannya tidak mampu digunakan makan untuk satu hari.

Analisis Kebahasaan

Ingatlah, ketika kamu sekalian diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu sekalian ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-Nya; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.

 

Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab al-nuzul pada ayat ini

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan sifat manusia yang gila harta dan kikir dengan harta tersebut. Maka pada ayat ini Allah memerintahkan agar manusia menyedekahkan sebagian hartanya dan tidak bersifat kikir. Karena orang yang kikir akan dibenci oleh Allah dan akan disingkirkan dari muka bumi. Pada ayat selanjutnya Allah menerangkan kemenangan yang diperoleh orang-orang yang selalu mematuhi dan taat atas perintah Allah.

 

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Ingatlah, ketika kamu sekalian diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu sekalian ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-Nya; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.

Dari ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa sesama manusia harus saling tolong menolong dengan mengeluarkan sedekah. Namun hal yang demikian saja sulit dilakukan. Padahal melaksanakan sedekah itu sangat mudah, sebagaimana diterangkan dalam hadits ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ . [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Setiap anggota tubuh manusia wajib disedekahi, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan  lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraanya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah.

Dari hadits itu dapat dipahami bahwa bersedekah itu sangat mudah. Jadi betapa bodohnya orang yang bakhil atau kikir tersebut. Orang tersebut juga merupakan orang yang kufur nikmat.

 

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

  1. Setiap manusia hendaklah mengeluarkan sedekah dari sebagian harta yang ia miliki.
  2. Sedekah bisa dilakukan tidak hanya dengan harta saja.
  3. Janganlah menjadi orang yang kikir sehingga dibenci oleh Allah.

 

Surah al-Isra’: 26-27

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

Terjemah:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

(Kosa Kata) Mufradat

تَبْذِيرًا:

Menginfakkan harta dengan tidak haq atau sia-sia atau boros.

Analisis Kebahasaan

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan berlebih-lebihan. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Sabab Nuzul

Dikemukakan oleh al-Thabrani dan lainnya yang bersumber dari Abi Sa’id al-Khudhri yang berkata: “ketika turunnya ayat Wa Aati Dza al-Qurba dst sampai akhir ayat, Rasulullah saw memanggil Fatimah lalu memberikannya tanah di Fadak (yang beliau peroleh dari ghanimah). Ibn Katsir berkata: Ini Musykil, karena riwayat ini seakan-akan ayat Madaniyah, sedangkan yang masyhur adalah Makkiyah”. Hadits seperti di atas, diriwayatkan oleh Ibn Mardawaih yang bersumber dari Ibn Abbas.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya diterangkan mengenai cara berbuat baik kepada kedua orang tua dengan niat yang tulus serta ikhlas. Maka pada ayat ini dilanjutkan dengan keterangan cara berbuat baik kepada saudara dekat, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dengan cara memberi mereka sebagian harta yang dipunyai. Ayat ini juga menerangkan larangan menghambur-hamburkan harta. Dan ayat selanjutnya yaitu menerangkan mengenai akibat orang yang selalu bertindak semena-mena dengan menghamburkan harta.

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan berlebih-lebihan. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Perbuatan boros itu dibenci oleh Allah dan merupakan salah satu perbuatan setan. Contoh perbuatan boros adalah membelanjakan harta melebihi kebutuhan yang biasanya dibutuhkan. Contoh lain adalah melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Bahasa yang tepat bagi pemboros adalah orang yang menghambur-hamburkan uang.

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

  1. Larangan berlaku boros dan menghambur-hamburkan harta.
  2. Orang yang menghambur-hamburkan uang termasuk golongannya setan.

 

 

Surah al-Baqarah: 109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)

 

Terjemah:

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mufradat(Kosa Kata)

وَدَّ :أحب وتمنى

Senang dan berharap

حَسَدًا: تمني زوال النعمة عن المحسود

Berharap hilangnya nikmat dari orang yang didengki.

Analisis Kebahasaan

Sebagian besar ahli kitab maksudnya orang Yahudi menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu sekalian orang Muslim kepada kekafiran setelah kamu beriman. Hal tersebut dikarenakan dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. Maka umat Islam harus memaafkan segala perbuatan yang pernah mereka lakukan dan membiarkan mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.

Sabab Nuzul

Dikemukakan oleh Ibn Abi Hatim dari Sa’id bin Huzaimah atau ‘Ikramah yang bersumber dari Ibn Abbas, bahwa dahulu Hay bin Ahthab dan Abu Yasir bin Ahthab adalah termasuk orang-orang Yahudi yang paling dengki kepada orang-orang Arab, dengan dalih bahwa Allah telah mengistimewakan mereka dengan munculnya seorang utusan di kalangan mereka. Kedua orang jahat itu dengan penuh kesungguhan menghalang-halangi orang lain masuk Islam semampu mungkin. Maka allah menurunkan ayat tersebut di atas, “Wadda Katsirun sampai akhir ayat” sehubungan dengan peristiwa kedua orang tersebut.

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah melontarkan pertanyaan dan tantangan mengenai konsekuensi orang yang menukar iman seperti halnya umat Nabi Musa. Maka pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Ahli Kitab tetap berkeinginan untuk membuat orang muslim keluar dari agamanya karena kedengkian pada hati ahli kitab tersebut. Maka pada ayat sesudahnya menerangkan cara memperkokoh keimanan, dengan menjalankan shalat, menunaikan zakat dan menjalankan sesuatu yang mendatangkan pahala.

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Sebagian besar ahli kitab maksudnya orang Yahudi menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu sekalian orang Muslim kepada kekafiran setelah kamu beriman. Hal tersebut dikarenakan dengki yang timbul dari diri mereka sendiri. Maka umat Islam harus memaafkan segala perbuatan yang pernah mereka lakukan dan membiarkan mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.

Ayat tersebut jika dipahami dengan integral, maka terdapat larangan untu iri atau dengki kepada orang lain karena hal itu akan menjatuhkan diri orang yang mendengki. Dengki akan menjadikan manusia akan selalu ingin apa yang dimiliki orang lain. Dengki akan mengakibatkan manusia akan selalu berprasangka buruk kepada orang lain dan juga akan menjadikan hidup manusia tersebut tidak tenang. Dengki yang termasuk a’malu assyayiat akan memakan setiap kebaikan yang pernah dilakukan. Jika seorang manusia terus melakukan dengki maka kebaikan yang ia lakukan akan hilang sia-sia. Hal tersebut sesuai dengan hadits berikut:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والحسد؛ فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب، أو قال: العشب رواه أبو داود.

Jagalah dirimu dan dari iri dengki, maka iri dengki memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu kering.

Dan hadits berikut ini:

وعن أبي هيرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث، ولا تحسسوا، ولا تجسسوا ولا تنافسوا، ولا تحاسدوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، وكونوا عباد الله إخواناً كما أمركم. المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يخذله ولا يحقره، التقوى ههنا، التقوى ههنا ويشير إلى صدره بحسب امريءٍ من الشر ان يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرامٌ: دمه، وعرضه، وماله، إن الله لا ينظر إلى أجسادكم، ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم.

وفي روايةٍ: لا تحاسدوا، ولا تباغضوا، ولا تجسسوا، ولا تحسسوا ولا تناجشوا وكونوا عباد الله إخواناً.

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Takutlah kamu dan kepada prasangka, maka sesungguhnya prasangka adalah paling bohongnya cerita, jangan ngrasani, jangan suka buka rahasia, janganlah kamu berlomba-lomba, janganlah kamu mendengki, janganlah kamu suka marah, janganlah kamu bermusuhan, jadilah kamu hamba allah yang dengan menjadi saudara seperti apa yang diperintahkan Allah kepadamu, muslim itu saudaranya muslim, ia tidak menganiaya saudaranya, tidak menghinanya dan tidak merendahkannya, taqwa disini, taqwa disini, sambil nabi memberi isyarah pada dadanya, dengan melihat kejelekan seseorang yang merendahkan saudaranya yang muslim, semua muslim atas muslim yang lainnya haram darahnya, kehormatannya, hartanya, sesungguhnya Allah tidak melihat pada jasadmu dan rupamu akan tetapi Allah melihat pada hatimu dan amalmu.

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa hendaknya manusia saling menghormati dan toleransi kepada orang lain. Janganlah selalu mendengki atau mempunyai perasaan dengki. Karena perasaan tersebut akan membuat hidup manusia tidak tenang.

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

  1. Orang Islam harus mempunyai sifat pemaaf. Karena orang yang pemaaf akan selalu diberi rahmat oleh Allah.
  2. Orang Islam harus toleransi terhadap agama lain, dan menghormatinya.
  3. Orang Islam tidak boleh mempunyai sifat dengki. Karena kedengkian itu ibarat api yang membakar kayu bakar.

 

Surah al-Baqarah: 191

 وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (191)

Terjemah:

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir

 

Mufradat(Kosa Kata)

الْفِتْنَةُ: الشرك منهم, إلقاء الخوف واختلال نظام العَيْششِ.

Fitnah itu adalah kemusyrikan yang ada pada diri orang-orang Arab. Membuat takut dan menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Analisis Kebahasaan

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Namun, jika mereka memerangi kamu di tempat itu, maka bunuhlah mereka. Karena demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Sabab Nuzul

Dikemukakan oleh al-Wahidi dari al-Kalbi dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibn Abbas, bahwa ayat itu turun mengenai peristiwa perdamaian Hudaibiyah. Pada waktu itu Rasulullah dihalang-halangi kaum Quraisy memasuki Baitullah. Kemudian orang-orang musyrik menjanjikan agar beliau pulang dahulu, nanti tahun depan saja menunaikan umrahnya. Ketika Rasulullah dan para sahabatnya mempersiapkan diri untuk menunaikan umrah sesuai dengan perjanjian. Mereka khawatir orang-orang Quraisy tidak menepati janji dan menghalang-halangi mereka memasuki masjid al-haram bahkan memerangi, padahal para sahabat Nabi tidak suka memerangi mereka pada bulan haram. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas.

 

Munasabah Antar Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi orang yang memusuhi dan memerangi mereka, namun dilarang berlebihan dan masih menggunakan etika. Maka pada ayat ini, Allah menerangkan wujud etika dan koridor batas-batas kewajaran dalam berperang, yaitu larangan berperang di Masjid al-Haram dan pada bulan-bulan haram, kecuali jika benar-benar terdesak. Kemudian pada ayat sesudahnya Allah menerangkan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam jika mereka mengadakan gencatan senjata, yaitu juga melakukan gencatan senjata.

 

Penafsiran dengan Hadits dan Ayat yang terkait

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Namun, jika mereka memerangi kamu di tempat itu, maka bunuhlah mereka. Karena demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Ayat tersebut menerangkan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Karena kalau pembunuhan hanya bisa menghilangkan satu nyawa, tapi jika fitnah itu bisa menghancurkan satu negara. Fitnah bisa membuat hati orang yang difitnah akan merasa panas dan akan melakukan segala cara untuk mengalahkan saingannya. Fitnah itu bisa menyebabkan adu domba yang sangat dibenci Rasulullah. Sebagaimana hadits berikut ini:

وعن ابن مسعودٍ رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ألا أنبئكم ما العضه ؟ هي النميمة، القالة بين الناس رواه مسلم.

Apakah aku belum memberimu khabar apa itu adu-adu? Itu adalah adu domba yang menjamur(dengan mengatakan buruk manusia yang satu dengan yang lainnya) antara manusia.

Maka dari itu Nabi Muhammad dalam haditsnya memerintahkan agar manusia selalu menjaga lisannya dan kata-katanya agar tidak menimbulkan fitnah bagi manusia yang tidak berdosa.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب متفقٌ عليه.

ومعنى: يتبين يتفكر أنها خيرٌ أم لا.

Sesungguhnya hamba hendaklah ketika mengucapkan dengan  kata (sesuatu) dipikirkan dahulu apakah itu baik atau tidak karena ia bisa terpeleset ke neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dengan barat.

 

Pokok Kandungan Ayat yang dapat diambil

Dari ayat tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

  1. Larangan untuk saling memfitnah antar manusia
  2. Anjuran untuk menjaga tutur kata dan lisan supaya tidak menimbulkan fitnah yang akibatnya akan menyengsarakan orang yang tidak bersalah.
  3. Larangan untuk berperang pada bulan-bulan haram.
  4. Larangan berperang di tanah haram.

Demikian penafsiran beberapa ayat yang menerangkan perilaku yang mampu penulis kemukakan, apabila terdapat kesalahan itu merupakan kesalahpahaman penulis karena keilmuan penulis belum mampu untuk menggapai itu, dan apabila terdapat kebenaran maka semata-mata itu adalah pertolongan dari Allah.

وبالله التوفيق والهداية والحمد لله رب العلمين

والله اعلم بالصواب

One response

  1. I simply want to mention I am just new to weblog and really savored your web blog. Likely I’m likely to bookmark your blog post . You absolutely have good stories. Bless you for sharing with us your web-site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: