Category Archives: Filsafat

KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU HADITS


KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN HEURISTIKA ILMU HADITS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.     Ontologi

Ilmu hadits adalah ilmu yang membahas hadits Nabi SAW. Hadits dalam berbagai kalangan dan istilah sering disebut dengan sunnah, khabar, atsar. Keempat term tersebut ada yang mengartikan dengan arti yang sama dan ada yang mengartikan dengan arti yang berbeda. Hadits secara bahasa adalah sesuatu yang baru. Sedangkan secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifat, baik ketika Nabi sedang tidur maupun tidak tidur, serta himmah. Penjelasan Nabi Muhammad yang terwujud dalam bentuk hadits Rasulullah Saw merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Ia bukan hanya sebagai penjelas terhadap isi kandungan al-Qur’an yang masih bersifat universal dan global, tetapi juga merupakan ungkapan-ungkapan, pesan serta tindakan-tindakan yang lahir dari seorang Nabi dan Rasul.

Secara ringkas ilmu hadits adalah ilmu yang membahas mengenai sesuatu yang datang dari Nabi baik ucapan, perbuatan, ketetapan, maupun himmah. Pada hakikatnya ilmu hadits ini yang diteliti adalah sanad dan matan hadits. Ilmu ini dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits dirayah dan ilmu hadits riwayah.

Ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang menukilkan segala apa yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat yang dinuqil secara terurai dan teliti. Topik pembahasannya adalah perkataan, perbuatan dan sifat-sifat dari segi penukilan. Ilmu ini mencakup pembahasan tentang segala yang berpautan dengan lafal dan periwayatan.

Ilmu hadits dirayah adalah ilmu untuk mengetahui hakikat riwayat yang mencakup syarat, macam dan hukumnya serta keadaan perawi yang mencakup syarat, jenis yang diriwayatkan dan segala yang berkaitan dengannya. Obyek pembahasan ilmu ini adalah sanad dan matan hadits.

Jadi hakikatnya ilmu hadits adalah ilmu yang dirancang untuk mengetahui keorisinilan dan tata cara periwayatan hadits yang benar dari Rasulullah.

B.     Epistemologi

Metode untuk memperoleh ilmu hadits ini secara substansial juga dibagi menjadi dua menurut pembagian ilmu hadits yang pertama tadi. Ilmu hadits riwayah diperoleh dengan menggunakan metode hafalan karena sifatnya adalah menjaga agar nuqilan dari Nabi tidak berubah. Sedangkan ilmu dirayah hadits cara memperolehnya adalah dengan melakukan penelitian sanad hadits dan matan hadits.

Sanad hadits diteliti dalam segi muttasil atau bersambung dan ke-tsiqahannya juga kedhabitannya. Hal ini dilakukan dengan cara melihat sejarah Islam dan melihat biografi perawi dalam buku-buku Tabaqat atau Tarikh. Sedangkan dalam segi matan dengan melakukan penelitian matan dengan cara meneliti dan menganalisis apakah dalam matan tersebut terdapat illat dan syadz. Hal itu dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan kaidah bahasa Arab, dengan menggunakan ilmu nahwu, sharaf dan balaghah.

Dengan ini dapat ditentukan apakah hadits tersebut diterima atau tidak untuk dijadikan pedoman. Maka dengan hal ini dapat juga dibuktikan bahwa ilmu hadits mempunyai metode tersendiri dan merupakan ilmu yang berdiri sendiri. Bahkan validitas ilmu ini sudah tidak diragukan lagi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Dari metode kritik sanad atau penelitian sanad dan matan yang dilakukan di atas, maka ilmu ini akan memunculkan cabang-cabang ilmu, seperti ilmu jarh wa al-ta’dil, ilmu rijal al-hadits dan lain sebagainya. Namun semua itu masih dalam naungan ilmu hadits.

C.     Aksiologi

Ilmu ini dalam penerapannya terikat nilai. Karena ilmu ini menyeleksi para perawi yang meriwayatkan hadits dengan ketat dan tepat. Sedangkan kegunaan ilmu ini banyak sekali. Antara lain: tanpa adanya ilmu hadits ini, maka umat Islam tidak mempunyai pegangan untuk memfilter hadits yang akan dijadikan rujukan hukum, maka akibatnya hadits dhoif dan palsu juga masuk atau dijadikan rujukan. Sehingga kevalidan hukum Islam akan menjadi tidak valid, karena rujukan yang dipakai tidak memenuhi standar.

Dengan ilmu hadits ini kita dapat menyeleksi hadits yang kita terima sehingga, hadits yang kita terima tidak ada yang palsu dan dapat kita gunakan sebagai acuan amal kita. Maka amal kita akan mendapatkan nilai tersendiri.

Apabila tidak ada ilmu hadits maka fungsi hadits sebagai penjelas al-Qur’an akan menjadi bias, karena semua hadits akan masuk sebagai penjelas al-Qur’an termasuk hadits palsu yang biasanya hanya untuk kepentingan politik tertentu atau golongan tertentu, dan hal itu akan merusak pemahaman terhadap al-Qur’an. Fungsi hadits sebagai penguat-pun juga tidak dapat dijalankan apabila tidak diketahui mana hadits yang benar-benar orisinil dari Nabi.

D.     Heuristika

Pengembangan keilmuannya terbuka terhadap hal yang ada dalam konteks ilmu itu sendiri atau obyek ilmu tersebut., sehingga ilmu ini berkembang dan melahirkan berbagai cabang. Ilmu yang paling berkembang dari bagian ilmu hadits ini adalah ilmu hadits dirayah, sedangkan ilmu hadits riwayah nampaknya stagnansi. Perkembangan ilmu hadits tersebut melahirkan cukup banyak cabang ilmu hadits, antara lain, ilmu jarh wa al-ta’dil, ilmu rijal al-hadits, ilmu tarikh al-ruwat, ilmu gharib al-hadits dan lain sebagainya. Karena sumber utamanya adalah al-hadits, maka ilmu ini tidak dapat dikembangkan keluar, maksudnya digabungkan dengan ilmu lain yang tidak serumpun.

Walaupun perkembangan intern dalam ilmu itu sendiri sekarang sudah dapat dirasakan, seperti halnya penggunaan software dan lain sebagainya yang memudahkan meneliti hadits dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN


KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN

(Sebuah Kajian Filsafat Ilmu)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia yang berlangsung secara bertahap. Ilmu pengetahuan ini merupakan implementasi dari pengetahuan yang ada yang didasarkan pada rasio dan kaidah-kaidah yang ada. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui sesuatu yang lebih jelas lagi. Bahkan dengan ilmu pengetahuan manusia memenuhi kodratnya yaitu sebagai khalifah di bumi. Karena dengan ilmu pengetahuanlah manusia dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada di bumi ini dengan sebaik-baiknya tanpa mengadakan perusakan.

Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia bukan sekedar hidup, namun lebih dari itu. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mengembangkan kebudayaan, memberi makna pada kehidupan, dan memanusiakan diri dalam kehidupannya. Bahkan lebih luas lagi ilmu pengetahuan dapat membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Pada masa modern sekarang ini, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Muncul berbagai disiplin ilmu baru yang merupakan cabang dari ilmu pengetahuan yang sudah ada. Sehingga banyak manusia yang kebingungan untuk memilah ilmu mana yang seharusnya mereka pelajari untuk membantu mencapai tujuan mereka. Disamping itu juga terjadinya pembelajaran ilmu pengetahuan secara campuran yang mengakibatkan orang atau manusia kebingungan dengan karakteristik dan tujuan ilmu yang mereka pelajari.

Maka dari itu Kami akan mengungkap mengenai karakteristik ilmu pengetahuan secara umum dan juga karakteristik masing-masing bidang ilmu pengetahuan. Namun sebelumnya Kami akan menampilkan dahulu mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan agar memudahkan Kami dalam menganalisis karakternya masing-masing, yang Kami ambil dari berbagai referensi yang ada dan juga dari pengetahuan dan pengalaman yang Kami miliki.

B.     Pengertian Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan berasal dari dua kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Sebenarnya nama ini mengalami yang namanya redudensi peristilahan (words redudancy), yang tujuannya untuk lebih menegaskan suatu makna, seperti jatuh ke bawah, naik ke atas dan lain sebagainya.

Pengetahuan : Persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ada dua term pengetahuan, yaitu “pengetahuan ilmiah” dan “Pengetahuan Biasa“. Pengetahuan Biasa (knowledge) diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. Sedangkan “Pengetahuan Ilmiah” (science) juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek, cara yang digunakan dan kegunaan dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Baik Science atau knowledge pada dasamya keduanya merupakan hasil observasi pada fenomena alam atau fenomena sosial.

Ilmu, menurut An-Nabhani, adalah pengetahuan (knowledge, ma‘rifah) yang diperoleh melalui metode pengamatan (observation), percobaan (experiment), dan penarikan kesimpulan dari fakta empiris (inference). Contohnya adalah fisika, kimia, dan ilmu-ilmu eksperimental lainnya. Adapun tsaqâfah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode pemberitahuan (al-ikhbâr), penyampaian transmisional (at-talaqqi), dan penyimpulan dari pemikiran (istinbâth). Contohnya adalah sejarah, bahasa, hukum, filsafat, dan segala pengetahuan non-eksperimental lainnya.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pengetahuan hanya sekedar penarikan kesimpulan dari fakta atau empiris yang melalui pengamatan.

Sementara itu secara istilah, ilmu terdapat beberapa pendapat, antara lain:

v  Menurut Abdurrohman al akhdhori, ilmu adalah membuahkan pikiran akan arti dari sesuatu, contoh pisang, pikiran kita pasti dapat membayangkan arti dari kata pisang dalam pikiran.

v  Menurut Ashley Montagu, ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan studi dan pengalaman untuk menemukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

v  Menurut Zakiah Darajat, ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara obyektif, sistematis baik dengan pendekatan deduktif, maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran oleh para ahli.

Zakiyah Darajat disini menganggap bahwa ilmu dengan ilmu pengetahuan itu sama, karena sebenarnya antara ilmu dengan ilmu  pengetahuan tersebut sama, hanya saja sebagaimana penulis terangkan diatas yaitu terjadi redudensi peristilahan.

Ilmu Pengetahuan : kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya. Ada juga yang mengartikan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.

Dalam konteks ilmu sosial, ilmu pengetahuan adalah akumulasi pengetahuan-pengetahuan yang telah lalu sehingga membentuk suatu bangunan tertentu yang bisa dibenarkan dan bisa disalahkan.

C.     Karakteristik Umum Ilmu Pengetahuan

Ciri Ilmu perlu memperhatikan dua aspek, yaitu : sifat ilmu dan klasifikasi ilmu. Mengenai sifat ilmu akan dibahas dalam subbab ini, sedangkan mengenai klasifikasi ilmu akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Ilmu pengetahuan mempunyai sifat, antara lain:

v  Sistematik

v  Konsisten (antara teori satu dengan yang lain tak bertentangan)

v  Eksplisit    (disepakati dapat secara universal, bukan hanya dikalangan kecil).

v  Ilmiah, benar (pembuktian dengan metode ilmiah).

Disamping itu suatu ilmu pengetahuan mempunyai ciri lain yaitu:

v  bukan satu, melainkan banyak (plural)

v  bersifat terbuka (dapat dikritik)

v  berkaitan dalam memecahkan.

Ciri khas nyata dari ilmu pengetahuan (science) yang tidak dapat diingkari meskipun oleh para ilmuwan adalah bahwa ia tidak mengenal kata “kekal”. Apa yang dianggap salah di masa silam misalnya, dapat diakui kebenarannya di abad modern. Pandangan terhadap persoalan-persoalan ilmiah silih berganti, bukan saja dalam lapangan pembahasan satu ilmu saja, tetapi terutama juga dalam teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan. Dahulu, misalnya, segala sesuatu diterangkan dalam konsep material (istilah-istilah kebendaan) sampai-sampai manusia pun hendak dikatagorikan dalam konsep tersebut. Sekarang ini terdapat psikologi yang membahas mengenai jiwa, budi dan semangat, telah mengambil tempat tersendiri dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Dalam redaksi lain dikatakan ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri umum yaitu:

v  Obyek ilmu pengetahuan adalah empiris.

v  Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika.

v  Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman studi dan pemikiran.

v  Sumber segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.

Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.

Van Melsen mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu,  sebagaimana yang dikutip Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, yaitu: (1) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis). (2) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan. (3) Universalitas ilmu pengetahuan. (4) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif. (5) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. (6) Progresifitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-problem baru lagi. (7) Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang difinitif, setiap teori terbuka bagi setiap peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. (8) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.

Jadi setiap ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan bila memiliki ciri-ciri atau karakteristik umum diatas. Sementera itu mengenai karakteristik khusus ilmu pengetahuan setelah adanya klasifikasi ilmu pengetahuan akan diterangkan kemudian.

D.     Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

Dalam subbab ini Kami akan membahas mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan menurut beberapa ahli. Salah satu Klasifikasi Ilmu :

v  Ilmu Alam (Natural Wissenschaft), Ilmu Alam / Eksakta

v  Ilmu Moral: Ilmu Sosial, Ilmu Humaniora

Dalam khazanah pengetahuan kontemporer, istilah ilmu dalam klasifikasi An-Nabhani di atas identik dengan ilmu-ilmu alam (natural sciences), yang sering disingkat ‘sains’, sedangkan tsaqâfah kurang lebih identik dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences).

Sebagian intelektual, seperti Jujun S. Suriasumantri, mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua cabang besar, yaitu ilmu (science), (yang mencakup ilmu-ilmu alam dan sosial), dan humaniora (humanities). Humaniora, menurut Elwood  adalah seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya  yang meliputi filsafat, moral, seni, sejarah, dan bahasa.

Istilah lain dikemukakan oleh S. Waqar Ahmed Husaini dalam bukunya Islamic Sciences, yang mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sicencies) dan ilmu-ilmu sosial-humaniora (humanistic-social sciences). Yang terakhir ini adalah gabungan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Istilah tsaqâfah menurut An-Nabhani tampaknya lebih tepat diterjemahkan sebagai humanistic-social sciences (ilmu-ilmu sosial-humaniora), daripada sekadar social sciences.

Berkaitan dengan klasifikasi ilmu, penulis lulusan Universitas Chicago ini berpijak pada klasifikasi ilmu teoretis ala al-Farabi yang mengelompokkan ilmu ke dalam tiga ilmu utama: metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Hemat penulis, ketiga kelompok utama ilmu ini akan membentuk klasifikasi ilmu rasional yang integral, tanpa menganaktirikan salah satunya.

Adapun klasifikasi ilmu-ilmu praktis, filsuf Muslim juga membaginya ke dalam tiga jenis, yaitu: etika, ekonomi, dan politik. Dalam hal metodologis, atensi ilmuan Barat terfokus pada metode observasi yang notabene menekankan potensi indra yang berorientasi fisik. Penekanan seperti ini bisa berdampak fatal karena observasi indra bisa saja meleset dan tak kuasa terhadap objek-objek metafisik. Untuk itu, potensi akal dan hati atau intuisi juga harus dilibatkan dalam pengkajian ilmiah. Jauh hari sebelumnya, tradisi filsafat Islam mengakomodasi seluruh potensi tersebut sebagaimana terlihat pada konsep Suhrawardi yang membagi pendekatan kepada dua macam, yaitu: diskursif (bahtsi) dan eksperiensial (dzauqi).

Sementara itu menurut ahli dari Malaysia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan sebagai berikut: Ilmu yang sifatnya “periksa” dapat dibagi menjadi dua cabang besar yaitu: 1. Ilmu-ilmu alam bernyawa seperti biologi, kedokteran, dsb. Dan 2. Ilmu-ilmu alam tak bernyawa seperti kimia, fisika, astronomi, dsb. Ungkapan-ungkapan “perasaan (rasa)” orang saat berinteraksi antar sesamanya, membuahkan 3. Ilmu untuk berinteraksi itu sendiri atau ilmu bahasa dan
4. Ilmu-ilmu sosial seperti filsafat, sejarah, politik, psikologi, ekonomi, administrasi, hukum, antropologi-sosial, demografi dsb.

The New Encyclopaedia Britannica membagi-kelompokkan sains yang dimiliki oleh manusia berdasarkan beberapa pohon ilmu sebagai berikut:

  1. Logika (logic)

a.   Sejarah dan filsafat logika (History and philosophy of logic) yang terdiri dari: sejarah logika (History of Logic), filsafat logika, (Philosophy of Logic).

b.   Logika formal, metalogika, logika terapan (Formal logic, metalogic, and applied logic) yang terdiri dari: logika formal (Formal logic), metalogika (Metalogic), logika terapan (Applied logic),

    1. Matematika (Mathematics).

a.   Sejarah dan landasan matematika (History and foundations of mathematics) yang terdiri dari: sejarah matematika (History of mathematics), landasan matematika (Foundations of mathematics).

b.   Cabang-cabang matematik (Branches of mathematics) meliputi: Teori Himpunan (Set Theory), Aljabar (Algebra), Geometri (Geometry), Analisis (Analysis), Kombinatorika dan teori bilangan (Combinatories and number theory), Topologi (Topology),

c.   Penerapan-penerapan matematika (Application of mathematics), meliputi: Matematika sebagai suatu ilmu berhitung (Mathematics as a calculatory science), Statistika (Statistic), Analisis numeris (Numerical analysis), Teori automata (Automata theory), Teori matematis optimisasi (Mathematical theory of optimization), Teori informasi (Information theory), Matematika tentang teori fisika (Mathematical aspects of physical theories).

    1. Ilmu Alam (Natural Science).

a. Sejarah dan filsafat ilmu (History and philosophy of science) yang terdiri dari: Sejarah Ilmu (History of Science), Filsafat ilmu (Phylosphy of science),

b.   Ilmu-ilmu Fisika (Physical sciences) yang dapat dibagi ke dalam: Sejarah ilmu fisika (History of the Physical science), Sifat dasar dan lingkup astronomi dan astrofisika (The nature of enscope of astronomy and astrophysics), Sifat dasar dan lingkup fisika (the Nature of enscope of Physics),Sifat dasar dan lingkup kimia (The nature of enscope of Chemistry),

c.   Ilmu Bumi (the Earth science) yang membahas tentang: Sifat dasar dan sejarah ilmu bumi (The nature and history of the Earth science), Sifat dasar, lingkup dan metode-metode ilmu Bumi khusus (The nature, scope and methods of particular Earth science)

d.   Ilmu-ilmu Biologi (The Biological sciences) yang terdiri dari: Perkembangan ilmu-ilmu biologi (Development of the Biological Sciences), Sifat dasar, lingkup dan metodologi Ilmu Biologis (The nature, scope and methodology of the Biological Sciences), Filsafat Biology (Philosophy of Biology).

e.   Ilmu Kedokteran dan disiplin ilmu yang tergabung (Medicine and affiliated disciplines) yang membahas tentang: Sejarah Ilmu Kedokteran (History of medicine), Bidang-bidang praktek atau penelitian medis khusus (Field of Specialized medical practised or research), Displin ilmu yang tergabung dalam ilmu kedokteran (Disciplines of affiliated with medicine).

f.    Ilmu Sosial dan psikologi (The social sciences and psychology) yang mencakup: Perkembangan ilmu sosial (Development of the Social sciences), Sifat dasar antropologi (The nature of anthropology), Sifat dasar sosiologi (The nature of sociology), Sifat dasar ilmu ekonomi (The nature of economics), Ilmu Politik (Political sciences), Sejarah dan metode psikologi (History and methods of Psychology),

g.   Ilmu Teknologi (The technological sciences) yang mencakup: Sejarah ilmu teknologi (History of technological sciences), Segi-segi akademika dan profesional dari keinsinyuran (Academics and professional aspects of engineering), Sifat dasar dan cakupan ilmu pertanian (The nature and scope of agricultural sceinces), Sifat dasar dan cakupan displin antar ilmu yang baru dikembangkan (The nature and scope of presently developed intersciences disciplines),

4.   Sejarah dan humaniora (History and humanities). Sejarah dan Humaniora dapat dibagi lagi ke dalam:

a.   Historiografi dan studi sejarah (historyography and the study ofhistory), meliputi: Historiografi (historyography), Penyelidikan dan penelitian sejarah modern (modern hitorical investigation and research), Filsafat sejarah (Philosophy of History),

b.   Humaniora dan kesarjanaan humanistik (the Humanities and humanistics scholarship), meliputi: Sejarah kesarjanaan humanistik (History of humanistic scholarship), Humaniora (The humanities).

5.   Filsafat (philosophy). Filsafat terdiri dari:

a.   Sifat dasar dan pembagian filsafat (The nature and the divisions of philosophy), meliputi: Sifat dasar, lingkup dan metode filsafat (The nature, scope and methods of philosophy), Pembagian filsafat (The divisions of philosophy),

b.   Sejarah filsafat (History of philosophy), meliputi: Penulisan sejarah filsafat (The writings of history of philosophy), Sejarah filsafat Barat (History of Western Philosophy), Filsafat bukan Barat (Non Westerns Philosophy), Filsafat yang berhubungan dengan agama (Philosophies associated with religions),

c.   Aliran dan ajaran filsafat (Philosiphycals Schools and doctrines), meliputi: Aliran-aliran filsafat utama di Barat (Major Philosiphycal Schools in the West), Teori ada dan eksistensi (Theories of Beeing and Existence), Teori pikiran, pengetahuan dan daya budi (Theories of Thought and Knowledge and Faculties of Minds), Teori perilaku (Theories of conduct),

Sedangkan The World Book Encyclopedia membagi sains menjadi:

1.   Matematika dan logika (Mathematics and logic). Contohnya: aritmatika, aljabar, kalkulus dan statistik.

2.   Ilmu Fisika (The Physical science). Contohnya: Astronomi, kimia, geologi, meteorologi dan fisika.

3.   Ilmu Kehidupan (The Life science). Contohnya: Zoologi, botani, fisiologi, taksonomi dan ekologi.

4. Ilmu Sosial (Social science). Contohnya: Antropologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi dan ilmu sosial.

Sementara itu menurut penulis ilmu pengetahuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

v  Ilmu kerohanian, yang meliputi: ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu agama.

v  Ilmu humaniora atau ilmu kebudayaan, yang meliputi: sastra, sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat.

v  Ilmu sosial, yang meliputi: ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosial politik, ilmu ketatanegaraan.

v  Ilmu eksakta dan tehnik, meliputi: ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti dan alam, ilmu tehnik dan ilmu biologi.

E.     Karakteristik Masing-Masing Ilmu Pengetahuan

Dalam subbab ini penulis akan membahas lebih mendalam mengenai karakteristik dari klasifikasi ilmu pengetahuan yang penulis pilih atau kemukakan tadi.

Ilmu kerohanian, yang meliputi ilmu jiwa dan agama

Karakternya:

Obyek dari ilmu ini adalah hasil keyakinan manusia atau dapat dikatakan suatu keadaan spiritual manusia.

Sifat dari ilmu ini adalah subyektif.

Hasilnya adalah manusia akan lebih memperoleh ketenangan dalam menjalani hidupnya atau dapat dikatakan manusia akan mempunyai keyakinan.

Metodologinya yaitu dengan menganalisis hasil proyeksi kegiatan spiritual yang ditampakkan dalam aplikasi kegiatan sehari-hari.

Ilmu humaniora atau ilmu kebudayaan, yang meliputi: sastra, sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat.

Obyeknya adalah hasil tindakan manusia.

Sifatnya subyektif.

Hasilnya adalah manusia akan lebih menghargai hasil karya manusia lainnya. Salah satu maksud humaniora yaitu meluruskan jalan untuk pendidikan yang lebih lengkap dan harmonis.

Metodologinya adalah menganalisis hasil karya manusia yang tampak dalam dunia empiris.

Ilmu sosial, yang meliputi: ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosial politik, ilmu ketatanegaraan.

Obyeknya adalah hasil tindakan manusia.

Sifatnya subyektif.

Hasilnya manusia akan lebih toleran dengan manusia yang lainnya.

Ada 4 macam karakteristik pada ilmu sosial: Ontologi : Mengutamakan investigasi pada setiap fenomena bahwa apakah realita dapat berdiri sendiri atau berada dalam pemikiran kita saja. Epistemologi : Dasar pengetahuan tentang bagaimana mengerti dunia dan bagaimana mempelajari realita tersebut. Human Nature : Mempelajari hubungan antara manusia dan sesama manusia bahwa apakah tingkah laku manusia dapat dipastikan atau tidak. Metodologi : Gabungan dari ontological, epistomology, dan human nature yang berisi strategi untuk melakukan penelitian tersebut.

Dari 4 sifat dasar ilmu sosial, dipecah berdasarkan 2 pandangan dari sudut pandang subyektif dan obyektif.

Sudut Pandang Subyektif:  • Nominalisme : Asumsi bahwa realitas sosial adalah relatif dan dunia sosial di luar individu terbuat dari sekedar nama, konsep, label, yang membantu seseorang untuk membayangkan suatu kenyataan. • Anti-positivisme : Mencari di dunia sosial yang relatif dan hanya bisa dimengerti dari sudut pandang individu. • Voluntarisme : Berpandangan bahwa seseorang berpikir secara otomatis dan bebas. • Ideografis : Berdasar pandangan bahwa seseorang membuat, mengubah, dan mengerti dunia dengan mencari ilmu dengan investigasi secara subyektif. Sudut Pandang Obyektif : • Realisme : Asumsi bahwa dunia sosial di luar individu adalah dunia nyata yang terbentuk dari sesuatu yang keras, tidak berubah dan nyata. • Positivisme : Mencari penjelasan di dunia sosial dengan melihat segala aturan, parameter dan hubungan. Hal ini dapat dipahami dengan mengkotak-kotakkan suatu variabel tak terukur dan memberikan parameter ukuran pada variabel tersebut, kemudian membuat hubungan antar-variabel. • Determinisme : Berpandangan bahwa seseorang merupakan bagian yang diatur dan dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan dimana ia berada. • Nomotetik : Berpandangan bahwa dengan menekankan pentingnya riset berprotokol dan sistematika yang baik untuk menganalisa hubungan dan keunikan antar elemen. Menggunakan tes kuantitatif seperti survey dan tes kepribadian.

Ilmu eksakta dan tehnik, meliputi: ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti dan alam, ilmu tehnik dan ilmu biologi.

Obyek dari ilmu pengetahuan ini adalah alam.

Sifatnya adalah obyektif.

Hasilnya manusia akan lebih memperoleh kemudahan dalam menjalankan hidup.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

HAKEKAT MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM


HAKEKAT MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

(Telaah Konsep Filsafat Pendidikan Islam)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 A.     Pengantar

Pendidikan berakar dari perkataan didik yang berarti pelihara, ajar dan jaga. Setelah dijadikan analogi, pendidikan boleh diuraikan sebagai satu proses yang berterusan untuk menjaga dan memelihara pembesaran tubuh badan dan pertumbuhan bakat manusia dengan rapi supaya dapat melahirkan orang yang berilmu, baik tingkah laku dan dapat mengekalkan nilai-nilai budaya di kalangan masyarakat.

Dalam pendidikan Islam, dikenal kata ta’lim, tarbiyah dan ta’dib yang merujuk kepada pendidikan. Kata ‘tarbiyah’ adalah kata yang sering digunakan dalam dunia akdemik dan ilmiah dalam suatu pendidikan. Ini adalah karena perkataan ‘tarbiyah’ menurut sarjana pendidikan Islam berasal dari “rabb” yang menunjuk kepada Allah s.w.t sebagai pendidik umat manusia. Menurut Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut usuran-ukuran Islam. Muhammad Quthb memberi pengertian pendidikan Islam, sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Idi, sebagai usaha untuk melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, baik dari segi jasmani maupun rohani, baik dari kehidupan fisik maupun mentalnya, dalam melaksanakan kegiatannya di bumi ini.

Untuk dapat melakukan proses pendidikan Islam dengan efektif dan efisien diperlukan media pendidikan Islam. Tanpa menggunakan media, maka pendidikan Islam tidak akan berhasil sepenuhnya. Meskipun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa biasanya seorang pendidik lebih memilih menggunakan satu media dalam pembelajarannya setiap hari dengan berbagai alasan, antara lain: ia sudah merasa akrab dengan media tersebut, ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri, atau media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa. Untuk mengetahui mengetahui mengenai media pendidikan Islam secara lebih jelas dan lengkap, maka penulis berusaha menulis tulisan ini.

B.     Hakekat Media Pendidikan Islam

Jika dianalisis menurut bahasanya, media berasal dari bahasa Latin dan bentuk jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar. Dalam beberapa literatur nampaknya tidak dibedakan antara media dengan alat, seperti halnya Zakiyah Darajat, namun beberapa ahli yang lain membedakannya. Sedangkan menurut pendapat penulis media pendidikan lebih luas daripada alat pendidikan.

Sedangkan dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan, sebagaimana dikemukakan oleh Pupuh Fatkhurrohman dan M. Sobry Sutikno, “sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.”

Untuk membedakannya maka penulis juga mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan alat pendidikan. Sebagaimana yang dikemukakan Djamarah, alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan, alat tidak hanya sebagai pelengkap tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Alat pembelajaran adalah segala alat yang dapat menunjang efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah sarana belajar atau sarana pembelajaran. Alat pembelajaran termasuk bagian dari sumber pembelajaran karena dapat mempengaruhi tingkah laku siswa.

Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat verbal dan alat bantu non verbal. Alat verbal berupa suruhan, perintah, dan larangan. Sedangkan alat bantu non verbal berupa globe, papan tulis, batu tulis, kapur tulis, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya. Untuk alat verbal bisa juga disebut sebagai alat non material sedangkan alat bantu non verbal disebut juga sebagai alat material atau alat bantu pengajaran. Alat material termasuk alat bantu audiovisual. Melalui alat bantu pengajaran yang tepat, diharapkan guru dapat memberikan pengalaman belajar yang banyak dengan cara sedikit.

Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara/teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai pada tujuan. Alat peraga dalam proses belajar mengajar penting, karena memiliki fungsi pokok sebagai berikut:

  1. Penggunaan alat peraga sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif;
  2. Penggunaan alat peraga merupakan bagian integral dari keseluruhan situasi belajar;
  3. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran;
  4. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam pengertian yang diberikan guru.

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa media lebih luas daripada alat, walaupun dalam kondisi tertentu bisa diartikan sama dan memiliki fungsi yang sama juga. Untuk lebih jelas mengetahui perbedaannya, maka penulis akan menyebutkan jenis-jenis media pendidikan Islam. Sebagaimana dikemukakan oleh Munardji, media pendidikan Islam meliputi:

  1. Alat, yaitu fasilitas-fasilitas dan sarana yang bisa menunjang dan melengkapi pendidikan Islam termasuk di dalamnya bangun sampai kepada alat-alat bantu yang dibutuhkan untuk memperjelas dan mencoba untuk mengetahui, menganalisa serta mempraktekkan teori tertentu.
  2. Kelembagaan, seperti organisasi sosial dan pendidikan.
  3. Perilaku, yaitu penampilan (performance) informasi.
  4. Alam semesta, sebagai lingkungan yang mempengaruhi individu juga merupakan media yang dapat membantu proses pendidikan.
  5. Situasi, ia dapat membentuk pola pikir, sikap dan tingkah laku.
  6. Kultur yang terdiri dari sistem norma, idea, pola perilaku, dan lain sebagainya.

Pada intinya hakekat media pendidikan Islam adalah sarana untuk perantara komunikasi antara pendidik dengan peserta didik untuk menyampaikan materi pendidikan Islam yang pada akhirnya bertujuan mencapai tujuan pendidikan Islam. Sebenarnya media bukan merupakan faktor pokok yang harus ada dalam sistem pendidikan Islam, namun media merupakan pelengkap yang mempermudah proses pendidikan Islam agar bisa berjalan secara efektif dan efisien serta cepat dan tepat.

Dalam al-Qur’an juga diisyaratkan penggunaan media dalam proses pendidikan sebagaimana ayat yang artinya sebagai berikut: Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4). Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah mengajari makhluk-Nya dengan menggunakan perantara, maka sama jika diterapkan dalam pembelajaran yang diterapkan manusia, juga menggunakan perantara atau media. Fungsi dari media pendidikan Islam adalah untuk mempemudah pemahaman dan penyampaian materi pendidikan Islam.

C.     Kriteria Pemilihan Media Pendidikan Islam

Media pendidikan Islam terdiri dari berbagai jenis. Maka seorang pendidik harus pandai dalam memilih media yang tepat ketika akan melakukan suatu pembelajaran. Syaiful Bahri Djamarah mengutip pendapat Sudirman N, mengenai prinsip-prinsip pemilihan media (alat bantu) pengajaran ke dalam tiga kategori, yakni:

Tujuan Pemilihan

Memilih media (alat bantu) yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.

Karakteristik Media Pembelajaran

Setiap media (alat bantu) pengajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya.

Alternatif Pilihan

Bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang diperbandingkan. Tapi apabila hanya ada satu media pengajaran maka gunakanlah apa adanya.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih alat bantu, diantaranya:

  1. Objektifitas
  2. Program pengajaran
  3. Sasaran program
  4. Situasi dan kondisi
  5. Kualitas teknik
  6. Keefektifan dan efisiensi penggunaan.

Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

  1. Hambatan, pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan material).
  2. Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan, ketrampilan pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan lebih tinggi. Setiap kategori pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda, dan dengan demikian akan memerlukan tehnik dan media penyajian yang berbeda pula.
  3. Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketrampilan awal, seperti membaca, mengetik dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa lainnya.
  4. Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru dan pelajar)dan keefektifan biaya.
  5. Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:
    1. Kemampuan mengakomodasi penyajian, stimulus yang tepat (visual dan/audio).
    2. Kemampuan mengakomodasikan respon siswa yang tepat (tertulis, audio dan/ kegiatan fisik).
    3. Kemampuan mengakomodasikan umpan balik.
    4. Pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama)

6.  Media sekunder harus mendapat perhatian karena pengajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam. Dengan penggunaan media yang beragam siswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan kebutuhan belajar mereka secara perorangan.

Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Untuk itu, ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media.

  1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Media yang berbeda, misalnya filin dan grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda, dan oleh karena itu memerlukan proses dan ketrampilan-ketrampilan mental yang berbeda untuk memahaminya.
  3. Praktis, luwes, dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana, atau sumber daya lainnya untuk memproduksi, tidak perlu dipaksakan. Media yang mahal dan memakan waktu lama untuk memproduksinya bukanlah jaminan sebagai media yang terbaik.
  4. Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria utama. Apapun media itu guru harus mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran.
  5. Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan.
  6. Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograph harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu pada elemen lain yang berupa latar belakang.
  7. Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.
  8. Tersedia waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
  9. Sesuai dengan taraf berpikir siswa; memiliki media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami oleh para siswa.

Dengan kriteria pemilihan media di atas, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran. Oleh sebab itu media bukan sebagai keharusan tetapi  sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas belajar dan mengajar.

Referensi

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Asnawir dan  M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Azra, Azyumardi, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.

Darajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.

Djamarah, Syaiful Bahri, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Djamarah, Syaiful Bahri, Guru Dan Anak Dalam Interaksi Edukatif :Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

Fatkhurrohman, Pupuh, dan M.Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar:Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, Bandung: PT Refika Aditama, 2007.

Idi, Abdullah, dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al Maarif, 1980.

Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Ilmu, 2004.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

Sujana, Nana, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005.

Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Suwarna, et, al, Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT