Category Archives: History of Islam

DINASTI BUWAIHI DAN PERKEMBANGANNYA


DINASTI BUWAIHI DAN PERKEMBANGANNYA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah panjang umat Islam, banyak nama tokoh-tokoh penting yang mampu membawa agama Islam pada kemajuan peradaban. Agama Islam menjadi sebuah gelombang peradaban hebat yang pada masa tersebut belum ada kekuatan lain yang mampu menghentikan semangat syiar dan perluasan wilayah yang tengah dilakukan oleh umat Islam.

Menurut para pakar sejarah Islam, Daulah Abbasiyyah (750-1258 M) telah berjasa dalam memajukan umat Islam. Hal ini ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, peradaban, kesenian dan filsafat. Data monumental dari kebesaran Daulat Abbasiyyah, yaitu berdirinya kota Baghdad yang megah, kota yang didirikan atas prakarsa raja-raja dinasti ini. Menurut Philip K. Hitti, kota Baghdad merupakan kota terindah yang dialiri sungai dan benteng-benteng yang kuat serta pertahanan militer yang cukup kuat. Sekalipun demikian, dinasti ini tidak mampu mempertahankan integritas negerinya, karena setelah khalifah Harun al-Rasyid, daerah kekuasaan dinasti ini mulai goyah, baik daerah yang ada di bagian barat maupun yang ada dibagian timur Bagdad. Di bagian timur, menurut J.J Saunder berdiri dinasti-dinasti kecil, yaitu Thahiriyah, Saffariah, dan Samaniyah.

Setelah itu, di daerah Baghdad juga tumbuh dinasti yang berkembang dengan pesat dibawah pimpinan seorang amir al-umara. Dinasti tersebut adalah dinasti Buwaihi dan dinasti Saljuk. Masa ini dinamakan masa pengaruh Persi II dengan menganut aliran Syiah dan bisa dimasukkan dalam periode ketiga masa kerajaan Abbasiyah. Masa Abbasiyah merupakan masa kekuasaan dinasti yang cukup lama. Maka dari itu, untuk dapat melihat kekuasaan dan perkembangannya secara jelas, tidak dapat digenelarisir dengan mudah. Penulis membagi periode Abbasiyah tersebut menjadi 5 periode. Periode I, dapat dikatakan sebagai periode pengaruh Persia I. Periode II, yaitu periode pengaruh Turki I. Periode III, yaitu periode pengaruh Persia II atau disebut juga periode Buwaihi. Periode IV, yaitu periode pengaruh Turki II atau disebut periode Saljuk. Periode V, yaitu periode dimana Khalifah hanya berkuasa di daerah Baghdad saja, dan khalifah tidak mempunyai kekuasaan.

Pada masa kekuasaan dinasti Buwaihi ini, khalifah hanya merupakan symbol persatuan, sedangkan roda pemerintahan dipegang oleh amir al-umara atau perdana menteri. Khalifah hanya menjadi boneka dan tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah kerajaan. Amir al-Umara berkuasa penuh atas pemerintahan bahkan menentukan kebijakan yang menguntungkan kerajaan. Satu hal yang menjadi pertanyaan mendasar adalah bagaimana sebenarnya kronologis terjadinya dinasti Buwaihi tersebut, sampai-sampai mampu memerintah melebihi seorang Khalifah.

B.     Sejarah Berdirinya Dinasti Buwaihi

Dinasti ini berdiri dan menunjukkan eksistensinya pasca dinasti Saljuk. Ada beberapa riwayat tentang asal usul dinasti Buwaihi. Pertama, Buwaihi berasal dari keturunan seorang pembesar yaitu Menteri Mahr Nursi. Kedua, Buwaihi adalah keturunan Dinasti Dibbat, suatu dinasti di Arab. Ketiga, Buwaihi adalah keturunan raja Persia. Keempat, Buwaihi berasal dari nama seorang laki-laki miskin yang bernama Abu Syuja’ yang hidup di negeri Dailam. Negeri yang terletak di Barat daya Laut Kaspia dan telah tunduk pada kekuasaan Islam sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatthab. Nampaknya pendapat keempat ini yang dianggap mendekati kebenaran.

Periode Buwaihi dimulai pada tahun 320H/932 M sampai tahun 447 H/1055 M. masyarakat Buwaihi merupakan suku Dailami yang berasal dari kabilah Syirdil Awandan dari dataran tinggi Jilan sebelah selatan laut Kaspia. Profesi mereka yang terkenal adalah sebagai tentara, khususnya infantri bayaran. Mereka adalah penganut syiah yang dikenal kuat dan keras serta memiliki kebebasan yang tinggi. Perkenalan mereka dengan syiah diawali dengan pengungsian golongan ‘Aliyyah yang ditindas oleh Bani Abbasyiyah pada tahun 791 M. Al-Hasan ibn Zaid seorang kalangan ‘Aliyyah menyebarkan syiah di wilayah Dailam dan mendirikan sebuah kerajaan ‘Aliyyah yang independent di Dailam dan Jilan. Al-Hasan ibn Zaid kemudian digantikan oleh saudaranya Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Zaid.

Kehadiran bani Buwaihi berawal dari tiga orang putra Abu Ayuja Buwaihi yang berprofesi sebagai pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu:

  1. ‘Ali ibn Buwayh yang oleh Khalifah al-Mustakfi digelar sebagai ‘Imad al-Daulah.
  2. Hasan ibn Buwaihi bergelar Rukn al-Daulah.
  3. Ahmad ibn Buwaihi bergelar Mu’iz al-Daulah.

Sejarah mencatat bahwa Mardawij ibn Ziyar al-Jilli pendiri dinasti Ziyariyah, di Thabaristan dan Jurjan, bersekutu dengan Buwaihi. Persekutuan ini dimungkinkan karena Mardawij memiliki rasa kepersiaan yang kuat sedangkan kalangan Buwaihi sendiri, khususnya Rukn al-Daulah sangat terpengaruh dengan gagasan kepersiaannya. Karena prestasi mereka, Mardawij mengangkat Ali menjadi gubernur al-Karaj, dan dua saudaranya diberi kedudukan penting lainnya. Dari al-Karaj itulah ekspansi kekuasaan Bani Buwaihi bermula.

Pertama-tama Ali berhasil menaklukkan daerah-daerah di persia dan menjadikan Syiraz sebagai pusat pemerintahan. Sayangnya dalam perkembangan selanjutnya Mardawij mengandalkan pasukannya yang berkebangsaan Turki dalam kemiliteran, yang akhirnya pada tahun 935 M ia dibunuh oleh anggota pasukannya sendiri. Dengan kematian Mardawij, kalangan Buwaihi kemudian menyebar dan menyusun pasukan militernya sendiri sehingga mereka menjadi kuat dan akhirnya berhasil memiliki kekuasaan di Fars, Kirman, dan Khuzistan. Seiring dengan ini, kekuatan politik Khalifah Abbasyiyah menurun tajam dan praktis kekuasaan politik yang riil berada di tangan panglima tertinggi (amir al-umara’).

Sepeninggal Mardawij, bani Buwaihi yang bermarkas di Syiraz dan berhasil menaklukkan beberapa daerah di Persia, seperti Ray, Isfahan, dan daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari khalifah Abbasyiyah al-Radi Billah dan mengirim sejumlah uang untuk perbendaharaan negara. Ia berhasil mendapatkan legalitas itu. Kemudian, ia melakukan ekspansi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari sini, tentara Buwaihi menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan. Ketika Baghdad sedang dilanda kekisruhan politik, akibat perbuatan jabatan amir al-umara antara wazir dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad ibn Buwaihi yang berkedudukan di Ahwaz. Permintaan itu dikabulkan. Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tahun 945 M. Ia disambut baik oleh khalifah dan langsung diangkat menjadi amir al-umara, penguasa politik negara dengan gelar Mu’iz al-Daulah. Saudaranya Ali yang memerintah bagian selatan dengan pusatnya di Syiraz, diberikan gelar Imad al-Daulah dan Hasan yang memerintah di bagian utara, Isfahan dan Ray, dianugerahi gelar Rukn al-Daulah. Sejak itu, sebagaimana terhadap pemimpin militer Turki sebelumnya, para khalifah tunduk kepada Bani Buwaihi.

Saat pemerintahan berada di tangan khalifah al-Radi, kendali atas politik dan keamanan secara efektif berada di tangan panglima tertinggi. Sejarah mencatat bahwa panglima tertinggi dijabat oleh orang yang silih berganti. Pada saat jabatan ini dipangku oleh Ahmad ibn Buwaihi, peletakan dasar dan pembangunan kekuasaannya dilakukan di daerah Ahwaz, Bashrah dan Wasith dan melakukan persekutuan dengan pihak luar, yakni Baridiyah dan Hamdaniyah. Kendali panglima tertinggi atas pemerintahan begitu kuat, sehingga pengangkatan dan pemberhentian khalifah juga berada di tangan mereka. Dari penjelasan di atas, menurut pengamatan penulis terdapat berbagai faktor yang mendukung kemunculan dinasti Buwaihi, antara lain:

  1. Kekuasaan khalifah telah melemah dan mengandalkan panglima perangnya. Dengan demikian, Irak berada di bawah kendali amir al-umara.
  2. Perpecahan dalam kerajaan Abbasyiyah. Pada tahun 935 M, kerajaan Islam yang berada di bawah kekuasaan dinasti Abbasyiyah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
  3. Kemewahan hidup melanda para pembesar kerajaan.
  4. Perselisihan di masyarakat ibukota Baghdad.

C.     Amir al-Umara sertaWazir-Wazir Dinasti Buwaihi

Di zaman Bani Buwaihi, para khalifah tidak mempunyai wazir, tetapi mempunyai khatib yang mengurusi harta miliknya saja. Abdul Faraz al-Samari ialah khatib khalifah al-Mustakfi sebelum kedatangan Bani Buwaihi ke Baghdad. Ia hanya memegang jabatan selama 24 hari saja. Kemudian digantikan oleh Abu Abdullah bin Abu Sulaiman yang menguruskan hal ihwal pribadi khalifah.

Sementara itu, pada masa dinasti Buwaihi, wazir dimiliki oleh amir al-umara. Maka bani Buwaihi telah melantik wazir-wazir yang turut sama mengikuti beban pemerintahan, dan diantara wazir-wazir tersebut yang termasyhur ialah:

Wazir

Amir al-Umara’

’Abad bin Abbas (Bapak kepada al-Sahib bin ’Abad)

Ibn al-Amid: Abu al-Fadhl Muhammad bin al-Husain

Amak Ibn al-Amid: Abu al-Fahd bin Muhammad

Rukn al-Daulah (Hasan ibn Buwaihiyah)
Al-Hasan bin Muhammad bin Harun al-Muhallabi

Al-Abbas bin Hasan al-Syairazi

Mu’iz al-Daulah (Ahmad ibn Buwaihiyah)
Al-Abbas bin Hasan al-Syairazi

Abu Tahir Muhammad bin Baqiyah

Izz al-Daulah (’Ali ibn Buwaihiyah)
Nasir bin Harun (beragama masehi) Al-Hud al-Daulah
Al-Sahib bin ’Abbas Mu’ayyid al-Daulah

 

Demikianlah wazir-wazir yang telah dilantik dan dipunyai oleh para amir al-umara dinasti Buwaihi. Mereka merupakan pelaksana kebijakan yang dikeluarkan oleh amir al-umara tersebut. Jadi mereka ibarat asisten bagi amir al-umara tersebut.

D.     Perkembangan Dinasti Buwaihi

Pemerintahan Dinasti Buwaihi periode pertama dipegang oleh Mu’iz al-Daulah. Sejak zaman ini, otoritas kepemimpinan khalifah sangat terbatas. Namun Buwaihi tidak berusaha melenyapkan kekhalifahan. Keberadaan khalifah hanya sebagai simbol untuk mendapat simpati publik. Serta mengakui sebuah ide bahwa hak mereka untuk memerintah bergantung pada keabsahan khalifah.

Pada masa ini mulai diperbaiki kerusakan-kerusakan yang diderita Baghdad dari kerusuhan-kerusuhan selama belasan tahun terakhir. Atas keberhasilan memulihkan situasi ini, al-Mustakfi menyerahkan kekuasaan keuangan kepada Mu’iz dan nanti namanya dicetak pada mata uang logam.

Mu’iz menurunkan al-Mustakfi dari singgasana dan menggantinya dengan al-Muti’ yang memang sebelumnya telah menjadi saingan al-Mustakfi. Tindakan ini lebih didasari atas keinginan untuk lebih menguasai pemerintahan, karena dalam hal ini al-Mustakfi tidak sejalan dengan Mu’iz. Mu’iz memerintah lebih dari dua puluh tahun. Sementara saudara-saudaranya di timur memperluas daerah kekuasaan. Pada tahun 932 M, suatu usaha dari kaum Qaramithah dan Omami untuk merebut Basrah, dipukul mundur oleh tentara Buwaihi.

Pada pemerintahan Adud al-Daulah mulai dilakukan upaya-upaya persatuan atas wilayah kekuasaan Irak, Persia selatan dan Oman. Dinasti Buwaihi periode ini telah menjalankan suatu kebijakan yang sangat ekspasionis, di Barat terhadap Hamdaniyah al-Jazirah dan Zijariyah Thabaristan, Samaniyah Khurasan. Pada pemerintahan Adud al-Daulah inilah Dinasti Buwaihi di Baghdad mengalami masa keemasan, sebagai pusat pemerintahan Baghdad, Adud al-Daulah berhasil mempersatukan semua penguasa Buwaihiyah.

Pemerintahan Adud al-Daulah sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan berbagai disiplin ilmu. Kedekatannya dengan para ilmuwan saat itu menjadikan loyalitas mereka terhadap pemerintahan sangat tinggi. Istana pemerintahan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan para ilmuwan saat itu. Bahkan pada masa itu dibangun rumah sakit terbesar, yang terdiri dari 24 orang dokter, dan digunakan juga sebagai tempat praktek mahasiswa kedokteran saat itu.

Sebagai penganut Syi’ah Dua belas, dinasti Buwaihi banyak menghidupkan syiar Syiah. Kendati mereka berbuat demikian, Khalifah Abbasyiyah tetap dibiarkan meneruskan kepemimpinan simbolis bagi Umat Islam. Di antara tindakan penguasa Buwaihi yang menguntungkan kelompok syiah adalah pengadaan upacara keagamaan syiah secara publik, pendirian pusat-pusat pengajaran syiah di berbagai kota, termasuk Baghdad dan pemberian dukungan terhadap para pemikir dan penulis Syiah. Memang masa kekuasaan dinasti Buwaihi adalah bersamaan dengan bermulanya masa “ketidakhadiran agung” (al-ghaibah al-kubra) Imam ke 12. Dan saat itu pula, terjadi kristalisasi penting dalam periode pembentukan madzhab syiah.

Periode Buwaihi diwarnai dengan kegiatan penulisan. Para pemikir penting, di samping pakar-pakar teori Syiah, sempat menuliskan ide-ide mereka. Bahkan Ibn Sina, seorang filosof dan dokter diberi kepercayaan menjadi wazir oleh Samsy al-Daulah yang berkuasa di Isfahan. Tercatat pula serentetan penulis kenamaan dari berbagai disiplin ilmu, upamanya Ibn Nadhim, seorang ensiklopedis dengan bukunya al-Fihris, ibn Maskawaih, seorang filosof-sejarawan menulis Tajarib al-Umam, Abu al-Farah al-Isfahani, seorang sejarawan-sastrawan menulis al-Agani, dan Abu al-Wafa al-Nasawi, pakar matematik, memperkenalkan sistem angka India ke dalam Islam. Di samping itu, berbagai aktivitas ilmiah dan kemanusiaan juga digalakkan dengan dibangunnya peneropong bintang dan rumah-rumah sakit di berbagai kota.

Sebagaimana telah dimulai pada masa-masa awal dinasti Buwaihi dalam memperbaiki kerusakan perekonomian yang beberapa dekade sebelumnya mengalami kerusakan, berupa melakukan perbaikan beberapa saluran irigasi dan mengambil tanah-tanah yang ditinggalkan pemiliknya. Sistem administrasi keuangan sangat berkaitan erat dengan organisasi militer, seperti juga pada periode Mu’iz pertama kali berkuasa. Pemerintahan Adud didasarkan pada metode-metode birokratik perpajakan dan sejumlah pembayaran untuk kebutuhan istana dan militer. Staf pemerintahan pusat mengumpulkan pendapatan negara dari daerah-daerah kekuasaan dan membayar pejabat negara dan tentara yang mengabdi kepada negara secara kontan dengan pembayaran di muka. Konsep ini lazimnya disebut dengan distribusi iqtha’, yaitu sebuah mekanisme untuk mensentralisasikan pengumpulan dan pengeluaran atas pendapatan negara dan pada dasarnya hak tanah iqtha’ hanya diberikan berdasarkan syarat pengadian militer dan hanya berlaku sebatas kehidupan orang yang sedang menjabat.

E.     Peristiwa Penting Pada Masa Dinasti Buwaihi

Selama masa pemerintahan dinasti Buwaihi tercatat beberapa peristiwa penting, yaitu:

  1. Baghdad dan Siraz; kedudukan Baghdad sebagai ibukota dari segi politik dan agama. Di zaman dinasti Buwaihi, Baghdad telah kehilangan kepentingannya dari segi politik yang mana telah berpindah ke Syiraz, tempat bermukimnya Ali bin Buwaih yang bergelar Imad al-Daulah. Pengaruh Baghdad dari segi agama juga semakin pupus, disebabkna perselisihan madzhab di antara khalifah-khalifah dari dinasti Buwaihi. Pertikaian ini telah melumpuhkan sama sekali pengaruh rohaniah yang selama ini dinikmati oleh khalifah.
  2. Ikhwanus Shafa. Di zaman ini muncul kumpulan Ikhwanus Shafa yang mengamalkan berbagai falsafah dan hikmah yang dikatakan bersumber dari mereka.
  3. Negeri-negeri yang memisahkan diri. Semasa berada di puncak kekuasaan, dinasti Buwaihi telah menyatukan kembali sebagian wilayah Islam yang telah memisahkan diri dari pemerintahan Khalifah Abbasyiyah. Tetapi ketika kekuasaan dinasti Buwaihi mulai merosot, banyak pula dari kerajaan yang memisahkan diri dari pemerintahan khalifah Abbasyiyah, diantaranya kerajaan Imran bin Syahin di Batinah, kerajaan Najahiyah di Yaman, kerajaan ‘Uqailiyah di Mausil, kerajaan Kurd di Diar Bakr, kerajaan Mirdasiyah di Aleppo, kerajaan Samaniyah di seberang sungai dan di Khurasan dan kerajaan Saktikiyah di Ghaznah.
  4. Perselisihan madzhab; ajaran Islam tiba di Dailam melalui kaum Syiah yang diwakili oleh Hasan bin Zaid, kemudian oleh al-Hasan bin Ali al-Atrusy. Sedangkan masyarakat Baghdad ketika itu beraliran sunni. Terlebih ketika khalifah al-Qadir berusaha menentang faham syiah.

F.      Kemunduran Dinasti Buwaihi

Setelah mengalami masa kejayaan, maka akhirnya dinasti Buwaihi mengalami kemunduran. Kemunduran dinasti Buwaihi disebabkan berbagai faktor sebagai berikut:

  1. Sistem pemerintahan yang semula didasarkan pada kekuatan militer, belakangan diorganisir menjadi sebuah rezim yang lebih setia terhadap pimpinan mereka atas kekayaan dan kekuasaan daripada setia terhadap negara.
  2. Konsep ikatan keluarga yang menjadi kekuatan dinasti Buwaihi pada masa-masa awal, tidak bisa dibina lagi pada masa-masa selanjutnya. Konflik antar anggota keluarga menjadikan lemahnya pemerintahan di pusat.
  3. Pertentangan antara aliran-aliran keagamaan. Sebagaimana diketahui bahwa dinasti Buwaihi adalah penyebar madhzab syiah yang sungguh bersemangat, dibalik kebanyakan rakyak Baghdad yang bermadzhab sunni. Pertentangan tersebut pada periode awal dinasti tidak begitu nampak, terutama pada masa Adud al-Daulah, kemudian mulai menajam kembali dan mengalami puncak pada akhir dinasti Buwaihi di Baghdad. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kebijakan khalifah al-Qadir yang mengepalai pertempuran sunni melawan syiah dan berusaha mengorganisir sebuah misi sunni untuk menjadi praktek keagamaan. Melalui sebuah pengumuman yang resmi, ia menjadikan Hanbalisme sebagai madzhab muslim yang resmi.
  4. Kekalahan yang telak dari Bani Saljuk yang berakibat jatuhnya pemerintahan dinasti Buwaihi ke tangan Tugril Beg, yang sekaligus mengakhiri masa pemerintahan dinasti Buwaihi.

Bagaimanapun keberhasilan dinasti Buwaihi memang tidak bertahan lama. Sejak kematian Adud al-Daulah pada tahun 983M, keutuhan keluarga Buwaihi terus mengalami erosi dan perpecahan. Ide kerjasama yang dikembangkan generasi pertama rupanya tidak mengakar, cabang-cabang keluarga tidak puas dengan otonomi yang dinikmati bahkan ada yang menginginkan kekuasaan tunggal atas seluruh wilayah Buwaihi. Mungkin tandensi demikian merupakan perkembangan natural dari upaya-upaya individu Buwaihi dalam menghadapi perubahan dan tantangan eksternal. Misalnya pada perempat akhir abad ke-10, dinasti Fatimiyah muncul sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh Buwaihi di Barat dan Selatan. Di Persia dan Arabia Timur ancaman masing-masing datang dari Samaniyah kemudian Ghaznawiyah dan Qaramithah.

Juga posisi wilayah Buwaihi yang strategis bagi perdagangan antara timur dan Barat serta selatan dan utara, kemudian telah dilemahkan oleh politik perdagangan fatimiyah yang agresif lewat laut merah. Peranan teluk Persia yang pernah dominan menjadi semakin pudar. Kurang berkembangnya pertanian akibat sistem perpajakan yang tidak efisien dan eksploitatif, serta turunnya volume perdagangan jelas melemahkan sistem ekonomi dinasti Buwaihi.

 

REFERENSI

Beik, Muhammad Khudori, Tarikh al-Islam, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Hanbal, Ahmad ibn, Musnad Ahmad, juz 40, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Hitti, Philip K., History of Arabs, terj., Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007.

Hitti, Philip K., History of the Arabs, London: The Macillan Press LTD, 1974.

Kraemer, Joel L., Renaisance Islam, terj. Asep Saefullah, Bandung: Mizan, 2003.

Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997.

Saefudin, Didin, Zaman Keemasan Islam, Jakarta: PT Grasindo, 2002.

Saunders, J.J., A. History Of Mediveal Islam, London: Rotledge and Kegan Paul, 1965.

Syalabi, A., Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Mukhtar Yahya,Jakarta: Pustaka al-Husna, 1997.

Watt, Motgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG DINASTI MUWAHHIDUN


MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG DINASTI MUWAHHIDUN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang

Pada masa Daulah Bani Umayyah (al-Walid Ibn Abdul Malik), Islam sudah mulai tersebar luas ke seluruh pelosok Jazirah Arabia dan Afrika serta benua Eropa. Salah satu daerah yang pada waktu itu diduduki Islam adalah Spanyol. Islam masuk ke Spanyol melalui proses perjalanan yang cukup panjang, mulai dari kedatangan Abdurrahman al-Dakil sampai jatuhnya kerajaan Islam pada tahun 1492 M yang merupakan fase-fase perjalanan sejarah Islam di Eropa. Di Spanyol ini, Islam memainkan peranan yang sangat besar, mulai pertama kali menginjakkan kaki sampai jatuhnya kerajaan terakhir disana.

Fase sejarah yang dilalui umat Islam di Spanyol dibagi dalam enam periode: periode pertama (711-755 M), periode kedua (755-912 M), periode ketiga (912-1013 M), periode keempat (1013-1086 M), periode kelima (1086-1248 M), periode keenam (1248-1492 M). Pada periode kelima muncullah Dinasti Muwahhidun.

Kemunculan Dinasti Muwahhidun telah membawa semangat politik baru di wilayah Maghrib dan Tunisia yang ditandai dengan tundukknya pada khalifah Abbasiyah di Bagdad. Dinasti ini telah sanggup menunda kekalahan politik Islam untuk beberapa waktu terakhir keberadaannya di penghujung abad ke 15 M ketika benteng Islam di Seville jatuh ke tangan orang-orang Kristen.

Dinasti Muwahhidun sendiri berasal dari sebuah gerakan pemurnian agama (puritan) yang kemudian berhasil berkuasa, para pemuka spiritual dan panglima perang memegang pemerintahan dan memperluas wilayahnya dengan tujuan ingin memurnikan Islam dan memperluas ajarannya sampai ke Afrika. Namun, informasi  mengenai dinasti Muwahhidun ini sulit ditemukan, karena sedikitnya literatur-literatur yang membahasnya.

B.      Sejarah Berdirinya Dinasti Muwahhidun

Dinasti Muwahhidun bermula dari sebuah gerakan agama-politik yang didirikan oleh seorang Berber. Ia adalah Ibnu Thumart dari suku Masmuda, beliau seorang penganut Asy’ariyah yang hanya mengakui supremasi al-Qur’an dan Hadits dan tidak mengakui otoritas madzhab fiqih. Dinasti Muwahhidun merupakan Dinasti Islam yang pernah berjasa di Afrika Utara selama lebih dari satu setengah abad.

Al-Muwahhidun secara bahasa berarti orang-orang yang mengesakan Allah, secara intelektual mewakili protes terhadap Madzhab Maliki yang kaku, konservatif dan legalistik, sebagai Madzhab yang dominan di Afrika Utara dan terhadap kerusakan dalam kehidupan sosial di masa kekuasaan murabitun. Nama Muwahhidun bagi dinasti ini berarti golongan yang berpaham tauhid, didasarkan prinsip dakwah Ibnu Thumart yang memerangi paham Tajsim yang menganggap Tuhan mempunyai bentuk yang berkembang di Afrika Utara pada masa itu di bawah kekuasaan Murabitun, atas dasar bahwa ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan yang disebutkan dalam al-Qur’an seperti “tangan Tuhan” tidak dapat ditakwilkan dan harus dipahami apa adanya. Menurut Ibnu Thumart paham tajasum identik dengan syirik dan orang yang berpaham tajasum adalah musyrik.

Ibnu Thumart beranggapan bahwa untuk menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran harus dilakukan dengan kekerasan, oleh karena itu Ibnu Thumart dalam menjalankan dakwahnya tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Sikap Ibnu Thumart seperti itu sangat tidak disenangi oleh semua kalangan masyarakat terutama para ulama’ dan penguasa, akan tetapi ia dilindungi oleh sultan Ali bin Yusuf bin Tasfyn yang hanya mengusirnya dari Marakeh (ibu kota kerajaan Muwahhidun). Sementara dakwahnya mendapat sambutan baik dan dukungan dari suku Barbar seperti suku Harrabah, Hantamah, Jadniwah dan Jansifah.

Pada mulanya dakwah yang dilakukan Ibnu Thumart adalah murni, artinya tidak didasari oleh kepentingan-kepentingan politik tertentu. Semata-mata hanya ingin menegakkan tauhid murni, akan tetapi setelah merasa dakwahnya mendapat sambutan yang cukup berarti dan pengikutnya mulai banyak dan sementara itu dinasti Murabitun mulai melemah, maka Ibnu Thumart berambisi untuk menjatuhkan kekuasaan Murabitun. Maka  pada tahun 514 H, ia menobatkan dirinya sebagai al-Mahdi (imam yang Ma’shum) atas dukungan Abu Hafs yang sebagai kepala suku Barbar dan pengikutnya. Dan dia menamakan pengikutnya sebagai al-Muwahhidun. Wilayah kekuasaannya yaitu Tinmallal dan sekitarnya sebagai ad-Daulah al-Muwahhidiyah. Maka berangkat dari sinilah mereka memasukkan gerakan dakwahnya ke dalam gerakan politik.

C.      Masa Kejayaan Dinasti Muwahhidun

Sebagai langkah awal yang dilakukan Ibnu Thumart untuk melaksanakan dakwah agama dan politik adalah mengajak kabilah-kabilah Barbar untuk bergabung bersamanya. Kabilah yang menolak diperangi sehingga dalam waktu singkat mereka banyak yang bergabung dan tunduk kepadanya. Pada tahun 524 H dengan jumlah pasukan 40 ribu orang di bawah komando Abu Muhammad al-Muwahidun menyerang ibu kota dinasti al-Murabitun di Marakeh. Perang ini disebut Buhairah, Muwahhidun mengalami kekalahan yang sangat besar dan Ibnu Thumart meninggal pada tahun ini juga.

Setelah Ibnu Thumart meninggal, kepemimpinan Muwahhidun digantikan oleh Abdul al Mukmin bin Ali. Di bawah kepemimpinannya berhasil meraih kemenangan sehingga banyak daerah yang jatuh ke tangan kekuasaannya seperti Nadla, dir’ah, taigar, Fazar, Giasah, Fez dan Marakeh. Keberhasilan menaklukkan Marakeh dan ambisi dalam memperluas wilayah kekuasaannya, ia memindahkan pusat kekuasaannya dari Tinmallal ke Marakeh. Pada masa ini kemenangan demi kemenangan diraih, juga di daerah-daerah yang dulunya dikuasai Murabitun  dan kemudian menyeberang ke Andalusia (Spanyol) sehingga daerah-daerah Murabitun yang dikuasai Kristen dapat direbut kembali.

Dinasti Muwahhidun datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mukmin antara tahun 1114-1115 M. pada masa ini Muwahhidun memperoleh prestasi cemerlang yang belum pernah dicapai kerajaan manapun di Afrika Utara. Daerah kekuasaannya membentang dari Tripoli hingga ke Samudera Atlantik sebelah Barat, kota-kota Muslim penting yang jatuh ke tangan kekuasaannya adalah Cordoba, Almeria dan Granada.

Setelah Abdul Mukmin meninggal, kepemimpinanya diganti oleh putranya yaituAbu Yaqub Yusuf bin Abdul Mukmin pada tahun 558 H. ia dikenal sebagai seorang yang sangat dekat dengan kaum ulama’ dan cendekiawan dan terkenal dengan seorang pemimpin yang cakap, gemar ilmu dan senang berjihad. Dalam memperluas wilayahya, ia menyerang wilayah Andalusia yang kedua kalinya dan berhasil merebut daerah Lisabon yang dikuasai Kristen, dalam peperangan ini Abu Ya’qub Yusuf terluka parah sehingga meninggal dunia. Ulama-ulama besar pada masa ini diantaranya Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, Ibnu Mulkun, Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Malik dan Abu Bakar bin Zuhr, sehingga Marrakeh menjadi pusat peradaban terbesar saat itu.

Muwahhidun lebih masyhur karena kekuatan armada laut yang mereka dirikan, sehingga kekuasaannya ke laut dan ke darat. Wilayah kekuasaan dinasti muwahidun sebelah utara berupa: sahara Afrika yang luas, sebelah barat sampai laut hitam, sebelah timur padang pasir sampai perbatasan Mesir dan sebelah selatan laut Roemi. Abu Ya’qub Yusuf digantikan anaknya yaitu Abu Yusuf ya’qub al Mansur. Pada awal kekuaaannya terjadi dua pemberontakan di Spanyol yaitu dari cucu Ibnu Ghaniyah dan orang Kristen yang berusaha merebut kembali wilayah-wilayah Islam di Spanyol. Kedua pemberontakan berhasil dipatahkan bahkan raja Alfonso tunduk terhadap dinasti Muwahhidun.

Pada tahun 591 H/ 1194 M, Alfonso kembali memberontak dengan keyakinan ingin membebaskan wilayah-wilayah Spanyol dari kekuasaan Islam sehingga terjadi peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh Islam dan berhasil menawan 20 ribu tentara Kristen. Kemenangan Muwahidun ini merupakan kemenangan terakhir kaum muslim terhadap orang-orang Kristen di Spanyol dan pertempuran selanjutnya dengan orang Kristen tidak pernah menang.

Setelah Abu Yusuf Ya’qub al Mansur meninggal, ia diganti oleh anaknya yang bernama Muhammad an Nashir yang pada saat itu belum mencapai usia 17 tahun, sehingga berakibat kendali Negara lebih banyak dipegang oleh menteri-menterinya yang saling berebut mengambil simpati khalifah yang masih muda dan hal ini dimanfaatkan oleh lawan-lawan Muwahhidun meskipun pernah dikalahkan penguasa sebelumnya, diantaranya adalah di daerah Tunisia oleh Ibnu Ghaniyah dan berhasil dipatahkan.

Orang-orang Kristen di Spanyol juga melakukan pemberontakan yang mengakibatkan satu persatu wilayah Muwahhidun dapat ditaklukkan, yang pada awalnya kaum Muwahhidun dapat menekan kaum Kristen namun terjadi perpecahan di kalangan pemimpin Muwahhidun akhirnya suasana tersebut dimanfaatkan orang-orang Kristen dan akhirnya Muwahhidun dihancurkan.

Kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan pemimpinnya meninggalkan Spanyol  dan kembali ke Afrika utara. Pada tahun 1235 M keadaan Spanyol kembali runyam di bawah penguasa-penguasa kecil, dengan kondisi yang demikian umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan Kristen yang semakin besar. Sehingga tahun 1238 M Cordoba jatuh ke tangan Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M, seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.

D.      Masa Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Muwahhidun

Setelah Muhammad al-Nashir meninggal dalam perang al-Uqap, maka kerajaan Muwahhidun menjadi semakin lemah, Muhammad al-Nashir sendiri dalam memerintah tidak dapat berbuat banyak. Hal ini disebabkan usianya yang masih sangat muda ketika naik tahta dan keputusan-keputusan penting berada ditangan menterinya. Ia kemudian diganti oleh putranya Abu Yusuf Ya’qub al-Muntasir yang masih terlalu muda juga yaitu berusia 16 tahun dan menteri-menterinyalah yang berkuasa, mereka bertindak untuk kepentingan masing-masing sehingga kerajaan tidak tenang dan banyak kerusuhan, ia berkuasa sampai 1269 M.

Abu Yusuf Ya’qub al-Muntasir meninggak akibat dibunuh, sehingga berkobar api fitnah di Maghrib dan Spanyol. Kemudian ia digantikan oleh Abu Muhammad Wahid al-Mahlu, ia adalah saudaranya Ya’qub al-Mansur. Amir yang terakhir ini sudah lanjut usia dan tidak mampu memikul tugas sebagai penguasa sehingga mengundurkan diri dan digantikan putranya yang bernama Abdullah Muhammad al-Adil sampai tahun 1227 M. kemudian digantikan Abu Ula al-Makmun, pada saat ini terjadi pemberontakan di Maghrib dan Spanyol karena Amir ini tidak lagi berpegang teguh pada ajaran agama yang dianut golongan Muwahhidun. Ia menyerukan kembali madzhab Ahlussunnah, pada masa kekuasaannya terjadi perpecahan di barisan kelompok Muwahidun sendiri.

Kemunduran dinasti Muwahhidun tampak terasa setelah al-Nashr wafat. Adapun faktor kemunduran Muwahhidun ini disebabkan oleh:

  1. Perebutan tahta dikalangan keluarga daulah
  2. Melemahnya kontrol terhadap penguasa daerah
  3. Mengendurnya tradisi disiplin
  4. Memudarnya keyakinan akan keagungan misi al-Mahdi Ibnu Thumart, bahkan namanya tidak disebut dalam dokumen Negara. Begitu pula pada mata uang masa terakhir.

Setelah al-Makmun meninggal, ia diganti oleh putranya bernama Abdul Abu Muhammad Abdul Wahid al-Rasyid. Amir yang baru ini berusaha mengembalikan ajaran kelompok Muwahhidun sebagaimana semula. Pada masa ini muncul Kabilah bani Marrin yang menantang al-Rasyid. Setelah meninggal kendali kekuasaan diganti oleh saudaranya bernama Abu Hasan Ali al-Sa’id, ia mengadakan perjanjian damai dengan bani Marrin akan tetapi ia dibunuh oleh bani Rayyan yaitu penguasa kota Tilmisan. Munculnya Yaghamrasan Ibnu Zayyan di Tlemcen pada tahun 633/1236 menyebabkan berdirinya dinasti Abdu al-Wadiyyah yang independent dan tahun berikutnya Abu Zakariya Yahya seorang gubernur Ifriqiyah memerdekakannya di Tunis dan mendirikan dinasti Hafshiyyah. Sebagai penerusnya adalah Abu Hafs al-Umar al-Murtadho. Pada masanya muncul Abu Ula Idris al-Wasiq yang bergelar Abu Dabus dan bersekutu dengan bani Marrin, akan tetapi kemudian Abu Dabus dibunuh oleh sekutunya pada tahun 667 H/ 1269 M. akhirnya ibu kota Muwahhidun di Marrakesh jatuh ke tangan Marriniyah. Peristiwa inilah yang merupakan akhir dari keberadaan dinasti Muwahhidun di Maghrib yang selanjutnya bani Marrin berkuasa menggantikannya di wilayah tersebut.

Referensi

Depag RI, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Jakarta: tp, 2003

Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2001

Bosworth, C.E. , Dinasti-Dinasti Islam, (terj) Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1993

Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 2005

Hitti, Philip. K, History of Arabs, (terj) R. Cecep Lukman Yasin, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006

Sumanto, Masripah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta: Kencana, 2002

Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika Press, 2003

Yatim,Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

PERSENTUHAN UMAT ISLAM DENGAN ILMU PENGETAHUAN


PERSENTUHAN UMAT ISLAM DENGAN ILMU PENGETAHUAN

(Sebuah Tinjauan Sejarah Pendidikan Islam Dunia)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak terlepas dari sejarah Islam. Kata sejarah, dalam bahasa Arab disebut tarikh yang berarti keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada. Sejarah mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa silam, baik peristiwa sosial, politik, ekonomi, maupun agama dan budaya dari suatu bangsa, negara atau dunia. Inti dari peristiwa sejarah adalah peristiwa tersebut merupakan peristiwa penting dan menjadi momentum.

Dalam diskursus ilmu sejarah, terdapat kajian sejarah pendidikan Islam. Sejarah pendidikan Islam memberikan arah kemajuan yang pernah dialami dan dinamismenya sehingga pembangunan dan pengembangan itu tetap berada dalam kerangka pandangan yang utuh dan mendasar. Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat. Jadi sejarah pendidikan Islam adalah tafsiran-tafsiran terhadap pendidikan Islam yang terjadi pada masa lalu, baik ketika Islam mengalami masa keemasan (golden age) ataupun sesudahnya. Dengan meresapi dan mengambil pelajaran yang penting dari sejarah, umat Islam pada masa sekarang diharapkan akan mampu mengulang kesuksesan yang diraihnya pada masa lalu, yaitu ketika zaman dinasti Abbasyiyah berkuasa dengan mengadakan pembaruan-pembaruan yang berbasis epistemologi.

Secara garis besar, Harun Nasution membagi sejarah Islam dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Selanjutnya perinciannya dapat dibagi menjadi lima masa. Pada masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, muncullah para ulama yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat bahkan mengantarkan Islam mencapai puncak kejayaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam mengalami pasang surut. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh penguasa dan berbagai faktor yang lain.

B.     Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Islam

Kesuksesan Rasulullah Muhammad Saw dalam membangun peradaban Islam yang tiada taranya dalam sejarah dicapai dalam kurun waktu 23 tahun, 13 tahun langkah persiapan pada periode Makkah (Makiyyah) dan 10 tahun periode Madienah (Madaniyah). Periode 23 tahun merupakan rentang waktu kurang dari satu generasi, dimana beliau Saw telah berhasil memegang kendali kekuasaan atas bangsa-bangsa yang lebih tua peradabannya saat itu khususnya Romawi, Persia dan Mesir.

Seorang ahli pikir Perancis bernama Dr. Gustave Le Bone mengatakan:
“Dalam satu abad atau 3 keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul sudah dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun) yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain”.

Masa kerasulan Muhammad Saw pada akhir periode Madienah merupakan puncak (kulminasi) peradaban Islam, karena disitulah sistem Islam disempurnakan dan ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Masa Kedaulatan Umayyah berlangsung selama lebih kurang 90 tahun. Beberapa orang Khalifah besar Bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685- 705 M), Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717- 720 M) dan Hasyim bin Abdul Malik (724- 743 M).

Awal berlangsungya periode Daulat Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan wilayah kekuasaan. Ekspansi wilayah yang sempat terhenti pada masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali dilanjutkan kembali oleh Daulat Umayyah. Pada zaman Muawiyah, Tunisia ditaklukkan. Di sebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban, dimana umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tercatat bahwa pada tahun 711 M merupakan suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa. Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, panglima pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Marokko dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordova, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Sevi’e, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, Al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah.

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.

Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Pada bidang pengembangan keilmuan, Daulat Umayyah mengawalinya dengan mengeluarkan sebuah kebijakan startegis. Adalah Khalifah Abdul Malik (685-705M) merupakan Khalifah pertama yang berhasil melakukan berbagi pembenahan administrasi pemerintahan dimana beliau memerintahkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan dan kenegaraan di seluruh wilayah Islam yang membentang dari Pegunungan Thian Shan di sebelah Timur sampai Pegunungan Pyrenees di Sebelah Barat termasuk dalam berbagai administrasi kenegaraan lainnya yang pada perkembangan selanjutnya Bahasa Arab menjadi bahasa umum sebagai bahasa pengantar dunia (lingua franca), juga menjadi bahasa diplomatik antar Bangsa diantara Barat dan Timur bahkan berkembang menjadi bahasa ilmiah sampai kepada zaman renaissance, hingga Roger Bacon (1214-1294 M) dari Oxford ahli pikir Inggeris terbesar itu, menurut Ecyclopedia Britanica, 1951, volume II, halaman 191-197, mendorong sedemikian rupa untuk mempelajari Bahasa Arab guna memperoleh pengetahuan yang sangat murni, yang menyatakan bahwa: “Roger Bacon, placing Averroes beside Aristole and Avicenna, recomends the study of Arabic as the only way of getting the knowledge which bad versions obscured”, yakni “menganjurkan mempelajari Bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya bagi memperoleh ilmu yang telah dikaburkan oleh versi-versi yang jelek” sebelumnya.

Kemajuan tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan pada zaman Daulat Umayyah di Andalusia dirasakan oleh masyarakat Eropa. Oliver Leaman menggambarkan kondisi kehidupan intelektual di sana sebagai berikut: “….pada masa peradaban agung [wujud] di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiyah ia harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universitas penting berada”.

Pada bidang lainnya, pembangunan yang dilakukan Muawiyah diantaranya mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Keberhasilan Khalifah Abdul Malik diikuti oleh puteranya Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personel yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.

Pada lapangan perdagangan yakni pada saat peradaban Islam telah menguasai dunia perdagangan sejak permulaan Daulat Umayyah (661-750M), dimana pesisir lautan Hindia sampai ke Lembah Sind, sehingga terjalin kesatuan wilayah yang luas dari Timur sampai Barat yang berimplikasi terhadap lancarnya lalu-lintas dagang di dataran antara Tiongkok dengan dunia belahan Barat pegunungan Thian Shan melalui Jalan Sutera (Silk Road) yang terkenal itu, yang kemudian terbuka pula jalur perdagangan melalui Teluk Parsi, Teluk Aden yang menghubungkannya dengan kota-kota dagang di sepanjang pesisir Benua Eropa, menyebabkan “kebutuhan Eropa pada saat itu amat tergantung pada kegiatan dagang di dalam wilayah Islam”

Masa Kedaulatan Abbasiyah berlangsung selama 508 tahun, sebuah rentang sejarah yang cukup lama dalam sebuah peradaban. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode: (1) Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama; (2) Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama; (3) Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua; (4) Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua; (5) Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.

Tidak seperti pada periode Umayyah, Periode pertama Daulat Abbasiyah lebih memprioritaskan pada penekanan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Fakta sejarah mencatat bahwa masa Kedaulatan Abbasiyah merupakan pencapaian cemerlang di dunia Islam pada bidang sains, teknologi dan filsafat. Pada saat itu dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh Kekhilafahan Islam.

Masa sepuluh Khalifah pertama dari Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan (keemasan) peradaban Islam, dimana Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Pada masa sepuluh Khalifah pertama itu, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah; senang bershadaqah; sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama; senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para ‘ulama. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.

Harun Al-Rasyid juga menggunakan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat yang tak tertandingi.

Terjadinya perkembangan lembaga pendidikan pada masa Harun Al Rasyid mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama juga lahir para imam mazhab hukum yang empat hidup Imam Abu Hanifah (700-767 M); Imam Malik (713-795 M); Imam Syafi’i (767-820 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M).

Pencapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775 M) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah.

Menurut Demitri Gutas proses penterjemahan di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial, politik dan intelektual. Ini berarti bahwa para pihak baik dari unsur masyarakat, elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya secara kultural sangat besar.

Gerakan penerjemahan pada zaman itu kemudian diikuti oleh suatu periode kreativitas besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir muslim yang terpelajar itu kemudian membangun dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk mengkontribusikannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Menurut Marshall, proses pengislaman tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh dari sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki, hal itu telah menghasilkan energi kreatif yang luar biasa. Menurutnya, periode kekhalifahan dalam sejarah Islam merupakan periode pengembangan di bidang ilmu, pengetahuan dan kebudayaan, dimana pada zaman itu telah melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi. Berbagai pusat pendidikan tempat menuntut ilmu dengan perpustakaan-perpustakaan besar bermunculan di Cordova, Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, dimana pada saat yang sama telah mengungguli Eropa yang tenggelam dalam kegelapan selama berabad-abad. Kehidupan kebudayaan dan politik baik dari kalangan orang Islam maupun non-muslim pada zaman kekhilafahan dilakukan dalam kerangka Islam dan bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku yang plural.

Pada saat itu umat Islam telah berhasil melakukan sebuah akselerasi, jauh meninggalkan peradaban yang ada pada saat itu. Hidupnya tradisi keilmuan, tradisi intelektual melalui gerakan penerjamahan yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan penyelidikan yang didukung oleh kuatnya elaborasi dan spirit pencarian, pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang secara pesat tersebut, mengakibatkan terjadinya lompatan kemajuan di berbagai bidang keilmuan yang telah melahirkan berbagai karya ilmiah yang luar biasa.
Menurut Oliver Leaman proses penterjemahan yang dilakukan ilmuwan muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani secara ansich, tetapi juga mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Proses asimilasi tersebut menurut Thomas Brown terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam. Proses ini menggambarkan betapa tingginya tingkat kreativitas ilmuwan muslim sehingga dari proses tersebut telah melahirkan pemikiran baru yang berbeda sama sekali dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani.

Pada masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass (kompas) and gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak (movable types) di Tiongkok pada penghujung abad ke-8 M dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada pertengahan abad 15 oleh Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of the World, akan tidak ada arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan lebih dahulu cara-cara bagi pembuatan kertas.

Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika, kedokteran); Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Sejarah telah membuktikan bahwa kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan. Bahkan bermula dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran, penularan), diseminasi dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau enlightenment (pencerahan) di Eropa.

Melalui dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Menurut George Barton, ketika dunia Barat sudah cukup masak untuk merasakan perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam, perhatiannya pertama-tama tidak ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan kepada sumber-sumber Arab.

Sebelum Islam datang, menurut Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satupun bidang ilmu yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Sebuah kisah menarik terjadi pada zaman Daulat Abbasiah saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, tatkala beliau mengirimkan jam sebagai hadiah pada Charlemagne seorang penguasa di Eropa. Penunjuk waktu yang setiap jamnya berbunyi itu oleh pihak Uskup dan para Rahib disangka bahwa di dalam jam itu ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan, karena dianggap sebagai benda sihir. Pada masa itu dan masa-masa berikutnya, baik di belahan Timur Kristen maupun di belahan Barat Kristen masih mempergunakan jam pasir sebagai penentuan waktu.

Bagaimana kondisi kegelapan Eropa pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh William Drapper: “Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad 15 M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.

Menurut Philip K. Hitti, jarak peradaban antara kaum muslimin di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid jauh melampaui peradaban yang ada pada orang-orang Kristen pimpinan Charlemagne. Pertengahan abad 9 M peradaban Islam telah meliputi seluruh Spanyol. Masuknya Islam ke Spanyol yaitu setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756 M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di Andalusia.

Melalui Spanyol, Sicilia dan Perancis Selatan yang berada langsung di bawah pemerintahan Islam, peradaban Islam memasuki Eropa. Bahasa Arab menjadi bahasa internasional yang digunakan berbagai suku bangsa di berbagai negeri di dunia. Baghdad di Timur dan Cordova di Barat, dua kota raksasa Islam menerangi dunia dengan cahaya gilang-gemilang. Sekitar tahun 830 M, Alfonsi-Raja Asturia telah mendatangkan dua sarjana Islam untuk mendidik ahli warisnya. Sekolah Tinggi Kedokteran yang didirikan di Perancis (di Montpellier) dibina oleh beberapa orang Mahaguru dari Andalusia. Keunggulan ilmiah kaum muslimin tersebar jauh memasuki Eropa dan menarik kaum intelektual dan bangsawan Barat ke negeri-negeri pusatnya. Diantara mereka terdapat Roger Bacon (Inggeris); Gerbert d’Aurillac yang kemudian menjadi Paus Perancis pertama dengan gelar Sylvester II, selama 3 tahun tinggal di Todelo mempelajari ilmu matematika, astronomi, kimia dan ilmu lainnya dari para sarjana Islam.

Tidaklah mengherankan, karena pada saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya Universitas Cordova. Di Andalusia itulah mereka banyak menimba ilmu, dan dari negeri tersebut muncul nama-nama ‘ulama besar seperti Imam Asy-Syathibi pengarang kitab Al-Muwafaqat, sebuah kitab tentang Ushul Fiqh yang sangat berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi pengarang kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab tentang perbandingan sekte dan agama-agama dunia, dimana bukti tersebut telah mengilhami penulis-penulis Barat untuk melakukan hal yang sama.

Di Andalusia (Spanyol bagian Selatan), berbagai universitasnya pada saat itu dipenuhi oleh banyak mahasiswa Katolik dari Perancis, Inggeris, Jerman dan Italia. Pada masa itu, para pemuda Kristen dari berbagai negara di Eropa dikirim berbondong-bondong ke sejumlah perguruan tinggi di Andalusia guna menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dari para ilmuwan muslim. Adalah Gerard dari Cremona; Campanus dari Navarra; Aberald dari Bath; Albert dan Daniel dari Morley yang telah menimba ilmu demikian banyak dari para ilmuwan muslim, untuk kemudian pulang dan menggunakannya secara efektif bagi penelitian dan pengembangan di masing-masing bangsanya. Dari sini kemudian sebuah revolusi pemikiran dan kebudayaan telah pecah dan menyebarluas ke seluruh masyarakat dan seluruh benua. Para pemuda Kristen yang sebelumnya telah banyak belajar dari para ilmuwan muslim, telah berhasil melakukan sebuah transformasi nilai-nilai yang unggul dari peradaban Islam yang kemudian diimplementasikan pada peradaban mereka (Barat) yang selanjutnya berimplikasi terhadap kemajuan diberbagai bidang ilmu pengetahuan.

Semaraknya pengembangan ilmu dan pengetahuan di dunia Islam diindikasikan dengan banyaknya perpustakaan tersebar di kota-kota dan negeri-negeri Islam yang jumlahnya sangat fantastis. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai 600.000 jilid buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo mempunyai 2.000.000 jilid buku. Perpustakaan Al Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam 40 kamar yang setiap kamarnya berisi 18.000 jilid buku. Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan) buku-bukunya memenuhi 360 kamar. Sementara ratusan tahun sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik Encyclopedia, perpustakaan Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia Barat yang paling kaya saat jumlah bukunya tidak melebihi 1.800 jilid buku.

Sejarah juga mencatat bahwa Uskup Agung Raymond di Spanyol mendirikan Badan Penterjemah di Todelo yang ditujukan guna menterjemahkan sebagian besar karangan sarjana-sarjana Muslim tentang ilmu pasti, astronomi, kimia, kedokteran, filsafat, dll, dimana waktu yang dibutuhkan untuk menterjemahkannya yaitu lebih dari satu setengah abad (1135-1284 M).

Dari pusat-pusat peradaban Islam yang meliputi Baghdad, Damaskus, Cordova, Sevilla, Granada dan Istanbul, telah memancarkan sinar gemerlap yang menerangi seluruh penjuru dunia terlebih Cordova, Sevilla, Granada yang merupakan bagian dari kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Barat.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT