Monthly Archives: July, 2013

KONSEP DASAR PENILAIAN KELAS


KONSEP DASAR PENILAIAN KELAS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.  Pengertian Penilaian Kelas

Penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari siswa.
Salah satu prinsip penilaian berbasis kelas yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan siswa. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar siswa yang diajarnya. Selain itu siswa yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.

Prinsip penilaian berbasis kelas lainnya yaitu: tidak terpisahkan dari KBM, menggunakan acuan patokan, menggunakan berbagai cara penilaian (tes dan non tes), mencerminkan kompetensi siswa secara komprehensif, berorientasi pada kompetensi, valid, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, dan mendidik. Penilaian tersebut dilakukan antara lain meliputi: kumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (product), penugasan (project), unjuk kerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Setelah melakukan serangkaian penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip di atas, maka orang tua siswa akan menerima laporannya secara komunikatif dengan menitik beratkan pada kompetensi yang telah dicapai oleh anaknya di sekolah.

Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan masing-masing.

Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.

Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.

 

B.  Manfaat Penilaian Kelas

Manfaat penilaian kelas antara lain adalah:

  1. Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung.
  2. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
  3. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
  4. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
  5. Untuk memberikan piliha alternatif penilaian kepada guru.
  6. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.

 

C.  Fungsi Penilaian Kelas

Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut:

1.   Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.

2.   Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).

3.   Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.

4.   Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

5.   Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

D. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas

1.   Validitas

Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, misalnya kompetensi ” mempraktikkan gerak dasar jalan.”, maka penilaian valid apabila mengunakan penilaian unjuk kerja. Jika menggunakan tes tertulis maka penilaian tidak valid.

2.   Reliabilitas

Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal, guru menilai dengan unjuk kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan unjuk kerja  dan penskorannya harus jelas.

3.  Menyeluruh

Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar. Penilaian harus menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil  kompetensi peserta didik.

4.   Berkesinambungan

Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu.

5.  Obyektif

Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam  pemberian  skor.

6.   Mendidik

Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

E. Penilaian Hasil Belajar Masing-masing  Kelompok Mata Pelajaran

  1. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:

1).  Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai   perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik

2).  Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik

  1. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai
  2. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik.
  3. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui:

1).  Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai  perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2).  Ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

 

F.   Rambu-Rambu Penilaian Kelas

Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya:

   Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu.

   Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.

   Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.

   Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.

   Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik.

   Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

   Mendidik dan meningkatkan mutu proses pembelajaran seefektif mungkin

 

Melakukan Penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis, observasi atau lainnya.  Ulangan tengah semester dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa kompetensi dasar, sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun)

Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya)

G.  Ranah Penilaian

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penjabaran dari stándar isi dan stándar kompetensi lulusan. Di dalamnya memuat kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masing-masing mata pelajaran.

Muatan dari stándar isi pendidikan adalah stándar kompetensi dan kompetensi dasar. Satu stándar kompetensi  terdiri dari beberapa kompetensi dasar, dan setiap kompetensi dasar dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil relajar yang dirumuskan atau dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sekolah/daerah masing-masing.  Indikator-indikator yang dikembangkan tersebut merupakan acuan yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi dasar bersangkutan.

Teknik penilaian yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik indikator, standar kompetensi dasar dan kompetensi dasar yang diajarkan oleh guru. Tidak menutup kemungkinan bahwa satu indikator dapat diukur dengan beberapa teknik penilaian, hal ini karena memuat domain kognitif, psikomotor dan afektif.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

RAMADHAN DAN REFORMASI DIRI


RAMADHAN DAN REFORMASI DIRI

Oleh: Muhammad Fathurrohman

Reformasi merupakan kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga bangsa Indonesia. Walaupun, nampaknya sampai sekarang kata reformasi kini seakan hampir usang kedengarannya, namun umat Muslim tiap waktu tidak boleh berhenti melakukan upaya-upaya reformasi. Sebab umat Islam memiliki spirit reformasi dari kaidah : “ Al-Muhafadhoh ‘Ala  Al- Qodim Al-Shalih  Wal Akhdzu Bi  Al-Jadid  Al-Ashlah ”. ( Memelihara tradisi lama yang baik dan terus berusaha tanpa henti untuk mencari berbagai hal baru yang lebih maslahat lagi ).

Pertama kali kehadiran Islam di muka bumi ini yaitu ditandai dengan kelahiran Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat jahiliyah dan watsaniyah. Bukankah masyarakat Arab dahulu adalah masyarakat Watsaniyah ( memuja berhala ) ? Namun kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan membawa wahyu al-Qur’an, membawa perubahan  masyarakat Arab yang Watsaniyah dan jahiliyah itu menjadi masyarakat yang berakidah dan bertauhid kepada Allah SWT. Bukankah masyarakat Arab dahulu adalah Jahiliyah  ( sering melakukan tindakan bodoh ) ? Namun berkat kedatangan Nabi Muhammad SAW mereka berubah menjadi masyarakat yang penuh hidayah, sehingga negerinya pun menjadi  baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur; Negeri yang baik penuh dengan ampunan dari Allah SWT. Walaupun juga tidak menutup kemungkinan dengan keikutsertaan doa Nabi Ibrahim AS.

Kemuliaan Ramadhan sebagai bulan suci  adalah karena di dalamnya terjadinya pewahyuan al-Qur’an sebagai kitab suci, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam   al-Qur’an ( QS.Al-Baqarah:185 ).

Pewahyuan al-Qur’an sesungguhnya juga merupakan pengangkatan secara formal kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Karenanya, ketika Ramadhan hadir kembali setiap Muslim beriman merasakan seolah-olah al-Qur’an itu kembali diwahyukan dan seolah-olah Nabi Muhammad kembali memberikan tuntunan bagi umat di tengah semarak aktivitas Ramadhan yang suci.

Telah menjadi sunnatullah, bahwa para Rasul dipilih untuk mengemban amanah melakukan perbaikan umat adalah orang-orang pilihan yang memiliki sifat-sifat terpuji : shiddiq, amanah, tabligh, fathanah, serta uswatun hasanah. Nabi mampu mengubah perilaku masyarakat Arab Jahili dan Watsani adalah karena keteladanan beliau dalam kejujuran. Rasulullah semula terus dimusuhi namun kemudian menjadi satu-satunya pemimpin yang ditaati masyarakat Arab adalah karena keteladanan beliau dalam mengemban amanah. Kepercayaan dan simpati masyarakat Arab kepada Rasulullah semakin kokoh adalah karena beliau mampu melakukan tabligh; menyampaikan segala sesuatu yang seharusnya disampaikan secara terbuka, apa adanya dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Hal itu dapat dipahami karena beliau jujur sejak awal dalam mengemban amanah kepemimpinan. Upaya-upaya perbaikan masyarakat Arab yang dilakukan Rasulullah senantiasa tepat sasaran dan hasilnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat adalah karena beliau memiliki fathanah; kecerdasan yang membuat beliau memiliki kepekaan sosial berkualitas tinggi.

Keteladanan Rasulullah dalam hal kejujuran, mengemban amanah, keterbukaan dan kepekaan sosial berkualitas tinggi tersebut ternyata mampu membawa perbaikan luar biasa bagi masyarakat Arab. Masyarakat yang semula dikenal Jahiliyah itu berubah menjadi sosok masyarakat yang penuh dengan hidayah. Potret masyarakat Arab yang dahulu memuja berhala itu kemudian berubah menjadi masyarakat bertauhid kepada Allah SWT. Ini semua sesungguhnya merupakan ibrah (pelajaran penting) bagi para pemimpin negeri ini, bahwa reformasi ( perbaikan ) Indonesia hanya akan berhasil jika dimulai dari para pemimpinnya. Para pemimpin yang dijamin berhasil dalam program dan gerakan reformasi adalah jika para pemimpin itu memiliki keteladanan dalam kejujuran, keteladanan dalam mengemban amanah, keterbukaan dalam mengelola negara dan pemerintahan serta keteladanan dalam kepekaan sosial hakiki, bukan kepekaan sosial palsu penuh basa-basi.

Dengan pemahaman bahwa ketika Allah menghadirkan kembali Ramadhan ke hadapan masyarakat Muslim Indonesia harus dirasakan seolah-olah Allah kembali mewahyukan al Qur’an dan menghadirkan kembali Rasulullah sebagai teladan umat, maka selayaknya dipahami juga bahwa kehadiran Ramadhan ini sebenarnya membawa pesan agar setiap Muslim beriman melakukan reformasi kepribadian dengan sebaik-baiknya. Pesan reformasi Ramadhan yang dialamatkan kepada setiap Muslim beriman merupakan reformasi hakiki, yaitu reformasi setiap pribadi Muslim beriman untuk menjadi insan bertakwa. Bukankah idealisme reformasi itu baru menuai hasil dalam realita setelah berhasil terjadinya reformasi pribadi-pribadi manusianya ?

Keberhasilan proses reformasi yang mensyaratkan terjadinya reformasi manusianya terlebih dahulu adalah merupakan sunnatullah. Sejarah mencatat dengan baik, bahwa reformasi ( perbaikan ) yang dilakukan para Rasul dan terakhir Rasulullah SAW dapat berhasil lantaran keteladanan beliau sebagai pemimpin adalah karena seluruh proses itu dilakukan secara benar dengan dimulai dari mengubah individu-individu masyarakatnya. Perubahan manusianya pun dimulai dari aspek yang paling mendasar dan urgen, yaitu reformasi ( perbaikan ) mentalitas. Bahkan reformasi            ( perbaikan ) mentalitas yang dimulai dengan perbaikan akidah ini mengambil porsi terbesar perjalanan dakwah Rasulullah, yaitu selama 13 tahun, sementara penataan hukum, dan pemerintahan hanya perlu waktu 10 tahun selama period Madinah.

Catatan tarikh tersebut juga merupakan pelajaran sangat berharga yang selayaknya dipahami para pemimpin negeri ini, bahwa upaya perbaikan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia akan berhasil jika dimulai dengan perbaikan mentalitas manusia-manusianya. Optimisme terjadinya reformasi yang mengharuskan terjadinya lebih dulu perbaikan mentalitas manusia sesungguhnya bukan saja merupakan fakta dan catatan sejarah, tetapi al Qur’an juga menegaskan demikian.

Proses yang benar dalam upaya perbaikan mentalitas harus dimulai dari pendekatan akidah. Akidah memiliki peran sangat menentukan terhadap keseluruhan perilaku manusia. Betapa indah Allah SWT memberikan tamsil masalah ini dalam firman-Nya.

Kehadiran bulan suci Ramadhan dengan syari’at utama shaum untuk mencetak insan bertakwa merupakan momentum terbaik untuk meletakkan kembali pondasi reformasi yang benar, karena tujuan puasa untuk mencetak insan-insan bertakwa. Jika para pemimpin negeri yang mayoritas Muslim ini berhasil shaum-nya, maka setelah Ramadhan nanti akan tampil sosok para pemimpin Muttaqin. Ketakwaan yang dimilki oleh para pemimpin sebagai hasil dan hikmah shaum Ramadhan ini akan melahirkan sosok pemimpin yang mentalitasnya tidak seperti yang kemarin. Para pemimpin meng-upgrade diri melalui shaum di bulan suci Ramadhan ini – jika berhasil shaumnya-, esok hari akan tampil sebagai pemimpin yang memiliki keteladanan dalam kejujuran, bersikap amanah dalam mengemban tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan, mereka terbuka dalam mengelola negara dan pemerintahan, serta memiliki kepekaan sosial yang benar untuk lebih mementingkan pemenuhan kewajiban menyejahterakan rakyat daripada mengeksploitasi rakyat untuk melanggengkan kekuasaan dan kemegahan pribadinya.

Masyarakat ini bagaikan ikan; jika kepalanya baik maka seluruh daging dan tulangnya akan enak dimakan. Tetapi kalau ikan itu kepalanya busuk, maka sekujur  tubuhnya  akan  ikut  membusuk. Andaikan  ada bagian daging ikan yang busuk karena suatu penyakit, maka selebihnya masih enak dimakan, sepanjang yang busuk itu bukan kepalanya. Tetapi kalau yang busuk itu kepalanya, maka bagian-bagian yang lainnya terpaksa harus dibuang dengan sia-sia ( percuma ).

Sebab, jangankan manusia, kucing rakus pun tidak tidak akan sudi memakannya. Agaknya dalam sebuah masyarakat, bangsa, dan negara tidak jauh dari tamsil ini. Ketika sebagian warga masyarakat ada yang berprilaku buruk, maka keburukan masih bisa diperbaiki karena masih ada komunitas lain yang baik-baik. Tetapi kalau yang berprilaku buruk itu pemimpinnya, maka keburukan pemimpin akan mudah dan cepat menjalar kepada masyarakat yang dipimpin. Itulah sebabnya al Qur’an mengisyaratkan, bahwa kelak di akhirat seluruh rakyat akan mengajukan permohonan kepada Allah SWT : “ Ya Tuhan kami, timpakan siksa kepada para pemimpin kami dua kali lipat lebih berat dan laknatilah mereka dengan laknat yang sebesar-besarnya.”

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

MEMAHAMI SEKALI LAGI TENTANG TQM


MEMAHAMI SEKALI LAGI TENTANG TQM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang Masalah

Memasuki abad XXI, tantangan besar yang dihadapi oleh seluruh bangsa pada era yang oleh banyak orang disebut sebagai era globalisasi saat ini adalah ketatnya kompetisi di berbagai bidang. Kompetisi ini akan memasuki seluruh dimensi kehidupan dan menjamah wilayah geografis di berbagai belahan dunia. Berbagai macam produk dan jasa (barang dan bahkan SDM ) dari satu negara akan menyerbu masuk ke negara-negara lain. Jika ingin dapat survive atau bahkan menjadi pemenang dalam era kompetitif ini, maka kepemilikan daya saing menjadi prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi.

Dunia pendidikan —termasuk pendidikan Islam— merupakan salah satu bidang yang tidak dapat melepaskan diri dari tantangan ini. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan dan semakin beragamnya program yang ditawarkan, para pengelola pendidikan Islam dituntut untuk dapat berpacu dan berkompetisi secara fair memperebut-kan pasar pendidikan yang semakin kritis dan objektif. Kunci sukses yang harus dimiliki  dan sekaligus merupakan daya saing yang paling efektif adalah mutu/kualitas. Siapapun yang memiliki kualitas maka peluang untuk dapat menjadi pemenang akan sangat terbuka.

Realitas menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas semakin diminati oleh masyarakat, meski untuk dapat mengaksesnya masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar. Di berbagai kota saat ini banyak bermunculan sekolah Islam yang berkualitas dengan berbagai nama dan program yang ditawarkan. Ada sekolah unggulan, sekolah terpadu, dan sebagainya yang kesemuanya semakin diminati masyarakat.

Namun, makna strategis mutu bagi peningkatan daya saing tersebut ternyata belum dapat diwujudkan secara maksimal dan merata dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan di Indonesia, termasuk lembaga lembaga pendidikan Islam. Hal ini dapat dimengerti karena upaya perbaikan kualitas ini bukanlah hal yang sederhana dan dapat dilakukan secara instant. Penambahkan alokasi dana an sich  belum menjamin akan dapat melahirkan lembaga pendidikan bermutu. Problem kualitas adalah problem manajemen yang cukup kompleks. Problem kualitas menyangkut filosofi dan pandangan hidup yang lebih substansial. Problem kualitas juga merupakan problem kebiasaan atau budaya yang harus ditanamkan sejak dini.

Oleh karena itu, maka upaya peningkatan kualitas, sesungguhnya harus dilakukan secara komprehenship dan sinergis dengan melibatkan seluruh ranah secara terpadu. Disamping dilakukan melalui pendekatan manajerial melalui pembentukan sistem mutu, juga harus menyentuh pada ranah psiko-filisofis pada pembangunan budaya mutu pada seluruh elemen organisasi atau lembaga. Pendek kata, perbaikan mutu tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia membutuhkan pendekatan sistem secara integral dan komprehenship.

Tulisan ini akan berupaya membahas tentang konsep mutu lembaga pendidikan, apa ukuran-ukurannya, dan bagaimana pencapaiannya. Pembahasan dilakukan dengan menggali dan mengkaji berbagai ragam konsep dan teori yang berkaitan dengan konsep mutu, peningkatan mutu lembaga pendidikan dalam berbagai literatur dan implementasinya dalam kenyataan..

B.     Konsep Mutu

Mutu atau kualitas saat ini menjadi satu gagasan ideal dan menjadi visi banyak orang ataupun lembaga. Karena mutu memang merupakan kualifikasi utama agar dapat survive dan tampil sebagai pemenang dalam kehidupan yang semakin kompetitif pada masyarakat yang semakin rasional. Namun demikian, untuk dapat memahami apa itu mutu ternyata ada banyak persepsi yang berbeda di masyarakat. Ketika diajukan konsep mutu, maka yang muncul kemudian adalah gambaran tentang segala hal yang “baik” dan “sempurna” dan oleh karena itu maka pasti sulit dipenuhi dan mahal. Gambaran ini sesungguhnya tidak salah, meskipun juga tidak terlalu tepat. Oleh karenanya, elaborasi berbagai definisi mutu dari para pakar kiranya akan membantu kita dalam memahami konsep mutu.

Wayne F Casio, seperti dikutip oleh Hadari Nawawi mendefinisikan; “Quality is the extent to which products and services conform to customer requirement” (Mutu adalah tingkat pencapaian sebuah produk atau layanan dalam memenuhi harapan pelanggan). Sementara, Davis sebagaimana dikutip oleh Fandy Tjiptono  memberikan definisi mutu sebagai “suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk dan jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.

Edward Sallis menjelaskan bahwa ada dua konsep mutu yang bisa diajukan. Pertama,  mutu absolute, yakni pencapaian standar tertinggi dalam suatu pekerjaan, produk, atau layanan yang tidak mungkin di lampaui lagi karena telah mencapai “kesempurnaan”. Penjelasan ini kemudian memunculkan persepsi bahwa mutu itu selalu berkait dengan “banyak dan mahal” dan menjadi kebanggaan bagi yang mencapainya. Bagi yang tidak mampu memperoleh yang banyak dan mahal tersebut, maka tidak akan dapat mencapai mutu.. Padahal dalam kenyataannya tidak selalu demikian.

Kedua;  mutu relatif. Mutu dalam pengertian relatif adalah kualitas yang masih ada peluang untuk ditingkatkan. Kualitas relatif ini mempunyai dua aspek pengukuran. (1) Pengukuran berdasarkan spesifikasi perencanaan, sebagaimana konsep Global Alliance for Transnational Education yang dikutip oleh Hari Suderajat  bahwa mutu adalah “meeting or fulfilling requirements, often referred to as fitness for purpose. (2) Pengukuran terhadap pemenuhan dan tuntutan pelanggan, “Performance to the standard expected by the customer and meeting the customers needs the first time and every time”. 

Dari definisi di atas dapat difahami bahwa konsep mutu memang merupakan konsep dinamis. Membuat  rumusan yang pasti (exact) kiranya tidak akan cukup membantu, sebagai mana disinggung oleh Sallis “Quality is a dynamic idea and exact definitions are not particularly helpful. Dalam perspektif Total Quality Management (TQM), kualitas bukan hanya merupakan suatu inisiatif, melainkan juga filosofi dan metodologi yang membantu lembaga untuk mengelola perubahan secara totalitas dan sistemik, sehingga terjadi perubahan paradigma, visi, misi dan juga tujuan.

Menurut teori TQM, mutu tidak hanya diukur dari sisi produk (kualitas produk) saja. Tetapi kualitas merupakan kondisi atau capaian yang memenuhi harapan pada seluruh aspek meliputi; aspek produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan. Dari penjelasan di atas juga dapat difahami bahwa kualitas itu sifatnya dinamis, selalu berubah (berkembang) seiring dengan perkembangan harapan dan kemampuan manusia.

C.     Mutu Lembaga Pendidikan

Mengacu pada konsep mutu sebagaimana dijelaskan dalam definisi di atas, pada bagian ini penulis akan berupaya untuk mengelaborasi mutu lembaga pendidikan dengan berbagai kriterianya. Mutu merupakan sebuah konsep yang multi dimensional. Artinya, untuk mengukur mutu ada banyak kriteria yang harus dipenuhi sehingga sebuah lembaga dapat disebut bermutu.

Dalam konsep manajemen mutu terpadu (Total Quality Management/TQM), untuk mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu, maka ada beberapa unsur yang harus diperhatikan oleh manajemen lembaga pendidikan, yakni mutu produk, mutu jasa, mutu manusia (SDM), mutu proses dan mutu lingkungan. Unsur-unsur tersebut harus tergarap secara komprehenship, tanpa mengabaikan salah satunya. Dalam perspektif TQM, suatu lembaga pendidikan yang hanya berorientasi pada kelulusan siswa (produk), —apalagi jika standar kelulusan itu hanya mengacu pada nilai ujian—, maka lembaga tersebut masih belum dapat dikatagorikan sebagai lembaga yang berkualitas.

Lembaga pendidikan yang berkualitas menurut standar pemenuhan harapan pelanggan adalah lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas melalui proses dan layanan yang berkualitas oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dalam sebuah lingkungan yang berkualitas pula, sebagaimana yang diharapkan oleh pelanggan (stakeholders). Kemudian jika mengacu pada pengukuran spesifikasi perencanaan, sebuah lembaga pendidikan disebut bermutu jika lembaga tersebut dapat mewujudkan cita dan program mutu yang telah ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan.

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang “menjual” jasa, berupa layanan pendidikan kepada masyarakat. Dalam konteks ini, ada beberapa indikator yang dapat diajukan untuk menilai mutu sebuah lembaga pendidikan, yaitu; Pertama, Care (kepedulian),  Kedua, Courtesy (kehormatan), Ketiga, Concern (perhatian), Keempat, Friendliness (sikap persahabatan), Kelima, Helpfullness (sikap suka menolong). Beberapa indikator di atas menunjuk-kan pentingnya makna layanan dalam konsep mutu lembaga pendidikan.

Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, Abudin Nata  mengajukan beberapa indikator yang dapat dijadikan sebagai parameter dalam menilai mutu lembaga pendidikan Islam, yaitu;  (1) Secara akademik lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,  (2) Secara moral, lulusannya dapat menunjukkan tanggung jawab dan kepeduliannya kepada masyarakat, (3) Secara individual, lulusannya semakin “bertaqwa”, (4) Secara kultural, ia mampu menginterpretasikan ajaran agamanya sesuai dengan lingkungan sosialnya.

Sementara itu Mastuhu mengajukan beberapa parameter bagi sebuah lembaga pendidikan bermutu, yaiu; (1) Terbangunnya paradigma akademik, dan juga wawasan akademik dalam lembaga pendidikan, (2) Akuntabilitas, (3) Evaluasi diri, (4) Akreditasi, (5) Kompetensi, (6) SDM yang professional, (7) Perpustakaan dan  laboratorium yang memadai, dan (8) Lingkungan akademik.

Merujuk pada konsep dan kriteria mutu di atas, bahwa mutu adalah suatu kondisi, derajat, atau tingkat pencapaian suatu proses yang telah memenuhi standar yang telah ditetapkan, maka untuk mencapai mutu lembaga pendidikan harus ada standar yang menjadi acuan dalam upaya pembangunan mutu. Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, pemerintah melalui PP No. 19 tahun 2005 telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan yang melingkupi; (1) Standar isi, (2) Standar proses, (3) Standar kompetensi lulusan, (4) Standar pendidik dan tenaga kependidikan,  (5) Standar sarana prasarana, (6) Standar pengelolaan, (7) Standar pembiayaan dan (8) Standar penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan inilah yang saat ini dapat dijadikan acuan oleh dunia pendidikan di Indonesia dalam membangun dan menilai mutu pendidikan.

D.    Strategi Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan

Upaya peningkatan mutu pendidikan bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karenanya diperlukan suatu strategi yang tepat dalam rangka terwujudnya mutu. Dalam upaya merumuskan strategi peningkatan mutu lembaga pendidikan, Joseph M. Juran memberikan pandangannya tentang upaya pembangunan mutu organisasi secara umum yang dapat diadopsi dalam bidang pendidikan. (1) Meraih mutu merupakan proses yang berkesinambungan dan tidak mengenal akhir, (2) Mutu memerlukan kepemimpinan yang tangguh; dan (3) Program perbaikan mutu memerlukan pelatihan.

Kemudian pada tingkat yang lebih praktis, Jerome S. Arcaro menjelaskan bahwa program perbaikan mutu harus dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang melahirkan visi dan misi  serta tujuan. Di atas fondasi filosofi mutu tersebut berdiri pilar-pilar mutu, meliputi fokus pada pelanggan, keterlibatan total seluruh partisipan organisasi, pengukuran, komitmen, dan perbaikan berkelanjutan.

Orientasi dari implementasi seluruh prinsip mutu di atas tidak lain adalah untuk memenuhi harapan pelanggan. Dalam perspektif Total Quality Management yang menjadi orientasi dari seluruh program mutu adalah terpenuhinya kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal (internal customer; dalam konteks lembaga pendidikan adalah siswa, guru dan staf), maupun pelanggan ekstenal (external customer; masyarakat, pemerintah, lembaga usaha “pengguna” lulusan pendidikan dan sebagainya)

Implementasi prinsip-prinsip mutu di atas, pada tingkat operasional perlu disusun rumusan strategi pembangunan mutu yang lebih teknis.  Strategi ini bertumpu pada kemampuan memperbaiki dan merumuskan visi lembaga yang kemudian dituangkan dalam rumusan misi dan tujuan. Dari sini kemudian menjadi acuan dalam merumuskan  program lembaga yang aplikabel, pemilihan metode dan pendekatan yang tepat dan partisipatif, persiapan sumberdaya yang berkualitas, pengkondisian lingkungan yang kondusif, serta pengadaan sarana yang relevan dengan program dan tujuan. Dalam hal ini, setidaknya ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka merumuskan strategi pembangunan mutu lembaga pendidikan.

1.      Pendekatan Struktural

Eksistensi lembaga pendidikan -dalam perspektif ilmu manajemen- merupakan sebuah organisasi yang  memiliki struktur yang jelas. Seluruh proses dalam rangka perumusan, pelaksanaan, dan pencapaian tujuan dilaksanakan dalam sebuah sistem yang terstruktur secara baik. Dengan karakternya yang demikian, maka upaya yang dapat dilakukan dalam membangun mutu lembaga pendidikan salah satunya adalah melalui pendekatan struktural.

Dalam perspektif pendekatan struktural, untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang bermutu, perlu dibangun suatu sistem mutu yang inheren dalam struktur dan program lembaga pendidikan.  Hal ini dapat dilakukan dengan menyusun struktur dan mekanisme kerja yang jelas serta  mengefektifkan seluruh unsur lembaga yang terjalin secara sistematis guna mendukung pencapaian tujuan yaitu  mutu lembaga.

Implementasi dari pendekatan ini adalah dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan, dan evaluasi terhadap pengelolaan sumberdaya organisasi yang dilaksanakan secara berkualitas sejak dari proses perencanaan hingga pada tahap evaluasi. Untuk menjamin pelaksanaan fungsi manajemen bermutu ini dapat dipergunakan konsep jaminan mutu terpadu (Total Quality Assurance).

Sebagai pelaksanaan dan penjabaran dari pendekatan di atas, setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan secara praktis dalam rangka membangun mutu pendidikan, yaitu: (1) Pengenalan visi, misi dan tujuan pendidikan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembangunan mutu pendidikan, (2) Penjabaran program peningkatan mutu pendidikan, (3) Penentuan cakupan/lingkup yang akan ditingkatkan kualitasnya, dan (4) Melakukan kajian atau analisis SWOT.

Untuk dapat melakukan program tersebut, menurut Suyanto dan MS Abbas, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama, adanya seorang pemimpin yang benar-benar memahami permasalahan,. Kedua, kesiapan sumberdaya manusia yang terlibat, Ketiga, pemahaman terhadap realitas obyektif oleh seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pembangunan mutu.

Di samping itu, langkah selanjutnya yang penting untuk dilakukan adalah dengan membentuk prosedur pelaksanaan program mutu. Secara formal, tugas ini dapat didelegasikan kepada unit/departemen khusus. Dalam hal ini, kehadirin lembaga penjaminan mutu menjadi relevan. Lembaga penjaminan mutu bertugas untuk menyusun dan mengoperasikan program mutu serta melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang telah dijalankan. Dari hasil evaluasi ini kemudian menjadi bahan dalam penyusunan program mutu berikutnya. Dengan demikian, prinsip continuity improvement dalam konsep TQM selalu dapat dilaksanakan.

2.      Pendekatan  Kultural

Lembaga pendidikan dalam proses perjalanannya akan mengalami dinamika dan  melahirkan pola-pola (fikir, sikap dan tindak) yang khas. Inilah yang kemudian akan membentuk sebuah budaya organisasi. Budaya dalam konteks organisasi setidaknya mengandung beberapa unsur, yaitu: budaya merupakan konstruk sosial; budaya memberikan tuntunan bagi para anggotanya; budaya berisi kebiasaan atau tradisi; dalam suatu budaya, pola-pola nilai, keyakinan dan harapan, pemahaman dan perilaku timbul dan berkembang sepanjang waktu; dan budaya mengarahkan perilaku.

Budaya masing-masing organisasi bersifat unik. Dalam perspektif TQM, pembangunan mutu membutuhkan perubahan budaya ke arah budaya mutu. Esensi TQM adalah pembentukan budaya mutu, dimana gagasan tentang kualitas harus selalu ada dalam kesadaran seluruh komponen yang ada dalam organisasi. Seluruh komponen organisasi secara terpadu berupaya untuk mencapai mutu, sebagaimana yang diungkapkan oleh Edward Sallis  “ TQM is abaut creating a quality culture where the aim of every member  of staf is to delight their customers and and where the structure  of their organization allow them to do so”.

Sebagai implementasi dari pendekatan ini, maka perlu disusun sebuah “program” yang disebut sebagai program pembudayaan mutu (culturizing of quality). Nilai-nilai mutu perlu diintrodusir dan disosialisasikan kepada seluruh elemen organisasi untuk kemudian dijadikan sebagai standar perilaku yang dilaksanakan dalam melaksanakan seluruh proses yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.

E.     Membudayakan Mutu

Dalam teori organisasi, budaya organisasi mengacu pada visi dan misi pendirinya, yang dipengaruhi oleh cita-cita internal dan tuntutan eksternal yang melingkupinya. Robbins, sebagaimana dikutip oleh Aan Komariah  menjelaskan tentang terbentuknya budaya organisasi sebagai, “the original culture is derived from the founder’s philosophy, this inturn, strongly influencies the criteria used in hiring. The actions of the current top management set the general climate of what is acceptable behavior and what is not”.Terbentuknya budaya organisasi berangkat dari filsafat yang dimiliki oleh pendiri organisasi. Selanjutnya budaya tersebut dipergunakan sebagai kriteria dalam mempekerjakan karyawan. Tindakan manajemen puncak (top leader) menentukan iklim umum dari perilaku yang dapat atau tidak dapat diterima. Proses selanjutnya adalah sosialisasi nilai dan kriteria yang telah ditetapkan pada seluruh unsur organisasi yang kemudian melahirkan budaya organisasi.

Bagi sebuah organisasi yang telah mapan, program pembudayaan mutu bisa menjadi sebuah perubahan yang akan memunculkan resistensi atau gerak perlawanan. Perlawanan itu muncul sebagai reaksi atas terganggunya status quo dan “harmonitas” organisasi. Perlawanan itu bisa muncul dari mana saja dan dengan latar belakang kepentingan yang beragam.

Veithzal Rifa’i  menjelaskan bahwa resistensi terhadap perubahan itu bisa terjadi karena faktor keamanan, interaksi sosial, status, kompetensi, dan kepercayaan dirinya terancam. Untuk itu, maka beberapa hal yang harus dilakukan oleh manajemen lembaga dan utamanya oleh pimpinan lembaga dalam rangka mendorong terjadinya perubahan ke arah pembudayaan mutu: (1) Menyediakan alasan untuk perubahan, (2) Membuka kran partisipasi, (3) Melembagakan sistem kompensasi, (4) Komunikasi yang baik, (5) Melembagakan pendidikan dan pelatihan, (6) Merangsang kesiapan staf agar menyadari perlunya perubahan, dan (7) Bekerja dengan sistem.

F.     Kepemimpinan dan Budaya Mutu

Upaya mewujudkan mutu lembaga pendidikan memerlukan kepemimpinan yang tangguh. Lary J. Reynolds menjelaskan bahwa tujuan dari kepemimpinan lembaga pendidikan (sekolah)  adalah “ to help schools and individual teachers to express their expertise, creativity, and inventiveness in developing strategies to improve the quality of educational program and service”

Pemimpin dalam program mutu ini memiliki peran strategis. Salah satu peran terpenting dari pemimpin adalah membentuk kebudayaan organisasi. Melalui kepribadiannya, pemimpin dapat mempengaruhi pelaksanan manajemen dan pembentukan maupun perubahan budaya organisasi. Hal ini sesuai dengan definisi pemimpin yang dipaparkan oleh Cattel, sebagaimana dikutip oleh Wahjosumidjo,  “the leader is the person who creates the most effective change in group performance” (Seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi perubahan secara efektif dalam penampilan dan kinerja organisasi).

Senada dengan pernyataan di atas, Fremont dan Rosenzweig menjelaskan peran dari kepemimpinan bahwa salah satu unsur yang harus ada dalam rangka pembangunan mutu adalah “komitmen top manajemen untuk mengembangkan kebudayaan yang mengutamakan mutu”. Kepemimpinan memainkan peran kunci dalam upaya pembentukan budaya mutu dalam sebuah lembaga pendidikan.

Top manajemen dalam konteks lembaga pendidikan adalah kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan tumpuan keberhasilan manajemen sekolah. Upaya pembudayaan mutu meski dalam pelaksanaannya adalah tugas seluruh komponen lembaga pendidikan, namun pada tingkat inisiatif dan konsep adalah merupakan tugas kepala sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat bagi terciptanya budaya mutu dan terwujudnya mutu lembaga pendidikan.

Langkah langkah yang dapat dilakukan oleh pemimpin (kepala sekolah) dalam pembentukan budaya mutu lembaga pendidikan antara lain: (1) Mengintrodusir keyakinan, harapan dan nilai mutu (beliefs, expectation, and values) baik yang bersumber dari filosofi pribadi maupun yang berasal dari ajaran agama. Nilai-nilai tersebut kemudian dimanifestasikan dalam rumusan visi dan misi yang harus diterjemahkan dalam budaya lembaga, (2) Ritual dan upacara (rituals and ceremonies) berupa bentuk-bentuk kegiatan yang ditradisikan untuk mencapai mutu, seperti pembentukan komunitas bahasa, menghidupkan tradisi ilmiah seperti diskusi kelompok, program pengamalan ritual keagamaan, penghargaan prestasi, layanan cepat dan tepat dan sebagainya, (3) Tokoh pahlawan (hero), dengan mengajukan tokoh kharismatik yang dijadikan orientasi perilaku (uswah hasanah) bagi karyawan, (4) Pengaturan fisik (physical arrangements), merancang kondisi lingkungan fisik yang dapat mendukung pembudayaan mutu seperti pemasangan logo, motto di berbagai tempat yang dapat diakses oleh seluruh civitas lembaga, (5) Interaksi dan komunikasi yang positif dengan lingkungan khusunya stakeholders. Hal ini bisa dilakukan dengan membangun silaturrahmi dengan orang tua, lingkungan masyarakat serta  pihak-pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan program-program pendidikan.

G.    Penutup

Lembaga pendidikan Islam dalam perspektif manajemen pendidikan merupakan sebuah organisasi atau lembaga sebagaimana lembaga lainnya, Oleh karenanya maka teori-teori pembangunan mutu yang berlaku pada lembaga lain kiranya dapat diadopsi dalam pembangunan lembaga pendidikan Islam, termasuk teori total quality manajemen  ( TQM)

Membangun mutu lembaga pendidikan Islam bukanlah sebuah program yang sederhana dan gampang. Karena hal ini menyangkut banyak unsur yang harus digarap secara terpadu dan komprehenship. Oleh karenanya dalam penanganannya pun juga harus dilakukan secara terpadu (total) sebagaimana yang tercermin dalam konsep total quality management.

Pembangunan mutu di samping merupakan aktifitas manajemen, juga yang lebih mendasar adalah sebuah proses perubahan budaya organisasi. Karena hal ini menyangkut perubahan sistem nilai, keyakinan, harapan, kebiasaan dan tradisi. Dalam upaya untuk mewujudakn terjadinya proses perubahan ini seringkali terdapat faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan (resistensi). Oleh karena itu membangun mutu memerlukan komitmen seluruh elemen lembaga pendidikan untuk bersedia melakukan perubahan.

Upaya sungguh-sungguh dan berkesinambungan menjadi faktor yang sangat menentukan bagi tercapainya program mutu. Di samping itu keterpaduan seluruh elemen juga menjadi kunci penting untuk dapat mewujudkan lembaga pendidikan yang benar-benar bermutu. Di samping menggunakan pendekatan struktural melalui kebijakan-kebijakan manajemen, upaya pembangunan mutu juga perlu mempertimbangkan pendekatan kultural. Dalam pendekatan kultural ini kepemimpinan yang kuat dan visioner menjadi kunci keberhasilan pembangunan mutu lembaga pendidikan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT