URGENSI MENGAJI


URGENSI MENGAJI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Mengaji merupakan salah satu bagian ibadah kepada Allah. Dalam perspektif budaya Islam di tanah jawa (lihat Bruinessen, 2011), mengaji dibedakan menjadi tiga, pertama mengaji dalam bentuk membaca al-Qur’an; kedua mengaji dalam bentuk membaca, menguraikan, menganalisis, atau bahkan mendengarkan kitab klasik; ketiga mengaji dalam bentuk ceramah di depan masyarakat atau majlis taklim. Mengaji dalam bentuk yang pertama ini biasanya dilakukan oleh anak-anak sekitar umur 6-15 tahun. Mengaji dalam bentuk yang pertama ini dilakukan di Surau-surau, langgar, atau masjid dengan guru ngaji yaitu ustadz. Kalau di kota-kota besar dan negara-negara guru ngaji seperti ini mendapatkan insentif, bahkan ada yang mengatakan insentifnya cukup besar sekitar 500 ribu satu bulan. Namun, kalau di desa guru ngaji seperti ini tidak mendapatkan honor, niatnya hanya lillahi ta’ala. Namun di desa, guru ngaji mendapatkan penghormatan dari masyarakat-masyarakat sekitar.

Mengaji dalam bentuk yang kedua ini dilakukan di pondok-pondok, masjid-masjid, rumah-rumah dan majlis taklim bahkan juga di radio-radio tertentu dan biasanya oleh seorang Kiai. Seorang kiai biasanya menguraikan kitab-kitab kuning dengan cara tradisional yaitu dengan menjelaskan artinya perkata atau makna gandul. Mengaji dalam bentuk yang demikian ini malah tidak mendapatkan honor sama sekali, honornya adalah lillahi ta’ala. Namun, dalam mengaji seperti ini terdapat barokah yang biasanya tidak terduga, misalnya keluarganya tenteram, terhindar dari masalah, tidak dirundung kekhawatiran, tidak pikun dan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mengaji dalam bentuk ketiga biasanya dilakukan di majlis taklim, pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh masyarakat. Mengaji dalam bentuk yang ketiga ini identik dengan salah satu bentuk dakwah. Walaupun tidak menutup kemungkinan bentuk pertama dan kedua di atas, juga salah satu bentuk dakwah. Mengaji dalam bentuk ketiga ini dilakukan tidak kontinue, dan juga biasanya mendapatkan honor, walaupun hanya berupa berkat (nasi yang biasanya dibagikan setelah pengajian).

Semua bentuk mengaji di atas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jika anda sekalian merupakan orang yang berilmu maka bagikanlah ilmu anda kepada masyarakat dengan berbagai jalan dan bentuk. Yang penting adalah keikhlasan dalam berbagi, insya Allah akan menjadi salah satu ilmu yang bermanfaat.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: