Category Archives: History of Islam

PUSAT PERADABAN ISLAM DI DUNIA


PUSAT PERADABAN ISLAM DI DUNIA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Latar Belakang

Islam kendati bermakna penyerahan diri sepenuhnya untuk memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat, namun bukanlah sebuah agama yang hanya memuat dogma, kumpulan ritual semata. Namun, ia adalah sebuah doktrin, sebuah pandangan dunia, sebuah kebudayaan, dan sebuah peradaban yang beralaskan ketauhidan. Dalam al-Qur‘an Islam sebagai agama yang diturunkan untuk rahmat sekalian alam (rah}matan lil ‘a>lami>n). Islam bukan hanya agama yang mengajak umatnya untuk berpaling dari kehidupan dunia semata, melainkan agama yang mendorong untuk mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Antara kehidupan dunia dan akhirat merupakan sebuah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, Islam telah memberikan batasan-batasan dasar. Batasan ini selain terdapat dalam al-Qur‘an dan Hadits, juga tercantum dalam piagam Madinah, seperti persatuan, kebebsan memeluk agama, kebersamaa, penegakan keadilan, perdamaian, dan musyawarah yang disemuanya ini didasari pada keimanan. Hal ini dilakukan Nabi Muhammad saw dalam membangun masyarakat Arab Badui menjadi bangsa yang utuh. Dimana masyarakat yang sebelumnya belum mengenal peradaban sampai masyarakat mengukir peradaban. Bahkan, belum pernah dalam sejarah ada suatu kekuasaan yang menguasai wilayah yang luasnya sama dengan luas yang dikuasai oleh Daulah Bani Umayyah. Begitu juga Daulah ‘Abba>siyyah yang memberikan perhatian yang lebih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Upaya tersebut diawali dengan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra yang ditulis dalam berbagai bahasa, seperti Persia, India, Syriaic, Aramaic, Yunani ke dalam bahasa Arab antara tahun 750-850 M. telah menjadikan Baghdad yang disusul Cordova dan Kairo menjadi pusat-pusat penyebaran kebudayaan dan peradaban keseluruh dunia.

Peradaban Islam telah memberikan peran yang besar terhadap dunia, mengeluarkan dunia dari kegelapan dan kebodohan, penyimpangan dan kebinasaan akhlak, lalu memberikan nilai yang menguasai dunia sebelum Islam dengan berbagai macam ikatan. Peradaban Islam berlandaskan pada al-Qur‘an dan Hadits dua dasar fundamental penegak peradaban Islam tanpa membedakan bentuk, jenis, dan agama. Dan keduannya merupakan asas bagi peradaban Islam

Dalam konteks peradaban, Islam menampilkan peradaban baru yang esensinya berbeda dengan peradaban sebelumnya. peradaban yang ditinggalkan nabi misalnya, jelas sangat berbeda dengan peradaban Arab di zaman Jahiliah. Dengan demikian, Islam telah melahirkan revolusi kebudayaan dan peradaban.

Beberapa pusat peradaban dalam dunia Islam dapat disebutkan sebagai berikut: Mekah Al-Mukarramah, Madinah Al-Munawwarah, Baghdad, Kairo (Mesir), Damaskus di Syiria, Kairawan, Isfahan di Persia. Pusat-pusat peradaban di dunia Islam tersebut telah melahirkan berbagai budaya dan peradaban yang baru di dunia Islam.

Maka dari itu, dalam makalah ini akan mengulas berbagai bentuk peradaban baru yang telah dihasilkan oleh umat Islam di daerah-daerah tersebut yang merupakan pusat peradaban di dunia Islam.

B.       Makkah Al-Mukarramah

Makkah Al-Mukarramah merupakan kota tempat lahirnya agama Islam, di mana Nabi Muhammad SAW. lahir dan memproleh wahyu Al-Qur’an di Kota Mekah. Mekah juga merupakan kota budaya Islam.

Awalnya Mekah merupakan pusat peradaban Jahiliah yang penuh dengan paganisme. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., kota Mekah menjadi kota suci umat Islam. Di kota ini juga terdapat Ka’bah di Masjidil Haram yang merupakan kiblat umat Islam dalam shalat. Ka’bah di Masjidil Al-Haram, Mekah Al-Mukaramah sebagai lambang persatuan umat Islam seluruh dunia.

Dari Madinah setelah posisi dan kekuatan Nabi Muhammad dan pengikutnya menjadi besar, beliau merebut kembali kota Mekah dengan cara menaklukkan kota itu secara damai, pada tahun 8 H (630 M) sehingga dikenal dengan Fathu Makkah, yaitu terbukanya kota Mekah.

C.      Madinah Al-Munawwarah

Madinah Al-Munawwarah, awalnya kota ini bernama Yatsrib. Kota Madinah menjadi pusat kebudayaan Islam setelah nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Yatsrib. Setelah nabi hijrah ke Yatsrib, maka kota tersebut dijadikan pusat jemaah kaum muslimin, dan selanjutnya menjadi ibu kota negara Islam yang segera didirikan oleh Nabi, dengan diubah namanya menjadi Madinah.

Dari Madinah inilah Nabi meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam. Di Madinah selama 13 tahun nabi membina dan mengembangkan masyarakat Islam. Bahkan di Madinah ini, Nabi membangun sistem kehidupan bermasyarakat Islam yang dicita-citakan.

Di tengah-tengah kota Madinah, segera Nabi membangun masjid, yang menjadi pusat ibadah dan kebudayaan, bahkan dijadikan markas besar negara Islam. Bagi negara yang baru dibangun itu, nabi telah meletakkan dasar-dasarnya yang kuat, diantaranya yaitu ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam.

Nabi SAW. mempersaudarakan antara semua kaum muslimin yang berbeda-beda suku dan bangsa, yang berlain-lainan warna kulit dan rupa;    Al-Wahdatul Islamiyah mengantikan Al-Wahdatul Qaumiyah, sehingga dengan demikian mereka semua menjadi bersaudara dan sederajat.

Madinah juga merupakan pusat pemerintahan Islam pada masa Nabi Muhammad, dan kemudian masa khulafaur rasyidin. Sejak masa pemerintahan dipegang oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, pusat pemerintahan dipindahkan ke Damaskus.

Madinah Al-Munawwarah merupakan kota pusat kebudayaan Islam di Arab, karena kota ini merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kota perjuangan Nabi dalam menegakkan agama Islam sekaligus merupakan pusat peradaban Islam.

Di kota ini pula terdapat masjid Nabi yang terkenal dengan nama Masjid Nabawi. Setelah perang Khaibar, Nabi SAW. sendiri memperbesar masjid ini, kemudian berturut-turut diperbesar lagi oleh Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan.

Masjid tidak saja menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Di kota ini Nabi Muhammad dimakamkan, Kota Madinah merupakan kota suci umat Islam setelah Mekah Al-Mukarramah.

D.      Baghdad

Baghdad didirikan pada tahun 762 M oleh Khalifah Al-Manshur dan Dinasti Abbasiyah (754-755 M). Satu tim ahli dibentuk untuk memilih sebuah bidang tanah yang cukup luas, yang terletak antara Sungai Tigris dengan Sungai Eufrat. Setelah mencari-cari daerah yang strategis untuk ibu kotanya, akhirnya pilihan jatuh pada daerah yang kemudian diberi nama Baghdad.

Baghdad berarti “Taman Keadilan”. Dalam pembangunan kota Baghdad khalifah memperkerjakan ahli bangunan, Kota ini berbentuk bundar, di sekelilingnya dibangun tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar tembok di bangun parit besar yang berfungsi sebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng.

Istana khalifah terletak di tengah-tengah kota Baghdad, yang dikenal dengan Al-Qashr Az-Zahabi (Istana emas). Kota Baghdad sejak awal berdirinya sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Masa puncak keemasan kota Baghdad terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809), dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat, bahkan Khalifah     Al-Makmun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu pengetahuan. Perpustakaan tersebut bernama Perpustakaan Baitul Hikmah.

Pada masa Abbasiyah, di kota Baghdad juga berdiri akademi dan sekolah tinggi. Perguruan Tinggi yang terkenal adalah Perguruan               An-Nizhamiyah, didirikan oleh Nizamul Mulk (5 H) dan Perguruan            Al-Muntanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah Al-Muntashir Billah (Abad 7 H).

Dari kota ini lahir para ilmuwan, ulama, filsuf, dan sastrawan terkenal, di antaranya: Al-Khawarizmi (tokoh astronomi dan matematika, penemu ilmu Al-jabar), Al-Kindi (filsuf Arab pertama), Al-Farabi (filsuf besar), Ar-Razi (filsuf, ahli fisika, dan kedokteran), Imam Al-Ghazali (ilmuwan dan ulama ternama), Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (pendiri tarekat Qadiriyah), dan lain-lain.

Karena serangan bangsa Mongol di bawah Hulagu Khan pada tahun 1258 M kota ini hancur berantakan. Semua bangunan kota termasuk istana emas dihancurkan. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan pada tahun 1508 M kota ini juga dihancurkan oleh tentara Kerajaan Safawi.

E.       Kairo (Mesir)

Setelah panglima Jauhar As-Siqili menduduki Mesir pada tahun 358 H, maka ia mengambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Fuslat, ke kota yang akan dibangun. Pada tanggal 17 Sya’ban 358 H (969 M), Jauhar As-Siqili memulai pembangunan kota baru untuk menjadi ibu kota Dnasti Fathimiyah.

Kota ini mula-mula diberi nama kota “Manshuriyah” dinisbatkan kepada Manshur Al-Mu’iz Lidinilah. Setelah Mu’iz sendiri sampai di Mesir, namanya diubah menjadi Qahirah Mu’iziyah.

Wilayah dinasti Fathimiyah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syria. Setelah pembangunan kota Kairo selesai lengkap dengan istananya, Jauhar As-Siqili mendirikan masjidAl-Azhar pada 17 Ramadhan 359 H (970 M). Masjid Al-Azhar dalam perkembangannya menjadi universitas besar.

Kota Kairo mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Fathimiyah yaitu pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi, pemerintahan Baybars, dan pemerintahan An-Nashir pada masa Dinasti Mamalik. Periode Fathimiyah dimulai dengan Al-Muiz dan puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Al-Aziz.

Dinasti Fathimiyah dapat ditumbangkan oleh Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahudin tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah menjadi Ahlus Sunnah.

Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir diteruskan oleh Dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasannya dari serangan Mongol bahkan dapat mengalahkan tentara Mongol di Ain Jalut di bawah pimpinan Baybars yang berkuasa dari 1260-1277 M. Baybars juga dikenal sebagai pahlawan Perang Salib. Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang terpenting.

Tahun 1517 M, Dinasti Mamalik dapat dikalahkan oleh Dinasti Usmani di Turki, Kairo hanya dijadikan sebagai ibu Kota provinsi Kerajaan Usmani.

F.       Damaskus Di Syiria

Damaskus pada zaman sebelum Islam adalah ibu kota Kerajaan Romawi Timur di Syiria. Damaskus merupakan kota lama pada zaman daulah Bani Ummayah dan dijadikan ibu kota negara sejak pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Bani Ummayah.

Di kota Damaskus banyak didirikan gedung-gedung yang indah, yang bernilai seni, disamping kotanya sendiri dibangun sedermikian rupa teratur dan indahnya, dengan jalan-jalannya yang lebih merimbun, kanal-kanal yang bersimpang siur berfungsi sebagai jalan dan pengairan, taman-taman rekreasi yang menakjubkan.

Di kota Damaskus terdapat Masjid Damaskus yang megah dan agung, masjid ini dibangun oleh Khalifah Al-Walid bin Abul Malik dengan arsiteknya Abu Ubaidah bin Jarrah. Masjid yang panjangnya 300 meter dan lebarnya 200 meter, dibangun di atas 68 pilar yang kokoh, dengan biaya 11.200.000 dinar.

G.      Kairawan

Kairawan merupakan kota baru terletak di Afrika utara. Kota ini dibangun pada masa Dinasti Umayyah. Aqabah bin Nafi yang telah diangkat oleh Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi gubernur Afrika, memindahkan ibu kota wilayah Afrika dari Barqah ke suatu desa yang bernama Kairawan. Dan dibangunlah di tempat itu ibu kota baru bagi wilayah Afrika yang juga dinamakan Kairawan.

Di kota Kairawan terdapat Masjid Kairawan yang dibangun pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik oleh Aqabah, gubernur Afrika Utara. Masjid ini adalah masjid yang termasyur. Berkali-kali masjid ini mengalami perbaikan dan pelebaran oleh para gubernur yang silih berganti menjabat, sehingga akhirnya menjadi satu masjid kebanggaan kaum muslimin di Afrika Utara, terutama dengan kubahnya yang terkenal dengan “Qubatul Bahwi”. Kota Kairawan kemudian menjadi kota Internasional.

H.      Isfahan Di Persia

Kota Isfahan adalah ibu kota Kerajaan Shafawi. Kota Isfahan merupakan kota tua didirikan oleh Yazdajird 1 (Buhtanashar) Raja Persia. Kota Isfahan dikuasai Islam pada tahun 19 H/640 M pada masa Umar bin Khatab. Kota Isfahan sekarang masuk dalam wilayah Iran.

Pada waktu Abbas I Sultan Safawiyah menjadikan Isfahan sebagai ibu kota kerajaannya, Kota ini terletak di atas sungai Zandah, dan di atasnya membentang tiga buah jembatan yang megah dan indah.

Pada tahun 625 H/1228 M terjadi pertempuran besar Isfahan, ketika tentara Mongol datang menyerbu negeri-negeri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Mongol itu. Ketika Timur Lenk menyerbu negeri-negeri Islam pada tahun 790/1388 M, kota Isfahan ikut jatuh di bawah kekuasaan Timur Lenk. Pada tahun 1141 H/1729 M, kota Isfahan berada di bawah kekuasaan Nadir Syah.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

MELIHAT KEMBALI PERKEMBANGAN BANI UMAYAH


MELIHAT KEMBALI PERKEMBANGAN BANI UMAYAH

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Latar Belakang Berdirinya Bani Umayah

Bani Umayah berasal dari nama Umayah Ibnu Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf, salah satu pemimpin dari kabilah Quraisy. Yang memiliki cukup unsur untuk berkuasa di zaman Jahiliyah yakni keluarga bangsawan, cukup kekayaan dan mempunyai sepuluh orang putra. Orang yang memiliki ketiga unsur tersebut di zaman jahiliyah berarti telah mempunyai jaminan untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan. Umayah senantiasa bersaing dengan pamannya yaitu Hasim Ibnu Abdi Manaf. Sesudah datang agama Islam persaingan yang dulunya merebut kehormatan menjadi permusuhan yang lebih nyata. Bani Umayah dengan tegas menentang Rosululloh, sebaliknya Bani Hasim menjadi penyokong dan pelindung Rosululloh, baik yang sudah masuk Islam atau yang belum. Bani Umayah baru masuk Islam setelah tidak menemukan jalan lain, ketika Nabi Muhammad Saw dengan beribu pasukannya menyerbu masuk Mekah. Dengan demikian Bani Umayah adalah orang-orang yang terakhir masuk agama Islam pada masa Rosululloh dan salah satu musuh yang paling keras sebelum mereka masuk Islam.

Setelah mereka masuk Islam mereka dengan segera memperlihatkan semangat kepahlawanannya agar orang lupa terhadap sikap dan perlawanannya terhadap Islam sebelum mereka memasukinya. Sehingga setelah masuk Islam Bani Umayah banyak berbuat jasa-jasa besar terhadap Islam. Bani Umayah merupakan awal kekuasaan dari berakhirnya Masa Khulafaur Rosyidin dengan dimulainya kekuasaan Bani Umayah maka dimulailah semangat politik Islam. Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah, pemerintahan yang dulunya bersifat demokratis akhirnya berubah menjadi monarki heridetis (kerajaan yang turun – temurun) hal ini dimulai ketika Muawiyah mewajibkan suluruh rakyatnya untuk menyatakan setia kepada anaknya Yazid. Dia tetap menggunakan istilah kholifah namun memberikan interpretasi baru dari kata–kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Yakni dengan menyebut kholifah Allah yaitu penguasa yang dianggap oleh Allah.
Peradaban Bani Umayah

Dinasti Bani Umayah yang didirikan oleh Muawiyah berumur sekitar 90 tahun. Adapun nama-nama kholifah yang telah memimpin adalah Muawiyah, Ibnu Abu Sofyan, Abdul Malik Ibnu Marwan, Alwalid Ibnu Malik, Umar Ibnu Abdul Azis, Hisyam Ibnu Abdi malik. Pada masa Walid Ibnu Abdul Malik, Thoriq Bin Ziyad pemimpin pasukan Islam mendarat di Gibraltar (Jabal Thoriq) sehingga tentara spanyol dapat dikalahkan yang akhirnya menguasai ibukota sepanyol (cordova). Pasukan islam menang dengan mudah karena mendapat dukungn dari masyarakat setempat sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Wilayah kekuasaan pada masa Bani Umayah sangat luas yang meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan, Usbekistan, Kilkis, Asia tengah.

Disamping kekuasaan Islam Bani Umayah juga berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang antara lain:

  • Masa kepemimpinan Muawiyah telah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.
  • Menertibkan angkatan bersenjata.
  • Pencetakan mata uang oleh Abdul Malik, mengubah mata uang Byzantium dengan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Mencetak mata uang sendiri tahun 659 M dengan memakai kata dan tulisan Arab.
  • Jabatan khusus bagi seorang Hakim ( Qodli) menjadi profesi sendiri .
  • Keberhasilan kholifah Abdul Malik melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan Islam dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilannya diikuti oleh putranya Al-Walid Ibnu Abdul Malik (705 – 719 M) yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan.
  • Membangun panti-panti untuk orang cacat. Dan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis di gaji tetap oleh Negara.
  • Membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya.
  • Membangun pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah.

Sebab-Sebab Keruntuhan Bani Umayah

Dinasti Bani Umayah telah hidup kira-kira 90 tahun banyak sebab yang mengakibatkan jatuhnya Bani Umayah. Keluarga itu telah membunuh sehingga tidak mungkin di perbaiki. Muawiyah telah mengesampingkan prinsip Replublikanisme diganti dengan monrchi turun temurun. Prinsip Islam bahwa Kepala Negara harus dipilih oleh rakyat tidak dijalankan dengan demikin Bani Umayah kehilangan dukungan penuh dan kerjasama dari rakyat. Kelemahan keluarga merupakan sebab pertama dan terpenting bagi kejatuhan Dinasti Umayah diantara khalifahnya kecuali Muawiyah dan Abdul Malik. Selain kedua itu kholifah-kholifah yang lain telah banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran. Untuk menghabiskan waktu kebanyakan mereka gunakan untuk berburu dan minum anggur dan lebih sibuk dengan syair-syair dari pada dengan Qur’an dan urusan-urusan Negara karena harta kekayaan yang melimpah dan budak yang berlebihan sehingga melemahkan semangat hidup masyarakt arab yang masih muda.

Kelalaian kholifah dalam urusan administratif dan tidak adanya perhatian terhadap tugas-tugas Negara membuat Bani Uamayah sangat tidak disukai. Para pejabatnya banyak yang koruposi, banyak yang mementingkan diri sediri dan akibatnya pemerintahan menjadi lamban dan tidak efisien. Persaingan antar suku yang sudah lama, tidak semakin membaik tetapi malah semakin buruk banyak penentangan dari kaum Syiah yang tidak melupakan tragedi Karbala. Ketidakacuan serta perlakuan kejam terhadap keluarga Nabi, kutukan terhadap khutbah-khutbah dan propaganda anti Bani Ali memeperkuat Bani Umayyah. Kaum Syiah memperoleh simpati rakyat karena kecintaan mereka yang sepenuh hati terhadap keturunan Nabi.

Akhirnya gerakan Abbasiyah memberikan pukulan mematikan terhadap imperium yang sedang sempoyongan itu. Kaum Syiah dan para pendukung Ali juga menyokong gerakan ini. Bahkan kaum Khowarij dan orang-orang Islam non-non Arab (Mawali) dengan piawai ditarik kedalam gerakan ini. Abu Muslim pemimpin pemberontakn ini secara khas sangat cocok dengan tugas yang dipercayakannya oleh Imam Abbasiyah. Karena banyaknya dukungan itu akhirnya Bani Abbasiyah berhasil menggulingkan Bani Umayah. Sehingga dengan jatuhnya Bani Umayah keagungan Siria dan Hegem dan negerinya sirna mereka terlambat menyadari inti kekuatan didalam Islam telah meninggalkan negeri mereka dan persatuan dan kesatuan dari dalam Islam sangatlah penting didalam mempertahankan pemerintahan.

Setelah melihat pembahasan diatas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa jatuhnya Bani Umayah disebabkan karena beberapa faktor. Antara lain:

  • Latar belakang terbentuknya Bani Umayah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi pada masa Ali. Sisa-sisa Syiah dan Khowarij terus menjadi gerakan oposisi.
  • Sistem pergantian kholifah yang melalui garis keturunan lebih menekankan aspek senioritas pengaturan tidak jelas sehingga terjadi persaingan tidak sehat dikalangan istana.
  • Sikap hidup mewah dilingkungan istana yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan.
  • Munculnya kekuatan baru yang dipelopori Al-Abas Ibnu Mutholib yang mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim, golongan Syiah dan kaum Mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayah.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

PERSIS DAN USAHA-USAHA PENDIDIKANNYA


PERSIS DAN USAHA-USAHA PENDIDIKANNYA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang

Pada zaman penjajahan telah berdiri organisasi-organisasi Islam sebagai bentuk kesadaran masyarakat terutama umat Islam untuk selalu menegakkan agama Islam dan menentang tindakan-tindakan penjajah yang selalu menindas masyarakat Indonesia. Langkah-langkah yang ditempuh diantaranya adalah peningkatan kekuatan dalam bidang politik, budaya, ekonomi maupun dalam hal pendidikan.

Diantara organisasi-organisasi Islam tersebut terdapat sebuah organisasi yang kita kenal sebagai organisasi Persatuan Islam (Persis). Organisasi ini selain berupaya untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pada masyarakat juga berupaya untuk menanamkan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya pendidikan terutama pendidikan agama. Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalisir keterbelakangan rakyat Indonesia dan memberikan modal keagamaan bagi mereka untuk menghadapi perlawanan-perlawanan yang datang dari luar.

B.     Sejarah berdirinya Persatuan Islam (Persis)

Persatuan Islam didirikan di Bandung pada tanggal 12 September 1923. Persatuan Islam ini berdiri ketika di daerah-daerah lain itu telah mengadakan pembaharuan didalam agama dan di Bandung ini terlihat agak lambat didalam mulai pembaharuan dibandingkan dengan daerah-daerah lain.  Pada tahun 1913 telah didirikan Sarikat Islam yang berkembang dengan pesat. Menyadari hal itu beberapa tokoh memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah organisasi Islam. Ide pendirian organisasi ini berasal dari pertemuan yang disebut kenduri yang diadakan di rumah salah seorang anggota yang berasal dari Sumatra namun sudah menetap di Bandung sejak lama. Mereka adalah keturunan dari tiga keluarga yang pindah dari Palembang. Hubungan mereka sangat erat antara yang satu dengan yang lainnya karena diantara putra-putri mereka diikat dengan tali perkawinan. Dengan adanya hubungan yang erat itu mereka bisa mengadakan studi agama Islam secara bersama-sama. Karena mereka sudah lama tinggal di Bandung, mereka tidak merasa menjadi orang Sumatra namun mereka merasa menjadi sebagai orang Sunda.

Persis didirikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya local, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadits yang shahih. Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang juga dikenal dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam yang hanya bersumber dari al-Qur’an dan Hadits (sabda Nabi). Organisasi persatuan Islam telah tersebar di banyak provinsi antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Bengkulu, Riau, Jambi, Gorontalo dan masih banyak provinsi lain yang sedang dalam proses perintisan. Persis bukan organisasi keagamaan yang berorientasi politik namun lebih focus terhadap Pendirian Islam dan Dakwah dan berusaha menegakkan ajaran Islam secara utuh tanpa dicampuri khurafat, syirik, bid’ah yang telah banyak menyebar dikalangan awwam orang Islam.

Di dalam acara kenduri itu banyak sekali orang-orang yang hadir disana baik dari kalangan famili maupun diluarnya. Pada umumnya para undangan yang hadir sangat tertarik dengan masakan dari Palembang. Pada kesempatan ini H. Zam-Zam dan Muh. Yunus banyak mengemukakan ide-ide buah pikiran mereka karena mereka merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang luas.

H. Zam-Zam dan Muh. Yunus adalah pedagang tetapi mereka masih mempunyai kesempatan dan waktu untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam. Zam-Zam (1894-1952) menghabiskan waktunya selama 3,5 tahun di Makkah waktu masih muda dimana ia belajar di Dar al-Ulum. Muh. Yunus yang memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan yang menguasai bahasa Arab tidak pernah mengajar. Ia hanya berdagang tetapi tidak pernah pula minatnya hilang dalam mempelajari agama. Kekayaannya menyanggupkan ia untuk membeli kitab-kitab yang ia perlukan, juga untuk anggota-anggota persis setelah organisasi ini didirikan.

H. Zam-Zam dan Muh. Yunus merupakan tokoh yang sangat berperan dalam pendirian organisasi Islam ini. Dalam setiap acara kenduri mereka selalu memberikan ide-ide baru dan menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat yang hadir didalamnya. Hal-hal yang dibicarakan dalam kenduri itu bermacam-macam diantaranya adalah masalah agama yang dibicarakan dalam berbagai majalah seperti majalah al-Munir di Padang dan majalah al-Manar di Mesir. Selain itu didalam kenduri itu juga dibicarakan mengenai pertikaian antara organisasi-organisasi Islam sebelumnya yaitu antara al-Irsyad dan Jami’at Khoir. Hal-hal yang dibicarakan dalam kenduri itu juga disampaikan oleh salah seorang tokoh Islam yaitu Faqih Hasyim dari Surabaya.

Persatuan Islam (Persis) ini tidak terlalu memberikan tekanan pada kegiatan organisasinya. Sehingga tidak begitu berminat untuk membentuk cabang-cabang di daerah-daerah lain sebagaimana yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam lain. Selain itu organisasi ini tidak menambah anggota sebanyak-banyaknya. Jadi adanya cabang-cabang yang didirikan di berbagai daerah itu merupakan inisiatif masyarakat peminat organisasi itu sendiri, dan tidak berdasarkan pada keinginan pemimpin pusat untuk mendirikannya. Cabang-cabang itu diantaranya bertebaran di Bogor, Jakarta, Leles, Banjaran, Surabaya, Malang, Bangil, Padang, Sibolga, Kotaraja, Banjarmasin, dan Gorontalo.

Namun demikian pengaruh organisasi Persis ini sangatlah besar terhadap masyarakat Islam, bahkan melebihi jumlah cabang yang ada di berbagai daerah hal ini terbukti dengan bertambahnya anggota berjamaah sholat hari Jum’at yang mana pada tahun 1923 hanya terdiri dari sekitar 12 orang tetapi pada tahun 1942 jumlah jamaah mencapai 500 orang yang tersebar dalam 6 buah masjid.

Penyebaran pemikiran Persis ini dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya adalah dengan adanya pertemuan umum, tabligh akbar, khutbah-khutbah, kelompok-kelompok studi, dan juga dengan berbagai macam media yang dapat diperluas dan dibaca oleh masyarakat luas. Media tersebut diantaranya adalah majalah-majalah, kitab-kitab, pamflet-pamflet. Dengan begitu pemikiran-pemikiran mereka akan lebih cepat tersebar luas. Selain itu penerbitan majalah-majalah, kitab-kitab dan pamflet-pamflet tersebut dapat digunakan referensi guru dan propagandis oleh para anggota organisasi-organisasi lain seperti halnya Muhamadiyah dan al-Irsyad.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa ide-ide dan pemikiran-pemikiran organisasi ini mudah diterima oleh masyarakat bahkan dapat dijadikan perbandingan oleh organisasi-organisasi lain. Sehingga tanpa penekanan terhadap kegiatan organisasi ini masyarakat mudah tertarik dengan pemikiran-pemikirannya.

Dalam kegiatannya Persis beruntung memperoleh dukungan dan partisipasi dari dua tokoh yang sangat penting, yaitu Ahmad Hassan yang dianggap sebagai guru Persis yang utama pada masa sebelum perang dan Muh. Nasir yang pada waktu itu merupakan seorang anak muda yang sedang berkembang dan yang tampakknya bertindak sebagai juru bicara dari organisasi tersebut dalam kalangan kaum terpelajar.

Ahmad Hassan yang lahir di Singapura tahun 1887 adalah seorang yang berasal dari keluarga campuran yaitu Indonesia dan India. Ayah Ahmad yang bernama Sinna Vapu Maricar adalah seorang penulis dan ahli agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ia pernah menjadi redaktur dari Nur al-Islam sebuah majalah agama dan sastra Tamil, menulis beberapa buah kitab dalam bahasa Tamil dan juga terjemahan dari bahasa Arab.

Tokoh penting lainnya dalam pengemban Persis adalah Muhammad Nasir yang lahir pada tanggal 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Sumatra Barat. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah. Pada tahun 1927 ia pergi ke Bandung untuk melanjutkan studi pada Algeme Middlebare School (AMS, setingkat SMA sekarang). Pendidikan yang ditempuh sebelumnya adalah HIS dan (tingkat dasar dan menengah pertama) di Minangkabau. Selain itu ia pernah belajar pada sekolah agama di Solok yang dipimpin oleh Tuanku Mudo Amin, dan aktif mengikuti pelajaran agama yang dibrikan oleh H. Abdullah Ahmad di Padang.

Muhammad Nasir tertarik dengan organisasi Persis ini diawali pada waktu ia mengikuti sholat Jum’at yang diadakan oleh organisasi Persis. Sehingga dia memiliki hubungan yang sangat erat dengan para tokoh-tokoh Persatuan Islam ini. Ia mengikuti berbagai macam kegiatan keagamaan dan pendidikan yang diadakan oleh organisasi tersebut. Akhirnya ia memiliki tambahan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan problema-problema hidup yang mulai tumbuh dalam pemikirannya.

Ketika ia bergabung dengan Persis ia memiliki kesempatan untuk mengeluarkan ide-ide dan pemikirannya lewat sebuah majalah yang bernama Pembela Islam. Minatnya untuk mempelajari dan mengembangkan pendidikan Islam sangatlah besar, sampai-sampai ia mau menolak beasiswa yang ditawarkan oleh belanda untuk melanjutkan studinya ke sekolah tinggi hukum di Jakarta atau sekolah tinggi ekonomi di Belanda. Ia lebih memikirkan ilmu pendidikan bagi orang-orang Islam.

Itulah sekilas tentang sejarah berdirinya organisasi Persatuan Islam (Persis). Selanjutnya kita akan membahas tentang usaha-usaha pendidikan yang dilakukan oleh organisasi ini.

C.    Usaha-usaha pendidikan Persatuan Islam (Persis)

Organisasi ini tidak kalah dengan organisasi-organisasi lain yang selalu memperhatikan pendidikan. Persis melaksanakan berbagai macam kegiatan pendidikan seperti halnya tabligh dan publikasi. Kegiatan tersebut ditujukan untuk melatih generasi muda Islam untuk selalu giat dalam mengembangkan ajaran Islam melalui kegiatan pendidikan tersebut.

Dalam bidang pendidikan Persis mendirikan sebuah madrasah yang mulanya dimaksudkan untuk anak-anak dari anggota Persis. Tetapi kemudian madrasah ini diluaskan untuk dapat menerima anak-anak lain. Kursus-kursus dalam masalah agama untuk orang-orang dewasa mulanya juga dibatasi pada anggota-anggotanya. Hassan dan Zam-Zam mengajar pada kursus-kursus ini yang terutama membahas soal-soal iman serta ibadah dengan menolak segala kegiatan bid’ah. Masalah-masalah yang sangat menarik masyarakat pada waktu itu seperti poligami dan nasionalisme juga dibicarakan.

Kursus-kursus tersebut disediakan untuk anak-anak muda yang telah menempuh sekolah menengah pemerintah dan memiliki minat untuk mendalami agama Islam dengan maksimal. Jadi Kursus-kursus keagamaan tersebut tidak dikhususkan bagi para anggota Persatuan Islam, tetapi juga untuk semua masyarakat yang ingin mendalami agama Islam. Didalam Kursus-kursus tersebut terdapat guru-guru yang professional. Diantaranya adalah Hassan. Didalam mengajar, Hassan memperoleh banyak manfaat terutama dalam hal pendalaman pengetahuan agama Islam dan penggalian terhadap sumber-sumber ajaran Islam.

Sebuah kegiatan lain yang penting dalam rangka kegiatan pendidikan Persis ini adalah lembaga pendidikan Islam sebuah proyek yang dilancarkan oleh  Nasir, dan terdiri dari beberapa sekolah yaitu: taman kanak-kanak, HIS (keduanya tahun 1930), sekolah Mulo (1931) dan sebuah sekolah guru (1932).

HIS merupakan lembaga untuk memperoleh pendidikan barat khususnya memperlajari bahasa Belanda sebagai kunci untuk pendidikan lanjutan, pintu kebudayaan barat, dan syarat untuk memperoleh pekerjaan. Bahasa Belanda memberikan prestise dan memasukkan seseorang kedalam golongan intelektual dan elit.

Kursus Mulo dimaksud sebagai sekolah rendah dengan program yang diperluas dan bukan sebagai sekolah menengah. Sebagai guru diangkat mereka yang memiliki ijazah HA (Hoofdacte, kepala sekolah) atau diploma untuk pelajaran tertentu.

Keinginan Nasir untuk mendirikan berbagai sekolah ini  dipicu oleh berbagai macam tuntutan dari berbagai pihak. Selain itu timbulnya keinginan Nasir untuk mendirikan berbagai lembaga pendidikan adalah karena ia melihat ada beberapa sekolah di Bandung yang tidak memberikan pelajaran agama pada siswanya. Adapun murid-murid yang masuk kedalam lembaga pendidikan yang didirikan oleh organisasi Persis ini pada umumnya adalah anak-anak disekitarnya, tetapi beberapa diantara mereka ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari Sumatra. Bagi para siswa yang telah lulus studinya mereka diperbolehkan untuk kembali ke tempat asal mereka masing-masing untuk membuka sekolah baru atau bergabung dengan sekolah yang ada di daerahnya.

Disamping pendidikan Islam, Persis mendirikan sebuah pesantren (disebut pesantren Persis) di Bandung pada bulan Maret 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarkan agama. Pesantren ini dipindahkan ke Bangil Jawa Timur ketika Hassan pindah kesana dengan membawa 25 dari 40 siswa dari Bandung.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk diterima di sekolah ini meliputi: umur 18 tahun, kesehatan yang baik, kemampuan untuk membaca dan menulis Arab dan latin, pengetahuan membaca al-Qur’an, bersumpah bahwa kalau akan menjadi guru mereka akan menjadi guru atau propagandis “Persatuan Islam”, dan akan berikhtiar mendirikan cabang-cabang Persatuan Islam. Mereka juga harus menjaga disiplin yang ketat dan wajib mengerjakan perintah agama, menjauhkan segala larangan, menjauhi kegiatan merokok di dalam pesantren, bersih badan dan pakaian, menjaga kesopanan dan adab-adab Islam, menjaga kesopanan adat yang tidak dilarang oleh agama serta selalu menjaga syari’at Islam.

Organisasi Persis ini sangat gemar dengan perdebatan-perdebatan hal ini berlainan dengan Muhamadiyah, yang mana dalam penyebaran pemikiran-pemikirannya dilakukan secara damai. Didalam Persis para anggotanya selalu siap untuk menantang orang-orang yang tidak menyetujui pemikiran mereka. Hal ini tentunya menunjukkan berbagai dalih yang kuat yang mereka ajukan kepada lawan debat.

Salah satu bentuk tantangan dari Persis adalah berbagai ungkapan yang dicerminkan dalam publikasinya melalui majalah Pembela Islam. Hal ini dimaksudkan untuk menegakkan ajaran-ajaran Islam yang dikecam oleh berbagai pihak. Selain itu terdapat tujuan lain yaitu untuk meyebarkan pemikiran-pemikiran Persis. Hasil publikasi itu tentunya dibaca oleh masyarakat luas bahkan anggota-anggota organisai lain baik di jawa maupun luar jawa. Hassan juga mendirikan sebuah percetakan untuk majalah yang berbahasa Indonesia dengan tulisan jawa. Majalah-majalah yang diterbitkan membicarakan masalah-masalah agama tanpa adanya pertentangan dari pihak-pihak non-Islam. Nama-nama majalah itu antara lain al-Fatwa, al-Taqwa, al-Lisan dan majalah Sual jawab.

Itulah diantara beberapa usaha pendidikan yang dilakukan oleh organisasi Persatuan Islam. Tentunya masih banyak lagi keterangan tentang usaha pendidikan Islam oleh organisasi ini yang dimuat didalam buku-buku tentang sejarah pendidikan Islam.

Kesimpulan

  1. Persatuan Islam (Persis) merupakan sebuah organisasi Islam yang beridiri pada tahun 1923 di Bandung. Organisasi ini berasal dari sebuah acara yang sangat sederhana yaitu kenduri. Didalam kenduri itu para anggotanya berbincang-bincang mengenai maslah keagamaan dan kegiatan keagamaan baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Tokoh-tokohnya diantaranya adalah H. Zam-Zam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan dan Muhammad Nasir

  1. Usaha-usaha pendidikan yang dilakukan oleh Persis adalah:
    1. pendirian madrasah
    2. pendirian kursus-kursus keagamaan
    3. pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam
    4. pendirian pesantren Persis
    5. pendirian percetakan

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT