RAMADHAN DAN REFORMASI DIRI


RAMADHAN DAN REFORMASI DIRI

Oleh: Muhammad Fathurrohman

Reformasi merupakan kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga bangsa Indonesia. Walaupun, nampaknya sampai sekarang kata reformasi kini seakan hampir usang kedengarannya, namun umat Muslim tiap waktu tidak boleh berhenti melakukan upaya-upaya reformasi. Sebab umat Islam memiliki spirit reformasi dari kaidah : “ Al-Muhafadhoh ‘Ala  Al- Qodim Al-Shalih  Wal Akhdzu Bi  Al-Jadid  Al-Ashlah ”. ( Memelihara tradisi lama yang baik dan terus berusaha tanpa henti untuk mencari berbagai hal baru yang lebih maslahat lagi ).

Pertama kali kehadiran Islam di muka bumi ini yaitu ditandai dengan kelahiran Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat jahiliyah dan watsaniyah. Bukankah masyarakat Arab dahulu adalah masyarakat Watsaniyah ( memuja berhala ) ? Namun kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan membawa wahyu al-Qur’an, membawa perubahan  masyarakat Arab yang Watsaniyah dan jahiliyah itu menjadi masyarakat yang berakidah dan bertauhid kepada Allah SWT. Bukankah masyarakat Arab dahulu adalah Jahiliyah  ( sering melakukan tindakan bodoh ) ? Namun berkat kedatangan Nabi Muhammad SAW mereka berubah menjadi masyarakat yang penuh hidayah, sehingga negerinya pun menjadi  baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur; Negeri yang baik penuh dengan ampunan dari Allah SWT. Walaupun juga tidak menutup kemungkinan dengan keikutsertaan doa Nabi Ibrahim AS.

Kemuliaan Ramadhan sebagai bulan suci  adalah karena di dalamnya terjadinya pewahyuan al-Qur’an sebagai kitab suci, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam   al-Qur’an ( QS.Al-Baqarah:185 ).

Pewahyuan al-Qur’an sesungguhnya juga merupakan pengangkatan secara formal kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Karenanya, ketika Ramadhan hadir kembali setiap Muslim beriman merasakan seolah-olah al-Qur’an itu kembali diwahyukan dan seolah-olah Nabi Muhammad kembali memberikan tuntunan bagi umat di tengah semarak aktivitas Ramadhan yang suci.

Telah menjadi sunnatullah, bahwa para Rasul dipilih untuk mengemban amanah melakukan perbaikan umat adalah orang-orang pilihan yang memiliki sifat-sifat terpuji : shiddiq, amanah, tabligh, fathanah, serta uswatun hasanah. Nabi mampu mengubah perilaku masyarakat Arab Jahili dan Watsani adalah karena keteladanan beliau dalam kejujuran. Rasulullah semula terus dimusuhi namun kemudian menjadi satu-satunya pemimpin yang ditaati masyarakat Arab adalah karena keteladanan beliau dalam mengemban amanah. Kepercayaan dan simpati masyarakat Arab kepada Rasulullah semakin kokoh adalah karena beliau mampu melakukan tabligh; menyampaikan segala sesuatu yang seharusnya disampaikan secara terbuka, apa adanya dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Hal itu dapat dipahami karena beliau jujur sejak awal dalam mengemban amanah kepemimpinan. Upaya-upaya perbaikan masyarakat Arab yang dilakukan Rasulullah senantiasa tepat sasaran dan hasilnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat adalah karena beliau memiliki fathanah; kecerdasan yang membuat beliau memiliki kepekaan sosial berkualitas tinggi.

Keteladanan Rasulullah dalam hal kejujuran, mengemban amanah, keterbukaan dan kepekaan sosial berkualitas tinggi tersebut ternyata mampu membawa perbaikan luar biasa bagi masyarakat Arab. Masyarakat yang semula dikenal Jahiliyah itu berubah menjadi sosok masyarakat yang penuh dengan hidayah. Potret masyarakat Arab yang dahulu memuja berhala itu kemudian berubah menjadi masyarakat bertauhid kepada Allah SWT. Ini semua sesungguhnya merupakan ibrah (pelajaran penting) bagi para pemimpin negeri ini, bahwa reformasi ( perbaikan ) Indonesia hanya akan berhasil jika dimulai dari para pemimpinnya. Para pemimpin yang dijamin berhasil dalam program dan gerakan reformasi adalah jika para pemimpin itu memiliki keteladanan dalam kejujuran, keteladanan dalam mengemban amanah, keterbukaan dalam mengelola negara dan pemerintahan serta keteladanan dalam kepekaan sosial hakiki, bukan kepekaan sosial palsu penuh basa-basi.

Dengan pemahaman bahwa ketika Allah menghadirkan kembali Ramadhan ke hadapan masyarakat Muslim Indonesia harus dirasakan seolah-olah Allah kembali mewahyukan al Qur’an dan menghadirkan kembali Rasulullah sebagai teladan umat, maka selayaknya dipahami juga bahwa kehadiran Ramadhan ini sebenarnya membawa pesan agar setiap Muslim beriman melakukan reformasi kepribadian dengan sebaik-baiknya. Pesan reformasi Ramadhan yang dialamatkan kepada setiap Muslim beriman merupakan reformasi hakiki, yaitu reformasi setiap pribadi Muslim beriman untuk menjadi insan bertakwa. Bukankah idealisme reformasi itu baru menuai hasil dalam realita setelah berhasil terjadinya reformasi pribadi-pribadi manusianya ?

Keberhasilan proses reformasi yang mensyaratkan terjadinya reformasi manusianya terlebih dahulu adalah merupakan sunnatullah. Sejarah mencatat dengan baik, bahwa reformasi ( perbaikan ) yang dilakukan para Rasul dan terakhir Rasulullah SAW dapat berhasil lantaran keteladanan beliau sebagai pemimpin adalah karena seluruh proses itu dilakukan secara benar dengan dimulai dari mengubah individu-individu masyarakatnya. Perubahan manusianya pun dimulai dari aspek yang paling mendasar dan urgen, yaitu reformasi ( perbaikan ) mentalitas. Bahkan reformasi            ( perbaikan ) mentalitas yang dimulai dengan perbaikan akidah ini mengambil porsi terbesar perjalanan dakwah Rasulullah, yaitu selama 13 tahun, sementara penataan hukum, dan pemerintahan hanya perlu waktu 10 tahun selama period Madinah.

Catatan tarikh tersebut juga merupakan pelajaran sangat berharga yang selayaknya dipahami para pemimpin negeri ini, bahwa upaya perbaikan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia akan berhasil jika dimulai dengan perbaikan mentalitas manusia-manusianya. Optimisme terjadinya reformasi yang mengharuskan terjadinya lebih dulu perbaikan mentalitas manusia sesungguhnya bukan saja merupakan fakta dan catatan sejarah, tetapi al Qur’an juga menegaskan demikian.

Proses yang benar dalam upaya perbaikan mentalitas harus dimulai dari pendekatan akidah. Akidah memiliki peran sangat menentukan terhadap keseluruhan perilaku manusia. Betapa indah Allah SWT memberikan tamsil masalah ini dalam firman-Nya.

Kehadiran bulan suci Ramadhan dengan syari’at utama shaum untuk mencetak insan bertakwa merupakan momentum terbaik untuk meletakkan kembali pondasi reformasi yang benar, karena tujuan puasa untuk mencetak insan-insan bertakwa. Jika para pemimpin negeri yang mayoritas Muslim ini berhasil shaum-nya, maka setelah Ramadhan nanti akan tampil sosok para pemimpin Muttaqin. Ketakwaan yang dimilki oleh para pemimpin sebagai hasil dan hikmah shaum Ramadhan ini akan melahirkan sosok pemimpin yang mentalitasnya tidak seperti yang kemarin. Para pemimpin meng-upgrade diri melalui shaum di bulan suci Ramadhan ini – jika berhasil shaumnya-, esok hari akan tampil sebagai pemimpin yang memiliki keteladanan dalam kejujuran, bersikap amanah dalam mengemban tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan, mereka terbuka dalam mengelola negara dan pemerintahan, serta memiliki kepekaan sosial yang benar untuk lebih mementingkan pemenuhan kewajiban menyejahterakan rakyat daripada mengeksploitasi rakyat untuk melanggengkan kekuasaan dan kemegahan pribadinya.

Masyarakat ini bagaikan ikan; jika kepalanya baik maka seluruh daging dan tulangnya akan enak dimakan. Tetapi kalau ikan itu kepalanya busuk, maka sekujur  tubuhnya  akan  ikut  membusuk. Andaikan  ada bagian daging ikan yang busuk karena suatu penyakit, maka selebihnya masih enak dimakan, sepanjang yang busuk itu bukan kepalanya. Tetapi kalau yang busuk itu kepalanya, maka bagian-bagian yang lainnya terpaksa harus dibuang dengan sia-sia ( percuma ).

Sebab, jangankan manusia, kucing rakus pun tidak tidak akan sudi memakannya. Agaknya dalam sebuah masyarakat, bangsa, dan negara tidak jauh dari tamsil ini. Ketika sebagian warga masyarakat ada yang berprilaku buruk, maka keburukan masih bisa diperbaiki karena masih ada komunitas lain yang baik-baik. Tetapi kalau yang berprilaku buruk itu pemimpinnya, maka keburukan pemimpin akan mudah dan cepat menjalar kepada masyarakat yang dipimpin. Itulah sebabnya al Qur’an mengisyaratkan, bahwa kelak di akhirat seluruh rakyat akan mengajukan permohonan kepada Allah SWT : “ Ya Tuhan kami, timpakan siksa kepada para pemimpin kami dua kali lipat lebih berat dan laknatilah mereka dengan laknat yang sebesar-besarnya.”

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: