MEMAHAMI SEKALI LAGI TENTANG TQM


MEMAHAMI SEKALI LAGI TENTANG TQM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang Masalah

Memasuki abad XXI, tantangan besar yang dihadapi oleh seluruh bangsa pada era yang oleh banyak orang disebut sebagai era globalisasi saat ini adalah ketatnya kompetisi di berbagai bidang. Kompetisi ini akan memasuki seluruh dimensi kehidupan dan menjamah wilayah geografis di berbagai belahan dunia. Berbagai macam produk dan jasa (barang dan bahkan SDM ) dari satu negara akan menyerbu masuk ke negara-negara lain. Jika ingin dapat survive atau bahkan menjadi pemenang dalam era kompetitif ini, maka kepemilikan daya saing menjadi prasyarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi.

Dunia pendidikan —termasuk pendidikan Islam— merupakan salah satu bidang yang tidak dapat melepaskan diri dari tantangan ini. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan dan semakin beragamnya program yang ditawarkan, para pengelola pendidikan Islam dituntut untuk dapat berpacu dan berkompetisi secara fair memperebut-kan pasar pendidikan yang semakin kritis dan objektif. Kunci sukses yang harus dimiliki  dan sekaligus merupakan daya saing yang paling efektif adalah mutu/kualitas. Siapapun yang memiliki kualitas maka peluang untuk dapat menjadi pemenang akan sangat terbuka.

Realitas menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas semakin diminati oleh masyarakat, meski untuk dapat mengaksesnya masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar. Di berbagai kota saat ini banyak bermunculan sekolah Islam yang berkualitas dengan berbagai nama dan program yang ditawarkan. Ada sekolah unggulan, sekolah terpadu, dan sebagainya yang kesemuanya semakin diminati masyarakat.

Namun, makna strategis mutu bagi peningkatan daya saing tersebut ternyata belum dapat diwujudkan secara maksimal dan merata dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan di Indonesia, termasuk lembaga lembaga pendidikan Islam. Hal ini dapat dimengerti karena upaya perbaikan kualitas ini bukanlah hal yang sederhana dan dapat dilakukan secara instant. Penambahkan alokasi dana an sich  belum menjamin akan dapat melahirkan lembaga pendidikan bermutu. Problem kualitas adalah problem manajemen yang cukup kompleks. Problem kualitas menyangkut filosofi dan pandangan hidup yang lebih substansial. Problem kualitas juga merupakan problem kebiasaan atau budaya yang harus ditanamkan sejak dini.

Oleh karena itu, maka upaya peningkatan kualitas, sesungguhnya harus dilakukan secara komprehenship dan sinergis dengan melibatkan seluruh ranah secara terpadu. Disamping dilakukan melalui pendekatan manajerial melalui pembentukan sistem mutu, juga harus menyentuh pada ranah psiko-filisofis pada pembangunan budaya mutu pada seluruh elemen organisasi atau lembaga. Pendek kata, perbaikan mutu tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia membutuhkan pendekatan sistem secara integral dan komprehenship.

Tulisan ini akan berupaya membahas tentang konsep mutu lembaga pendidikan, apa ukuran-ukurannya, dan bagaimana pencapaiannya. Pembahasan dilakukan dengan menggali dan mengkaji berbagai ragam konsep dan teori yang berkaitan dengan konsep mutu, peningkatan mutu lembaga pendidikan dalam berbagai literatur dan implementasinya dalam kenyataan..

B.     Konsep Mutu

Mutu atau kualitas saat ini menjadi satu gagasan ideal dan menjadi visi banyak orang ataupun lembaga. Karena mutu memang merupakan kualifikasi utama agar dapat survive dan tampil sebagai pemenang dalam kehidupan yang semakin kompetitif pada masyarakat yang semakin rasional. Namun demikian, untuk dapat memahami apa itu mutu ternyata ada banyak persepsi yang berbeda di masyarakat. Ketika diajukan konsep mutu, maka yang muncul kemudian adalah gambaran tentang segala hal yang “baik” dan “sempurna” dan oleh karena itu maka pasti sulit dipenuhi dan mahal. Gambaran ini sesungguhnya tidak salah, meskipun juga tidak terlalu tepat. Oleh karenanya, elaborasi berbagai definisi mutu dari para pakar kiranya akan membantu kita dalam memahami konsep mutu.

Wayne F Casio, seperti dikutip oleh Hadari Nawawi mendefinisikan; “Quality is the extent to which products and services conform to customer requirement” (Mutu adalah tingkat pencapaian sebuah produk atau layanan dalam memenuhi harapan pelanggan). Sementara, Davis sebagaimana dikutip oleh Fandy Tjiptono  memberikan definisi mutu sebagai “suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk dan jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.

Edward Sallis menjelaskan bahwa ada dua konsep mutu yang bisa diajukan. Pertama,  mutu absolute, yakni pencapaian standar tertinggi dalam suatu pekerjaan, produk, atau layanan yang tidak mungkin di lampaui lagi karena telah mencapai “kesempurnaan”. Penjelasan ini kemudian memunculkan persepsi bahwa mutu itu selalu berkait dengan “banyak dan mahal” dan menjadi kebanggaan bagi yang mencapainya. Bagi yang tidak mampu memperoleh yang banyak dan mahal tersebut, maka tidak akan dapat mencapai mutu.. Padahal dalam kenyataannya tidak selalu demikian.

Kedua;  mutu relatif. Mutu dalam pengertian relatif adalah kualitas yang masih ada peluang untuk ditingkatkan. Kualitas relatif ini mempunyai dua aspek pengukuran. (1) Pengukuran berdasarkan spesifikasi perencanaan, sebagaimana konsep Global Alliance for Transnational Education yang dikutip oleh Hari Suderajat  bahwa mutu adalah “meeting or fulfilling requirements, often referred to as fitness for purpose. (2) Pengukuran terhadap pemenuhan dan tuntutan pelanggan, “Performance to the standard expected by the customer and meeting the customers needs the first time and every time”. 

Dari definisi di atas dapat difahami bahwa konsep mutu memang merupakan konsep dinamis. Membuat  rumusan yang pasti (exact) kiranya tidak akan cukup membantu, sebagai mana disinggung oleh Sallis “Quality is a dynamic idea and exact definitions are not particularly helpful. Dalam perspektif Total Quality Management (TQM), kualitas bukan hanya merupakan suatu inisiatif, melainkan juga filosofi dan metodologi yang membantu lembaga untuk mengelola perubahan secara totalitas dan sistemik, sehingga terjadi perubahan paradigma, visi, misi dan juga tujuan.

Menurut teori TQM, mutu tidak hanya diukur dari sisi produk (kualitas produk) saja. Tetapi kualitas merupakan kondisi atau capaian yang memenuhi harapan pada seluruh aspek meliputi; aspek produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan. Dari penjelasan di atas juga dapat difahami bahwa kualitas itu sifatnya dinamis, selalu berubah (berkembang) seiring dengan perkembangan harapan dan kemampuan manusia.

C.     Mutu Lembaga Pendidikan

Mengacu pada konsep mutu sebagaimana dijelaskan dalam definisi di atas, pada bagian ini penulis akan berupaya untuk mengelaborasi mutu lembaga pendidikan dengan berbagai kriterianya. Mutu merupakan sebuah konsep yang multi dimensional. Artinya, untuk mengukur mutu ada banyak kriteria yang harus dipenuhi sehingga sebuah lembaga dapat disebut bermutu.

Dalam konsep manajemen mutu terpadu (Total Quality Management/TQM), untuk mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu, maka ada beberapa unsur yang harus diperhatikan oleh manajemen lembaga pendidikan, yakni mutu produk, mutu jasa, mutu manusia (SDM), mutu proses dan mutu lingkungan. Unsur-unsur tersebut harus tergarap secara komprehenship, tanpa mengabaikan salah satunya. Dalam perspektif TQM, suatu lembaga pendidikan yang hanya berorientasi pada kelulusan siswa (produk), —apalagi jika standar kelulusan itu hanya mengacu pada nilai ujian—, maka lembaga tersebut masih belum dapat dikatagorikan sebagai lembaga yang berkualitas.

Lembaga pendidikan yang berkualitas menurut standar pemenuhan harapan pelanggan adalah lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas melalui proses dan layanan yang berkualitas oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dalam sebuah lingkungan yang berkualitas pula, sebagaimana yang diharapkan oleh pelanggan (stakeholders). Kemudian jika mengacu pada pengukuran spesifikasi perencanaan, sebuah lembaga pendidikan disebut bermutu jika lembaga tersebut dapat mewujudkan cita dan program mutu yang telah ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan.

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang “menjual” jasa, berupa layanan pendidikan kepada masyarakat. Dalam konteks ini, ada beberapa indikator yang dapat diajukan untuk menilai mutu sebuah lembaga pendidikan, yaitu; Pertama, Care (kepedulian),  Kedua, Courtesy (kehormatan), Ketiga, Concern (perhatian), Keempat, Friendliness (sikap persahabatan), Kelima, Helpfullness (sikap suka menolong). Beberapa indikator di atas menunjuk-kan pentingnya makna layanan dalam konsep mutu lembaga pendidikan.

Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, Abudin Nata  mengajukan beberapa indikator yang dapat dijadikan sebagai parameter dalam menilai mutu lembaga pendidikan Islam, yaitu;  (1) Secara akademik lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,  (2) Secara moral, lulusannya dapat menunjukkan tanggung jawab dan kepeduliannya kepada masyarakat, (3) Secara individual, lulusannya semakin “bertaqwa”, (4) Secara kultural, ia mampu menginterpretasikan ajaran agamanya sesuai dengan lingkungan sosialnya.

Sementara itu Mastuhu mengajukan beberapa parameter bagi sebuah lembaga pendidikan bermutu, yaiu; (1) Terbangunnya paradigma akademik, dan juga wawasan akademik dalam lembaga pendidikan, (2) Akuntabilitas, (3) Evaluasi diri, (4) Akreditasi, (5) Kompetensi, (6) SDM yang professional, (7) Perpustakaan dan  laboratorium yang memadai, dan (8) Lingkungan akademik.

Merujuk pada konsep dan kriteria mutu di atas, bahwa mutu adalah suatu kondisi, derajat, atau tingkat pencapaian suatu proses yang telah memenuhi standar yang telah ditetapkan, maka untuk mencapai mutu lembaga pendidikan harus ada standar yang menjadi acuan dalam upaya pembangunan mutu. Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, pemerintah melalui PP No. 19 tahun 2005 telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan yang melingkupi; (1) Standar isi, (2) Standar proses, (3) Standar kompetensi lulusan, (4) Standar pendidik dan tenaga kependidikan,  (5) Standar sarana prasarana, (6) Standar pengelolaan, (7) Standar pembiayaan dan (8) Standar penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan inilah yang saat ini dapat dijadikan acuan oleh dunia pendidikan di Indonesia dalam membangun dan menilai mutu pendidikan.

D.    Strategi Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan

Upaya peningkatan mutu pendidikan bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karenanya diperlukan suatu strategi yang tepat dalam rangka terwujudnya mutu. Dalam upaya merumuskan strategi peningkatan mutu lembaga pendidikan, Joseph M. Juran memberikan pandangannya tentang upaya pembangunan mutu organisasi secara umum yang dapat diadopsi dalam bidang pendidikan. (1) Meraih mutu merupakan proses yang berkesinambungan dan tidak mengenal akhir, (2) Mutu memerlukan kepemimpinan yang tangguh; dan (3) Program perbaikan mutu memerlukan pelatihan.

Kemudian pada tingkat yang lebih praktis, Jerome S. Arcaro menjelaskan bahwa program perbaikan mutu harus dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang melahirkan visi dan misi  serta tujuan. Di atas fondasi filosofi mutu tersebut berdiri pilar-pilar mutu, meliputi fokus pada pelanggan, keterlibatan total seluruh partisipan organisasi, pengukuran, komitmen, dan perbaikan berkelanjutan.

Orientasi dari implementasi seluruh prinsip mutu di atas tidak lain adalah untuk memenuhi harapan pelanggan. Dalam perspektif Total Quality Management yang menjadi orientasi dari seluruh program mutu adalah terpenuhinya kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal (internal customer; dalam konteks lembaga pendidikan adalah siswa, guru dan staf), maupun pelanggan ekstenal (external customer; masyarakat, pemerintah, lembaga usaha “pengguna” lulusan pendidikan dan sebagainya)

Implementasi prinsip-prinsip mutu di atas, pada tingkat operasional perlu disusun rumusan strategi pembangunan mutu yang lebih teknis.  Strategi ini bertumpu pada kemampuan memperbaiki dan merumuskan visi lembaga yang kemudian dituangkan dalam rumusan misi dan tujuan. Dari sini kemudian menjadi acuan dalam merumuskan  program lembaga yang aplikabel, pemilihan metode dan pendekatan yang tepat dan partisipatif, persiapan sumberdaya yang berkualitas, pengkondisian lingkungan yang kondusif, serta pengadaan sarana yang relevan dengan program dan tujuan. Dalam hal ini, setidaknya ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka merumuskan strategi pembangunan mutu lembaga pendidikan.

1.      Pendekatan Struktural

Eksistensi lembaga pendidikan -dalam perspektif ilmu manajemen- merupakan sebuah organisasi yang  memiliki struktur yang jelas. Seluruh proses dalam rangka perumusan, pelaksanaan, dan pencapaian tujuan dilaksanakan dalam sebuah sistem yang terstruktur secara baik. Dengan karakternya yang demikian, maka upaya yang dapat dilakukan dalam membangun mutu lembaga pendidikan salah satunya adalah melalui pendekatan struktural.

Dalam perspektif pendekatan struktural, untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang bermutu, perlu dibangun suatu sistem mutu yang inheren dalam struktur dan program lembaga pendidikan.  Hal ini dapat dilakukan dengan menyusun struktur dan mekanisme kerja yang jelas serta  mengefektifkan seluruh unsur lembaga yang terjalin secara sistematis guna mendukung pencapaian tujuan yaitu  mutu lembaga.

Implementasi dari pendekatan ini adalah dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan, dan evaluasi terhadap pengelolaan sumberdaya organisasi yang dilaksanakan secara berkualitas sejak dari proses perencanaan hingga pada tahap evaluasi. Untuk menjamin pelaksanaan fungsi manajemen bermutu ini dapat dipergunakan konsep jaminan mutu terpadu (Total Quality Assurance).

Sebagai pelaksanaan dan penjabaran dari pendekatan di atas, setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan secara praktis dalam rangka membangun mutu pendidikan, yaitu: (1) Pengenalan visi, misi dan tujuan pendidikan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembangunan mutu pendidikan, (2) Penjabaran program peningkatan mutu pendidikan, (3) Penentuan cakupan/lingkup yang akan ditingkatkan kualitasnya, dan (4) Melakukan kajian atau analisis SWOT.

Untuk dapat melakukan program tersebut, menurut Suyanto dan MS Abbas, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama, adanya seorang pemimpin yang benar-benar memahami permasalahan,. Kedua, kesiapan sumberdaya manusia yang terlibat, Ketiga, pemahaman terhadap realitas obyektif oleh seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pembangunan mutu.

Di samping itu, langkah selanjutnya yang penting untuk dilakukan adalah dengan membentuk prosedur pelaksanaan program mutu. Secara formal, tugas ini dapat didelegasikan kepada unit/departemen khusus. Dalam hal ini, kehadirin lembaga penjaminan mutu menjadi relevan. Lembaga penjaminan mutu bertugas untuk menyusun dan mengoperasikan program mutu serta melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang telah dijalankan. Dari hasil evaluasi ini kemudian menjadi bahan dalam penyusunan program mutu berikutnya. Dengan demikian, prinsip continuity improvement dalam konsep TQM selalu dapat dilaksanakan.

2.      Pendekatan  Kultural

Lembaga pendidikan dalam proses perjalanannya akan mengalami dinamika dan  melahirkan pola-pola (fikir, sikap dan tindak) yang khas. Inilah yang kemudian akan membentuk sebuah budaya organisasi. Budaya dalam konteks organisasi setidaknya mengandung beberapa unsur, yaitu: budaya merupakan konstruk sosial; budaya memberikan tuntunan bagi para anggotanya; budaya berisi kebiasaan atau tradisi; dalam suatu budaya, pola-pola nilai, keyakinan dan harapan, pemahaman dan perilaku timbul dan berkembang sepanjang waktu; dan budaya mengarahkan perilaku.

Budaya masing-masing organisasi bersifat unik. Dalam perspektif TQM, pembangunan mutu membutuhkan perubahan budaya ke arah budaya mutu. Esensi TQM adalah pembentukan budaya mutu, dimana gagasan tentang kualitas harus selalu ada dalam kesadaran seluruh komponen yang ada dalam organisasi. Seluruh komponen organisasi secara terpadu berupaya untuk mencapai mutu, sebagaimana yang diungkapkan oleh Edward Sallis  “ TQM is abaut creating a quality culture where the aim of every member  of staf is to delight their customers and and where the structure  of their organization allow them to do so”.

Sebagai implementasi dari pendekatan ini, maka perlu disusun sebuah “program” yang disebut sebagai program pembudayaan mutu (culturizing of quality). Nilai-nilai mutu perlu diintrodusir dan disosialisasikan kepada seluruh elemen organisasi untuk kemudian dijadikan sebagai standar perilaku yang dilaksanakan dalam melaksanakan seluruh proses yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.

E.     Membudayakan Mutu

Dalam teori organisasi, budaya organisasi mengacu pada visi dan misi pendirinya, yang dipengaruhi oleh cita-cita internal dan tuntutan eksternal yang melingkupinya. Robbins, sebagaimana dikutip oleh Aan Komariah  menjelaskan tentang terbentuknya budaya organisasi sebagai, “the original culture is derived from the founder’s philosophy, this inturn, strongly influencies the criteria used in hiring. The actions of the current top management set the general climate of what is acceptable behavior and what is not”.Terbentuknya budaya organisasi berangkat dari filsafat yang dimiliki oleh pendiri organisasi. Selanjutnya budaya tersebut dipergunakan sebagai kriteria dalam mempekerjakan karyawan. Tindakan manajemen puncak (top leader) menentukan iklim umum dari perilaku yang dapat atau tidak dapat diterima. Proses selanjutnya adalah sosialisasi nilai dan kriteria yang telah ditetapkan pada seluruh unsur organisasi yang kemudian melahirkan budaya organisasi.

Bagi sebuah organisasi yang telah mapan, program pembudayaan mutu bisa menjadi sebuah perubahan yang akan memunculkan resistensi atau gerak perlawanan. Perlawanan itu muncul sebagai reaksi atas terganggunya status quo dan “harmonitas” organisasi. Perlawanan itu bisa muncul dari mana saja dan dengan latar belakang kepentingan yang beragam.

Veithzal Rifa’i  menjelaskan bahwa resistensi terhadap perubahan itu bisa terjadi karena faktor keamanan, interaksi sosial, status, kompetensi, dan kepercayaan dirinya terancam. Untuk itu, maka beberapa hal yang harus dilakukan oleh manajemen lembaga dan utamanya oleh pimpinan lembaga dalam rangka mendorong terjadinya perubahan ke arah pembudayaan mutu: (1) Menyediakan alasan untuk perubahan, (2) Membuka kran partisipasi, (3) Melembagakan sistem kompensasi, (4) Komunikasi yang baik, (5) Melembagakan pendidikan dan pelatihan, (6) Merangsang kesiapan staf agar menyadari perlunya perubahan, dan (7) Bekerja dengan sistem.

F.     Kepemimpinan dan Budaya Mutu

Upaya mewujudkan mutu lembaga pendidikan memerlukan kepemimpinan yang tangguh. Lary J. Reynolds menjelaskan bahwa tujuan dari kepemimpinan lembaga pendidikan (sekolah)  adalah “ to help schools and individual teachers to express their expertise, creativity, and inventiveness in developing strategies to improve the quality of educational program and service”

Pemimpin dalam program mutu ini memiliki peran strategis. Salah satu peran terpenting dari pemimpin adalah membentuk kebudayaan organisasi. Melalui kepribadiannya, pemimpin dapat mempengaruhi pelaksanan manajemen dan pembentukan maupun perubahan budaya organisasi. Hal ini sesuai dengan definisi pemimpin yang dipaparkan oleh Cattel, sebagaimana dikutip oleh Wahjosumidjo,  “the leader is the person who creates the most effective change in group performance” (Seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi perubahan secara efektif dalam penampilan dan kinerja organisasi).

Senada dengan pernyataan di atas, Fremont dan Rosenzweig menjelaskan peran dari kepemimpinan bahwa salah satu unsur yang harus ada dalam rangka pembangunan mutu adalah “komitmen top manajemen untuk mengembangkan kebudayaan yang mengutamakan mutu”. Kepemimpinan memainkan peran kunci dalam upaya pembentukan budaya mutu dalam sebuah lembaga pendidikan.

Top manajemen dalam konteks lembaga pendidikan adalah kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan tumpuan keberhasilan manajemen sekolah. Upaya pembudayaan mutu meski dalam pelaksanaannya adalah tugas seluruh komponen lembaga pendidikan, namun pada tingkat inisiatif dan konsep adalah merupakan tugas kepala sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat bagi terciptanya budaya mutu dan terwujudnya mutu lembaga pendidikan.

Langkah langkah yang dapat dilakukan oleh pemimpin (kepala sekolah) dalam pembentukan budaya mutu lembaga pendidikan antara lain: (1) Mengintrodusir keyakinan, harapan dan nilai mutu (beliefs, expectation, and values) baik yang bersumber dari filosofi pribadi maupun yang berasal dari ajaran agama. Nilai-nilai tersebut kemudian dimanifestasikan dalam rumusan visi dan misi yang harus diterjemahkan dalam budaya lembaga, (2) Ritual dan upacara (rituals and ceremonies) berupa bentuk-bentuk kegiatan yang ditradisikan untuk mencapai mutu, seperti pembentukan komunitas bahasa, menghidupkan tradisi ilmiah seperti diskusi kelompok, program pengamalan ritual keagamaan, penghargaan prestasi, layanan cepat dan tepat dan sebagainya, (3) Tokoh pahlawan (hero), dengan mengajukan tokoh kharismatik yang dijadikan orientasi perilaku (uswah hasanah) bagi karyawan, (4) Pengaturan fisik (physical arrangements), merancang kondisi lingkungan fisik yang dapat mendukung pembudayaan mutu seperti pemasangan logo, motto di berbagai tempat yang dapat diakses oleh seluruh civitas lembaga, (5) Interaksi dan komunikasi yang positif dengan lingkungan khusunya stakeholders. Hal ini bisa dilakukan dengan membangun silaturrahmi dengan orang tua, lingkungan masyarakat serta  pihak-pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan program-program pendidikan.

G.    Penutup

Lembaga pendidikan Islam dalam perspektif manajemen pendidikan merupakan sebuah organisasi atau lembaga sebagaimana lembaga lainnya, Oleh karenanya maka teori-teori pembangunan mutu yang berlaku pada lembaga lain kiranya dapat diadopsi dalam pembangunan lembaga pendidikan Islam, termasuk teori total quality manajemen  ( TQM)

Membangun mutu lembaga pendidikan Islam bukanlah sebuah program yang sederhana dan gampang. Karena hal ini menyangkut banyak unsur yang harus digarap secara terpadu dan komprehenship. Oleh karenanya dalam penanganannya pun juga harus dilakukan secara terpadu (total) sebagaimana yang tercermin dalam konsep total quality management.

Pembangunan mutu di samping merupakan aktifitas manajemen, juga yang lebih mendasar adalah sebuah proses perubahan budaya organisasi. Karena hal ini menyangkut perubahan sistem nilai, keyakinan, harapan, kebiasaan dan tradisi. Dalam upaya untuk mewujudakn terjadinya proses perubahan ini seringkali terdapat faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan (resistensi). Oleh karena itu membangun mutu memerlukan komitmen seluruh elemen lembaga pendidikan untuk bersedia melakukan perubahan.

Upaya sungguh-sungguh dan berkesinambungan menjadi faktor yang sangat menentukan bagi tercapainya program mutu. Di samping itu keterpaduan seluruh elemen juga menjadi kunci penting untuk dapat mewujudkan lembaga pendidikan yang benar-benar bermutu. Di samping menggunakan pendekatan struktural melalui kebijakan-kebijakan manajemen, upaya pembangunan mutu juga perlu mempertimbangkan pendekatan kultural. Dalam pendekatan kultural ini kepemimpinan yang kuat dan visioner menjadi kunci keberhasilan pembangunan mutu lembaga pendidikan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: