Category Archives: Filsafat

PEMIKIRAN IBN THUFAIL


PEMIKIRAN IBN THUFAIL

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.      Riwayat Hidup Ibnu Thufail

Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu ‘Abd al Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail. Ia merupakan pemuka pertama dalam pemikiran filosofis Muwahhid yang berasal dari Spanyol. Ibnu Thufail lahir pada abad VI H di kota Guadix, propinsi Granada. Keturunannya merupakan keluarga suku Arab yang terkemuka, yaitu suku Qais.

Karier Ibnu Thufail bermula sebagai dokter praktik di Granada. Karena ketenaran atas jabatan tersebut, ia diangkat sebagai sekretaris Gubernur di propinsi itu. Pada tahun 1154 M (549 H) ia menjadi sekretaris pribadi Gubernur Ceuta dan Tangier, penguasa Spanyol pertama yang merebut Maroko. Dan dia menjabat dokter tinggi serta menjadi qadhi di pengadilan pada masa Khalifah Muwahhid Abu Ya’qub Yusuf (558 H – 580 H). kemudian pemerintahan yang dipimpin oleh abu ya’kub yusuf menjadikan pemerintahan sebagai pemuka pemikiran filosof dan metode ilmiah.

Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa lapangan filsafat seperti filsafat fisika, metafisika kejiwaan dan sebagainya.  Disamping risalah-risalah keapda Ibnu Rusyd. Akan tetapi karangan-karangan tersebut tidak sampai kepada  kita, kecauali hanya satu saja, yaitu Hayy Bin Yaqdhan, yang merupakan intisari pemikiran-pemikiran filsafat ibnu Thufail. Suatu manuscrip diperpustakaan Escuriall yang berjudul Asrar al Hikmah al masyriqiyah ( rahasia-rahasia filsafat timur) tidak lain adalah bagian dari risalah Hayy bin Yaqdhan.

B.  Falsafah Hayy bin Yaqdhan

Ibnu Thufail merupakan sebuah figur “perlawanan Andalusia” terhadap astronomi Ptolemaic, sebuah gerakan kritis yang kemudian dilanjutkan oleh teman sekaligus murid dari ibnu Thufayl, yakni al-Bitruji. Dia menulis beberapa buku mengenai filsafat murni yang sudah jarang sekali ditulis, termasuk pemeliharaan jiwa lewat filsafat. Namun yang menjadi kunci dari rekonsiliasi dari pemikirannya adalah fabel filsafat yang dia tulis, berjudul Hayy Ibn Yaqzan.

Sebagaimana umumnya para filosuf yang tenggelam dalam kerja kontemplatif, Ibnu Thufail juga berfikir tentang alam dan bagaimana proses-prosesnya serta agama dan bagaimana kemunculannya. Kemudian beliau merangkum hasil-hasil pencerahannya dalam karyanya yang terkenal yang diberi nama hayy bin yaqdhan (hidup anak kesadaran, yang bermaksud bahwa intelek manusia berasal dari intelek Tuhan ) atau di kenal juga sebagai asraar al falsafah al isyraqiyah (rahasia-rahasia filsafat eluminasi).

Hasil karya Ibnu Thufail ini telah di terjemahkan ke dalam bahasa Latin pada masa di mana bahasa tersebut hanya di gunakan sebagai penterjemah karya-karya besar ilmiah (magnum opus) yang menjadi referensi utama, termasuk yang telah menterjemahkannya ke dalam bahasa latin adalah Giovanni vico dolla Mirandolla (Abad 15) kemudian yang paling terkenal adalah Edward Pockoke yang memberi tajuk pada karya tersebut Philosophus Autodidaktus (al filosuf al mu’allim nafsaha/Sang filosuf Autodidak) di mana nama tersebut di tujukan sebagai apresiasinya terhadap Ibnu Thufail. Pada masa selanjutnya, karya ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Untuk membahas Hayy bin Yaqdhan sebagai sebuah roman yang pertama kali kita kaji adalah kisah kelhairan atau asal-usul dari roman ini, ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan Hayy terlhahir secara benar. Ia lahir sebagai manusia biasa. Ibunya adalah adik perempuan kandung Maharaja disebuah kerajaan sebuah pulau dikepulauan Hindia yang dilewati garis khatulistiwa.

Secara ringkas karya ini berkisah tentang seorang anak yang tumbuh tanpa ayah dan ibu di sebuah pulau tak berpenghuni, anak tersebut di sebut oleh Ibnu Thufail sebagai hay bin yaqdhan (hidup anak kesadaran) yang kemudian hari diambil anak oleh seekor kijang dan dibesarkan dengan air susunya hingga akhirnya menjadi dewasa dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Ketika umurnya telah mencapai usia tujuh tahun hay bin yaqdhan menemukan bahwa dirinya ternyata berbeda dengan hewan-hewan lain yang berada di pulau tersebut. Ia melihat bahwa hewan-hewan tersebut ternyata memiliki ekor, pantat dan bulu-bulu di bagian-bagian tubuhnya. Hal tersebut membuat hay bin yaqdhan mulai berfikir dan menggunakan potensi akalnya yang kemudian ia menjadikan daun-daunan untuk menutupi badannya untuk beberapa saat sampai akhirnya menggantinya dengan kulit binatang yang telah mati.

Sampai pada suatu saat, matilah kijang yang mengasuhnya. Hal tersebut mendorongnya untuk memeriksa tubuh dari kijang tersebut. Tetapi secara kasat mata dia tak menemukan sesuatu yang berbeda dari ketika kijang itu masih hidup. Kemudian ia mulai membedahnya hingga menemukan pada rongga tubuh kijang tersebut gumpalan yang diseliputi oleh perkakas tubuh yang mana darah di dalamnya menjadi beku. Maka Hayy bin Yaqdhan mulai tahu bahwa jantung jika berhenti maka bersamaan itu pula kehidupan suatu makhluk hidup akan berakhir.

Selain dari pada itu, pada suatu hari Hayy bin Yaqdhan menyalakan api di pulau tersebut, maka ia mulai merasakan bahwa api ternyata dapat memberikan penerangan dan membangkitkan panas. Tidak cukup dengan itu, ia juga menemukan bahwa daging burung dan ikan yang di bakar api terasa lebih enak dan sedap. Maka mulailah ia selalu menggunakan api untuk memasak makanan dan seterusnya mulailah ia memperkuat penggunaan indranya dan menggunakan apa yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Hayy bin Yaqdhan juga menyaksikan bahwa alam ini tunduk dalam suatu aturan kosmos dan akan berakhir pada titik ketiadaan, dan yang di maksud dengan alam adalah segala eksistensi yang immanent dan bisa kita rasakan dan semuanya itu mempunyai karakter “Baru” ( haadist) yang berarti didahului oleh ketiadaan (yang dalam teori penciptaan di sebut sebagai creatio ex nihilo). Karena setiap peristiwa baru mengharuskan adanya yang mengadakan dan hipotesa ini akhirnya membawa Hayy bin Yaqdhan pada suatu kesimpulan tentang “Sang Pencipta (The creator) dan ia juga menyaksikan bahwa segala eksistensi di alam ini bagaimanapun berbedanya ternyata mempunyai titik-titik kesamaan baik dari segi asal maupun pembentukan maka ini mengarahkannya pada pemikiran bahwa segala yang ada ini bersumber dari subyek yang satu (causa prima) maka iapun mengimani Tuhan yang satu.

Kemudian Hayy bin Yaqdhan mulai mengarahkan pandangannya ke langit dan melihat matahari yang terbit dan terbenam setiap harinya secara berulang-ulang maka seperti itulah dalam pandangannya aturan kosmos yang berkesinambungan sebagaimana yang terdapat pada planet dan bintang-bintang. Tidak cukup dengan itu, Hayy bin Yaqdhan berkesimpulan bahwa termasuk sifat tuhan adalah apa-apa yang bisa kita lihat melalui jejak-jejak ciptaan-Nya, maka tampaklah karakter Tuhan sebagai Eksistensi yang Maha sempurna ( The perfect one ) lagi kekal dan yang selainnya akan rusak dan berakhir pada ketiadaan.

Seiring dengan berjalannya waktu sampailah Hayy bin Yaqdhan pada umurnya yang ke-35, dan mulailah ia mencari indra apa dalam dirinya yang membawanya pada hipotesa-hipotesa dan menunjukinya pada kesimpulan-kesimpulannya yang telah lampau. Maka ia menemukan apa itu akal (reason), ruh (spirit) dan jiwa (nafs/soul). Dan ia tetap hidup di pulaunya sampai beberapa saat dengan kecondongan rohani dan kesenangan melakukan ekstasi (semedi) sambil berkontemplasi tentang segala ciptaan sebagai teofani (tajalliyaat ) sang wajibul wujud (The necessary being).

Sampai pada suatu saat singgahlah di pulau tersebut untuk pertama kalinya seorang manusia bernama Absal, seorang ahli ibadah yang hidup secara asketis (zuhd) yang datang dari negeri yang jauh untuk beribadah, bertapa dan berkontemplasi, maka bertemulah Absal dengan Hayy bin yaqdhan. Dan Hayy bin yaqdhan pun mengambil pelajaran darinya tentang segala nama-nama (Al asmaa’ kulluhaa) dan kebenaran-kebenaran wahyu (syariat). Dan setelah masa yang panjang Hayy pun akhirnya mampu berbicara dengan bahasa Absal.

Kedua orang tersebut membandingkan pikirannya masing-masing, di mana yang satu murid dari alam, sedang yang lain adalah seorang filosof dan pemeluk agama, maka tahulah keduanya bahwa dirinya telah mencapai kesimpulan yang sama.

Dan melalui interaksinya dengan Hayy bin Yaqdhan, maka Absal pun tahu bahwa apa yang telah dicapai Hayy dengan akalnya secara mandiri tanpa bantuan yang lain itu ternyata mempunyai kesinambungan dengan apa yang telah di bawa oleh nabi-nabi.

Dan kemudian Absal pun membawa Hayy bin yaqdhan kepada kaumnya, dan mulai berorasi dan memperingatkan kaumnya (sebagaimana para nabi) dengan apa-apa yang telah ia lihat dan dapatkan dari pengalamannya tentang kesejatian hidup, keremehan harta benda dan pentingnya merenungi tanda-tanda kekuasaan Sang pencipta. Tetapi ia terlalu vulgar dalam penyampainnya, sehingga kaumnya pun menghindarinya karena menganggapnya menyimpang dari pemahaman literar matanmatan kudus wahyu. Akhirnya Hayy bin yaqdhan berpaling kepada Absal dan berkata bahwa nabi-nabi lebih tahu tentang jiwa-jiwa manusia dari pada dirinya dan pelajaran-pelajaran dan pengalaman yang ia capai ketika masih hidup di pulau bersama hewan-hewan itu lebih tinggi dan adi luhung dari fase manusia yang ia hadapi sekarang. Dan akhirnya Absal pun menemani Hayy bin yaqdhan hidup bersama-sama dengannya beribadah dan merenung sampai maut menjemput mereka.

Jika dilihat, maka akan didapati tiga hal dalam kisah tersebut yang masing-masing menjadi lambang tiga hidup yang berlainan:

1)      Hayy bin Yaqdhan, sebagai lambang kekuatan akal dalam mencapai suatu kesimpulan atas keyakinan kepada Tuhan. Dengan memikirkan alam dengan isinya serta dirinya sendiri, lambat laun sampai pada keyakinan kepada Tuhan.

2)      Tokoh Absal, sebagai lambang hidup tokoh agama, yang dengan memikirkan wahyu sebagai kebenaran, lambat laun sampai kepada keyakinan kepada Tuhan. Dari sini terlihat kesesuaian antara agama dan filsafat.

3)      Keadaan di sekitar, sebagai lambang fakta-fakta kehidupan.

Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa ada kesinambungan secara hierarkhis antara ilmu, agama, dan filsafat. Kijang yang mati merupakan fakta yang bisa menjadi bahan renungan Hayy bin Yaqdhan, apa di balik kematian itu? (ketika berbicara “di balik”, merupakan wilayah filsafat).

Di roman filsafatnya Ibnu Thufail juga ingin menyampaikan bahwa kebenaran ternyata memiliki dua wajah internal dan eksternal yang sebenarnya sama saja. Dan kedua wajah tersebut berkaitan dengan dikhotomi dua kalangan manusia yaitu kalangan khowash yang mampu mencapai taraf kecerdasan tertinggi baik melalui diskursus filosofis maupun pencerahan mistik (kasyaf) dan kalangan awam yang tak mampu mencapainya dan hanya mampu mengerti bahasa literal dari matan-matan kudus wahyu keagamaan.

Ibnu Thufail membagi perkembangan akal pikiran manusia menuju hakikat kebenaran dalam 6 bagian :

  1. Dengan cara ilmu Hayy bin Yaqdhan, yaitu dengan kekuatan akalnya sendiri, memperhatikan perkembangan alam ini, bahwa tiap-tiap kejadian mesti ada yang menyebabkannya.
  2. Dengan cara pemikiran Hayy bin Yaqdhan terhadap teraturanya peredaran benda-benda besar  di langit seperti bulan, bintang dan matahari.
  3. Dengan memikirkan bahwa puncak kebahagiaan seseorang itu ialah mempersaksikan adanya wajibul wujud yang Maha Esa.
  4. Dengan memikirkan bahwa manusia ini adalah sebagian saja dari makhluk hewani, tetapi dijadikan Tuhan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi dan utama daripada hewan.
  5. Dengan memikirkan bahwa kebahagiaan manusia dan keselamatannya dari kebinasaan hanyalah terdapat pada pengekalan penyaksiannya terhadap Tuhan.
  6. Mengakui bahwa manusia dan alam makhluk ini fana dan semua kembali kepada Tuhan.

Dalam buku ini Ibnu Thufail mau menggambarkan bahwa filsafat atau akal dapat berkembang sendiri tanpa harus bergantung pada masyarakat yang telah maju. Dengan filsafat manusia mengenal Tuhan. Akan tetapi Ibnu Thufail mengakui juga bahwa agama lebih praktis untuk menuntun secara langsung keselamatan manusia dalam hidupnya. Filsafat itu dapat dipakai untuk ma;rifat kepada Tuhan, tetapi untuk amal kehidupan manusia sendiri, filsafat itu terlalu ideal dan teoretis.

Maksud lain dengan hukum itu ialah Ibnu Thufail ingin menjelaskan bahwa agama pada dasrnya sesuai dengan alam fikiran ( filsafat ). Dengan akalnya (filsafat) manusia akan dapat menyelami maksud agama. Hanya dalam beberapa perihal, terutama dalam soal-soal peribadatan (ubudiah) seperti sholat, puasa, haji akal manusia masih terlalu lemah untuk menyelami hikmahnya yang sebenarnya.

     C.    Ajaran Filsafat Ibnu Thufail

a. Tentang Dunia

Ibnu Thufail tidak menerima pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini. Dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidakmaujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia dikesampingkan. Lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang pencipta menciptakan dunia saat itu bukan sebelumnya? Apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? Tentu saja tidak, sebab tiada sesuatupun sebelum Dia untuk membuat sesuatu terjadi atas- Nya.

b. Tentang Tuhan

Tuhan dan dunia yang keduanya kekal, bagaimana bisa yang pertama dianggap sebagai penyebab adanya yang kedua? Dengan mengikuti pendapat Ibnu Sina, Ibnu Thufail membuat perbedaan antara kekekalan dalam esensi dan kekekalan dalam  waktu, dan percaya Tuhan ada sebelum adanya dunia dalam hal esensi tapi tidak dalam hal waktu. Satu contoh : jika kamu pegang sebuah benda dengan tanganmu dan kamu gerakkan tanganmu, maka benda itu pasti akan bergerak karena gerak tangan itu, jadi gerak benda bergantung pada gerak tangan. Gerak tangan mendahului gerak benda dalam esensinya, dan gerak benda diambil dari gerak tangan tersebut, meskipun dalam soal waktu keduanya tak saling mendahului.

Mengenai pandangan bahwa dunia dan Tuhan sama-sama kekal, ibnu Thufail mempertahankan pendapat mistisnya bahwa dunia itu bukanlah suatu yang lain daripada Tuhan. Dan mengenai esensi Tuhan yang ditafsirkan sebagai cahaya yang sifat esensialnya merupakan penerangan dan pengejawantahan, sebagaimana dipercaya oleh Al Ghazali, Ibnu Thufail memandang dunia ini sebagai pengejawantahan dan esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahaya-Nya sendiri yang tidak berawal atau berakhir. Dunia tidak akan hancur sebagaimana yang ada pada kepercayaan akan hari penentuan. Kehancurannya berupa keberalihannya menjadi bentuk lain dan bukannya suatu kehancuran sepenuhnya. Dunia mesti terus berlangsung dalam satu atau bentuk lain, sebab kehancuranya tidak sesuai dengan kebenaran mistis yang tinggi, yang bahwa sifat esensi Tuhan merupakan penerangan dan pengejawantahan kekal.

c. Tentang Kosmologi cahaya

d. Epistemologi pengetahuan

e. Etika/ Akhlak

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

PEMIKIRAN IBN MASKAWAIH


PEMIKIRAN IBN MASKAWAIH

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Latar Belakang

Ranah filsafat Islam banyak diwarnai oleh karya-karya beberapa filosof yang mempunyai pandangan yang cemerlang. Sebut saja tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat,logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa’. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.

Selain tokoh-tokoh tersebut, masih ada banyak nama-nama besar dalam khazanah filsafat Islam. Dua nama diantaranya adalah Ibnu Maskawaih dan Ibnu Thufail. Ibnu Maskawaih terkenal dengan pemikiran tentang al nafs dan al akhlaq, sedangkan Ibnu Thufail terkenal dengan pemikirannya yang salah satunya tertuang dalam roman filsafatnya yang terkenal Hayy bin Yaqdhan.

B.  Riwayat Hidup Maskawaih

Maskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam yang memuaskan perhatiannya pada etika Islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarawan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia, dan India, disamping filsafat Yunani, sangat luas.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’qub bin Maskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama tersebut diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran Syi’ah. Gelar ini juga sering disebutkan, yaitu al-Khazim yang berarti bendaharawan, disebabkan kekuasaan Adhud al Daulah dari Bani Buwaihi, ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya.

Maskawaih dilahirkan di Ray (Teheran sekarang). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkan berbeda-beda, MM Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Morgoliouth menyebutkan tahun 330 H. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H. Sedangkan wafatnya, para tokoh sepakat pada 9 shafar 421 H/16 Februari 1030 M.

Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaihi yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi yang mulai berpengaruh sejak Khalifah al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai perdana menteri dengan gelar Mu’izz al Daulah pada 945 M. Dan pada  tahun 945 M itu juga Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad di saat bani Abbas berada di bawah pengaruh kekuasaan Turki. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan khalifah-khalifah bani Abbas.

Puncak prestasi bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud al Daulah (tahun 367 H – 372 H). Perhatiannya amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitik-beratkan perhatiannya pada bidang etika Islam.

C.  Pemikiran Filsafat Ibnu Maskawaih

a.       Filsafat Jiwa (al nafs)

Menurut Ibnu Maskawaih, Jiwa berasal dari limpahan akal aktif (‘aqlfa’al). jiwa bersifat rohani, suatu substansi yang sederhana yang tidak dapat diraba oleh salah satu panca indera.

Jiwa tidak bersifat material, ini dibuktikan Ibnu Maskawaih dengan adanya kemungkinan jiwa dapat menerima gambaran-gambaran tentang banyak hal yang bertentangan satu dengan yang lain. Misalnya, jiwa dapat menerima gambaran konsep putih dan hitam dalam waktu yang sama, sedangkan materi hanya dapat menerima dalam satu waktu putih atau hitam saja. Jiwa dapat menerima gambaran segala sesuatu, baik yang indrawi maupun yang spiritual. Daya pengenalan dan kemampuan jiwa lebih jauh jangkauannya dibanding daya pengenalan dan kemampuan materi. Bahkan dunia materi semuanya tidak akan sanggup memberi kepuasan kepada jiwa.

Lebih dari itu, di dalam jiwa terdapat daya pengenalan akal yang tidak didahului dengan pengenalan inderawi. Dengan daya pengenalan akal itu, jiwa mampu membedakan antara yang benar dan yang tidak benar berkaitan dengan hal-hal yang diperoleh panca indera. Perbedaan itu dilakukan dengan jalan membanding-bandingkan obyek-obyek inderawi yang satu dengan yang lain dan membeda-bedakannya.

Dengan demikian, jiwa bertindak sebagai pembimbing panca indera dan membetulkan kekeliruan yang dialami panca indera. Kesatuan aqliyah jiwa tercermin secara amat jelas, yaitu bahwa jiwa itu mengetahui dirinya sendiri, dan mengetahui bahwa ia mengetahui dirinya, dengan demikian jiwa merupakan kesatuan yang di dalamnya terkumpul unsur-unsur akal, subyek yang berpikir dan obyek-obyek yang dipikirkan, dan ketiga-tiganya merupakan sesuatu yang satu.

Ibnu Maskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan berfikir yang menjadi sumber pertimbangan tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan. Lebih jauh menurutnya, jiwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat. Dari tingkat yang paling rendah disebutkan urutannya sebagai berikut:

1)      Al nafs al bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk.

2)      Al nafs al sabu’iah (nafsu binatang buas) yang sedang

3)      Al nafs al nathiqah (jiwa yang cerdas) yang baik.

Manusia dikatakan menjadi manusia yang sebenarnya jika ia memiliki jiwa yang cerdas. Dengan jiwa yang cerdas itu, manusia terangkat derajatnya, setingkat malaikat, dan dengan jiwa yang cerdas itu pula manusia dibedakan dari binatang. Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling besar kadar jiwa cerdasnya, dan dalam hidupnya selalu cenderung mengikuti ajakan jiwa yang cerdas itu. Manusia yang dikuasai hidupnya oleh dua jiwa lainnya (kebinatangan dan binatang buas), maka turunlah derajatnya dari derajat kemanusiaan.

Berkenaan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan jiwa yang tiga macam tersebut, Maskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk mempunyai sifat ‘ujub, sombong, pengolok-olok, penipu dan hina dina. Sedangkan jiwa yang cerdas mempunyai sifat-sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar, dan cinta.

b.      Filsafat Akhlaq

Sebagai “Bapak Etika Islam”, Ibnu Maskawaih dikenal juga sebagai Guru Ketiga (al Mu’allim al tsalits), setelah al Farabi yang digelari Guru Kedua (al Mu’allim al tsani). Sedangkan yang dipandang sebagai Guru Pertama (al Mu’allim al awwal) adalah Aristoteles. Teori Maskawaih tentang etika dituangkan dalam kitabnya yang berjudul Tahzib al Akhlaq wa That-hir al ‘Araq (Pendidikan budi pekerti dan pembersihan watak).

Kata akhlaq adalah bentuk jamak dari kata khuluq. Ibnu Maskawaih memberikan pengertian khuluq sebagai keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya.

Dengan kata lain, khuluq merupakan keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan secara spontan. Keadaan jiwa tersebut bisa merupakan fitrah sejak kecil, dan dapat pula berupa hasil latihan membiasakan diri, hingga menjadi sifat kejiwaan yang dapat melahirkan perbuatan baik.

Dari pengertian itu dapat dimengerti bahwa manusia dapat berusaha mengubah watak kejiwaan pembawa fitrahnya yang tidak baik menjadi baik. Manusia dapat mempunyai khuluq yang bermacam-macam baik secara cepat maupun lambat. Hal ini dapat dibuktikan pada perubahan-perubahan yang dialami anak dalam masa pertumbuhannya dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai dengan lingkungan yang mengelilinginya dan macam pendidikan yang diperolehnya.

Ibnu Maskawaih menetapkan kemungkinan manusia mengalami perubahan-perubahan khuluq, dan dari segi inilah maka diperlukan adanya aturan-aturan syari’at, diperlukan adanya nasihat-nasihat dan berbagai macam ajaran tentang adab sopan santun. Adanya itu semua memungkinkan manusia dengan akalnya untuk memilih dan membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Dari sini pula Ibnu Maskawaih memandang penting arti pendidikan dan lingkungan bagi manusia dalam hubungannya dengan pembinaan akhlaq.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU PSIKOLOGI


KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU PSIKOLOGI

(Sebuah Kajian Filsafat Ilmu)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Setiap ilmu berasal dan berawal dari filsafat, karena filsafat merupakan induk dari segala ilmu. Baik itu berupa ilmu eksakta, ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu agama dan lain sebagainya. Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan.

Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik. Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu.

Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual. Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.

Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme–positivisme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika.

Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan Adam Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of Nation (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science, 1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yaitu: religius, metafisic dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah karakteristik sains yang paling mendasar selain matematika.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Maka dari itu, dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba memverivikasi ilmu psikologi yang merupakan bagian dari ilmu yang melihat manusia dari sisi ruhaniahnya.

A.     Ontologi Ilmu Psikologi

Istilah psikologi berasal dari bahasa Inggris psychology. Namun kata ini sebenarnya berasak dari Bahasa Yunani psyche dan logos. Psyche berarti jiwa, sedangkan logos berarti mengetahui atau ilmu. Jadi secara etimologi psikologi adalah ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa. Sedangkan psikologi menurut istilah adalah; menurut Gleitman adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan. Definisi lainnya menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan merupakan kajian tentang penilaian-penilaian yang dapat melahirkan kesepakatan-kesepakatan universal. Sedangkan menurut penulis, psikologi adalah ilmu yang berusaha mengungkap, mempelajari, membina dan membimbing potensi-potensi yang ada pada manusia, baik bersumber dari hereditas (fitrah) maupun dari hasil reaksi akibat pengaruh lingkungan.

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa psikologi pada hakekatnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dari sisi keruhaniannya. Maka obyek materia ilmu psikologi adalah manusia. Namun dalam hal ini lebih dispesifikasikan menjadi perilaku manusia. Sebenarnya yang dipelajari psikologi adalah aktivitas potensi yang ada dalam diri manusia atau jiwa yang diindikasikan melalui perilaku. Dari perilaku itulah, maka dapat ditentukan sifat-sifat manusia dan pengkategorian manusia dilakukan. Perilaku merupakan ungkapan yang berasal dari sesuatu yang ada dalam diri manusia. Maka perilaku mencerminkan batin manusia, walaupun tidak semua manusia demikian.

Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hakekat ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang hal itu adalah sesuatu yang empiris. Perilaku merupakan gejala yang muncul di permukaan dan bersifat empiris. Maka dari itu, hakekatnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala keruhanian manusia yang tampak melalui perilaku manusia. Dalam ilmu psikologi, manusia dibedakan dari segi personalnya. Jadi manusia dibedakan dengan menggunakan ilmu ini, apa yang membedakannya dengan manusia lainnya.

Karena manusia adalah makhluk yang multidimensional, maka obyek psikologi ini secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga ranah tersebut sebenarnya merupakan pembagian dari aktivitas potensi manusia atau perilaku manusia, yang meliputi, intelegensi dan bakat dalam ranah kognitif, sikap dan prasangka dan lain sebagainya dalam ranah afektif, dan ketrampilan atau keahlian manusia dalam ranah psikomotorik.

Semua obyek kajian ilmu psikologi tersebut adalah merupakan hakekat psikologi yang terangkum dalam perilaku manusia sebagai akibat respon dari kegiatan ruhaniah manusia. Jadi setiap manusia pada dasarnya dapat digunakan sebagai obyek psikologi, baik manusia secara umum maupun manusia khusus atau suprahuman. Karena setiap manusia berperilaku sebagai indikasi bahwa ia menjalani kehidupan. Tidak ada manusia yang tidak melakukan aktivitas sebagai wujud dari tingkah lakunya. Maka dari itu, semua manusia dapat diselidiki. Hanya saja, penyelidikan itu yang biasanya memakan waktu yang cukup lama, apabila penyelidiknya masih pemula dan penyelidikan itu dilakukan hanya dalam waktu tertentu. Dan kalau dilakukan hanya dalam waktu tertentu, maka hasilnya tidak akurat. Kesimpulannya, obyek dalam ilmu psikologi harus diamati secara terus menerus dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Karena obyek yang diamati manusia, maka hal itu dilakukan dengan berbaur dengan obyek.

Dalam perkembangannya terdapat juga obyek psikologi yang berupa binatang, maka dari itu, muncullah psikologi hewan yang obyeknya berupa tingkah laku hewan. Namun kelihatannya para ilmuwan psikologi lebih tertarik dan memilih obyek manusia. Di samping itu, dalam perkembangannya ruang lingkup ilmu psikologi ini berkembang menjadi psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi khusus ini telah berkembang menjadi bercabang-cabang, bahkan psikologi hewan juga merupakan bagian dari psikologi khusus ini.

B.     Epistemologi Ilmu Psikologi

Syarat untuk menjadi sebuah ilmu harus mempunyai epistemologi yang jelas. Salah satu cabang epistemologi adalah metodologi. Ilmu psikologi juga mempunyai metodologi yang jelas untuk menggali ilmu tersebut. Cara untuk memperoleh ilmu psikologi dengan menggunakan metode tertentu. Metode yang paling mudah dipakai untuk memperoleh ilmu psikologi adalah pengamatan langsung atau observasi. Hal itu dikarenakan obyeknya adalah sesuatu yang empiris. Karena sesuatu yang empiris maka sesuatu tersebut dapat diamati. Baik pengamatan langsung perilaku yang dilakukan manusia secara mendalam, maupun mengamati gejala-gejala yang terjadi di sekitar manusia yang sedang diamati tersebut, sebagai respon dari perilaku yang ia lakukan.

Metode observasi merupakan metode ilmiah yang paling mudah diterapkan. Karena psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang tersendiri, maka untuk memperolehnya harus menggunakan metode ilmiah juga. Adapun metode pengamatan langsung atau observasi adalah salah satu bagian dari metode non-eksperimental. Pengamatan dapat dilakukan secara terselubung maupun terencana dan dapat dilakukan di sekitar lingkungan tempat tinggal atau pada kawasan tertentu. Pada intinya yang diamati sesuai dengan obyek yang diinginkan. Metode yang dipakai selain pengamatan secara langsung adalah dengan melalui eksperimental, baik dilakukan di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium.

Metode ekseperiment dilakukan dengan cara memperlakukan seseorang yang bersedia menjadi sampel dengan perlakuan khusus, kemudian diambil datanya sebagai hasil penelitian. Biasanya waktunya juga cukup lama. Sedangkan metode non-eksperimental lainnya adalah metode survei, studi kasus dan korelasional.

Semua metode yang penulis sebutkan tadi digunakan untuk mengamati perilaku manusia yang tampak dalam kehidupan sehari-hari maupun indikator dari potensi manusia yang ditunjukkan dengan melakukan sesuatu tertentu. Di samping itu digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak pada sekitar manusia yang diteliti tersebut, sehingga dapat diambil sebuah pernyataan yang menghasilkan kesimpulan.

Karena mempunyai metode dan obyek yang berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya, maka ilmu psikologi merupakan ilmu yang valid dan bisa membuktikan validitasnya. Selain itu,  validitas itu juga terbukti dari hasil dari ilmu psikologi ini juga berbeda dengan ilmu yang lainnya. Ilmu ini dapat menghasilkan pengetahuan agar orang bijak dalam bersikap dan bertingkah laku. Psikologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang subyektif, tapi walaupun begitu ia dapat membuktikan keobyektifannya dengan cara menggunakan metode ilmiah untuk mendapatkannya.

Jika dilihat dari obyeknya, maka ilmu psikologi ini berkembang dalam aliran filsafat fenomenologis. Karena yang dipelajari ilmu psikologi adalah sesuatu yang tampak atau gejala yang tampak yang merupakan respon dari kegiatan ruhaniah yang terdapat dalam diri manusia tersebut. Namun, kelemahan dari aliran ini adalah manusia kadang kala tidak dapat dilihat hanya dari segi lahiriyah saja dalam waktu tertentu. Maka pengamatan obyek dalam ilmu psikologi dilakukan secara terus menerus.

C.     Aksiologi Ilmu Psikologi

Ilmu ini dalam ranah ontologinya merupakan ilmu yang bebas nilai. Demikian juga dalam ranah epistemologinya, ilmu ini kadang bebas nilai, kadang terikat nilai. Namun dalam ranah aksiologinya ilmu ini terikat nilai. Hal itu dikarenakan, dalam penerapannya manusia selalu memandang baik dan buruk. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa dalam aksiologi ilmu ini masih terikat nilai.

Setiap ilmu pastilah bermanfaat bagi manusia. Karena fungsi ilmu adalah berguna atau bernilai guna bagi manusia. Tanpa adanya manfaat bagi manusia, maka ilmu tersebut eksistensinya perlu dipertanyakan lagi. Demikian juga ilmu psikologi yang merupakan ilmu yang membahas perilaku dan potensi manusia. Ilmu psikologi ini mempunyai beberapa manfaat atau nilai guna bagi manusia, antara lain:

  1. Bernilai guna untuk mengetahui kejiwaan seseorang baik yang jiwanya sehat atau yang dalam keadaan terganggu/ sakit
  2. Bernilai guna untuk mengenal perilaku setiap orang yang terdapat di masyarakat
  3. Bernilai guna untuk mengetahui tingkat kecerdasan atau intelegensi manusia yang jelas mempunyai perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya
  4. Bernilai guna untuk mengetahui bakat yang dimiliki oleh setiap orang
  5. Bernilai guna untuk mengetahui minat seseorang
  6. Bernilai guna untuk mengetahui daya ketrampilan seseorang
  7. Bernilai guna untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan manusia mulai masa pre-natal hingga adolosense

Maka dari itu, hendaklah manusia berusaha untuk memanfaatkan ilmu sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebahagiaannya. Janganlah memanfaatkan ilmu dalam hal-hal yang menyimpang atau untuk tindak kejahatan.

D.     Heuristika Ilmu Psikologi

Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Lebih dari seribu tahun, lewat berbagai kurun zaman dan kebudayaan, ketika manusia merenung dalam-dalam tentang apa artinya menjadi seorang manusia, secara lambat laun mereka sampai kepada kesimpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan yang paling utama dari manusia. Perkembangan ilmu dari masa lampau sampai masa sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran.

Ilmu psikologi dalam perkembangannya memunculkan berbagai aliran yang berpijak pada epistemologi aliran filsafat yang berbeda. Perkembangan ilmu psikologi yang terjadi memunculkan aliran seperti behaviorisme, psiko analisis dan lain sebagainya. Semua aliran-aliran tersebut berusaha mengembangkan ilmu psikologi sesuai dengan aliran yang mereka anut.

Ilmu psikologi juga mengalami perkembangan dalam perjalanannya. Perkembangan itu dikarenakan ilmu psikologi mengadakan kontak hubungan dengan ilmu lain. Hubungan yang dilakukan oleh ilmu psikologi dengan ilmu lain biasanya bersifat timbal balik. Karena kedua ilmu yang mengadakan hubungan tersebut saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga memunculkan sub-sub ilmu psikologi yang sifatnya juga masih dalam tahap perkembangan.. Berbagai cabang dalam disiplin ilmu psikologi antara lain:

  1. psikologi perkembangan
  2. psikologi pendidikan
  3. psikologi agama
  4. psikologi umum
  5. psikologi sosial
  6. psikologi politik, dll

Selain itu, di zaman modern ini banyak ahli-ahli psikologi yang muncul dan mereka rata-rata mengemukakan teori baru dalam bidang ilmu psikologi, sehingga muncullah sub-sub ilmu psikologi yang berkembang dalam berbagai ranah, seperti kepribadian, bakat, sikap, minat dan motivasi juga lain sebagainya. Kemunculan para tokoh itu telah memberikan arti yang cukup besar dalam ilmu psikologi, dan membuat psikologi semakin kokoh sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Di samping itu, Islam juga telah mengadakan islamisasi ilmu pengetahuan. Maka dalam Islam, juga terdapat ilmu psikologi yang berlandaskan al-Qur’an dan hadits, yang sebenarnya cikal bakalnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad.

Terdapat berbagai saran yang penulis kemukakan untuk pengembangan ilmu psikologi, antara lain:

  1. Mengembangkan ilmu psikologi yang sudah mapan dengan melakukan penelitian-penelitian tentang perilaku manusia dengan menggunakan metode penelitian yang sudah ada, atau dengan mengembangkan cabang ilmu psikologi tertentu dengan melakukan penelitian yang mendalam.
  2. Berusaha untuk menggabungkan ilmu psikologi dengan ilmu yang lainnya, misalnya dengan ilmu pendidikan, sehingga menjadi psikologi pendidikan ataupun ilmu yang lainnya. Di samping itu, berusaha untuk menggunakan ilmu psikologi dalam kehidupan sehari-hari dan menerapkannya bersama ilmu-ilmu yang lain.
  3. Berusaha mengembangkan dan merekonstruksi hasil dari penggabungan ilmu psikologi dengan ilmu yang lainnya, sehingga ditemukan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, yang sifatnya tidak subyektif.
  4. Berusaha mengembangkan ilmu psikologi lewat induknya, yaitu filsafat karena filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya
  5. Mencari landasan tentang teori-teori ilmu psikologi dari al-Qur’an dan hadits kemudian dijelaskan dan dijabarkan sehingga dapat ditemukan statemen baru yaitu psikologi Islami yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits.

Demikian saran untuk pengembangan ilmu psikologi dari penulis, apabila terdapat kesalahan saya mohon maaf, karena hanya itu kemampuan penulis.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT