Category Archives: Educational Management

PROBLEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


PROBLEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

(PTS)

By: Muhammad Fathurrohman

 Pendahuluan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan sesuai dengan salah satu kompetensi yang harus dumiliki yaitu kompetensi penelitian (Permendiknas no 12 Th. 2007).

Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalahan tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.

Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.

Dalam makalah ini penulis akan paparkan definisi Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), ruang lingkup yang menjadi kajian dalam PTS, selanjutnya akan dibahas langkah-langkah dalam melakukan PTS, pembaca juga akan menemukan permasalah-permaslahan yang dialami pengawas dalam melakukan PTS, kemudian solusi yang ditawarkan oleh penulis terhadap permasalahan tersebut dan yang terahir penulis akan mencoba untuk membuat kesimpulan.

B.     Pengertian

Ketika guru berdiri di depan kelas melaksanakan tugasnya, ia banyak mendapat permasalahan yang medesak untuk dijawab, atau mendapat solusi yang langsung bisa mengobati masalah itu. Disinilah PTK/PTS diharapakan dapat meainkan peran. Adapun pengertian PTK, menurut Hopkins dalam Rochiati (2007), PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur yang dilakukan dalam tindakan subtantif, yaitu suatu tundakan yang dilakukan dalam disiplin inquiry, atau usaha seseorang dalam memahami permasalahan dan mencari solusinya sambila terlibat didalamnya. Sedangkan menurut Kemmis (1993) adalah sebuah bentuk pencarian solusi secara kemitraan terhadap situasi social tertentu termasuk masalah pendidikan. Penelitian Tindakan Kelas sebuah usaha guru dalam mengatasi masalah-masalah praktis pembelajaran guna memperbaiki proses belajar mengajar, serta melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Suharsimi (2002) menjelaskan PTK melalui gabungan definisi dari tiga kata yaitu “Penelitian” + “Tindakan“ + “Kelas”. Makna setiap kata tersebut adalah sebagai berikut.

     Penelitian; kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah.

     Tindakan; sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Tindakan yang dilaksanakan dalam PTK berbentuk suatu rangkaian siklus kegiatan.

     Kelas; sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan kelas saja, melainkan dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktikum di laboratorium, atau belajar tempat lain di bawah arahan guru.

Adapun definisi Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), adalah upaya pengawas atau kepala sekolah/madrasah dalam menyelesaikan permasalahan praktis kepengawasan melalui penelitian dengan menerapakan metode tertentu dalam rangka membantu guru dan atau kepala sekolah melaksanakan tugasnya.

C.     Pentingnya Tindakan Peneltian Sekolah

Saat ini, penelitian tindakan banyak dilakukan baik oleh  guru maupun  pengawas. Bila dilakukan guru umum disebut sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sedangkan bila dilakukan oleh pengawas sekolah, disebut sebagai Penelitian Tindakan Sekolah atau disingkat dengan sebutan PTS.

1.    Tujuan Penelitian Tindakan Sekolah

Tujuan utama Penelitian Tindakan Sekolah adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

Secara lebih rinci, tujuan Penelitian Tindakan Sekolah antara lain :

  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan, manajemen  dan pembelajaran, termasuk mutu guru, kepala sekolah, khususnya yang berkaitan dengan tugas profesional kepengawasan,  di sekolah-sekolah yang menjadi binaannya.
  2. Meningkatkan kemampuan dan  sikap profesional sebagai pengawas sekolah.
  3. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan

Ciri khusus dari Penelitian Tindakan Sekolah adalah adanya tindakan (acti-on) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan  untuk memecahkan permasalahan-permasalahan prak-tis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.

Selain itu, karena penelitian tindakan sekolah berkenaan dengan kegiatan nyata di sekolah-sekolah, maka perlu memperhatikan etika, antara lain:

  1. tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru, maupun kegiatan pendidikan yang berjalan di sekolah
  2. jangan terlalu menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dll).
  3. masalah yang dikaji  harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh pengawas sekolah.,
  4. dilaksanakan dengan  selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll).

 

2.    Langkah dalam Penelitian Tindakan Sekolah

PTS terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi.

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah, dimulai dengan siklus yang pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru bersama peneliti (dalam kasus ini bersama dengan pengawas sekolah) menentukan rancangan untuk siklus kedua.

Siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan siklus pertama, apabila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Namun biasanya pada siklus kedua terdapat berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.

Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka dapat dilanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu.

 

D.    Ruang Lingkup Masalah PTS

Tita Lestari (2009) menyatakan, melihat luasnya kajian di bidang pendidikan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian untuk pengembangan profesi pengawas sekolah, hendaknya difokuskan pada permasalahan yang dihadapi langsung secara nyata oleh pengawas dalam praktek tugas kepengawasan, yaitu tugas memantau, menilai, membina sekolah dan melaksa-nakan tindak lanjut.

Berikut, Tita memberikan beberapa contoh permasalahan yang dapat dikaji melalui PTS.

1. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

2. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam menyusun kurikulum muatan lokal yang penyusunannya melibatkan beberapa pihak terkait.

3. Bagaimana pemantauan terhadap sekolah dalam melaksanakan program pengembangan diri melalui kegiatan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler.

4. Bagaimana membina guru dalam merancang tugas mandiri tidak terstruktur untuk mencapai kompetensi tertentu

5. Bagaimana sekolah melalui MGMP dalam mengembangkan silabus secara mandiri atau cara lainnya berdasarkan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan penyusunan KTSP.

6. Bagaimana bentuk binaan terhadap hasil pelaksanaan pemantauan proses pembelajaran yang mencakup tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian hasil pembelajaran.

7. Bagaimana strategi supervisi proses pembelajaran melalui cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi.

8. Bagaimana model bimbingan terhadap guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran.

9. Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan manajerial kepala sekolah yang ditunjukkan dengan keberhasilan mengelola pendidik dan tenaga kependidikan dan siswa.

  1. Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sebagai sumber belajar siswa.
  2. Bagaimana teknik menilai sekolah dalam merumuskan dan menetapkan visi, misi dan tujuan  lembaga.
  3. Bagaimana teknik membimbing,  menyusun dan melaksanakan  rencana kerja jangka menengah (empat tahunan) dan rencana kerja tahunan.
  4. Bagaimana pendekatan yang dilakukan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran.
  5. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi diri untuk menyusun profil sekolah.
  6. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah untuk melaksanakan evaluasi kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.
  7.  Bagaimana arahan terhadap sekolah dalam melaksanakan sistem informasi manajemen untuk mendukung administrasi pendidikan.
  8. Bagaimana upaya mendorong sekolah untuk menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sistem pengelolaan pembelajaran.
  9. Bagaimana strategi melakukan evaluasi terhadap pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan pada sekolah-sekolah binaannya.
  10. Bagaimana pendekatan atau strategi untuk mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
  11. Bagaimana membimbing sekolah dalam menyusun pedoman pengelolaan keuangan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja (RAB).
  12. Bagaimana membimbing  sekolah dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran.
  13. Bagaimana upaya mendorong sekolah dalam menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, iptek, estetika, serta jasmani, olahraga, dan kesehatan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

 

Contoh  PTS  yang Terkait  dengan Tugas Pokok Pengawas

Dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009: 20), Tugas pokok pengawas sekolah/ madrasah mencakup enam dimensi utama, yakni mensupervisi (supervising), memberi nasehat (advising), memantau (monitoring), membuat laporan (reporting), mengkoordinir (coordinating), dan memimpin (performing leadership).

Keenam hal tersebut secara rinci disajikan dalam tabel berikut.

Dimensi Tugas Pengawas

Sasaran

Mensupervisi 1. Kinerja kepala sekolah

2. Kinerja guru

3. Kinerja staf sekolah

4. Pelaksanaan kurikulum/mata pelajaran

5. Pelaksanaan pembelajaran

6. Ketersediaan dan pemanfaatan seumberdaya

7. Manajemen sekolah, dll.,

Memberi Nasehat 1. Kepada guru,

2. Kepala sekolah

3. Tim kerja sekolah dan staf,

4. Komite sekolah, dan

5. Orang tua siswa

Memantau 1. Penjaminan/standar mutu pendidikan,

2. Proses dan hasil belajar peserta didik,

3. Pelaksanaan ujian,

4. Rapat guru dan staf

5. Hubungan sekolah dengan masyarakat,

6. Data statistik kemajuan sekolah

Membuat Laporan Perkembangan Kepengawasan 1. Kepada Dinas Pendidikan Kab./Kota

2. Dinas Pendidikan Provinsi

3. Depdiknas,

4. Publik

5. Sekolah Binaan

Mengkoordinir 1. Mengkoordinir sumber personal dan material

2. Kegiatan antarsekolah

3.Kegiatan pre/inservice training bagi guru dan Kepala Sekolah, dan pihak lain.

4. Pelaksanaan kegiatan inovasi sekolah

Memimpin 1. Pengembangan kualitas SDM di sekolah binaan

2. Pengembangan sekolah

3. Partisipasi dalam kegiatan manajerial di Dinas Pendidikan,

4. Berpartisipasi dalam perencanaan pendidikan di Kabupaten/Kota,

5. Berpartisipasi dalam seleksi calon kepala sekolah/ madrasah,

6. Berpartisipasi dalam merekrut personil proyek atau program-program khusus pengembangan mutu sekolah,

7. Pengelolaan konflik, dan

8. Berpartisipasi dalam menangani pengaduan

 

Pada kegiatan  pembinaan/supervisi, berikut disajikan contoh Penelitian Tindakan Sekolah  yang dapat dilakukan oleh pengawas sekolah.

Judul: Upaya peningkatan kemampuan guru matematika SMP dalam mengevaluasi hasil belajar siswa melalui lokakarya berkesinambungan, bagi guru-guru matematika SMP se wilayah X di Kabupaten Y tahun Z.

Suatu judul PTK, harus menuliskan (1) Masalah apa yang akan dipecahkan, (2) Melalui tindakan apa, dan (3) Siapa  yang akan ditingkatkan.

Pada contoh di atas, terlihat:.

Ü  Masalah: kemampuan guru-guru matematika dalam mengevaluasi hasil belajar siswa menunjukkan berbagai kelemahan dan perlu ditingkatkan.

Ü  Tindakan yang  dilakukan: Berdasar kajian awal diduga tindakan yang berupa lokakarya berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dapat menyelesaikan masalah.

Ü  Siapa yang akan ditingkatkan: guru-guru matematika SMP se wilayah X di Kabupaten Y tahun Z

Contoh lain tentang masalah dan tindakan yang dapat dilakukan melalui PTS  dapat dilihat melalui tabel berikut:

 

Apa yang akan ditingkatkan…. Tindakan yang akan dilakukan
  1. Guru dalam menyusun RPP
  2. Guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas/ laboratorium/ lapangan

Ü Menerapkan berbagai macam metode pembajaran

Ü Menerapkan berbagai teknik evaluasi proses dan hasll pembelajaran

  1. Guru dalam membuat, mengelola dan mengguna-kan media pendidikan dan pembelajaran
  2. Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
  3. Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian
  4. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas
Melalui berbagai kegiatan pembelajaran / pelatihan / diskusi / dll  yang dapat dilakukan bagi para guru, dalam waktu yang relatif terbatas

Ü Lokakarya

Ü Pelatihan

Ü Diskusi Kelompok Kecil

Ü Forum Diskusi

Ü Kerja kelompok

Ü dan lain-lain

 E.     Permasalahan Pelaksanaan PTS dan Solusinya.

Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk memaparkan beberapa temuan, atau keadaan permasalahan di kepengawasan Kab. Pasuruan yang berhubungan dengan kemampuan para pengawas dalam membantu madrasah dalam memecahkan permasalahan madrasah melalui Penelitian Tindakan Sekolah berdasarkan pada pengalaman penulis ketika menjadi pengawas dan ketikan melakukan Diklat PTS bagi pengawas antara lain:

  1. Kemampupada an menulis (writing skill) rendah, dengan kata lain, kemampuan mengungkapkan ide, pendapat atau gagasan dalam bentuk tulisan perlu mendapat perhatian tersendiri. Hal ini disebabkan ketikan mereka masih menjadi guru, kegiatan menulis karya tulis ilmiah sangat kurang. Kebiasaan menulis para pengawas ketika menjadi guru terbawa ketika mereka menjadi pengawas.

Solusinya.

Memang tidak mudah menyelesaikan maslah ini, kemampuan menulis seseorang memang berbeda, bukan berarti ia harus berhenti tidak menulis, akan tetapi terus dilatih, dimotivasi, diberi contoh, dan terus dibimbing, sehingga ia tidak putus asa. Pemberian contoh menuis cukup bagus, banyak orang tidak bisa menulis karena ia tidak tahu dari mana ia harus memulainya. Dengan adanya contoh tulisan ia bisa memulai untuk menuangan ide-idenya.

Peran motivasi, cukup besar dalam kesuksesan kegiatan seseorang termasuk menulis, baik motivasi intrinsic maupun ekstrinsik. Karena motivasi akan mempengaruhi daya juang, dan daya tahan seseorang dalam menghadapi tantangan.

Tujuan utama melakukan PTS adalah dalam rangka memecahkan masalah melalui kegiatan penelitian ilmiah. Oleh karena cara melakukannya harus menggunakan langkah-langkah ilmiah, agar apa yang menjadi temuannya menjadi temuan ilmiah. Dalam hal ini, perlu adanya pembimbing atau pendamping dalam melaksanakan kegiatan tersebut dari orang yang cukup pengalamannya, seprti dosen, atau nara sumber lain.

  1. Kemampuan teknis penelitian tindakan. Dalam melakukan Penelitian Tindakan Sekolah harus mengenali, memetakan permasalahan melalui pelaksanaan supservisi, data inilah yang tidak semua pengawas  mempunyai, atau melakukan pemetaan, sehingga akan jelas permasalahan mana yang memerlukan penelitian tindakan, dan mana yang memerlukan bentuk solusi yang lain.

Solusinya

Kegiatan PTS dilaksanakan karena memang ada masalah yang hanya bisa diselesaikan melalui kegiatan penelitian ini. Untuk memetakan masalah mana yang harus deselesaikan melalui kegiatan PTS dan mana yang mungkin bisa disesaikan dengan pendekatan lain, maka pengawas harus mempunyai data yang kongkrik hasil dari kegiatan supervisi pendidikan. Masalah yang diangkat dalam PTS harus masalah yang kongkrit yang dihadapi oleh guru atau kepala madrasah yang mendesak untuk dicarikan jalan keluar.

  1. Dalam melaksanakan  PTS, diperlukan Obat tau metode yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Tidak semua pengawas di Kabupaten Pasuruan mempunyai kompetensi tentang berbagai metode yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sekolah. Padahal kemampuan untuk menentukan metode yang tepat akan sangat menentukan hasil dari penelitian tersebut. Kalau metode tidak tepat maka hasilnya juga akan tidak tepat, yang pada ahirnya hasil penemuan tidak akan membantu guru dan kepala sekolah/madrasah menyelesaikan masalah.

Solusinya

Metode dalam menyelesaikan masalah penelitian dianggap sebagi obat atau terapi yang akan digunakan oleh dokter/tabib dalam mengatasi masalah atau menyelesaikan masalah. Memilih metode atau obat dalam menyelesaikan masalah penelitian akan sangat tergantung pada:

  1. Kemampuan, kompetensi serta wawasan pengawas sebagai peneliti akan sangat menentukan kreatifitas dalam mengimplementasikan sebuah metode atau pendekatan yang digunakan mengatasi atau mencari solusi dari permasalah guru dan kepala madrasah.
  2. Pengalaman, pengalaman seseorang dalam melakukan penelitian sangat membantu mereka dalam melaksanakan tugasnya, sekali seseorang melakukan penelitian tindakan sekolah, akan sangat mewarnai dalam kegiatan penelitian berikutnya, terutama dalam menyelsaikan permasalahan-permasalahan yang dihdapi ketikan melaksanakan penelitian.
  3. Ketrampilan, keberhasilan penelitian bukan berhenti setelah permasalahan penelitian terjawab melalui hasil penelitian, akan tetapi bagaimana peneliti itu mampu mengelaborasi temua-temuannya dalam bentuk laporan penelitian (tulis) maupun oral (lisan). Karena hasil penelitian akan memberi manfaat apabila hasil penelitian itu dibaca atau didengar oleh orang lain yang membutuhkan.
  4. Kedudukan referensi dalam sebuah penelitian adalah sangat penting, karena referensi merupakan pijakan dalam memilih obat, atau metode yang tepat, dalam memilih metode yang tepat peneliti harus mengetahui kandungan kegiatan yang bisa digunakan menyelesaikan masalah. Ia juga sebagai pisau analisis dalam menentukan trearment untuk mengatasi masalah penelitian.

Solusinya

Keterbatasan akan referensi dalam sebuah penelitian akan mencerminkan kemampuan akademik seorang peneliti. Semakin bagus referensi yang digunakan akan membantu  peneliti dalam menganalisis masalah. Untuk mengatasi keterbatasan referensi ini bisa diatasi dengan:

  1. Pengadaan melalui DIPA Kemenag, karena POKJAWAS tidak memiliki DIPA sendiri.
  2. Kerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat yang mempunyai perpustakaan lengkap yang bisa membantu pengawas untuk menulis PTS.
  3. Motivasi, motivasi pengawas dalam melakukan PTS bukan murni dalam rangka ingin membantu menyelesaikan masalah di madrasah/sekolah, akan tetapi lebih condong pada memenuhi kebutuhan kenaikan pangkat. Dengan demikian motivasi ini merupakan motivasi yang rendah tidak sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan PTS itu sendiri.

Solusinya

Motivasi adalah hal yang sangat personal, ia menyangkut masalah individu dalam memaknai kehidupannya termsuk tugas dalam pekerjaannya. Motivasi yang baik akan muncul ketika seseorang sangat menikmati perannya. Begitu juga para pengawas, ketika ia menikmati akan peran besar    yang ia tanggung, salah satunya adalah membantu guru dan kepala madrasah menyelesaikan permasalahnnya, maka melakukan PTS dalam rangka itu akan ia lakukan dengan baik, bukan hanya sekedar untuk memenuhi unsur-unsur yang harus ada dalam pengajuan penilaian angka kridit. Kalau motivasi melakukan PTS untuk pemenuhan unsur penilaian angka kiridit, maka kualitas dari PTS patut dipertanyakan, dan itu keluar dari tujuan utama melaksanakan PTS itu sendiri. Di sini peran Kepala Kemenag sebagai atasan langsung para pengawas untuk terus memotivasi merekan agar tugas-tugas yang ada pada pundaknya dapat dilaksanakan dengan baik.

 F.      Simpulan

Peneltian Tindakan Sekolah adalah sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru atau kepala madrasah. Melakukan PTS adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pengawas. Dalam melaksanakan tugas penelitian ini pengawas mengalami berbagai permasalahan di lapangan antara lain: kemampuan menulis (academic writing) pengawas, teknik penulisan karya tulis ilmiah termsuk, PTS, mencari metode atau model yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, jumlah referensi yang tersedia, serta motivsi dalam melakakukan penelilitian perlu mendapat perhatian khusus dari instansi Kementerian Agama. Dukungan Kemeterian Agama sangat diperlukan oleh pengawas baik itu dukungan moral maupun finansial, agar para pengawas dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Advertisements

CATATAN SEKILAS PERENCANAAN STRATEGIK


CATATAN SEKILAS PERENCANAAN STRATEGIK

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Manajemen strategis dengan model studi kasus di institusi pendidikan mana terserah dengan sumber data sekunder maksimal 25 halaman

Tinjauan kritis mengenai manajemen strategis: mengkritisi kelemahan dan kekuatan dari manajemen strategis, referensi utama dari jurnal. maksimal 10 halaman.

Membandingkan antara strategic planning dan manajemen strategic

Traditional planning and strategic planning.

Strategic berasal dari dunia militer. Kata strategic berasal dari bahasa Yunani. Berpikir dalam kerangka yang besar. Mempertimbangkan segala opsi yang mungkin, terutama berkaitan dengan lingkungan yang terus berubah.

Memfokuskan diri pada sesuatu yang jelas dan ke arah tujuan yang jelas.

Diambil ke dunia bisnis dipakai sebagai alat manajemen pada semua perusahaan besar, kemudian dimasukkan pada kurikulum pada sekolah-sekolah bisnis.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam manajemen strategic:

  1. Semua manajer adalah pembuat strategi dan pengimplementasi strategi.
  2. Perencanaan strategic bisa diajukan oleh para bawahan.

Perencanaan strategic masuk ke sector public pada tahun 80-an

Dasar asumsinya: perencanaan strategis relevan pada semua organisasi.

Semua organisasi yang baik, ingin menjangkau tujuan jangka panjang tertentu.

Semua organisasi akan berusaha keras menemukan jalan efisien dengan memperhatikan sumber daya yan g terbatas.

Perencanaan strategis tidak pernah bisa dterapkan dengan model tertentu sebagus apapun. Tetapi harus diadaptasikan dengan kebutuhan tertentu.

Pemerintah memerlukan strategic planning karena harus bisa membekrikan pelayanan kepada masyarakat dalam jumlah tertentu dan memuaskan, terutama pada lembaga=lembaga yang non-profit.

Perencanaan strategix diadopsi di amerika tahun 70 an. Tetapi diperguruan tinggi.

Pada pertengahan 80 an, 500 kabupaten menggunakan perencanaan strategis ini.

Perencanaan strategis yang berkembang di dunia pendidikan; ada istilah SWAp. (Sector Wide Approach)

Kesadaran Negara-negara maju akan pentingnya kepemimpinan. Dan pentingnya perncanaan strategis itu untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang tersebut untuk merumuskan pendidikannya.

Deklarasi paris: menyiapkan dan implementasi strategi berskala nasional.

Perencanaan traditional: temuan abad 20. Dulu ada indicate planning sebagai instrument bidang pendidikan, dibawah pengaruh ekonomi pasar. Tetapi perencanaan ini ditujukan untuk memberikan skala prioritas pada nasional yang digunakan membangun ekonomi. Setelah 60 an, perencanaan pendidikan dianggap keharusan bagi Negara berkembang. Dengan kata lain, perencanaan pendidikan itu fokusnya terlalu banyak pada persiapan, tetapi tidak melihat apakah ini bisa dilaksanakan apa tidak. Perencanaan itu dijalankan secara top down, sehingga yang di bawah tidak mengerti, dan dalam bahasa yang terlalu teknis. Pertimbangan terhadap perubahan lingkungan itu, tidak cukup diberikan.

Tujuan memakai strategic management adalah untuk keputusan yang strategic.

Apakah repelita merupakan strategic planning?

Tidak top down dan teknokratis dan tidak berorientasi pada dokumen.

Tradisional education planning:

At the beginning of the 1960s, educational planning was seen as a must for the newly independent contries in orderto allow them to move ahead

  1. Too much focus was placed on plan preparation and not enough on implementation
  2. Plans were being prepared in a top down, technocratic way
  3. Not enough consideration was given to the changing environment.

Key characteristic of strategic planning

Strategic planning is guided by an overall sense  of direction (harus bisa melebar sejauh mungkin, keandalannya adalah kemampuan kita melihat ke semua arah terlebih lagi yang skala global)

Merumuskan visi dan misi.

Tujuan itu harus dirumuskan sedemikian rupa dan harus diikuti alurnya. Prinsip-prinsip dasar yang mempedomani penilaian itu harus dipahami dengan benar.

Vision statement: broader than mission statement. Berisi gagasan-gagasan yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut.

Strategic planning is sensitive to the environment.

Strategic planning is based on the belief that successful development of an organization is the result of finding the right fif between its internal strengths and weaknesess and the external opportunities and threats.

Main assumption: in order to be effective organizations must be responsive to their environment, wich is continuously changing.

Strategic planning is result oriented: considers complianc monitoring as not good enough and prefer to concentrate on whether the expexted results have been obtained.

To measure properly the different types of results, the overall broad policy goals will have to be translated into more precise objectives in the medium-term plan (SMART) (specific, measurable, agreed upon, realistic, timely)

  1. Several indicators will have to be identified for each objective (specifying, what to be measured)
  2. For each indicator, precise targets must be fixed (what’s the expected level or result)

Contoh SMART in education

Policy goal: to increase the internal efficiency of the school system…. Obejective: to reduce repetition of learners in primary school….indicator: the average repetition rate in primary school….

Strategic planning is a mobilization instrument

Strategic planning cannot succed without the commitment of the plan implementers and the different stakeholders.

Strategic planning should be an inclusive process (involving implementers and stake holders)

The ultimate test of strategic plan is in the implementation. (tes akhirnya adalah implementasi)

Kata kuncinya: commitment. Can only be obtained if people identify with the plan, so that they are motivated to produce the expected results.

Strategic planning is flexible in its implementation: the belief in strategic planning: that no neat, final plan can be prepard, simply because:

  1. Situations have become too complex and environments too unpredictable.
  2. It is impossible to foresee every possible consequence of future decisionas that will be made.but flexible is not means “

Dimana kita hari ini: diagnosis

Dimana kita pada masa yang akan datang: perumusan kebijakan

Bagaimana kita seharusnya sampai disana: persiapan perencanaan: merusmuskan tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan pertimbangan tujuan dengan sarana.

Bagaimana seharusnya kita bisa tahu: monitoring, pengukuran kemajuan yang dilakukan seraya melakukan koreksi.

Diagnosis: an effort to plan has to start with a situation analysis in order to identify problems and successes and to determine the critical challenges to be faced. “Education Sector Analysis” from a strategic planning point of view, the sector analysis should not be limited in scope to the education system as such. But should also cover the environment in which the system is operating.

Ex: analysis of demographic trends, analysis of the social economics. Etc.

Policy formulation

Is related to long-term goals.

Is a complex process: start with a review of existibg policies. Implies intensive interaction between the planning experts and the political decision makers.

Is taken place at…: at the same time as the sector analysis. Or can be integrated into the sector analysis

Plan preparation (Medium-term strategic plan).

Step of monitoring

Measurement of targets by different indicators—the information is analyzed—the result is presented in progress reports

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KONSEP DASAR PENILAIAN KELAS


KONSEP DASAR PENILAIAN KELAS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.  Pengertian Penilaian Kelas

Penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari siswa.
Salah satu prinsip penilaian berbasis kelas yaitu, penilaian dilakukan oleh guru dan siswa. Hal ini perlu dilakukan bersama karena hanya guru yang bersangkutan yang paling tahu tingkat pencapaian belajar siswa yang diajarnya. Selain itu siswa yang telah diberitahu oleh guru tersebut bentuk/cara penilaiannya akan berusaha meningkatkan prestasinya sesuai dengan kemampuannya.

Prinsip penilaian berbasis kelas lainnya yaitu: tidak terpisahkan dari KBM, menggunakan acuan patokan, menggunakan berbagai cara penilaian (tes dan non tes), mencerminkan kompetensi siswa secara komprehensif, berorientasi pada kompetensi, valid, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna, dan mendidik. Penilaian tersebut dilakukan antara lain meliputi: kumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (product), penugasan (project), unjuk kerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Setelah melakukan serangkaian penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip di atas, maka orang tua siswa akan menerima laporannya secara komunikatif dengan menitik beratkan pada kompetensi yang telah dicapai oleh anaknya di sekolah.

Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan masing-masing.

Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik/cara, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), dan penilaian diri.

Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik lainnya.  Dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.

 

B.  Manfaat Penilaian Kelas

Manfaat penilaian kelas antara lain adalah:

  1. Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung.
  2. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
  3. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
  4. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
  5. Untuk memberikan piliha alternatif penilaian kepada guru.
  6. Untuk memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.

 

C.  Fungsi Penilaian Kelas

Penilaian kelas memiliki fungsi sebagai berikut:

1.   Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.

2.   Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan (sebagai bimbingan).

3.   Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.

4.   Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

5.   Sebagai kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

D. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas

1.   Validitas

Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi. Dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, misalnya kompetensi ” mempraktikkan gerak dasar jalan.”, maka penilaian valid apabila mengunakan penilaian unjuk kerja. Jika menggunakan tes tertulis maka penilaian tidak valid.

2.   Reliabilitas

Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misal, guru menilai dengan unjuk kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin penilaian yang reliabel petunjuk pelaksanaan unjuk kerja  dan penskorannya harus jelas.

3.  Menyeluruh

Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar. Penilaian harus menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik, sehingga tergambar profil  kompetensi peserta didik.

4.   Berkesinambungan

Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu.

5.  Obyektif

Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam  pemberian  skor.

6.   Mendidik

Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

E. Penilaian Hasil Belajar Masing-masing  Kelompok Mata Pelajaran

  1. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:

1).  Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai   perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik

2).  Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik

  1. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai
  2. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik.
  3. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga,dan kesehatan dilakukan melalui:

1).  Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai  perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

2).  Ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

 

F.   Rambu-Rambu Penilaian Kelas

Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya:

   Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu.

   Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.

   Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.

   Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.

   Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik.

   Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

   Mendidik dan meningkatkan mutu proses pembelajaran seefektif mungkin

 

Melakukan Penilaian kelas secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Ulangan harian dapat dilakukan bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar. Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis, observasi atau lainnya.  Ulangan tengah semester dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa kompetensi dasar, sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun)

Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya)

G.  Ranah Penilaian

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penjabaran dari stándar isi dan stándar kompetensi lulusan. Di dalamnya memuat kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masing-masing mata pelajaran.

Muatan dari stándar isi pendidikan adalah stándar kompetensi dan kompetensi dasar. Satu stándar kompetensi  terdiri dari beberapa kompetensi dasar, dan setiap kompetensi dasar dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil relajar yang dirumuskan atau dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sekolah/daerah masing-masing.  Indikator-indikator yang dikembangkan tersebut merupakan acuan yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi dasar bersangkutan.

Teknik penilaian yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik indikator, standar kompetensi dasar dan kompetensi dasar yang diajarkan oleh guru. Tidak menutup kemungkinan bahwa satu indikator dapat diukur dengan beberapa teknik penilaian, hal ini karena memuat domain kognitif, psikomotor dan afektif.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT