Monthly Archives: August, 2013

HADITS AHAD


HADITS AHAD

(KAJIAN STUDI PEMBAGIAN HADITS MENURUT JUMLAH PEROWINYA)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Pengertian Hadits Ahad.

Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua,atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits ahad dikategorikan sebagai hadits zhanny as-tsubut. Hadits ahad mempunyai sisi gelap yang memungkinkannya untuk ditolak atau diabaikan dan tidak diamalkan.

Kata ahad berarti “satu”. Khabar al-Wāhid adalah kabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan menurut istilah Ilmu Hadis, Hadis Ahad berarti :

هو ما لم يجمع شروط المتواتر.

Hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir”.

’Ajjaj al-Khathib, yang membagi hadis berdasarkan jumlah perawinya kepada tiga, bahwa ia mengatakan defenisi Hadis Ahad sebagai berikut:

هو ما رواه الواحد أ و اﻹ ثنان فاكثر مما لم تتوفو فيه شروط المشهور أو المتواتر.

Hadis Ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, dua atau lebih, selama tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Masyhur atau Hadis Mutawatir”.

Dari definisi ‘Ajjaj al-Khathib di atas dapat dipahami bahwa Hadis Ahad adalah hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada Hadis Mutawatir ataupun Hadis Masyhur.

B.       Klasifikasi Hadits Ahad

Jumlah rawi-rawi dalam thabaqat (lapisan) pertama, kedua, atau ketiga dan seterusnya pada hadits Ahad itu, mungkin terdiri dari tiga orang atau lebih, dua orang atau seorang. Para Muhadditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits Ahad mengingat banyak-sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqat dengan Hadits Masyhur, Hadits ‘Aziz, dan Hadits Gharib.

1.         Hadits Masyhur

Yang dimaksud dengan hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.

Menurut ulama fiqhi, Hadits Masyhur itu adalah muradlif dengan Hadits-Mustafid. Sedang ulama yang lain membedakannya. Yakni, suatu hadits dikatakan dengan mustafid bila jumlah rawi-rawinya tiga orang atau lebih sedikit, sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir. Sedang Hadits Masyhur lebih umum daripada Hadits Mustafid. Yakni jumlah rawi-rawi dalam setiap thabaqah tidak harus selalu sama banyaknya, atau seimbang. Dalam Hadits Masyhur, bisa terjadi jumlah rawi-rawinya dalam thabaqah pertama, sahabat, thabaqah kedua, tabi’iy, thabaqah ketiga, tabi’it-tabi’in, dan thabaqah keempat, orang-orang setelah tabi’it-tabi’in, terdiri dari seorang saja, baru kemudian jumlah rawi-rawi dalam thabaqah kelima dan seterusnya banyak sekali.

Macam-macam Hadits Masyhur

Istilah Masyhur yang diterapkan pada suatu hadits, kadang-kadang bukan untuk memberikan sifat-sifat hadits, yakni banyaknya rawi yang meriwayatkan suatu hadits, tetapi diterapkan juga untuk memberikan sifat suatu hadits yang mempunyai ketenaran di kalangan para ahli ilmu tertentu atau di kalangan masyarakat ramai. Sehingga dengan demikian ada suatu hadits yang rawi-rawnya kurang dari tiga orang, bahkan ada hadits yang tidak berasal (bersanad) sama sekalipun, dapat dikatakan dengan Hadits Masyhur.

Dari segi ini, maka Hadits Masyhur itu terbagi kepada:

1)        Masyhur di kalangan para Muhadditsin dan lainnya (golongan ulama ahli ilmu dan orang umum).

2)        Masyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya masyhur di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqhi saja, atau ahli tasawuf saja, atau ahli nahwu saja, atau lain sebagainya.

3)        Masyhur di kalangan orang-orang umum saja.

2.         Hadits ‘Aziz

Hadits ‘Aziz itu ialah Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqah saja, kemudian setelah itu, orang-orang pada meriwayatkannya.

Menurut pengertian tersebut, yang dikatakan hadits ‘Aziz itu, bukan saja yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqah, yakni sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir harus terdiri dari dua-dua orang, sebagaimana yang di ta’rifkan oleh sebagian Muhadditsin, tetapi selagi pada salah satu thabaqahnya (lapisannya) saja, di dapati dua orang rawi, sudah bisa dikatakan hadits ‘Aziz.

Dengan demikian, hadits ‘Aziz itu dapat berpadu dengan hadits masyhur, seumpama ada dua hadits yang rawi-rawinya pada salah satu thabaqah terdiri dari dari dua orang, sedang pada thabaqah yang lain, terdiri dari rawi-rawi yang banyak jumlahnya.

 3.         Hadits Gharib

Yang dimaksud Hadits Gharib ialah Hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyindirian dalam sanad itu terjadi.

Penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadits itu, dapat mengenai personalianya, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan selain rawi itu sendiri. Juga dapat mengenai sifat atau keadaan rawi tersebut. Artinya sifat atau keadaan rawi tersebut berbeda dengan sifat dan keadaan rawi-rawi lain yang juga meriwayatkan hadits tersebut.

Ditinjau dari segi bentuk penyendirian rawi, maka hadits gharib itu terbagi kepada dua macam. Yaitu Gharib-mutlak dan Gharib-nisbi.

Gharib-Mutlak (Fard)

Apabila penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadits itu mengenai personalianya, maka hadits yang diriwayatkan disebut Gharib-mutlak. Penyendirian rawi hadits gharib-mutlak ini harus berpangkal ditempat ashlu’s-sanad (pangkal pulang dan kembalinya sanad) yakni tabi’iy, bukan sahabat. Sebab yang menjadi tujuan penyendirian rawi dalam hadits-gharib disini, ialah untuk menetapkan apakah masih bisa diterima periwayatannya atau ditolak sama sekali. Sedangkan jika yang menyendiri itu orang sahabat, sudah tidak perlu diperbincangkan lagi, karena sudah diakui oleh umum bahwa sahabat-sahabat itu adalah adil semuanya.

Penyendirian rawi dalam hadist-Gharib-mutlak itu, dapat terjadi pada tabi’iy saja (ashlus’s-sanad), atau pada tabi’it-tabi’in atau dapat juga pada seluruh rawi-rawinya di setiap thabaqah.

Gharib-Nisby

Apabila penyendirian itu mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rawi, maka hadits yang diriwayatkannya disebut dengan Hadits Gharib-Nisby.

 

C.      KedudukanHaditsAhad

Bila hadits mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian halnya dengan hadits ahad. Hadits ahad tidak pasti berasal dari Rasulullah SAW, tetapi diduga (zanni) berasal dari beliau. Dengan ungkapan lain bahwa hadits ahad mungkin benar berasal dari beliau.

Karena hadits ahad itu tidak pasti (ghairuqat’Iataughairumaqtu’), tetapi diduga (zanni) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadits ahad, sebagai sumber atau sumber ajaran islam, berada di bawah kedudukan hadits mutawatir. Ini berarti bahwa bila suatu hadits, yang termasuk kelompok hadits ahad bertentangan isinya dengan hadits mutawatir’ maka hadits tersebut ditolak, dan dipandang sebagai hadits yang tidak berasal dari Rasulullah SAW.

Bila diperinci lebih lanjut, kedudukan hadits-hadits ahad itu berbeda-beda, sejalan dengan taraf dugaan atau taraf kemungkinannya berasal dari Rasulullah SAW. Sebagian hadits-hadits tersebut lebih tinggi kedudukannya dari sebagian hadits yang lain, kendati semuanya sama-sama termasuk hadits ahad. Hadits ahad itu ada yang dinilai shahih ada yang dinilai hasan dan ada pula yang dinilai dha’if. Kedudukan hadits shahih lebih tinggi daripada hasan dan kedudukan hadits hasan lebihtinggi daripada hadits da’if.

Para imam berbeda pendapat kedudukan hadits ahad ini. Menurut  Imam Hanafi (Abu Hanifah), jika rawinya orang-orang yang adil maka hanya dapat dijadikan hujjah pada bidang amaliyah, bukan pada bidang akidah dan ilmiah. Imam Malik berpendapat hadits ini dapat dipakai menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari qias zhonni (tidak pasti).

Imam syafi’i menegaskan, hadits ini dapat dijadikan hujjah jika rawinya memiliki empat syarat:

  1. Berakal
  2. Dhobit (yakni memiliki ingatan dan hafalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hafalan itu kapan saja dikehendaki)
  3. Serta mendengar langsung dari Nabi Muhammad Saw; dan
  4. Tidak menyalahi pendapat ulama hadits.

 

D.      Pembagian-PembagianHadits Ahaddari Segi Maqbuldan Mardud

Hadits yang diperiksa; diselidiki, dibahas dan dibicarakan oleh segenap ahli hadits yang mu’tabar, ialah: “Hadits-hadits yang diterima dari orang seseorang, atau orang ramai , tapi tak sampai kederajat mutawatir..

Akan tetapi, karena pada tiap-tiap bagian yang telah diterangkan, ada yang shahih, ada yang dla’if, kembalilah mereka membagi hadits Ahad itu mengingat shahih tidaknya, kepada 2 bagian besar pula, yaitu:Maqbul (yang diterima) danMardud (yang di tolak dan tak dapat diterima).

Hadits Maqbul

Maqbul pada lughat, ialah : “Ma’khudz = yang diambil, mushaddaq = yang dibenarkan (yang diterima)”.Pada ‘uruf ahli Hadits, sebagai yang diterangkan oleh Al Hafidh ibn Hajar Al Asqalani didalam kitab An Nakhbah, ialah:

ماَ دَلّ دَلِيْلٌ عَلَى رَجَحَانِ ثُبُوْ تِهِ

“Yang ditunjuki oleh sesuatu keterangan, bahwa Nabi s.a.w ada penyabdakannya. (Yakni adanya, lebih berat dari tidak adanya)”.

 

مَا تَوَا فَرَتْ فِيْهِ شُرُوْطُ القَبُوْلِ

“Yang sempurna padanya, syarat-syarat menerimanya”.

 Segala hadits maqbul itu, wajib diterima. Demikian pendapat jumhur ulama. Dan hadits maqbul itu dibagi kepada:

  1. Shahih li dzatihi = shahih dengan sendirinya.
  2. Shahih lighairihi = shahih karena selainnya.
  3. Hasan lid dzatihi = hasan dengan sendirinya.
  4. Hasan lighairihi = hasan karena selainnya.

Hadits maqbul dibagi menjadi dua:

  1. Ma’mul bihi (yang diamalkan) dipergunakan untuk menegakkan sesuatu hukum.
  2. Ghairu Ma’mul bihi (yang tidak diamalkan) tiada dapat dipergunakan untuk menjadi hujjah bagi sesuatu hukum Syara’.

Yang diamalkan, dinamakan: Ma’mul bihi (Ma’khudz bihi). Yang tidak diamalkan, dinamakan: Ghairu Ma’mul bihi (Ghairu Ma’khudz bihi).

Hadits-hadits yang diamalkan.

Hadits-hadits yang diamalkan, ialah:

1)        Segala Hadits muhkam.

2)        Segala Hadits Mukhtalif yang mungkin dikumpulkan dengan mudah.

3)        Segala Hadits yang Nasikh.

4)        Segala Hadits yang Rajih.

Hadits-hadits yang tiada diamalkan, ialah:

1)        Hadits mutawaqqaf fihi (Hadits yang berlawanan dengan yang lain yang tak dapat ditarjihkan dan tidak dapat diketahui mana yang terdahulu dan mana yang kemudian).

2)        Hadits Marjuh (hadits yang dilawani oleh yang lebih kuat dari padanya).

3)        Hadits Mansukh (hadits yang telah dihapuskan hukumnya).  *)Segala اpa hadits ini diterangkan  ditempatnya masing-masing.

Hadits Mardud

Mardud pada lughat, ialah: “Yang ditolak, yang tidak diterima”.Pada ‘Uruf ulama hadits, ialah:

مَالَمْ يَدُلُّ دَلِيْلُ عَلَى رَجَحَانِ ثُبُوْتِهِ, وَلَاعَدَمِ ثُبُوْتِهِ, بَلْ يَتَسَاوَى اْلأَمْرَانِ فِيْهِ

“Hadits yang tiada ditunjuki oleh sesuatu keterangan kepada berat adanya dan tiada ditunjuki kepada berat ketiadaannya. Adanya dengan tiadanya bersamaan.”

 

مَالَمْ تُوْجَدُفِيْهِ صِفَةُ الْقَبُوْل

ِ“Yang tiada didapati padanya, sifat menerimanya”.

 Tegasnya, segala hadits dla’if yang berbagai macam namanya; (yang akan kami perkatakan satu persatunya).

Dengan keterangan yang amat ringkas ini, telah dapat kita mengambil kesimpulan, bahwa hadits yang boleh diterima, tak boleh ditolak, ialah: hadits Maqbul atau hadits Shahih dan Hadits hasan yang Ma’mul Bihi. Selain dari pada itu, tak dapat diterima untuk dijadikan hujjah untuk mmenetapkan hukum murni ini.

E.       Penerimaan dan Penolakan Hadits Ahad

Keterikatan orang Islam terhadap informasi hadits ahad tergantungpada kualitas periwayatnya dan kualitas persambungan sanadnya. Bila sanad hadits itu tidak bersambung, atau periwayatnya tidak dapat  dipercaya kendati sanadnya bersambung maka hadits itu tidak dapat mengikat orang Islam untuk mempergunakannya sebagai dasar beramal. Sebaliknya, bila sanadnya bersambung dan kualitas periwayatnya bagus maka menurut Jumhur, hadits itu harus dijadikan dasar. Hanya saja, sebagian besar ulama berkesimpulan bahwa hadits Ahad itu melahirkan ‘ilmu zhann, bukan ‘ilmu yaqin. Sungguhpun hadits ini mendatangkan ‘ilmu zhann, tetapi bila ia merupakan zhann yang rajih, maka mengikat orang Islam untuk mengamalkannya. Tentu, yang dimaksud hadits Ahad yang dijadikan dasar beramal adalah yang memenuhi syarat, yang dikenal sebagai hadits shahih, setidak-tidaknya hasan.

Fungsi operasional hadits ahad dapat dibagi menjadi dua kelompok; pertama kelompok yang menolak mengamalkan hadits ahad. Termasuk kelompok ini adalah al-Qashani, sebagian ulama Zhahiriyah dan Ibnu Daud.Kedua, mereka yang memperbolehkan, kalau bukan justru mewajibkan, pengamalan hadits ahad  yang sudah digolongkan pada hadits sahih dan hasan. Sebab kalau sudah ditentukan kesahihannya, sekalipun telah bersifat zhanny at-tsubut, pastilah hadits tersebut datang dari Nabi Muhammad SAW, dan setiap sesuatu yang datang dari beliau pasti merupakan syariat dan syariat wajib yang diamalkan oleh umat Islam. Termasuk dalam kelompok ini adalah semua sahabat, tabi’in, dan tabiu at-tabi’in seta para imam agama yang mujtahidin. Jika ada ulama yang tidak mengamalkan hadits ahad, menurut Jumhur, hanyalah mereka yang tidak meyakini kesahihannya, bukan menolak hadits ahad.

Perbedaan tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Lokus operasional hadits ahad pada aspek keislaman
  2. Lokus operasional hadits hanya sekitar furu’iyah, tidak dalam masalah i’tiqadiyah karena keyakinan harus berdasarkan pada dalil yang qath’iy, sedang hadits ahad bersifat zanniy. (qath’iy : pasti, zanniy : tidak pasti).
  3. Lokus operasionalhadits ahad bukan pada nasikh al-ayat karena yang zhanny tidak bisa menasakh yang qath’iy. Diantara ulama yang berpandangan demikian ialah Imam as-Syafi’i memberbolehkannya.
  4. Lokus operasional hadits ahad bukan pada takhshish al-ayat yang kandungan maknanya ‘amm (umum). Termasuk dalam kelompok ini menurut Ibnu Burhan dan al-Qaththan, al az-zhahir (pengikut Daud bin Ali) dan sebagian-sebagian lagi ulama Irak.
  5. Lokus operasional hadits ahad bukan pada masalah yang hanya menyangkut masalah duniawi karena ada sabda nabi yang menyatakan bahwa: “Kamu semua lebih mengetahui masalah dunia kalian.” (H.R. Muslim).

Ulama juga berpendapat mengenai syarat-syarat pengamalan hadits ahad. Perbedaan tersebut adalah:

  1. Abu Hanifah memeberikan syarat-syarat:
    1. Para perawinya tidak menyalahi riwayatnya
    2. Riwayatnya tidak mengenai hal-hal yang bersifat umum,
    3. Riwayatnya tidak menyalahi qiyas
    4. Malikiyah memberikan syarat bahwa hadits ahad yang diamalkan tidak bertentangan dengan ‘uruf ulama (tradisi ulama) Madinah karena amalan-amalan mereka sama dengan riwayatnya.
    5. As-Syafi’i tidak mensyaratkan ke-mashyur-annya, tidak bertentangan dengan amalan ulama Madinah dan juga tidak mensyaratkan agar tidak menyalahi qiyas. Ia hanya memberikan syarat kesahihan sanad hadits yang ittishal (sambung sanadnya).

Karena adanya perbedaan dalam beberapa hal tersebut diatas, sebagian ulama Hanafiyah tidak mengkafirkan orang yang mengingkari hadits ahad, akan tetapi hanya dihukumi berdosa.

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh Musthafa Al-Sib’ai bahwa hadits ahad diperlukan sebagai dasar syariat Islam.Antara lain:

  1. Diriwayatkanoleh Imam Malik dari Ishaq Ibn Abi Thalhah dari Anas Ibn Malik yang mengatakan, ”Aku pernah memberi Abu Thalhah, Abu ‘Ubaidah Ibn Al-Jarrah dan Ubai Ibn Ka’b minuman dari perasan anggur dan kurma.” Kemudian seseorang datang dan berkata. “sesungguhnya khamar itu telah diharamkan.” Maka Abu Thalhah berkata, ”hai Anas, buanglah dan ambil botol itu dan pecahkanlah!.” Kemudian minuman itu dibuang dan botolpun dipecahkan.  Sebelum datang larangan ini, masyarakat memahami bahwa minuman keras itu boleh diminum. Beberapa orang yang disebut di dalam riwayat ini termasuk berpengetahuan seperti ini. Kedatangan seseorang dengan sebuah berita membuat mereka mempercayai berita tersebut, kendati diriwayatkan secara ahad.
  2. Hukuman potong tangan dapat dijatuhkan kepada pencuri yang mencuri harta genap satu nishab apabila dipersaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi terpercaya. Kesaksian dua orang saksi juga menggambarkan bahwa sebenarnya riwayat (kesaksian) mereka termasuk berita ahad juga.

F.       Contoh-Contoh HaditsAhad

Dari Shahih Bukhariyaitu sebuah hadits ahad dan gharib.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yangakan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan”. [Muttafaqun ‘alaih].

Hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal, tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib, karena tidak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshari. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi, bahkan mungkin ratusan. Awalnya mutawatir, akhirnya ahad dan gharib. Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama.

Hadits inidiriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini,selain ahadjuga gharib, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, ‘Iman itu ada enam puluh cabang lebih dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman”.

Hadits ini menjelaskan tentang cabang keimanan. Yakni, iman itu mempunyai enam puluh cabang lebih. Dan di riwayat Imam Muslim,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman itu tujuhpuluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan salah satu cabang iman”.

 

Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, hukum, akhlak dan adab, seperti menghilangkan gangguan dari jalan. Padahal ini merupakan hadits ahad dan gharib. Jikalau kita menerima kaidah mereka (Hizbut Tahrir), maka tertolaklah hadits ini, karena tidak diriwayatkan secara mutawatir.

Diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

SesungguhnyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak akan beriman (sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya”.

Dan hadits nomor 15, dari jalan Anas:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

RasulullahShallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, ‘Tidak akan beriman (tidak akan sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya dan semua orang”.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tiga hal, jika ketiganya terkumpul pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; (yaitu) Allah dan Rasulnya lebih dicintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilempar kedalam api neraka”.

Hadits ini juga berbicara tentang cinta kepada Allah, RasulNya dan juga keimanan. Bahwa iman itu punya rasa. Demikian ini adalah masalah aqidah.

Hadits nomor 32, dari jalan Abdullah bin Mas’ud.

قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika turun firman Allah (yang artinya) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’am 82), para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Siapakah diantara kita yang tidak berbuat zhalim ?’ lalu Allah menurunkan firmanNya (yang artinya), sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar

Ketika ayat Al An’am 82 diturunkan, para sahabat merasa susah dan berat. Mereka mengatakan, siapakah diantara kita yang tidak menzhalimi dirinya? Maka Rasulullah n menjelaskan kepada mereka, bahwa bukan itu yang dimaksud; tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya? Jadi zhulm (kezhaliman) disini, maksudnya adalah syirik. Ini juga berbicara tentang aqidah, antara tauhid dan syirik.

Hadits no. 39, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

Sesungguhnya agama itu adalah mudah

Ini juga berbicara tentang aqidah, bahkan berbicara tentang agama ini secara keseluruhan. Bahwa ajaran Islam, pengamalan dan dakwahnya adalah mudah. Apakah ini tidak berbicara aqidah? Hadits ini berbicara tentang Islam, dan tentunya kaffah. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).

Hadits yang masyhur dan telah diterima oleh para ulama.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

Sesungguhnyamantera-mantera (yang bathil), jimat dan pelet termasuk bagian syirik”.

 

Tentunya mantera-mantera yang dimaksudkan disini adalah mantera yang bathil. Karena ruqyah (pengobatan dengan bacaan) itu ada dua, ada yang syar’i dan yang tidak syar’i.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

CATATAN SEKILAS PERENCANAAN STRATEGIK


CATATAN SEKILAS PERENCANAAN STRATEGIK

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Manajemen strategis dengan model studi kasus di institusi pendidikan mana terserah dengan sumber data sekunder maksimal 25 halaman

Tinjauan kritis mengenai manajemen strategis: mengkritisi kelemahan dan kekuatan dari manajemen strategis, referensi utama dari jurnal. maksimal 10 halaman.

Membandingkan antara strategic planning dan manajemen strategic

Traditional planning and strategic planning.

Strategic berasal dari dunia militer. Kata strategic berasal dari bahasa Yunani. Berpikir dalam kerangka yang besar. Mempertimbangkan segala opsi yang mungkin, terutama berkaitan dengan lingkungan yang terus berubah.

Memfokuskan diri pada sesuatu yang jelas dan ke arah tujuan yang jelas.

Diambil ke dunia bisnis dipakai sebagai alat manajemen pada semua perusahaan besar, kemudian dimasukkan pada kurikulum pada sekolah-sekolah bisnis.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam manajemen strategic:

  1. Semua manajer adalah pembuat strategi dan pengimplementasi strategi.
  2. Perencanaan strategic bisa diajukan oleh para bawahan.

Perencanaan strategic masuk ke sector public pada tahun 80-an

Dasar asumsinya: perencanaan strategis relevan pada semua organisasi.

Semua organisasi yang baik, ingin menjangkau tujuan jangka panjang tertentu.

Semua organisasi akan berusaha keras menemukan jalan efisien dengan memperhatikan sumber daya yan g terbatas.

Perencanaan strategis tidak pernah bisa dterapkan dengan model tertentu sebagus apapun. Tetapi harus diadaptasikan dengan kebutuhan tertentu.

Pemerintah memerlukan strategic planning karena harus bisa membekrikan pelayanan kepada masyarakat dalam jumlah tertentu dan memuaskan, terutama pada lembaga=lembaga yang non-profit.

Perencanaan strategix diadopsi di amerika tahun 70 an. Tetapi diperguruan tinggi.

Pada pertengahan 80 an, 500 kabupaten menggunakan perencanaan strategis ini.

Perencanaan strategis yang berkembang di dunia pendidikan; ada istilah SWAp. (Sector Wide Approach)

Kesadaran Negara-negara maju akan pentingnya kepemimpinan. Dan pentingnya perncanaan strategis itu untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang tersebut untuk merumuskan pendidikannya.

Deklarasi paris: menyiapkan dan implementasi strategi berskala nasional.

Perencanaan traditional: temuan abad 20. Dulu ada indicate planning sebagai instrument bidang pendidikan, dibawah pengaruh ekonomi pasar. Tetapi perencanaan ini ditujukan untuk memberikan skala prioritas pada nasional yang digunakan membangun ekonomi. Setelah 60 an, perencanaan pendidikan dianggap keharusan bagi Negara berkembang. Dengan kata lain, perencanaan pendidikan itu fokusnya terlalu banyak pada persiapan, tetapi tidak melihat apakah ini bisa dilaksanakan apa tidak. Perencanaan itu dijalankan secara top down, sehingga yang di bawah tidak mengerti, dan dalam bahasa yang terlalu teknis. Pertimbangan terhadap perubahan lingkungan itu, tidak cukup diberikan.

Tujuan memakai strategic management adalah untuk keputusan yang strategic.

Apakah repelita merupakan strategic planning?

Tidak top down dan teknokratis dan tidak berorientasi pada dokumen.

Tradisional education planning:

At the beginning of the 1960s, educational planning was seen as a must for the newly independent contries in orderto allow them to move ahead

  1. Too much focus was placed on plan preparation and not enough on implementation
  2. Plans were being prepared in a top down, technocratic way
  3. Not enough consideration was given to the changing environment.

Key characteristic of strategic planning

Strategic planning is guided by an overall sense  of direction (harus bisa melebar sejauh mungkin, keandalannya adalah kemampuan kita melihat ke semua arah terlebih lagi yang skala global)

Merumuskan visi dan misi.

Tujuan itu harus dirumuskan sedemikian rupa dan harus diikuti alurnya. Prinsip-prinsip dasar yang mempedomani penilaian itu harus dipahami dengan benar.

Vision statement: broader than mission statement. Berisi gagasan-gagasan yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut.

Strategic planning is sensitive to the environment.

Strategic planning is based on the belief that successful development of an organization is the result of finding the right fif between its internal strengths and weaknesess and the external opportunities and threats.

Main assumption: in order to be effective organizations must be responsive to their environment, wich is continuously changing.

Strategic planning is result oriented: considers complianc monitoring as not good enough and prefer to concentrate on whether the expexted results have been obtained.

To measure properly the different types of results, the overall broad policy goals will have to be translated into more precise objectives in the medium-term plan (SMART) (specific, measurable, agreed upon, realistic, timely)

  1. Several indicators will have to be identified for each objective (specifying, what to be measured)
  2. For each indicator, precise targets must be fixed (what’s the expected level or result)

Contoh SMART in education

Policy goal: to increase the internal efficiency of the school system…. Obejective: to reduce repetition of learners in primary school….indicator: the average repetition rate in primary school….

Strategic planning is a mobilization instrument

Strategic planning cannot succed without the commitment of the plan implementers and the different stakeholders.

Strategic planning should be an inclusive process (involving implementers and stake holders)

The ultimate test of strategic plan is in the implementation. (tes akhirnya adalah implementasi)

Kata kuncinya: commitment. Can only be obtained if people identify with the plan, so that they are motivated to produce the expected results.

Strategic planning is flexible in its implementation: the belief in strategic planning: that no neat, final plan can be prepard, simply because:

  1. Situations have become too complex and environments too unpredictable.
  2. It is impossible to foresee every possible consequence of future decisionas that will be made.but flexible is not means “

Dimana kita hari ini: diagnosis

Dimana kita pada masa yang akan datang: perumusan kebijakan

Bagaimana kita seharusnya sampai disana: persiapan perencanaan: merusmuskan tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan pertimbangan tujuan dengan sarana.

Bagaimana seharusnya kita bisa tahu: monitoring, pengukuran kemajuan yang dilakukan seraya melakukan koreksi.

Diagnosis: an effort to plan has to start with a situation analysis in order to identify problems and successes and to determine the critical challenges to be faced. “Education Sector Analysis” from a strategic planning point of view, the sector analysis should not be limited in scope to the education system as such. But should also cover the environment in which the system is operating.

Ex: analysis of demographic trends, analysis of the social economics. Etc.

Policy formulation

Is related to long-term goals.

Is a complex process: start with a review of existibg policies. Implies intensive interaction between the planning experts and the political decision makers.

Is taken place at…: at the same time as the sector analysis. Or can be integrated into the sector analysis

Plan preparation (Medium-term strategic plan).

Step of monitoring

Measurement of targets by different indicators—the information is analyzed—the result is presented in progress reports

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA


LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

            Keluarga bisa diartikan sebagai a group of two or more persons residing together who are related by hood, mariage or adoption (sebuah kelompok untuk dua orang atau lebih yang bertempat tinggal bersama di mana terjadi hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Am Rose  sebagaimana dikutip oleh ST Vembriarto mendefinisikan keluarga : a Family is a group of interacting person who recagnize a relation  ship with each other bayet onconimon  perentage, mariage, and/or adoption  (keluarga sebagai kelompok yang dijadikan interaksi orang-orang yang saling menerima satu dengan yang lain berdasarkan asal-usul, perkawinan atau adopsi). Dari dua pengertian ini dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi. Dengan demikian intisari pengertian keluarga adalah 1. Keluarga adalah kelompok sosial terkecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. 2. Hubungan sosial diantara keluarga relatif tetap yang didasarkan pada ikatan darah, perkawinan, atau adopsi. 3. Hubungan antar keluarga dijiwai oleh susunan afeksi dan rasa tanggungjawab. 4. Fungsi keluarga memulihkan, merawat dan melindungi  anak dalam rangka sosialisasi agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.

Keluarga mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia dalam kehidupan di masyarakat. Terbentuknya keluarga bukan semata-mata mempunyai kepentingan yang sama, tetapi lebih dari itu adalah berdasarkan sukarela dan cinta kasih yang azasi diantara dua manusia (suami-istri). Berdasarkan rasa cinta kasih inilah kemudian lahir anak sebagai generasi penerus. Keluarga juga sangat penting sebagai wadah antara individu dan kelompok yang menjadi tempat pertama dan utama untuk sosialisasi anak. Ibu, ayah, saudara dan keluarga yang lain adalah orang yang pertama bagi anak untuk mengadakan kontak dan tempat pembelajaran sebagaimana hidup orang lain. Anak-anak menghabiskan waktunya dalam keluarga, sampai mereka masuk sekolah.

Fungsi dan peranan keluarga

Keluarga adalah merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, yaitu fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan dan rekreasi. Menurut Oqburn, fungsi keluarga adalah kasih sayang, ekonomi, pendidikan, perlindungan, rekreasi, status keluarga dan agama. Sedangkan fungsi keluarga menurut Bierstatt adalah menggantikan keluarga, mengatur dan mengurusi impuls-impuls seksuil, bersifat membantu, menggerakkan, nilai-nilai kebudayaan dan menunjukkan status. Fungsi-fungsi keluarga ini membuat interaksi antar anggota keluarga eksis sepanjang waktu. Waktu terus berjalan dengan membawa konsekuensi perkembangan dan kemajuan. Keluarga dan masyarakat tidak lepas dari pengeruh-pengaruh tersebut, sehingga perubahan apa yang terjadi di masyarakat, berpengaruh pula di keluarga. Proses industrialisasi, urbanisasi dan sekulerisasi telah merubah sebagian dari fungsi-fungsi keluarga tersebut. Diantara fungsi-fungsi keluarga yang berubah adalah :

a. Fungsi pendidikan, pada awalnya keluarga adalah satu-satunya institusi pendidikan. Secara informal  fungsi keluarga tetap penting, tetapi secara formal fungsi pendidikan itu telah diambil oleh sekolah. Proses pendidikan di sekolah menjadi sangat penting, bukan hanya terbatas pada pendidikan intelek, tetapi sudah mengarah kepada pendidikan pribadi anak.

b. Fungsi rekreasi, dulu keluarga sebagai tempat rekreasi paling menarik tetapi sekarang sudah dialihkan ke tempat lain di luar lingkungan keluarga. gedung bioskop, lapangan olah raga, tempat alam indah, kebun binatang, night club, pusat perbelanjaan, dan sebagainya, merupakan tempat rekreasi keluarga. Keluarga hanya sebagai tempat berkumpul untuk istirahat selepas aktivitas sehari-hari.

c. Fungsi keagamaan, agama dan segala kegiatannya berpusat dalam keluarga. Sebagai pengendali nilai-nilai religius keluarga sudah tidak dapat dipertahankan karena pengaruh sekulerisasi. Segala bentuk ajaran agama telah diambil oleh institusi keagamaan sehingga yang disebut sekolah individual tidak lagi diakui oleh masyarakat. Sebaliknya masyarakat lebih melihat sekolah sosial sebagai tolak ukurnya. Agama lebih bersifat simbolik universal dengan maraknya kegiatan keagamaan sakralitas.

d. Fungsi perlindungan, dulu keluarga menjadi tempat yang nyaman untuk melindungi anggota keluarganya, baik fisik maupun sosial. Sekarang institusi sosial telah mengambil alih fungsi perlindungan tersebut, seperti tempat perawatan anak cacat tubuh dan mental, yatim piatu, anak nakal, panti jumpo, asuransi jiwa, dan sebagainya.

Tetapi ada fungsi-fungsi keluarga yang tidak bisa lapuk oleh irosi industrialisasi, urbanisasi dan sekulerisasi, yaitu :

a. Fungsi biologis, keluarga sampai sekarang masih dianggap tempat yang paling baik dan aman untuk melahirkan anak, keluarga adalah institusi untu lahirnya generasi manusia. Anak yang lahir di luar keluarga, seperti anak lahir tanpa bapak, anak lahir dengan jalan zina, anak lahir dari tabung, (bayi tabung) dipandang tidak sah oleh masyarakat. Tetapi dari sisi lain, fungsi biologik mengalami pergeseran dilihat dari sisi jumlahnya. Kecenderungan keluarga modern hanya menghendaki anak sedikit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1. Perubahan tempat tinggal keluarga dari desa ke kota. 2. Makin sedikitnya fasilitas perumahan. 3. Banyak anak dianggap sebagai penghambat untuk kerusakan keluarga. 4. Banyak anak dianggap menghambat untuk mencapai sukses material keluarga. 5. Meningkatnya taraf pendidikan wanita. 6. Berubahnya dorongan dari agama agar keluarga mempunyai anak banyak. 7. Makin banyak para ibu yang bekerja di luar rumah. 8. Makin luasnya pengetahuan dan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

b. Fungsi sosialisasi, keluarga masih berfungsi sebagai institusi yang dominan dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari tingkah laku, sikap keyakinan cita-cita dan nilai-nilai masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadian.

c. Fungsi afeksi, dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Afeksi muncul sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan. Hubungan cinta kasih dalam keluarga juga mengakibatkan lahirnya hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan dan persamaan  pandangan tentang nilai-nilai kehidupan.

Di samping keluarga mempunyai fungsi tersebut diatas, keluarga juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal-hal yang dianggap penting bahwa keluarga mempunyai peranan  kunci adalah :

a. Keluarga merupakan kelompok kecil yang angota-angotanya berinteraksi face to face secara tetap. Dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat di ikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.

b. Orang tua mempunyai mortivasi yang kuat untuk mendidik anak, karena anak merupakan buah cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dengan anak. Hasil penelitian membuktikan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif daripada hubungan intelektual dalam proses pendidikan.

c. Karena hubungan keluarga bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses pendidikan anak.

Jika suatu keluarga ingin berfungsi  secara efektif dan efisien maka anggota keluarga harus melaksanakan sejumlah besar pekerjaan sehari-hari tanpa ragu-ragu dan penuh rasa tanggungjawab. Cara yang sangat sederhana untuk menyakinkan pekerjaan anggota keluarga harus membagi sebagaian pekerjaan besar tersebut menjadi serangkaian peran yang ditetapkan dan mensosialisasikan peran tersebut kepada seluruh anggota keluarga guna menerima dan mengisi peran yang diberikan kepada mereka. Anggota akan melaksanakan perannya masing-masing berdasarkan status yang diberikan atau yang dimiliki.

Dilihat dari segi hubungan internal keluarga, ada keluarga otoriter, keluarga demokratis dan keluarga liberal. Status keluarga sebagai keluarga otoriter, maka orang tua yang akan menentukan perkembangan anak. Sifat pribadi anak yang otoriter, biasanya suka menyendiri mengalami kemunduran kematangan, ragu-ragu dalam semua tindakan serta lambat berinisiatif. Status keluarga demokrasi biasanya sikap anak lebih bisa menyesuaikan diri, fleksibel, dapat menguasai diri, mau menghargai pekerjaan orang lain, menerima kritik dengan terbuka, emosi lebih stabil, serta mempunyai rasa tanggungjawab. Status keluarga liberal, anak-anak lebih bebas bertindak dan berbuat, sifat keluarga liberal adalah agresif, tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, sulit menyesuaikan diri, emosi kurang stabil, serta mempunyai sifat selalu curiga.

Dilihat dari segi sifatnya, ada keluarga terbuka dan keluarga tertutup.   Peran keluarga terbuka adalah selalu mendorong anggota anggota keluarganya untuk selalu bergaul dengan teman-temannya, ayah dan ibu mempunyai banyak kenalan, keluarga terbuka bagi tamu, angota keluarga mempunyai perhatian kepada masalah-masalah sosial. Keluarga terbukka lebih sedikit mengalami ketegangan-ketegangan dibanding keluarga yang bersifat tertutup, karena pergaulan di luar keluarga bisa mengurangi ketegangan-ketegangan emosional. Peran keluarga tertutup yaitu menutup diri terhadap hubungan dinia luar. Ciri keluarga tertutup antara lain : 1. menghadapi orang luar dengan penuh kecurigaan. 2. Hubungan terbatas hanya kepada lingkungan keluarga sendiri dalam hal keintiman kecintaan afeksi. 3. Ketegangan sering terjadi. 4. kekecewaan ditumpuk pada keluarga sendiri. Kelebihan keluarga tertutup adalah, diantara anggota keluarga mempunyai ikatan batin yang kuat, sehingga hubungan diantara keluarga lebih intim dan kompak, solidaritas antar anggota kelompok lebih besar.

Dilihat dari segi kelas keluarga, Bossard membagi kelas keluarga menjadi tiga bagian. Pertama, upper class, adalah sikap bangga dan menaruh perhatian kepada anak. Anak diharapkan dapat membantu keluarga. Mereka berjuang agar dapat mendidik anak sebaik mungkin baik secara jasmani, sosial maupun intelektual. Kedua midle class, keluarga meyiapkan anak dapat memakai pakaian sendiri, lebih awal mengambil bermacam-macam tanggung jawab, meyapih anak lebih cepat, lebih bebas mengasuh anak. Ketiga, lower claas, lebih disiplin yang ditandai dengan ciri, fisik, kekerasan dan konflik, lebih lama menyapih anak, anak-anak cenderung minder, bersifat menghormat dan lain sebagainya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT