Category Archives: Islamic Artikel

URGENSI MENGAJI


URGENSI MENGAJI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Mengaji merupakan salah satu bagian ibadah kepada Allah. Dalam perspektif budaya Islam di tanah jawa (lihat Bruinessen, 2011), mengaji dibedakan menjadi tiga, pertama mengaji dalam bentuk membaca al-Qur’an; kedua mengaji dalam bentuk membaca, menguraikan, menganalisis, atau bahkan mendengarkan kitab klasik; ketiga mengaji dalam bentuk ceramah di depan masyarakat atau majlis taklim. Mengaji dalam bentuk yang pertama ini biasanya dilakukan oleh anak-anak sekitar umur 6-15 tahun. Mengaji dalam bentuk yang pertama ini dilakukan di Surau-surau, langgar, atau masjid dengan guru ngaji yaitu ustadz. Kalau di kota-kota besar dan negara-negara guru ngaji seperti ini mendapatkan insentif, bahkan ada yang mengatakan insentifnya cukup besar sekitar 500 ribu satu bulan. Namun, kalau di desa guru ngaji seperti ini tidak mendapatkan honor, niatnya hanya lillahi ta’ala. Namun di desa, guru ngaji mendapatkan penghormatan dari masyarakat-masyarakat sekitar.

Mengaji dalam bentuk yang kedua ini dilakukan di pondok-pondok, masjid-masjid, rumah-rumah dan majlis taklim bahkan juga di radio-radio tertentu dan biasanya oleh seorang Kiai. Seorang kiai biasanya menguraikan kitab-kitab kuning dengan cara tradisional yaitu dengan menjelaskan artinya perkata atau makna gandul. Mengaji dalam bentuk yang demikian ini malah tidak mendapatkan honor sama sekali, honornya adalah lillahi ta’ala. Namun, dalam mengaji seperti ini terdapat barokah yang biasanya tidak terduga, misalnya keluarganya tenteram, terhindar dari masalah, tidak dirundung kekhawatiran, tidak pikun dan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mengaji dalam bentuk ketiga biasanya dilakukan di majlis taklim, pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh masyarakat. Mengaji dalam bentuk yang ketiga ini identik dengan salah satu bentuk dakwah. Walaupun tidak menutup kemungkinan bentuk pertama dan kedua di atas, juga salah satu bentuk dakwah. Mengaji dalam bentuk ketiga ini dilakukan tidak kontinue, dan juga biasanya mendapatkan honor, walaupun hanya berupa berkat (nasi yang biasanya dibagikan setelah pengajian).

Semua bentuk mengaji di atas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jika anda sekalian merupakan orang yang berilmu maka bagikanlah ilmu anda kepada masyarakat dengan berbagai jalan dan bentuk. Yang penting adalah keikhlasan dalam berbagi, insya Allah akan menjadi salah satu ilmu yang bermanfaat.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

MA’RIFAT AL-GHAZALI


MA’RIFAT AL-GHAZALI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Biografi al-Ghazali

Al- Ghazali yang terkenal dengan sebutan al-Gazel di dunia barat adalah seorang ahli sains terkemuka. Dalam perjalanan hidupnya ia merupakan seorang pengembara ilmu. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan dengan karya-karyanya yang kaya akan berbagai cabang keilmuan. Selain di kenal sebagai tokoh sufi ia juga dikenal sebagai seorang ulama’ usul fiqh dengan karyanya al-mustashfa, ia juga dikenal sebagai tokoh filsafat dengan karyanya Tahafut al-Falasifah yang mengkritik konsep berfikir para filosof saat itu. Al-Ghazali menganggap para filosof pada saat itu telah melewati batas dan terjadi kehawatiran yang mendalam akan rusaknya akidah kaum filsafat sehingga ia berinisiatif untuk meluruskan pemikiran filsafat pada zaman itu.

Abu Hamid al-Ghazali dilahirkan pada tahun 405 H/ 1058 M di kota Tush yaitu kota kedua setelah Naisabur di daerah Khurasan atau pada saat ini berada pada bagian timur laut negara Iran. Al Ghazali dengan nama lengkap Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi ini mendapat banyak gelar dalam dunia islam. Diantara gelar yang paling terkenal adalah Hujjah al-Islam dan Zain al-‘Arifin. Ia diberikan gelar Hujjah al- Islam karena ia menjadikan tasawuf sebagai hujjahnya dalam berbagai perbincangan kesufian.

Pendidikannya dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al – Razkani al – Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash al-Ismaili mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke Thus belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf al – Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke Nisyapur belajar kepada Abul Ma’al al-Juwaini yang bergelar Imam al – Haramain dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada Syekh Abu Ali al – Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al – Farmadi, dan ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh. Setelah Imam al – Juwaini wafat ia pindah ke Mu’askar mengikuti berbagai forum diskusi dan seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya membawanya menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H, disamping memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam. Kecermelangan, keharuman namanya dan kesenangan duniawi yang melimpah ruah di Baghdad melebihi ketika ia di Mu’askar, dikota ini ia sakit dan secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kegemerlapan duniawi tersebut.

Al-Ghozali hidup pada saat keadaan politik yang kacau. Pada saat itu pemerintahan Abbasiah sudah tidak ada pengaruhnya dengan munculnya Dailami Saljuk kemudian Qowamuddin Nizamul Mulk selain itu juga terjadi perang saudara.

Al–Ghazali adalah anak dari seorang yang wara’ yang hanya makan dari usahanya sendiri, dengan pekerjaan memintal dan menjual wol di sebuah toko tua di kota Thus Propinsi Khurasan, wilayah Persi. Meski pekerjaan ayahnya tidak memadai dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari, namun ayahnya adalah seseorang yang cinta dengan Ulama’ selain itu dia terus menerus meminta kepada Tuhan (Allah SWT) agar anak – anaknya senantiasa mendapat anugerah dan hidayah dari Allah SWT supaya menjadi anak yang berguna dan berpengetahuan luas. Dengan penuh harapan kiranya kedua putranya kelak dapat memenuhi harapan dan keinginannya. Selain itu keadaan perekonomian dinegara itu sedang kacau, karena adanya kholifah yang korupsi, sehingga menyebabkan banyaknya kefakiran. Ayahnya sebelum wafat, menitipkan al Ghazali ketika masih kecil kepada seorang ahli tasawuf untuk mendapat pendidikan dan bimbingan.

B.     Al-Ghazali dan Tasawuf

Dalam bidang tasawuf Al- Ghazali berusaha meletakkan kembali posisi tasawuf ke tempat yang benar menurut syari’at Islam. Al-Ghazali membersihkan ajaran tasawuf dari pengaruh faham-faham asing yang masuk mengotori kemurnian ajaran Islam. Pada saat itu banyak yang beranggapan bahwa seorang ahli tasawuf yang tidak beri’tikad dangan faham di atas, maka sebenarnya tidak pantas diberi gelar sebagai ahli tasawuf Islam. Sehingga sebagian orientalis Barat terpengaruh dengan pendapat ini. Contoh-nya Nicholson, ia berpendapat, “Al-Ghazali tidak termasuk dalam golongan ahli tasawuf Islam, karena ia tidak beri’tikad dengan wihdat al-wujud”.

Dalam usaha pembersihannya tersebut, Al Ghazali mengawali kitabnya Ihya ‘Ulumiddin dengan pembahasan faraidh al-Diniyah, kemudian diikuti dengan pembahasan Nawafil dan selanjutnya baru diikuti dengan cara-cara yang sepatutnya diikuti untuk sampai ke martabat yang sempurna. Ketertarikan Al-Ghazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan ketenangan hati. Lebih jauh lagi, justru dia memiliki peran yang cukup signifikan dalam peta perkembangan tasawuf selanjutnya. Jika pada awal pembentukannya tasawuf berupaya menenggelamkan diri pada Tuhan dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khauf), Rabi`ah Al-Adawiyah (hub al-ilah), Abu Yazid Al-Busthami (fana`), Al-Hallaj (hulul), dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan tokoh-tokohnya Ibn Arabi (wahdat al-wujud), Ibn Sabi`in (ittihad), dan Ibn Faridl (cinta, fana’, dan wahdat at-shuhud) yang mana menitikberatkan pada hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah, kehadiran Al-Ghazali justru telah memberikan warna lain; dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam memadukan ilmu kalam, fiqih, dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan.

Peran terpenting yang di pegang al-Ghazali terjadi pada abad ke lima hijriyah. Pada saat itu terjadi perubahan yang jauh oleh para sufi. Banyak dari mereka yang tenggelam dalam dunia kesufian dan meninggalkan syariat.

Kampanye al-Ghazali dalam mengembalikan tasawuf pada jalan aslinya yaitu tidak menyimpang dari nash dan sunah Rasul telah membawa perubahan besar pada zamannya. Ia berpendapat bahwa seorang yang ingin terjun dalam dunia kesufian harus terlebih dahulu menguasai ilmu syariat. Karena praktek-praktek kesufian yang bertentangan dengan syariat islam tidak dapat dibenarkan. Menurut al-Ghazali tidak seharusnya antara syariat dan tasawuf terjadi pertentangan karena kedua ilmu ini saling melengkapi.

Dalam kitabnya Ihya’ U’lum al-Din al-Ghazali menjelaskan dengan detail hubungan antara syariat dengan tasawuf. Ia memberikan contoh praktek syariat yang kosong akan nilai tasawuf (hakikat) maka praktek itu tidak akan diterima oleh Allah dan menjadi sia-sia. Sebaliknya praktek tasawuf yang meninggalkan aturan syariat islam maka praktek itu akan mengarah pada bid’ah. Ibarat syariat adalah tubuh maka nilai-nila tasawuf adalah jiwanya sehingga antara keduanya tidak dapat dipisahkan.

Al Ghazali dipandang sebagai penyelamat tasawuf dari kehancuran, yakni dengan cara mengintegrasikan dengan fiqih dan kalam hingga menjadi ajaran Islam yang utuh, yang sebelumnya masing-masing berdiri sendiri dan sering berbenturan. Upaya al Ghazali ini barang kali yang membuatnya diberi kehormatan dengan sebutan Hujjatul Islam. Dasar ontology tasawuf yang mengakui otoritas jiwa sebagai substansi yang berdiri dan merupakan tempat bersemayamnya pengetahuan intelektual. Selain itu al Ghazali juga mengakui metafisika cahaya (nur), yang mana Allah sebagai asal usul segala cahaya serta hubungan dengan dunia ciptaan yang menerima cahaya dari-Nya. Tentang moral bahwa tasawufnya bersifat religius dan sufistik, meski tidak berarti al Ghazali menolak prinsip etika yang berasal dari sumber lain, yakni filsafat. Dari sini sebenarnya sudah tampak bahwa pemikiran al Ghazali tidak menafikan peranan akal dalam konsep tasawufnya. Ditinjau dari dimensi rasionalitas, konsepsi tasawuf  al Ghazali berdasarkan epistemology yangh dikembangkan tampak tercermin pada:

  1. Penggunaan logika yang tetap dalam memahami tasawuf maupun perumusannya, sehingga bangunan konsepsi tasawufnya memiliki segi pemikiran logis dan rasional
  2. Penggunaan analog-analog yang secara tepat dalam mengkomunikasikan pemikiran tasawufnya
  3. Sikap aprisiatifnya terhadap akal, sehingga pemikiran tasawufnya tidak menolak akal sama sekali.

Para sufi sebelumnya untuk menenempuh tasawuf adalah jalan menuju Tuhan. Namun al Ghazali menyebut jalan menuju Tuhan sebagai aqabah, artinya tanjakan. Ini karena jalan menuju Tuhan penuh dengan rintangan, kesulitan dan tanjakan.

Menurut al Ghazali aqabah itu ada tujuh, yaitu ilmu dan ma’rifat, taubat, penghalang, godaan, pendorong, pencela dan syukur. Ia menempatkan ilmu sebagai aqabah pertama dalam jalan menuju Tuhan, karena ilmu merupakan dasar bagi segala sesuatu, yaitu dasar iman, ibadah dan pengenalan ma’rifat kepada Allah. Ilmu merupakan jalan menuju ma’rifat.

Dalam pandangan al Ghazali, ilmu tasawuf mengandung dua bagian penting, pertama, mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut muamalah, dan bagian kedua, mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut mukasyafah.

Ilmu mukasyafah menurut al Ghazali hanya sebagai symbol atau isyarat dan semua itu hanya dapat dipahami dengan baik bagi mereka yang telah memasuki dunia tasawuf secara mendalam dan berkesinambungan.

C.    Konsep Ma’rifat al-Ghazali

Dalam bidang tasawuf al-Ghazali membawa faham al-Ma’rifah. Namun faham al-ma’rifahnya ini berbeda dengan al-ma’rifah yang dibawa oleh Zunnun al-Misri, dan karena jasa al-Ghazali lah tasawuf dapat diterima dikalangan ahli syari’at.
Bagi al-Ghazali, ma’rifah ialah mengetahui rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan-Nya, mengenal segala yang ada. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma’rifah tentang Tuhan, atau ‘arif, tidak akan mengatakan kata-kata Ya Allah (يَا اللهُ) atau Ya Rabb (يَا رَبُّ), karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa itu menunjukkan bahwa Tuhan masih berada dibelakang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya dengan kata-kata seperti itu.

Konsep ma’rifat merupakan bagian dari finalitas maqomat seorang sufi. Setelah seorang sufi melewati berbagai maqom mulai dari taubah, wira’i, zuhud, faqru, sabar, tawakal, dan ridho maka sampailah ia pada satu tsamroh atau hasil dari perjalanan kesufian tersebut. Tsamroh itulah yang dalam kitab Ihya’ U’lum al-Din di namakan dengan mahabatullah.

Dalam kitab Ihya ‘Ulum al Din, al Ghazali membagi cinta menjadi empat bagian, yaitu:

  1. Mencintai seseorang karena zat dirinya
  2. Mencintai sesuatu untuk memperoleh benda itu, selain dari bendanya, maka jadilah benda itu wasilah untuk sampai pada yang dicintai yang lain dari pada benda itu sendiri
  3. Mencintai sesuatu, tidaklah dari sesuatu zat itu, tetapi untuk yang lain itu, tidaklah kembali kepada segala bahagianya di akhirat
  4. Mencintai karena Allah dan pada jalan Allah, tidak untuk memperoleh dari padanya ilmu atau pekerjaan untuk dipergunakan menjadi wasilah pada sesuatu hal dibalik orang itu sendiri.

Keterikatan antara ‘mahabbah’ dan makrifat dalam pemikiran sufisme amat erat seolah sepasang kembar yang tak dapat dipisahkan baik subtansi maupun sifat-sifatnya. Dari makrifat lahir mahabbah, cinta. Tiada pengenalan yang tidak melahirkan cinta. Ini berlaku dalam setiap taraf spritual.

Menurut al-Ghazali proses mengenal Allah tidak dapat dilakukan hanya dengan menggunakan akal sebagaimana yang diyakini oleh para kaum filsafat. Al-Ghazali mengatakan bahwa pengenalan Allah dengan dhauq atau perantara intuitif (batini) akan lebih dapat memberikan keyakinan dan ketenangan spiritual dari pada hanya sebatas bersandar dengan akal.

Proses ma’rifat (pengenalan) seseorang kepada Tuhannya untuk mencapai mahabbah berbeda-beda. Al-Ghazali membagi kelompok orang-orang yang sampai pada tingkat ma’rifat dan mahabbah kepada dua tingkatan yaitu pertama tingkatan seseorang yang kuat dalam ma’rifat. Dia adalah seseorang yang menjadikan Tuhan sebagai awal ma’rifatnya dan kemudian dengan ma’rifat itu ia mengenal segala sesuatu yang selain Tuhan. Kedua adalah tingkatan seseorang yang lemah ma’rifatnya. Yaitu seseorang yang bermula dengan mengenal ciptaan Tuhan kemudian dengan ma’rifatnya ia mengenal Tuhan.

Untuk sampai pada mahabbah dan ma’rifat yang sempurna kepada Tuhan tentunya seorang sufi terlebih dahulu harus melewati berbagi maqom dan melewati batas fana’. Fana’ merupakan satu istilah yang menggambarkan seorang sufi yang telah melakukan proses takhalli dan tahalli. Seorang yang mencintai Tuhan akan berusaha bertakhalli atau membersihkan diri dan jiwa dari segala macam sifat yang dibenci oleh Tuhan. Begitu juga sebaliknya setelah seorang sufi melakukan tahkalli (pembersihan) maka ia akan mengisi hidupnya dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Tuhan atau bertahalli.

Menurut al-Ghazali bahwa ma’rifat dan mahabbah adalah setinggi-tingginya tingkat yang dapat dicapai oleh seorang sufi. Pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifat menurutnya lebih bermutu dan lebih tinggi daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Dan kebahagiaan yang sejati menurutnya ditemukan melalui ma’rifah. Ma’rifah atau ilmu sejati bukan di dapat semata-mata melalui akal. Ma’rifah itu sebenarnya adalah mengenal Tuhan (Hadrat Rububiyah), dengan kesenangan hati hanya di dapat setelah diperoleh pengetahuan yang belum diketahui. Ia menyebut ma’rifat bebarengan dengan mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma’rifat. Mahabbah bagi al Ghazali adalah cinta seseorang kepada yangberbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia kehidupan, rezeki, kesenangan dan sebagainya.

Sarana ma’rifat menurut al Ghazali bukan akal, indera atau rasa, tetapi hati. Hati disini adalah percikan rohaniah ketuhanan (Latifah Rabbaniyah) yang merupakan kebenaran hakiki. Menurut al Ghazali, ruh, hati atau jiwa melekat di dalam jasad atau badan. Dalam hal ini jasad sebagai wadah dari ruh dan jiwa sehingga dengan bantuan jasad ruh akan memperoleh bekal hidup keduniaan dan bekal hidup akhiratnya. Ruh atau jiwa adalah esensi kemanusiaan. Adapun badan adalah pembalutnya yang bertugas sebagai alat untuk mencari bekal dan mencari kesempurnaan dalam bentuk aktifitas kehidupan dan amal perbuatan, serta untuk mencari ilmu pengetahuan sebagai dasar kelangsungan hidup. Ruh yang melekat pada tubuh manusia tidak untuk menerima dan mencari penderitaan dan kesengsaraan, tetapi untuk mencari dan menerima keselamatan, kesenangan dan kebahagiaan.

Ruh, hati atau jiwa menurut al Ghazali bersifat Ilahiyah, sehingga cenderung pada kesucian, kebersihan, kebaikan atau kebenaran. Tetapi apabila ruh kalah dengan jasad maka yang terjadi gangguan dalam kehidupan pribadinya. Untuk menjaga kesucian hati menurut al Ghazali upaya yang ditempuh adalah:

  1. Manusia harus memelihara hati atau jiwanya
  2. Manusia harus merawat dan menjaga badan atau jasadnya

Al Ghazali memandang ma’rifat sebagai tujuan akhir yang harus dicapai oleh seorang sufi, yang sekaligus kesempurnaan tertinggi yang didalamnya mengandung kebahagiaan yang tertinggi. Cara untuk memperkuat dan memantapkan ma’rifat akan Allah dalam hati adalah dengan membersihkan hati itu dari kesibukan dunia. Untuk perawatan dan pemeliharaan agar hati itu tetap istiqomah diperlukan dua kesadaran, yaitu:

  1. Kesadaran rasional, kesadaran seperti ini menunjukkan adanya penggunaan dan pengembangan akal sebagai komponen kejiwaan yang dapat membedakan benar dan salah dalam perbuatan. Menurut al Ghazali akal merupakan indera ke enam dan sebagai esensi kemanusiaan
  2. Kesadaran emosional, yang berarti timbulnya perasaan cinta pada Tuhan sebagai pencipta ala mini. Perasaan seperti ini menimbulkan pengorbanan dalam bentuk alam perbuatan yang benar dan yang baik, sesuai dengan kebaikan Tuhan sendiri.

Al-Ghazali lebih lanjut berbicara tentang teori kebahagiaan menurutnya bahwa kebahagiaan itu ada 2 macam, yaitu lezat (kepuasan) dan sa’adah (kebahagiaan). Dengan bertambah banyak yang diketahui, bertambah pula kepuasan dan kebahagiaan, itulah sebabnya orang yang lebih luas ilmunya lebih merasa berbahagia daripada orang yang kurang ilmu

Untuk mencapai sebuah kebahagiaan ada empat wahana :

  1. Keutamaan jiwa
  2. Keutamaan jasmani
  3. Keutamaan luar
  4. Keutamaan bimbingan Allah.

Mengenai konsep zuhud, al Ghazali mendefinisikan zuhud sebagai berpalingnya seorang hamba  menjauhi urusan dunia. Al Ghazali membagi tingkatan zuhud dari segi motivasi yang mendorongnya.

  1. Zuhud yang didorong oleh rasa takut terhadap api neraka dan semacamnya. Zuhud dalam tingkatan ini adalah zuhudnya para orang-orang pengecut
  2. Zuhud yang didorong oleh motif mencari kenikmatan hidup di akhirat. Zuhud dalam tingkatan ini adalah zuhudnya orang-orang yang berpengharapan dan cinta bukan ikatan takut dan ngeri
  3. Zuhud yang didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari memperhatikan apa selain Allah dalam rangka membersihkan diri dari padanya dan menganggap remeh terhadap apa selain Allah. Yaitu zuhudnya para arifin (orang-orang yang mencapai ma’rifah).

Kupasan al Ghazali tentang zuhud ini tidak lepas dari realita kehidupannya pada waktu itu. Al Ghazali juga mengatakan untuk menjaga kesucian hati ada empat tahap yang harus dilewati, yaitu:

  1. Tahap pertama, bersih badan secara lahiriah, seperti bersih dari kotoran, najis atau perkara yang menjijikkan
  2. Tahap kedua, bersih dari semua perbuatan dosa dan kesalahan
  3. Tahap ketiga, bersih hati dari perbuatan yang tercela dan rendah
  4. Tahap keempat, bersih dari syirik, yaitu mengabdikan diri selain Allah.

Kebersihan atau kesucian hati adalah pucuk dari segala ubudiyah mulai dari ajaran syari’at sampai konsep dalam tasawuf, sehingga nantinya terjadi keseimbangan antara syari’at dan tasawuf.

Finalitas dari sebuah mahabbah dan ma’rifat yang sempurna adalah terbukanya hijab dan terjadinya tajalli atau penampakan Tuhan pada makhluknya. Seorang yang telah sampai pada maqom ini akan merasa hidupnya terpenuhi oleh cahaya Tuhan. Bahkan terkadang saat berada dalam kondisi sakran (mabuk) seseorang akan mengeluarkan ucapan-ucapan teopatis atau dalam istilah tasawuf syatotoh. Yang menarik dari konsep ma’rifat al-Ghazali adalah penolakannya pada konsep-konsep tokoh sufi sebelum al-Ghazali seperti Abu Yazid dengan konsep ittihad, al-Hallaj dengan konsep hulul, ibn Arabi dengan konsep wahdah al-wujud.

Menurut al-Ghazali paham tersebut berkecenderungan ke arah ketuhanan yang bercorak panteistis-imanenis yang menggambarkan Tuhan sebagai Dzat yang imanen dalam diri manusia. Al-Ghazali melihat itu semua sebagai paham yang akan merusak konsep tauhid yang menjadi ciri khas dogma teologi dalam Islam.

Dalam bukunya, al-Munqidz, ia melihat rumusan mengenai kedua konsepsi ini sebagai khayalan semata. Katanya, “… sampailah ia ke derajat yang begitu dekat dengan-Nya sehingga ada orang yang mengiranya sebagai hulul, ittihad atau wushul. Semua persepsi itu adalah salah belaka. … barang siapa mengalaminya, hendaklah hanya mengatakan bahwa itu suatu hal yang tak dapat diterangkan, indah, baik, utama, dan jangan lagi bertanya.”

Dengan batasan ini, bisa dilihat bahwa al-Ghazali mempertahankan keyakinan mengenai Tuhan sebagai Dzat yang transenden. Artinya Tuhan adalah Dzat yang mengatasi dan berbeda dengan manusia : Ada perbedaan mendasar antara Tuhan dan makhluk (manusia) secara jelas dalam pandangan al-Ghazali.

Akan tetapi penolakan al-Ghazali terhadap hulul dan ittihad di atas tidak otomatis merupakan penolakannya pada pengalaman orang-orang yang telah mencapai maqom ma’rifat. Bagi al-Ghazali, pengalaman itu benar adanya. Kaum `arifun, setelah pendakiannya ke langit hakekat, sepakat bahwa mereka tak lagi melihat dalam wujud ini kecuali Tuhan.

Akhir kata, apa yang telah diupayakan Al-Ghazali dengan rumusan tasawufnya telah menandai satu titik puncaknya dengan keberhasilan gemilang yang telah diraihnya-selain Al-Qusyairi dan Al-Hawari-karena telah mengembalikan tasawuf pada landasan Al Quran dan hadits. Selain itu, Al-Ghazali juga telah menawarkan teori tasawuf baru (ma`rifat) sebagai pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya yang mana itu telah mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya, sehingga Al-Ghazali dikatakan seorang sufi yang bisa meredam perseteruan yang tidak harmonis antara ilmu kalam, fiqih, dan filsafat. Konsep tasawuf al-Ghazali yang moderat dan lebih condong ke tasawuf amali ini banyak umat Islam terpengaruh olehnya seluruh dunia.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

HADITS AHAD


HADITS AHAD

(KAJIAN STUDI PEMBAGIAN HADITS MENURUT JUMLAH PEROWINYA)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Pengertian Hadits Ahad.

Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua,atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits ahad dikategorikan sebagai hadits zhanny as-tsubut. Hadits ahad mempunyai sisi gelap yang memungkinkannya untuk ditolak atau diabaikan dan tidak diamalkan.

Kata ahad berarti “satu”. Khabar al-Wāhid adalah kabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan menurut istilah Ilmu Hadis, Hadis Ahad berarti :

هو ما لم يجمع شروط المتواتر.

Hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir”.

’Ajjaj al-Khathib, yang membagi hadis berdasarkan jumlah perawinya kepada tiga, bahwa ia mengatakan defenisi Hadis Ahad sebagai berikut:

هو ما رواه الواحد أ و اﻹ ثنان فاكثر مما لم تتوفو فيه شروط المشهور أو المتواتر.

Hadis Ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, dua atau lebih, selama tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Masyhur atau Hadis Mutawatir”.

Dari definisi ‘Ajjaj al-Khathib di atas dapat dipahami bahwa Hadis Ahad adalah hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada Hadis Mutawatir ataupun Hadis Masyhur.

B.       Klasifikasi Hadits Ahad

Jumlah rawi-rawi dalam thabaqat (lapisan) pertama, kedua, atau ketiga dan seterusnya pada hadits Ahad itu, mungkin terdiri dari tiga orang atau lebih, dua orang atau seorang. Para Muhadditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits Ahad mengingat banyak-sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqat dengan Hadits Masyhur, Hadits ‘Aziz, dan Hadits Gharib.

1.         Hadits Masyhur

Yang dimaksud dengan hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.

Menurut ulama fiqhi, Hadits Masyhur itu adalah muradlif dengan Hadits-Mustafid. Sedang ulama yang lain membedakannya. Yakni, suatu hadits dikatakan dengan mustafid bila jumlah rawi-rawinya tiga orang atau lebih sedikit, sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir. Sedang Hadits Masyhur lebih umum daripada Hadits Mustafid. Yakni jumlah rawi-rawi dalam setiap thabaqah tidak harus selalu sama banyaknya, atau seimbang. Dalam Hadits Masyhur, bisa terjadi jumlah rawi-rawinya dalam thabaqah pertama, sahabat, thabaqah kedua, tabi’iy, thabaqah ketiga, tabi’it-tabi’in, dan thabaqah keempat, orang-orang setelah tabi’it-tabi’in, terdiri dari seorang saja, baru kemudian jumlah rawi-rawi dalam thabaqah kelima dan seterusnya banyak sekali.

Macam-macam Hadits Masyhur

Istilah Masyhur yang diterapkan pada suatu hadits, kadang-kadang bukan untuk memberikan sifat-sifat hadits, yakni banyaknya rawi yang meriwayatkan suatu hadits, tetapi diterapkan juga untuk memberikan sifat suatu hadits yang mempunyai ketenaran di kalangan para ahli ilmu tertentu atau di kalangan masyarakat ramai. Sehingga dengan demikian ada suatu hadits yang rawi-rawnya kurang dari tiga orang, bahkan ada hadits yang tidak berasal (bersanad) sama sekalipun, dapat dikatakan dengan Hadits Masyhur.

Dari segi ini, maka Hadits Masyhur itu terbagi kepada:

1)        Masyhur di kalangan para Muhadditsin dan lainnya (golongan ulama ahli ilmu dan orang umum).

2)        Masyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya masyhur di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqhi saja, atau ahli tasawuf saja, atau ahli nahwu saja, atau lain sebagainya.

3)        Masyhur di kalangan orang-orang umum saja.

2.         Hadits ‘Aziz

Hadits ‘Aziz itu ialah Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqah saja, kemudian setelah itu, orang-orang pada meriwayatkannya.

Menurut pengertian tersebut, yang dikatakan hadits ‘Aziz itu, bukan saja yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqah, yakni sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir harus terdiri dari dua-dua orang, sebagaimana yang di ta’rifkan oleh sebagian Muhadditsin, tetapi selagi pada salah satu thabaqahnya (lapisannya) saja, di dapati dua orang rawi, sudah bisa dikatakan hadits ‘Aziz.

Dengan demikian, hadits ‘Aziz itu dapat berpadu dengan hadits masyhur, seumpama ada dua hadits yang rawi-rawinya pada salah satu thabaqah terdiri dari dari dua orang, sedang pada thabaqah yang lain, terdiri dari rawi-rawi yang banyak jumlahnya.

 3.         Hadits Gharib

Yang dimaksud Hadits Gharib ialah Hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyindirian dalam sanad itu terjadi.

Penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadits itu, dapat mengenai personalianya, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan selain rawi itu sendiri. Juga dapat mengenai sifat atau keadaan rawi tersebut. Artinya sifat atau keadaan rawi tersebut berbeda dengan sifat dan keadaan rawi-rawi lain yang juga meriwayatkan hadits tersebut.

Ditinjau dari segi bentuk penyendirian rawi, maka hadits gharib itu terbagi kepada dua macam. Yaitu Gharib-mutlak dan Gharib-nisbi.

Gharib-Mutlak (Fard)

Apabila penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadits itu mengenai personalianya, maka hadits yang diriwayatkan disebut Gharib-mutlak. Penyendirian rawi hadits gharib-mutlak ini harus berpangkal ditempat ashlu’s-sanad (pangkal pulang dan kembalinya sanad) yakni tabi’iy, bukan sahabat. Sebab yang menjadi tujuan penyendirian rawi dalam hadits-gharib disini, ialah untuk menetapkan apakah masih bisa diterima periwayatannya atau ditolak sama sekali. Sedangkan jika yang menyendiri itu orang sahabat, sudah tidak perlu diperbincangkan lagi, karena sudah diakui oleh umum bahwa sahabat-sahabat itu adalah adil semuanya.

Penyendirian rawi dalam hadist-Gharib-mutlak itu, dapat terjadi pada tabi’iy saja (ashlus’s-sanad), atau pada tabi’it-tabi’in atau dapat juga pada seluruh rawi-rawinya di setiap thabaqah.

Gharib-Nisby

Apabila penyendirian itu mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rawi, maka hadits yang diriwayatkannya disebut dengan Hadits Gharib-Nisby.

 

C.      KedudukanHaditsAhad

Bila hadits mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian halnya dengan hadits ahad. Hadits ahad tidak pasti berasal dari Rasulullah SAW, tetapi diduga (zanni) berasal dari beliau. Dengan ungkapan lain bahwa hadits ahad mungkin benar berasal dari beliau.

Karena hadits ahad itu tidak pasti (ghairuqat’Iataughairumaqtu’), tetapi diduga (zanni) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadits ahad, sebagai sumber atau sumber ajaran islam, berada di bawah kedudukan hadits mutawatir. Ini berarti bahwa bila suatu hadits, yang termasuk kelompok hadits ahad bertentangan isinya dengan hadits mutawatir’ maka hadits tersebut ditolak, dan dipandang sebagai hadits yang tidak berasal dari Rasulullah SAW.

Bila diperinci lebih lanjut, kedudukan hadits-hadits ahad itu berbeda-beda, sejalan dengan taraf dugaan atau taraf kemungkinannya berasal dari Rasulullah SAW. Sebagian hadits-hadits tersebut lebih tinggi kedudukannya dari sebagian hadits yang lain, kendati semuanya sama-sama termasuk hadits ahad. Hadits ahad itu ada yang dinilai shahih ada yang dinilai hasan dan ada pula yang dinilai dha’if. Kedudukan hadits shahih lebih tinggi daripada hasan dan kedudukan hadits hasan lebihtinggi daripada hadits da’if.

Para imam berbeda pendapat kedudukan hadits ahad ini. Menurut  Imam Hanafi (Abu Hanifah), jika rawinya orang-orang yang adil maka hanya dapat dijadikan hujjah pada bidang amaliyah, bukan pada bidang akidah dan ilmiah. Imam Malik berpendapat hadits ini dapat dipakai menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an dan harus didahulukan dari qias zhonni (tidak pasti).

Imam syafi’i menegaskan, hadits ini dapat dijadikan hujjah jika rawinya memiliki empat syarat:

  1. Berakal
  2. Dhobit (yakni memiliki ingatan dan hafalan yang sempurna serta mampu menyampaikan hafalan itu kapan saja dikehendaki)
  3. Serta mendengar langsung dari Nabi Muhammad Saw; dan
  4. Tidak menyalahi pendapat ulama hadits.

 

D.      Pembagian-PembagianHadits Ahaddari Segi Maqbuldan Mardud

Hadits yang diperiksa; diselidiki, dibahas dan dibicarakan oleh segenap ahli hadits yang mu’tabar, ialah: “Hadits-hadits yang diterima dari orang seseorang, atau orang ramai , tapi tak sampai kederajat mutawatir..

Akan tetapi, karena pada tiap-tiap bagian yang telah diterangkan, ada yang shahih, ada yang dla’if, kembalilah mereka membagi hadits Ahad itu mengingat shahih tidaknya, kepada 2 bagian besar pula, yaitu:Maqbul (yang diterima) danMardud (yang di tolak dan tak dapat diterima).

Hadits Maqbul

Maqbul pada lughat, ialah : “Ma’khudz = yang diambil, mushaddaq = yang dibenarkan (yang diterima)”.Pada ‘uruf ahli Hadits, sebagai yang diterangkan oleh Al Hafidh ibn Hajar Al Asqalani didalam kitab An Nakhbah, ialah:

ماَ دَلّ دَلِيْلٌ عَلَى رَجَحَانِ ثُبُوْ تِهِ

“Yang ditunjuki oleh sesuatu keterangan, bahwa Nabi s.a.w ada penyabdakannya. (Yakni adanya, lebih berat dari tidak adanya)”.

 

مَا تَوَا فَرَتْ فِيْهِ شُرُوْطُ القَبُوْلِ

“Yang sempurna padanya, syarat-syarat menerimanya”.

 Segala hadits maqbul itu, wajib diterima. Demikian pendapat jumhur ulama. Dan hadits maqbul itu dibagi kepada:

  1. Shahih li dzatihi = shahih dengan sendirinya.
  2. Shahih lighairihi = shahih karena selainnya.
  3. Hasan lid dzatihi = hasan dengan sendirinya.
  4. Hasan lighairihi = hasan karena selainnya.

Hadits maqbul dibagi menjadi dua:

  1. Ma’mul bihi (yang diamalkan) dipergunakan untuk menegakkan sesuatu hukum.
  2. Ghairu Ma’mul bihi (yang tidak diamalkan) tiada dapat dipergunakan untuk menjadi hujjah bagi sesuatu hukum Syara’.

Yang diamalkan, dinamakan: Ma’mul bihi (Ma’khudz bihi). Yang tidak diamalkan, dinamakan: Ghairu Ma’mul bihi (Ghairu Ma’khudz bihi).

Hadits-hadits yang diamalkan.

Hadits-hadits yang diamalkan, ialah:

1)        Segala Hadits muhkam.

2)        Segala Hadits Mukhtalif yang mungkin dikumpulkan dengan mudah.

3)        Segala Hadits yang Nasikh.

4)        Segala Hadits yang Rajih.

Hadits-hadits yang tiada diamalkan, ialah:

1)        Hadits mutawaqqaf fihi (Hadits yang berlawanan dengan yang lain yang tak dapat ditarjihkan dan tidak dapat diketahui mana yang terdahulu dan mana yang kemudian).

2)        Hadits Marjuh (hadits yang dilawani oleh yang lebih kuat dari padanya).

3)        Hadits Mansukh (hadits yang telah dihapuskan hukumnya).  *)Segala اpa hadits ini diterangkan  ditempatnya masing-masing.

Hadits Mardud

Mardud pada lughat, ialah: “Yang ditolak, yang tidak diterima”.Pada ‘Uruf ulama hadits, ialah:

مَالَمْ يَدُلُّ دَلِيْلُ عَلَى رَجَحَانِ ثُبُوْتِهِ, وَلَاعَدَمِ ثُبُوْتِهِ, بَلْ يَتَسَاوَى اْلأَمْرَانِ فِيْهِ

“Hadits yang tiada ditunjuki oleh sesuatu keterangan kepada berat adanya dan tiada ditunjuki kepada berat ketiadaannya. Adanya dengan tiadanya bersamaan.”

 

مَالَمْ تُوْجَدُفِيْهِ صِفَةُ الْقَبُوْل

ِ“Yang tiada didapati padanya, sifat menerimanya”.

 Tegasnya, segala hadits dla’if yang berbagai macam namanya; (yang akan kami perkatakan satu persatunya).

Dengan keterangan yang amat ringkas ini, telah dapat kita mengambil kesimpulan, bahwa hadits yang boleh diterima, tak boleh ditolak, ialah: hadits Maqbul atau hadits Shahih dan Hadits hasan yang Ma’mul Bihi. Selain dari pada itu, tak dapat diterima untuk dijadikan hujjah untuk mmenetapkan hukum murni ini.

E.       Penerimaan dan Penolakan Hadits Ahad

Keterikatan orang Islam terhadap informasi hadits ahad tergantungpada kualitas periwayatnya dan kualitas persambungan sanadnya. Bila sanad hadits itu tidak bersambung, atau periwayatnya tidak dapat  dipercaya kendati sanadnya bersambung maka hadits itu tidak dapat mengikat orang Islam untuk mempergunakannya sebagai dasar beramal. Sebaliknya, bila sanadnya bersambung dan kualitas periwayatnya bagus maka menurut Jumhur, hadits itu harus dijadikan dasar. Hanya saja, sebagian besar ulama berkesimpulan bahwa hadits Ahad itu melahirkan ‘ilmu zhann, bukan ‘ilmu yaqin. Sungguhpun hadits ini mendatangkan ‘ilmu zhann, tetapi bila ia merupakan zhann yang rajih, maka mengikat orang Islam untuk mengamalkannya. Tentu, yang dimaksud hadits Ahad yang dijadikan dasar beramal adalah yang memenuhi syarat, yang dikenal sebagai hadits shahih, setidak-tidaknya hasan.

Fungsi operasional hadits ahad dapat dibagi menjadi dua kelompok; pertama kelompok yang menolak mengamalkan hadits ahad. Termasuk kelompok ini adalah al-Qashani, sebagian ulama Zhahiriyah dan Ibnu Daud.Kedua, mereka yang memperbolehkan, kalau bukan justru mewajibkan, pengamalan hadits ahad  yang sudah digolongkan pada hadits sahih dan hasan. Sebab kalau sudah ditentukan kesahihannya, sekalipun telah bersifat zhanny at-tsubut, pastilah hadits tersebut datang dari Nabi Muhammad SAW, dan setiap sesuatu yang datang dari beliau pasti merupakan syariat dan syariat wajib yang diamalkan oleh umat Islam. Termasuk dalam kelompok ini adalah semua sahabat, tabi’in, dan tabiu at-tabi’in seta para imam agama yang mujtahidin. Jika ada ulama yang tidak mengamalkan hadits ahad, menurut Jumhur, hanyalah mereka yang tidak meyakini kesahihannya, bukan menolak hadits ahad.

Perbedaan tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Lokus operasional hadits ahad pada aspek keislaman
  2. Lokus operasional hadits hanya sekitar furu’iyah, tidak dalam masalah i’tiqadiyah karena keyakinan harus berdasarkan pada dalil yang qath’iy, sedang hadits ahad bersifat zanniy. (qath’iy : pasti, zanniy : tidak pasti).
  3. Lokus operasionalhadits ahad bukan pada nasikh al-ayat karena yang zhanny tidak bisa menasakh yang qath’iy. Diantara ulama yang berpandangan demikian ialah Imam as-Syafi’i memberbolehkannya.
  4. Lokus operasional hadits ahad bukan pada takhshish al-ayat yang kandungan maknanya ‘amm (umum). Termasuk dalam kelompok ini menurut Ibnu Burhan dan al-Qaththan, al az-zhahir (pengikut Daud bin Ali) dan sebagian-sebagian lagi ulama Irak.
  5. Lokus operasional hadits ahad bukan pada masalah yang hanya menyangkut masalah duniawi karena ada sabda nabi yang menyatakan bahwa: “Kamu semua lebih mengetahui masalah dunia kalian.” (H.R. Muslim).

Ulama juga berpendapat mengenai syarat-syarat pengamalan hadits ahad. Perbedaan tersebut adalah:

  1. Abu Hanifah memeberikan syarat-syarat:
    1. Para perawinya tidak menyalahi riwayatnya
    2. Riwayatnya tidak mengenai hal-hal yang bersifat umum,
    3. Riwayatnya tidak menyalahi qiyas
    4. Malikiyah memberikan syarat bahwa hadits ahad yang diamalkan tidak bertentangan dengan ‘uruf ulama (tradisi ulama) Madinah karena amalan-amalan mereka sama dengan riwayatnya.
    5. As-Syafi’i tidak mensyaratkan ke-mashyur-annya, tidak bertentangan dengan amalan ulama Madinah dan juga tidak mensyaratkan agar tidak menyalahi qiyas. Ia hanya memberikan syarat kesahihan sanad hadits yang ittishal (sambung sanadnya).

Karena adanya perbedaan dalam beberapa hal tersebut diatas, sebagian ulama Hanafiyah tidak mengkafirkan orang yang mengingkari hadits ahad, akan tetapi hanya dihukumi berdosa.

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh Musthafa Al-Sib’ai bahwa hadits ahad diperlukan sebagai dasar syariat Islam.Antara lain:

  1. Diriwayatkanoleh Imam Malik dari Ishaq Ibn Abi Thalhah dari Anas Ibn Malik yang mengatakan, ”Aku pernah memberi Abu Thalhah, Abu ‘Ubaidah Ibn Al-Jarrah dan Ubai Ibn Ka’b minuman dari perasan anggur dan kurma.” Kemudian seseorang datang dan berkata. “sesungguhnya khamar itu telah diharamkan.” Maka Abu Thalhah berkata, ”hai Anas, buanglah dan ambil botol itu dan pecahkanlah!.” Kemudian minuman itu dibuang dan botolpun dipecahkan.  Sebelum datang larangan ini, masyarakat memahami bahwa minuman keras itu boleh diminum. Beberapa orang yang disebut di dalam riwayat ini termasuk berpengetahuan seperti ini. Kedatangan seseorang dengan sebuah berita membuat mereka mempercayai berita tersebut, kendati diriwayatkan secara ahad.
  2. Hukuman potong tangan dapat dijatuhkan kepada pencuri yang mencuri harta genap satu nishab apabila dipersaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi terpercaya. Kesaksian dua orang saksi juga menggambarkan bahwa sebenarnya riwayat (kesaksian) mereka termasuk berita ahad juga.

F.       Contoh-Contoh HaditsAhad

Dari Shahih Bukhariyaitu sebuah hadits ahad dan gharib.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yangakan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan”. [Muttafaqun ‘alaih].

Hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal, tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib, karena tidak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshari. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi, bahkan mungkin ratusan. Awalnya mutawatir, akhirnya ahad dan gharib. Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama.

Hadits inidiriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini,selain ahadjuga gharib, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, ‘Iman itu ada enam puluh cabang lebih dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman”.

Hadits ini menjelaskan tentang cabang keimanan. Yakni, iman itu mempunyai enam puluh cabang lebih. Dan di riwayat Imam Muslim,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman itu tujuhpuluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan salah satu cabang iman”.

 

Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, hukum, akhlak dan adab, seperti menghilangkan gangguan dari jalan. Padahal ini merupakan hadits ahad dan gharib. Jikalau kita menerima kaidah mereka (Hizbut Tahrir), maka tertolaklah hadits ini, karena tidak diriwayatkan secara mutawatir.

Diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

SesungguhnyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak akan beriman (sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya”.

Dan hadits nomor 15, dari jalan Anas:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

RasulullahShallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, ‘Tidak akan beriman (tidak akan sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya dan semua orang”.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tiga hal, jika ketiganya terkumpul pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; (yaitu) Allah dan Rasulnya lebih dicintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilempar kedalam api neraka”.

Hadits ini juga berbicara tentang cinta kepada Allah, RasulNya dan juga keimanan. Bahwa iman itu punya rasa. Demikian ini adalah masalah aqidah.

Hadits nomor 32, dari jalan Abdullah bin Mas’ud.

قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika turun firman Allah (yang artinya) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’am 82), para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Siapakah diantara kita yang tidak berbuat zhalim ?’ lalu Allah menurunkan firmanNya (yang artinya), sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar

Ketika ayat Al An’am 82 diturunkan, para sahabat merasa susah dan berat. Mereka mengatakan, siapakah diantara kita yang tidak menzhalimi dirinya? Maka Rasulullah n menjelaskan kepada mereka, bahwa bukan itu yang dimaksud; tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya? Jadi zhulm (kezhaliman) disini, maksudnya adalah syirik. Ini juga berbicara tentang aqidah, antara tauhid dan syirik.

Hadits no. 39, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

Sesungguhnya agama itu adalah mudah

Ini juga berbicara tentang aqidah, bahkan berbicara tentang agama ini secara keseluruhan. Bahwa ajaran Islam, pengamalan dan dakwahnya adalah mudah. Apakah ini tidak berbicara aqidah? Hadits ini berbicara tentang Islam, dan tentunya kaffah. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).

Hadits yang masyhur dan telah diterima oleh para ulama.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

Sesungguhnyamantera-mantera (yang bathil), jimat dan pelet termasuk bagian syirik”.

 

Tentunya mantera-mantera yang dimaksudkan disini adalah mantera yang bathil. Karena ruqyah (pengobatan dengan bacaan) itu ada dua, ada yang syar’i dan yang tidak syar’i.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT