Category Archives: Artikel Opini Khusus

Bencana Alam


BENCANA ALAM

 

Bencana alam, apapun bentuknya memang tidak diinginkan. Sayangnya kejadian demi kejadian berlangsung terus menerus. Berbagai usaha tidak jarang dianggap maksimal tetapi kenyataan sering tidak terelakkan. Masih untung bagi kita yang mengagungkan Tuhan sehingga segala kehendak-Nya bisa dimengerti, meski itu berupa derita.

Banyak masalah yang berkaitan dengan bencana alam. Kehilangan dan kerusakan termasuk yang paling sering harus dialami bersama datangnya bencana itu. Harta benda dan manusia terpaksa harus direlakan. Bayangkan saja harta yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dipelihara bertahun-tahun lenyap seketika. Demikian juga nyawa menjadi tiada arti lagi. Karena bencana alam banyak merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa.

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gununggempa bumitanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Bencana alam juga dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh gejala alam. Sebenarnya gejala alam merupakan gejala yang sangat alamiah dan biasa terjadi pada bumi. Namun, hanya ketika gejala alam tersebut melanda manusia (nyawa) dan segala produk budidayanya (kepemilikan, harta dan benda), kita baru dapat menyebutnya sebagai bencana..

Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan(vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

Bencana alam dilihat dari faktor penyebabnya secara umum dibagi menjadi tiga.

Bencana alam geologis

Bencana alam ini disebabkan oleh gaya-gaya yang berasal dari dalam bumi (gaya endogen). Yang termasuk dalam bencana alam geologis adalah gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami.

Bencana alam klimatologis

Bencana alam klimatologis merupakan bencana alam yang disebabkan oleh faktor angin dan hujan. Contoh bencana alam klimatologis adalah banjir, badai, banjir bandang, angin puting beliung, kekeringan, dan kebakaran alami hutan (bukan oleh manusia).

Gerakan tanah (longsor) termasuk juga bencana alam, walaupun pemicu utamanya adalah faktor klimatologis (hujan), tetapi gejala awalnya dimulai dari kondisi geologis (jenis dan karakteristik tanah serta batuan dan sebagainya).

Bencana alam ekstra-terestrial

Bencana alam Ekstra-Terestrial adalah bencana alam yang terjadi di luar angkasa, contoh : hantaman/impact meteor. Bila hantaman benda-benda langit mengenai permukaan bumi maka akan menimbulkan bencana alam yang dahsyat bagi penduduk bumi.

Bencana alam apapun bentuknya mendatangkan dampak negatif pada manusia. Dampak negatif tersebutn mendatangkan kerugian bagi manusia. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan(vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

Bencana berarti juga terhambatnya laju pembangunan. Berbagai hasil pembangunan ikut menjadi korban sehingga perlu adanya proses membangun ulang. Kehidupan sehari-hari juga menjadi tersendat-sendat. Siswa yang hampir menempuh ujian terpaksa berhenti bersekolah. Kenyataan seperti ini berarti pula muncul kemungkinan kegagalan di masa mendatang. Pemenuhan kebutuhan seharihari juga menjadi sulit padahal penggantinya juga tidak bisa diharapkan segera ada.

SEKIAN

TERIMA KASIH

Advertisements

JERITAN LINGKUNGAN


JERITAN LINGKUNGAN

(Distingsi Ketidakbersahabatan Alam Dengan Manusia)

By: Muhammad Fathurrohman

 

Bencana yang silih berganti dirasakan rakyat beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwasannya alam sudah tidak bersahabat lagi dengan kita, atau lebih tepatnya menurut kami manusialah yang tidak bersahabat dengan alam.

Nampak jelas dihadapan kita bahwasannya manusia mengembangkan kebudayaannya dengan mengadakan pembangunan dalam berbagai bidang, namun dalam pengembangannya manusia tidak lagi memperhatikan aspek keselarasan dan keseimbangan alam, manusia mengeksploitasi alam dengan semau hatinya tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, yakni kemampuan lingkungan untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pembangunan dengan dalih perluasan wilayah karena pesatnya pertumbuhan manusia yang tidak dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi salah satu faktor semakin rusaknya lingkungan kita. Selain itu faham liberalisme dan kapitalisme barat juga mengambil andil yang sangat besar dalam permasalahan kerusakan lingkungan dimuka bumi ini. Faham yang mengagungkan kebebasan tersebut yang dimulai dengan munculnya revolusi industri yang kemudian mengajak manusia untuk menjarah sumberdaya alam untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin telah nyata membuat kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Menurut P. Joko Subagyo kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini dapat digolongkan menjadi dua macam, yakni:

  1. Kerusakan yang terjadi dengan sendirinya, yang disebabkan oleh alam sendiri maupun oleh manusia.
  2. Kerusakan yang terjadi karena pencemaran, baik pencemaran air, udara, maupun tanah.

Jika kita menelaah lebih lanjut maka kerusakan tersebut pada dasarnya merupakan akibat dari ulah manusia. Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh al-Qur’an dalam surat ar-Rum(30) ayat 41,

” telah tampak kerusakan didarat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”

Diwaktu yang mendatang menurut Ronalg Higgins sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Arifin Thoha kita akan menghadapi tujuh ancaman, yakni :

  1. Ledakan penduduk yang terus menerus akan mengancam bumi.
  2. Kelaparan dan kekurangan gizi yang mengancam penduduk negara-negara berkembang.
  3. Semakin langkanya sumberdaya alam, berhadapan dengan kebutuhan yang semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk, seperti minyak bumi, kayu, mineral alam, dan sebagainya.
  4. Menurunnya kualitas lingkungan hidup, sehingga semakin sulit menopang kebutuhan hidup manusia.
  5. Ancaman nuklir yang kian berkambang dibanyak negara dan tak terkendalikan.
  6. Pertumbuhan ilmu dan teknologi yang pesat diluar kendali manusia, bahkan sebaliknya manusia cenderung dikendalikan ilmu dan teknolgi.
  7. Runtuhnya moral manusia manusia dengan kadar kesadaran (consciousnees) yang rendah.

Ancaman-ancaman di atas sudah nampak jelas didepan mata kita. Sehingga membutuhkan perhatian khusus dan langkah secara bersama. Beberapa masalah-masalah lingkungan hidup yang terjadi di dunia serta di indonesia pada khususnya dapat kami kategorikan sebagai berikut:

Pencemaran tanah

Pestisida dan pupuk kimiawi merupakan masalah yang sangat besar ketika terbawa arus hujan dan mengalir kedalam sungai sehingga dapat menyuburkan ganggang. Sam efektifnya ketika menyuburkan tanah lahan pertanian. Hal tersebut telah menyebabkan rusakya laut Galilee (danau Kinneret) yang dialiri sungai jordan. Danau yang menyediakan 1/3 sumber air bagi warga israel tersebut telah tercemar dengan ditemukannya kandungan nitrat yang mengalir dari wilayah pertanian di sepanjang Jordan ke dalam danau sehingga daya jernih danau tersebut rusak.

Di Indonesia sendiri, sampai akhir tahun 70-an petani kita masih menggunakan cara tradisional untuk menggarap sawahnya. Baru setelah orde baru mengembangkan kebijaksanaan medernisasi untuk pertanian berupa revolusi hijau terjadilah pola perubahan penggarapan sawah. Melalui revolusi hijau diharapkan produksi padi akan meningkat dengan penanaman bibit unggul serta aplikasi pupuk buatan, insektisida, dan pestisida. Juga didukung oleh para pembimbing serta adanya Kredit Usaha Tani. Pada tahun 1985-1990 kita berhasil mencapai swasembada pangan yan artinya nol persen impor beras.

Dibalik itu semua ternyata dibalik itu semua kita kehilangan bibit lokal yang pada awalnya ada sekitar 8000 jenis, kini hanya tersisa 25 jenis bibit padi lokal. Kerusakan ekosistem yang lain adalah berkurangnya populasi cacing tanah sebagai aktor penggembur tanah dan ular sawah sebagai predator tikus dan hewan lain karena penggunaan pembunuh hama sintetik.

Hal ini kemudian memunculkan masalah baru dengan munculnya berbagai hama yang menyerang petani kita silih berganti. M. Ali yafie mencatat dijawa barat misalnya pada tahun 1991-1996 terjadi peningkatan serangan hama wereng coklat dengan insentitas meningkat dari 11,6 ke 12,8 persen. Hama tikus juga meningkat serangannya dari13,4 menjadi15,4 persen. Kasus yang sama juga terjadi di jawa barat. Serangan hama wereng coklat dari 7,7 (1991) persen meningkat dua kali lipat menjadi 17,5 persen (1996). Di Jawa barat lebih parah lagi karena serangan hama wereng menngkat tiga kali lipat dari 7,7 persen (1991) menjadi 24,3 persen (1996).

Pencemaran air

Air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan. Ketika populasi manusia masih sedikit dan teknologi yang dipakai manusia belum menghasilkan limbah pencemar, perlakuan manusia belum menjadi permasalahan lingkungan. Akan tetapi, kini limbah rumah tangga dan pabrik menjadi masalah yang sangat luar biasa bagi lingkungan hidup.

Pencemaran air dapat diartikan sebagai pengrusakan  kualitas air yang menyebabkan kerusakan pada sistem ekologinya. Pencemaran air ini akan mengurangi peranan alaminya.

Sebagai mana yang di kutip M. Ali Yafie dari Henry lansford (1986), pada permulaan abad ke-13 pada masa pemerintahan raja Philip agustus, air sungai seine sangatlah jernih, sehingga orang-orang dapat melihat ikan  yang berenang kesana kemari dari atas  jembatan.selam abad ke-17 memancing ikan merupakan hiburan yang anggota parlemn disela-sela sidang parlemen. Namun setelah munculnya revolusi industri pada abad ke-19, keadaan berubah. Anatara tahun1849-1853 sungai themes di London telah menjadi tempat sampah.akibatnya 20.000 penduduknya meningal karena wabah kolera. Pada masa yang sama pula epidemitypus melanda banyakkota di Amerika serikat. Bukti-bukti tidaklangsung menyampaikan bahwasannya penyakit tersebu ditularkan melalui air minum yang tercemar. Sungai Rhine di Belanda disebut dengan ”selokan Eropa”. Pada waktu aliran sungai tersebut sampai di pantai Belanda. Airnya mengandung 20 % sampah dan limbah industri. Sungai iset di uni soviet juga sarat dengan limbah industri yang mudah menguap dan terbakar jika ada puntung rokok yang dilemparkan ke dalamnya. Hal tersebut juga sama dengan yang terjadi di Sungai Ohio yang terbakar daan membakar habis dua penyangga rel kereta api sebalum api sempat dipadamkan.

Masih menurut M. Ali Yafie Selain kerusakan karena pencemaran, pemakaian air yang berlebihan juga merupakan salah satu faktor penyebab langkanya air bersih. Maude barlow dan Tony clark (2005) menyatakan bahwa industri merupakan pengguna air terbesar di dunia, 20-25 persen dan permintaan terus meningkat secara drastis.

Di Indonesia, pencemaran teluk Jakarta oleh limbah organik dan logam berat telah melampaui amabang batas sejak tahun 1972 dan cenderung terus meningkat. Epningkatan jenis sampah di pulau-pulau Indonesia juga  terus semakin meningkat. Di Pulau Bkor misalnya, selama sepuluh tahun terakhir  meningkat dari 521 pada tahun 1985 menjadi 1.112 jenis pada tahun 1995. kulaitas air sungai di Indonesia pada umumnya juga telah dicemari oleh limbah domestik yang masuk ke badan sungai disamping limbah-limbah lainnya dari perindustrian.

Pemantauan kualitas air yang  dilakukan terhadap 30 propinsi di Indonesia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa sungai progo (jateng dan jogja), sungai citarum (jabar) tidak lagi memenhi kriteria mutu air kelas satu menurut PP 82 tahun 2001.

Penelitian yang dilakukan pad kurun waktu 1980-an telah menunjukkan adanya kadmium dan timbel yang mencapai 2.50 sampai 4.00 ppm. Juga telah mencapai baku mutu ( Baku mutu air : batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang lainnya yang ada atau harus ada dan atu unsur pecemar yang di tenggang adanya dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya( PP no. 20 tahun 1990 bab I pasal I ayat 4)) air laut dari yang dipersyaratkan sekitar 0.03 ppm. Pada tahun 2004 pemantauan terhadap 48 sumur di Jakarta menunujukkan bahwa hampir semuanya mengandun bakteri coliform dan fecalcoli. Dimana persentase smur yang melebihi mutu untuk para meter colofoorm di seluruh Jakarta cukup tinggi yakni mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki laut yang cukup luas. Potensi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kegiatan. Laut kita memiliki Sumber Daya Alam yang sangat mengagumakan mulai dari jenis ikan minyak bumi, gas alam, mineral tambang dan lain sebagaainya. Pantai-pantai di Indonesia-pun sangat indah dan menarik banyak wisatawan manca untuk menikmatinya.

PBB melalui organisasi bahan makanan dan pertanian pernah menyampaikan bahwaannya kita tidak dapat menangkap ikan lebih dari 100 juta ton ikan tanpa menimbulkan ancaman terhadap persediaan ikan. Pada tahun 1989 hal ini terjadi dimana  tangkapan ikan yang melebihi jumlah itu. Dan pada tahun berikutnya tangkapan merosot 4 juta ton. Dan dibeberapa tempat penanagkapan ikan mengalami penurunan yang drastis. Hal ini dikarenanakan penangkapan yang melebih batas, pencemaran laut dan rusaknya lokasi-lokasi tempat ikan berkembang biak.

Tumpahan minyak di lautan Indonesia juga merupakan ancaman pencemaran yang berbahaya. Khususnya tempat-tempat lalu lalang kapal-kapal pengangkut minyak, seperti Selat malaka yang diperkirakan 1% total minyak  yang diangkut keseluruh dunia melewati, selat Lombok dan  selat Makassar yang setiap harinya dilewati oleh 5-6 kapal tanker raksasa setiap harinya. Pencemaran minyak dilautan juga disebabkan pengeboran minyak yang diikuti ceceran minyak bumi yang biasanya disebabakan oleh bocornya eralatan yan kurang sempurna.kilang minyak juga merupakan faktor pencemara lainnya dengan adanya pembuangan limbah air yang telah bercampur dengan minyak, yang pada umumnya dialirkan ke alut juga.

Pencemaran udara

Udara merupakan kebutuhan mutlak mkahluk hidup. Udara merupakan kumpulan gas yang 78,084% terdiri dari unsur nitrogen dan 20,946-nya terdidiri dari unsur oksigen, sedangkan 1 % nya terdiri dari unsur-unsur gas yang lain. Pencemaran udara merupakanpencemaran yang kronis sebab merupakan pencemaran yang pada umumnya kasat mata, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, sehingga cenderung diabaikan.

Pencemaran udara misaknya pencemaran oleh logam berat cadmium (Cd) dan air raksa (Hg) di kota-kota industri di Jepang pada tahun 1940-an dan 1950-an. Kabut asap fotokimia telah menempatkan Mexico city pada daftear kota-kota yang paling tercemar di dunia. Demikian ula sydney yang udaranya dicemari oleh asap mobil dengan persentase lebih tinggi dibandin dengan kota manapun di Amerika serikat. Pada tahun 1970, di tokyo tercatat lebih dari 8000 orang  menderita iritasi  mata, hidung, dan tenggorokan karena asap putih yang menyelimuti kota itu selama lima hari.

Pencemaran udara tak hanya membahayakan jiwa saja, namun juga benda-benda mati seperti baja yang berkarat sampai empat kali lebih cepat ditempat-tempat yang mengandung belerang.

Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendraan motor, seperti timbal/ timah hitam (Pb). Suspended particular matter (SPM), Oksida nitrogen (Nox), Hidro carbon (HC), Karbon monoksida (CO), dan oksida foto kimia (Ox).

Sementara itu, laju pertambahan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 15% per tahun. Hal ini tentu saja diimbangi dengan pertambahan laju pencemaran oleh emisi kendaraan bermotor tersebut. Berdasaran studi Banak Dunia pada tahun1994, pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi anak balita di Jakarta. 14% penyebab kematian bagi seluruh balita di Indonesia dan juga Jakarta adalah dengan kualitas terburuk ketiga.

Damapak timbal bagi manusia terutama anak-anak diantaranya adalah mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, memndekkan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, mempengaruhi perilaku dan inteligensia, merusak fungsi organ tubuh seperti ginjal, sysstem syaraf, dan reproduksi, meningkankan tekanan darah, dan mempengruhi perkembangan otak.

Krisis keragaman hayati

Salah satu krisis terbesar yang dihadapi dunia saat ini adalah krisis keragaman hayati yang mencakup keragaman habita, keragaman spesies, dan keragaman genetika. Tingkat keragaman hayati dapat turun karena hewan-hewan dibunuh secra semana-mena (over hunting), pohon-pohon ditebangi secara liar, tumbuhan-tumbuhan kecil tertimbun atau tercabut akarnya, serta rusaknya habitat karena pencemaran. Rusaknya habita alami juga disebakan oleh konversi (pengubahan) habita alami menjadi habita buatan karena arus pembangunan serta industri. Sebagaimana yang dikutip oleh M. Ali Yafie  dari Vandhana Shiva, bahwasannya krisis keragaman hayati secara besar-besaran disebabkan oleh dua hal. Pertama, proyek pembangunan dikawsan hutan dan kedua adanya pendekatan monokultur yakni penanaman satu jenis tanaman bibit unggul dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Indonesia yang dianggap sebagai pusat keragaman hayatipun tak lepas dari krisis keragaman hayati (Biologocal Diversity) ini. Indonesia dihuni oleh 25.000 spesies tanaman berbunga atau 10% dari jumlah tanaman berbunga di dunia.jumlah spesies mencapai 515 atau 12% dari jumlah spesies mamalia didunia, 600 spesies reptilia, 1.519 spesies burung dan 270 spesies amfibia, dan keragaman jenis yang lainya. Selain itu karegamaan tanaman dan hayati laut yang luar biasa, terutama terumbu karang merupakan yang paling kaya didunia. Selain keragaman spesies Indonesia juga mempunyai keragamn genetika yang sangat tinggi, seperti 19 jenis durian yang tumbuh liar di kalimanatan, 6 macam sagu di maluku, dan 9 macam matoa di Papua.

Namun demikian, sekarang kita sudah jarang menemukan tanaman buah seperti duwet, gandaria, kepel, kecapi, dan lain sebagainya.sementara dipasaran kita di tawarkan dengan buah-buahan impor. Di sektor pertanian, saat ini kita hanya mengenal beberapa  varietas unggul yang kita kenal dengan istilah padi IR atau PB.paling tidak 1.500 varietas padi tardisional telah punah oleh revolusi hijau selama lima belas tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa keragaman hayati Indonesia semakin berkurang.

Kerusakan hutan

Hutan merupakan paru-paru dunia. Hutan terluas di dunia adalah hutan Amazon di Amerika yang dihuni oleh sekitar 4.000 spesies pohon, 60.000 spesies tumbuhan berbunga, 1.000 spesies burung, 300 lebih spesies mamalia dan jutaan serangga. Namun kini hutan tersebut telah rusak oleh penebangan pohon secara sembarangan.

Tidak hanya Amazon, hampir diseluruh hutan di dunia telah dieksploitasi dan sebagian telah sirna. Saat ini perkirakan hanya tinggal 10% dari hutan belantara yang pernah ada di muka bumi ini.

Kerusakan hutan merupakan tema sangat penting dari kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki 10% persen hutan tropis di dunia yang masih tersisa. Sampai saat  ini diperkirakan Indonesia telah kehilangan lebih dari 72 persen dari luas hutan yang dimilikinya.

Laju kerusakan hutan di Indonesia pada periode 1985-1997 tercatat 1,6  juta ha pertahunnya. Sdangkan pada periode 19997-2000 menjadi 3,8 juta ha  pertahunnya.Berdasarkan  Informasi yang berkembang krusakan hutan di Indonesia disebakan oleh HPH dan kebakaran atau disengaja dibakar.

Hutan di Indonesia merupakan paru-paru dunia yang mampu menyerap karbon dioksiada dan menyediakan oksigen bagi kehidpan di dunia. Fungsi hutan sebagai penyimpan debit air juga akan terganggu akibat pengrusakan hutan secara terus menerus. Hal ini akan membawa dampak adanya kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Yang akhirnya akan berdampak pada perubahan iklim yang terjadi saat ini,munculnya banyak bencana, tanah yang tandus, punahnya spesies dan tentunya kemerosotan ekonomi rakyat.

Pemanasan global (Global Warming) dan efek rumah kaca

Global warming merupakan isu menarik akhir-akhir ini. Bahkan bebrapa waktu yang lalu para pemimpin duni bertemu untuk membahas masalah ini.

Pemanasan global merupakan akibat dari kerusakan lingkungan pula. Pertambahan penduduk dan penggunaan sumberdaya alam untuk kepentingan industri dan gaya hidup modern, dan konsentrasi zat karbon dioksida yang tidak terserap oleh tumbuhan, gas methan, klorofourokarbon, ozon troposfer, dan nitrit oksida telah menyebebkan apa yang disebut efek rumah kaca. Implikasinya perubahan iklim yang tidak menentu, meningkatnya suhu bumi dan ancaman mencairnya es dikutub yang berakibat naiknya permukaan laut menjadi akibatnya, dan tentu saja hal ini akan menjadi ancaman besar eksistensi makhluk hidup di bumi ini.

SEKIAN

TERIMA KASIH

Perjuangan dan Perjalanan yang Mengasyikkan


Perjuangan dan Perjalanan yang Mengasyikkan

By: Muhammad Fathurrohman

Mengajar itu memang ada kalanya mengasyikkan dan adakalanya penuh perjuangan. Terlebih lagi kalau untuk mengajar, harus menempuh puluhan kilometer. Tempat saya mengajar dari rumah tempat tinggal saya sekitar 45 km. Itu merupakan jarak yang tidak jauh juga tidak pendek. Namun, mengajar dalam jarak yang sekian jauhnya itu ternyata ada kesan-kesan tersendiri. Kesan tersebut memang terlalu banyak dan lebar untuk dilukiskan dalam kata-kata.
Pertama, untuk mencapai tempat mengajar memang diperlukan waktu yang tidak sedikit, kira-kira sekitar 45 menit – 1 jam namun ketika perjalanan tersebut juga terdapat fenomena menarik. Mulai dari medan yang penuh dengan tantangan karena ketinggian jalannya ada yang 45 derajat, jalan yang licin ketika hujan, belum lagi kemalasan yang melanda ketika hujan, suasana yang dingin ketika sudah sampai di tengah-tengah pegunungan. Tidak kalah mengasyikkannya pemandangan yang indah yang menghiasi perjalananku setiap hari, masyarakat yang ramah, dan sebagainya. Semua itu mewarnai dan menjadi kenangan tersendiri dalam kegiatan mengajarku sehari-hari.
Kedua, letak sekolah yang berada di daerah yang sepi dari perkampungan penduduk menambah sejuk suasana, terutama ketika terjadi kebersamaan yang setiap hari menyelimuti dan mewarnai aktivitas di tempat tersebut. Karena aku juga sebagai pembina pramuka, maka biasanya ketika ada perkemahan, maupun ada kegiatan malam aku pasti berada di sekolah. Tempat yang jauh dari perkampungan penduduk tersebut memberi kenikmatan alami tersendiri dalam diri pengajar atau bapak ibu guru yang bertugas jaga malam ketika ada kegiatan malam. Menurut saya di sana merupakan tempat yang cocok untuk merenung, sambil menikmati panorama keindahan kemacatan kauman, karangrejo dan kota Tulungagung yang gemerlap ketika malam hari.
Ketiga, karena sekolah tersebut berada pada ketinggian 1000 m di atas permukaan air laut, maka secara otomatis ketika malam hari suhunya terasa dingin. Bukan hanya malam hari, siang hari saja di sekolah tersebut tidak berkeringat kalau tidak berolahraga. Namun, hal itu menambah keasyikan mengajar di sana, karena biasanya ketika ada kegiatan sekolah tambahan baik siang maupun malam biasanya ada acara makan bersama, makanan biasa ketika dimakan bersama dan berada di sekolah nampak nikmat sekali, walaupun hanya sambal terong atau pecel lele, tapi sudah nikmatnya bukan main. Kebersamaan itulah yang juga menjadi warna khusus tersendiri ketika berada di sekolah tersebut.
Jadi walaupun perjalanan dan perjuangan yang melelahkan dilaksanakan oleh para guru, namun ada keasyikan tersendiri yang tidak bisa ditemukan di sekolah lainnya. Bravo SMPN 2 Pagerwojo!!