REVIEW BUKU


REVIEW BUKU

 

Judul Buku               :  Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius (IQ + EQ), Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos

Pengarang                : Sudarwan Danim

Penerbit                    : CV.Alfabeta Bandung

Tahun Terbit             : 2010

Jumlah halaman        :  230 Halaman

Pereview                  : Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

 

 

Buku yang ditulis oleh Sudarwan Danim ini terdiri dari dua belas bagian, yaitu tipologi dan sejarah studi kepemimpinan pada bagian pertama, dilanjutkan dengan teori kepemimpinan dan karakter pemimpin efektif pada bagian kedua selanjutnya kualitas pemimpin dan pendidikan kepemimpinan pada bagian ketiga. Selanjutnya pada bagian keempat Danim membahas mengenai menjadi pemimpin yang jenius, pada bagian kelima membahas mengenai performa pemimpin dan kualitas kehidupan kerja, pada bagian keenam membahas gaya kepemimpinan dan perilaku motivasional dan pada bagian ketujuh ia membahas mengenai motivasi dan kunci kepemimpinan motivasional, selanjutnya membahas perilaku tim dan kepemimpinan transaksional,  yang dilanjutkan etika dan proposisi perilaku kepemimpinan pada bagian delapan dan sembilan. Tidak lupa Danim membahas mengenai mitos-mitos kepemimpinan, kepemimpinan guru dan kaderisasi kepemimpinan, pada bagian sepuluh dan sebelas diakhiri dengan kepemimpinan kritis dan sindroma pasca kuasa pada bab terakhir.

Dalam buku ini, penulis menguraikan seputar kepemimpinan dan teori-teorinya mulai dari gaya kepemimpinan, kepemimpinan efektif, motivasional, bahkan mitos kepemimpinan sampai pada kaderisasi kepemimpinan dan kepemimpinan kritis. Penulis melakukan pembahasan secara komparatif, dan hanya mengeksplore teori-teori kepemimpinan juga menjelaskan secara detail, namun tidak mengkritisi kelebihan dan kekurangan masing serta mana teori yang paling update.

Pada bagian pertama yaitu membahas tentang tipologi dan sejarah studi kepemimpinan. Pada bab ini penulis menjelaskan mengenai awal mula kepemimpinan atau babak sejarah kepemimpinan, yang dimulai dengan pemimpin versus pengikut sampai pada penjelasan mengenai studi kepemimpinan modern yang dilakukan oleh para ahli. Di tengah-tengah itu, ada kepemimpinan situasional, multi kepemimpinan, sampai pada kepemimpinan yang efektif yang berkembang pada dekade akhir-akhir ini.

Begitu banyak teori kepemimpinan yang muncul, yang jika ditelusuri dalam beberapa referensi, akan didapatkan delapan jenis teori kepemimpinan, seperti yang disajikan berikut ini:

  1. Teori genetis. Teori ini sering disebut sebagai the great man theory. Teori ini berasumsi bahwa kapasitas kepemimpinan itu bersifat inheren, bahwa pemimpin besar (great leader) dilahirkan, bukan dibuat (leader are born, not made). Teori ini menggambarkan bahwa pemimpin besar sebagai heroik, mitos, dan ditakdirkan untuk naik tampuk kepemimpinan ketika diperlukan. Istilah ”Manusia Besar” digunakan karena, pada saat itu, kepemimpinan memikirkan terutama sebagai kualitas laki-laki, yang lazim, terdapat dalam kepemimpinan militer.
  2. Teori sifat. Serupa konsepsinya dengan teori ”Great Man”, teori sifat mengasumsikan bahwa manusia yang mewarisi sifat-sifat tertentu dan sifat-sifat yang membuat mereka lebih cocok untuk menjalankan fungsi kepemimpinan. Teori sifat tertentu sering mengidentifikasi karakteristik kepribadian atau perilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Tetapi jika sifat-sifat tertentu adalah fitur utama kepemimpinan, bagaimana kita menjelaskan orang-orang yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, tetapi bukan pemimpin? Pertanyaan ini merupakan salah satu kesulitan dalam menggunakan teori untuk menjelaskan sifat kepemimpinan. Di sini pulalah awal  dari prakesimpulan bahwa persoalan kepemimpinan tetap menjadi misteri sampai sekarang.
  3. Teori kontingensi. Teori-teori kepemimpinan kontingensi memfokuskan pada variabel tertentu yang berhubungan dengan lingkungan yang bisa menentukan gaya kepemimpinan yang paling cocok untuk situasi yang cocok pula. Menurut teori ini, tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik dalam segala situasi. Sukses kerja pemimpin dengan kepemimpinannya itu sendiri tergantung pada sejumlah variabel, termasuk gaya kepemimpinan, kualitas pengikut dan situasi yang mengitarinya.
  4. Teori situasional. Teori kepemimpinan situasional mengusulkan bahwa pemimpin memilih tindakan terbaik berdasarkan variabel situasional. Gaya kepemimpinan yang berbeda mungkin lebih cocok untuk pembuatan keputusan jenis tertentu pada situasi tertentu pula. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan guru, tradisi sekolah kita tidak membolehkan guru bertindak keras dalam menghukum siswa. Tapi bagaimana jika siswa bertubi-tubi memukul gurunya atau mengancam dengan senjata tajam, apakah guru akan memelukkan tangan di dada saja atau dimungkinkan bertindak keras secara fisik sekalipun demi sebuah pembelaan?
  5. Teori perilaku. Teori perilaku kepemimpinan (behavioral theory of leadership)  didasari pada keyakinan bahwa pemimpin yang hebat merupakan hasil bentukan atau dapat dibentuk, bukan dilahirkan (leader aremade, nor born). Berakar pada teori behaviorisme, teori kepemimpinan ini berfokus pada tindakan pemimpin, bukan pada kualitas mental atau internal. Menurut teori ini, orang bisa belajar untuk menjadi pemimpin, misalnya, melalui pelatihan atau observasi.
  6. Teori partisipatif. Teori-teori kepemimpinan pastisipatif (participative theory of leadership) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang ideal adalah mengambil prakarsa bagi pelibatan orang lain, sehingga pada setiap pembuatan keputusan, antara pemimpin dan pengikutnya, seperti memiliki rekening bersama, meski jumlah uang disetor ke dalam rekening itu, tidak harus bahkan tidak boleh selalu sama. Ilustrasi ini menggambarkan, meskki partisipatif sifatny, sangat dimungkinkan dan pasti ada yang membersihkan sumbangsih lebih besar. Pemimpin seperti ini mendorong partisipasi dan kontribusi dari anggota kelompok dan membantu anggota kelompok merasa lebih relevan dan berkomitmen terhadap proses pembuatan keputusan. Dalam teori partisipatif, pemimpin memiliki hak untuk mengizinkan masuk dari orang lain.
  7. Teori transaksional. Teori ini sering disebut sebagai teori-teori manajemen (management theories). Teori transaksional (transactional theory of leadership) berfokus pada peran pengawasan, organisasi, dan kinerja kelompok. Dasar reori-teori kepemimpinan ini pada saat sistem ganjaran dan hukuman. Teori-teori manajerial pun sering digunakan dalam bisnis; ketika karyawan sukses, mereka dihargai; dan ketikamereka gagal, mereka ditegur atau dihukum. Karena iti teori transaksional dipandang identik denagn teori manajemen.
  8. Teori transformasional. Teori ini sering disebut sebagai teori relasional kepemimpinan (relational theory of leadership). Teori ini berfokus pada hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin memotivasi dan mengilhami atau menginspirasi orang dengan membantu anggota kelompok, memahami potensinya untuk kemudian ditransformasikan menjadi perilaku nyata dalam rangka penyelesaian tugas pokok dan fungsi dalam kebersamaan. Pemimpin transformasional terfokus pada kinerja anggota kelompok, tapi juga ingin setiap orang untuk memenuhi potensinya. Pemimpin transformasional biasanya memiliki etika yang lebih tinggi dan standar moral.

Teori yang berkembang selanjutnya adalah teori Kurt Lewin, yang menjelaskan tentang gaya kepemimpinan yang terdiri dari gaya kepemimpinan otoriter, gaya kepemimpinan partisipatif dan gaya kepemimpinan delegatif. Teori ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurt Lewin kepada sejumlah responden.

Pada bagian kedua penulis menjelaskan mengenai definisi kepemimpinan, teori kepemimpinan dan karakter pemimpin efektif. Kepemimpinan diambil dari kata pemimpin yang dalam bahasa Inggris disebut leader dari akar kata to lead yang terkandung arti yang saling erat berhubungan: bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, memelopori, mengarahkan pikiran-pendapat-tindakan orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Selanjutnya, penulis akan menjelaskan definisi kepemimpinan menurut para ahli. Definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing sesuatu kelompok sedemikian rupa, sehingga tercapailah tujuan dari kelompok itu. D.E. McFarland mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. J.M.Pfiffner mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Oteng Sutisna mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mengambil inisiatif dalam situasi sosial untuk menciptakan bentuk dan prosedur baru, merancang dan mengatur perbuatan, dan dengan berbuat begitu membangkitkan kerja sama ke arah tercapainya tujuan. Penulis mendefinisikan kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kepemimpinan merupakan misteri yang belum terpecahkan sehingga banyak diteliti oleh banyak pakar. Banyak cabang ilmu yang masuk dalam studi kepemimpinan, sehingga kepemimpinan selalu menjadi fokus penelitian. Awalnya, teori-teori kepemimpinan berfokus pada kualitas apa yang membedakan antara pemimpin dan pengikut (leaders dan followers), selanjutnya teori-teori kepemimpinan memadang faktor-faktor situasional dan ketrampilan individual. Begitu banyak teori kepemimpinan yang muncul, yang jika ditelusuri dalam beberapa referensi, akan didapatkan delapan jenis teori kepemimpinan. Ciri atau karakteristik seorang pemimpin yang efektif dikelompokkan menjadi dua sifat penting, yaitu mempunyai visi dan bekerja dari sudut efektifitas mereka. Berikut ini adalah perincian pendapat Hodge tentang sepuluh karakteristik pemimpin yang efektif.

  1. Memiliki misi.
  2. Pemimpin yang efektif memiliki fokus untuk mencapai tujuan-tujuan yang akan membuat misi menjadi kenyataan.
  3. Pemimpin yang efektif memenangi dukungan untuk visinya dengan memanfaatkan gaya dan aktivitas yang paling cocok untuk mereka sebagai individu.
  4. Pemimpin yang efektif secara alami lebih terfokus untuk menjadi daripada melakukannya.
  5. Pemimpin yang efektif secara alami tahu bagaimana mereka bekerja paling efisien dan efektif.
  6. Pemimpin yang efektif secara alami tahu bagaimana memanfaatkan kekuatan mereka untuk mencapai tujuan.
  7. Pemimpin yang efektif tidak mencoba menjadi orang lain.
  8. Pemimpin yang efektif secara alami mencari orang-orang dengan berbagai ciri efektifitas alam.
  9. Pemimpin yang efektif menarik orang lain.
  10. Pemimpin yang efektif terus mengembangkan kekuatan dalam rangka memenuhi kebutuhan baru dan mencapai tujuan yang baru.

Pada bagian ketiga, penulis menjelaskan mengenai kualitas pemimpin dan pendidikan kepemimpinan. Pemimpin haruslah berkualitas supaya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Kualitas seorang pemimpin terletak pada kepribadiannya. Pemimpin harus mempunyai pribadi yang luhur supaya dapat memimpin dengan baik dan mengambil kebijakan dengan tepat. Maka dari itu, untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan pendidikan kepemimpinan, yang biasanya dilakukan melalui pendidikan-pendidikan khusus, dan diklat kalau di Indonesia.

Pada bagian keempat, penulis menjelaskan mengenai pemimpin yang jenius. Pemimpin yang ketika mengambil keputusan menggunakan IQ dan EQ nya. Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Jika seorang pemimpin mempunyai hal tersebut, maka seorang pemimpin akan mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Pada bagian kelima, penulis menjelaskan mengenai performa kepemimpinan dan kehidupan kerja. Performance kepemimpinan sering diartikan sebagai penampilan atau perilaku  kinerja kepala madrasah dalam mempengaruhi perilaku bawahan atau pengikut-pengikutnya. Jika seseorang dalam posisi sebagai pimpinan didalam sebuah organisasi atau perusahaan, dan menginginkan pengembangan staf dan membangun sistem komunikasi untuk menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi, maka yang bersangkutan harus memikirkan performance kepemimpinannya. Performance kepemimpinan merupakan bagian gaya perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Dengan performa kepemimpinan yang baik, maka seorang pemimpin akan bisa melahirkan kehidupan kerja yang baik dan kondusif.

Pada bagian keenam, penulis menjelaskan mengenai gaya kepemimpinan dan perilaku motivasional. Mulai dari teori X dan teori Y, studi Ohio, sampai pada teori EGR. Gaya dalam bahasa lainnya adalah tipe. Tipe kepemimpinan membawa diri sebagai pemimpin membawa diri sebagai pemimpin. Cara ia berlagak dan tampil dalam menggunakan kekuasaannya. Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian sendiri yang unik dan khas sehingga  tingkah laku dan gayanya yang membedakan dirinya dengan orang lain. Tipe kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan. Cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk tipe kepemimpinannya. Secara teoritis telah banyak dikenal tipe kepemimpinan, namun tipe mana yang terbaik tidak mudah untuk ditentukan. Gaya kepemimpinan sangat erat dengan motivasi.

Pada bagian ketujuh, penulis menerangkan mengenai motivasi. Motivasi adalah kecenderungan (suatu sifat yang merupakan pokok pertentangan) dalam diri seseorang yang membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-tanduknya. Motivasi meliputi faktor kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan tingkah laku manusia. Motivasi secara umum didefinisikan sebagai inisiasi dan pengarahan tingkah laku dalam pelajaran motivasi sebenarnya merupakan pelajaran tingkah laku. Sedangkan motif adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai (penulis). Perbedaan pengertian keinginan (want) dan kebutuhan (needs) adalah keinginan (want) dari setiap orang berbeda karena dipengaruhi oleh selera, latar belakang, dan lingkungannya, sedangkan kebutuhan (needs) semua orang adalah sama. Misalnya, semua orang butuh makan (needs), tetapi jenis makanan yang diinginkannya (want) tidak selalu sama tergantung pada selera masing-masing individu. Hal inilah yang menyulitkan manajer untuk memberikan alat motivasi yang tepat bagi setiap individu bawahannya.  Motivasi itu tampak dalam dua segi yang berbeda. Pertama, kalau dilihat dari segi aktif dan dinamis, motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan daya serta potensi tenaga kerja, agar secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Kedua, jika dilihat dari segi pasif dan statis, motivasi akan tampak sebagai kebutuhan sekaligus sebagai perangsang untuk dapat menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan potensi serta daya kerja manusia tersebut ke arah yang diinginkan. Keinginan dan kegairahan kerja dapat ditingkatkan berdasarkan pertimbangan tentang adanya dua aspek motivasi yang bersifat statis. Aspek statis yang pertama tampak sebagai kebutuhan pokok manusia yang menjadi dasar bagi harapan yang akan diperoeh lewat tercapainya tujuan organisasi. Aspek motivasi statis kedua adalah berupa alat perangsang atau insentif yang diharapkan dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pokok yang diharapkan.

Pada bagian kedelapan, penulis menjelaskan kepemimpinan transaksional dan transformasional. Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah seorang yang men-design pekerjaan beserta mekanismenya, dan staf adalah seseorang yang melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan dan keahlian. Kepemimpinan transaksional lebih difokuskan pada peranannya sebagai manajer karena ia sangat terlibat dalam aspek-aspek prosedural manajerial yang metodologis dan fisik. Dikarenakan sistem kerja yang jelas merujukkepada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat pengorbanan dalam pekerjaan maka kepemimpinan transaksional yang sesuai diterapkan ditengah-tengah staf yang belum matang, dan menekankan pada pelaksanaan tugas untuk mendapatkan insentif bukan pada aktualisasi diri. Oleh karena itu, kepemimpinan transaksional dihadapkan pada orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi sandang, pangan, dan papan. Teori tentang kepemimpinan transformasionl atau inspirasional didasarkan pada ide dari Burns (1978), tetapi telah ada lebih banyak penelitian empiris mengenai versi dari teori yang diformulasikan oleh Bass (1985,1996) dari pada versi lainnya, Yukl ( 2001:304-305). Inti dari teori itu adalah perbedaan antara kepemimpinan transformasional dan kepeimpinan transaksional. Kedua jenis kepemimpinan itu didefinisikan dalam hal perilaku komponen yang digunakan untuk mempengaruhi para pengikut dan pengaruh dari pemimpin kepada para pengikut.

Bagian kesembilan dari buku ini menjelaskan mengenai etika dan proposisi perilaku kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mempunyai etika dalam melakukan kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang mempunyai etika biasanya lebih dihormati daripada pemimpin yang tidak beretika. Pada bagian kesepuluh, penulis menjelaskan mengenai mitos-mitos kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli. Mitos tersebut bisa menjadi teori kepemimpinan dan biasanya ditakuti oleh seorang pemimpin.

Pada bagian kesebelas, penulis menjelaskan mengenai kepemimpinan guru dan kaderisasi kepemimpinan. Guru juga merupakan seorang pemimpin di dalam kelas. Karena guru adalah pengendali kegiatan di dalam kelas. Kader sendiri dalam  istilah ketentaraan  memiliki arti sebagai perwira atau bintara; orang yang diharapkan akan memegang pekerjaaan penting dalam pemerintahan atau partai. Dalam pengertian lain juga diartikan sebagai calon atau tunas yang didik untuk melanjutkan tongkat estafet partai atau organisasi. Mengacu pada definisi di atas tentu pengertiannya tidak terbatas pada lingkup kemiliteran atau politik semata, tetapi berlaku juga secara umum termasuk pada lingkup lembaga pendidikan. Disamping itu juga diharapkan organisasi dapat bertahan dalam waktu cukup lama, dan tidak bersifat ad-hoc dalam mengemban visi dan melaksanakan misinya. Prinsipnya, kaderisasi merupakan upaya regenerasi yang dilakukan oleh suatu organisasi untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin handal dalam melaksanakan visi dan misi organisasi ke depan

Penulis juga menjelaskan mengenai perbedaan pemimpin dan manajer, yang disingkat sebagai berikut:

Perbedaan Pemimpin, Ketua, Kepala dan Manajer

Aspek Perbandingan

Pemimpin

Ketua

Kepala

Manajer

Pemilihan

Dipilih oleh jamaah berdasarkan pengakuan spontan dari anggota-anggotanya Terpilih karena suatu sistem dan bukan pengakuan spontan Dipilih oleh sistem dan tidak ada penentuan dari anggota Dipilih melalui pengangkatan

Sasaran

Bekerja untuk mewujudkan sasaran yang dimandatkan anggota Bekerja untuk mewujudkan target yang dipilih secara pribadi dalam batas-batas kepentingannya Target yang baku ditentukan oleh pihak ketiga dan pribadi dalam batas kepentingannya. Targetnya meraih keuntungan materi atau kedudukan

Anggota

Para anggota memilih pemimpin dan menjadi pengikutnya Para bawahan bukan pengikut karena tidak menerima otoritas berdasarkan kemauan mereka Bawahan hanya melaksanakan perintah yang bersifat kedinasan dan tidak mengikuti semua kemauan kepala Anggota-anggota bukan sebagai pengikut.

Otoritas (kekuasaan)

Otoritas pemimpin merupakan pilihan spontan dari pihak anggota Otoritas pimpinan datang dari luar anggota Otoritas pimpinan datang dari atasan kepala tersebut atau pihak ketiga Terkadang dipilih dari anggota yang paling tua atau lebih senior

Hubungan

Seorang pemimpin bekerja dengan cara melebur dan berbaur dengan para pengikutnya Terdapat jurang dan jarak sosial yang memang disengaja antara ketua dan anggota Terdapat jurang dan jarak sosial yang memang sengaja dibuat antara kepala dan bawahan Hubungan diatur oleh program-program (proyek-proyek) dan terikat dengan pekerjaan

 

Demikian perbedaan elemen penting dari pemimpin, ketua, kepala dan manajer. Antara ketua dengan kepala itu hampir sama atau bisa dikatakan sama, hanya beda penyebutan saja.

Pada bab terakhir, penulis mengemukakan tentang kepemimpinan krisis dan sindroma pascakuasa. Kepemimpinan krisis adalah kepemimpinan pada saat-saat krisis. Sedangkan sindroma pascakuasa adalah sindrom yang biasa diderita oleh bekas pemimpin. Hal ini dijadikan penutup dan pembahasan akhir buku ini supaya buku ini runtut dan menarik ketika dibaca.

Kelebihan buku ini adalah walaupun buku ini ringkas, namun bisa mendeskripsikan teori-teori kepemipinan bahkan sampai pada mitos kepemimpinan dengan sangat detail dan gamblang. Buku ini cocok untuk pegangan para pemerhati organisasi dan juga seorang pemimpin bahkan seorang mahasiswa sekalipun yang mengikuti mata kuliah kepemimpinan pendidikan karena bahasanya mudah dipahami dan enak dimengerti. Di samping itu, buku ini juga dilengkapi dengan bagan yang bisa digunakan untuk membantu memahami narasi yang dikemukakan.

Sedangkan sisi kelemahan dari buku ini (dengan tidak mengurangi rasa penghargaan dan apresiasi yang tinggi terhadap buku ini) adalah, karena judulnya mengandung kata pendidikan, maka mestinya semua paparan teori tentang kepemimpinan tersebut ditarik ke dalam dunia pendidikan. Namun, dalam buku ini teori kepemimpinan dinarasikan secara umum tanpa diambil benang merah ke dunia pendidikan atau organisasi pendidikan.

Demikian review yang bisa penulis uraikan, buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca, khususnya di kalangan civitas akademika dan juga para pemikir intelek untuk bangkit menggali kembali khasanah teori-teori kepemimpinan dengan melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang studi kepemimpinan. Karena diharapkan masih ada pengembangan-pengembangan keilmuan tentang kepemimpinan. Demikian, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: