Category Archives: Metodologi Penelitian

BACK UNDERSTANDING OF PENELITIAN DESKRIPTIF


BACK UNDERSTANDING OF PENELITIAN DESKRIPTIF

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Penelitian pada hakekatnya adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian terdiri dari fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah penelitian dapat timbul karena adanya kesulitan yang mengganggu kehidupan manusia atau semata-mata karena dorongan ingin tahu sebagai sifat naluri manusia.

Baik untuk masalah penelitian yang timbul karena adanya kesulitan yang dihadapi manusia maupun karena ingin tahu, diperlukan jawaban yang dapat diandalkan berdasarkan pengetahuan yang benar. Kebenaran yang dipegang teguh dalam penelitian adalah kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang bersifat relatif atau nisbi, bukan kebenaran yang sempurna dan bersifat mutlak. Penelitian berusaha memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran ilmiah yang lebih sempurna dari pengetahuan sebelumnya, yang kesalahannya lebih kecil daripada pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya.

Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para peneliti dan ilmuwan dalam ilmunya masing-masing. Secara akumulatif, pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang. Di samping itu, Tanzeh mengemukakan, “hasil penelitian juga memungkinkan menjadi metode yang lebih baik dalam memecahkan, menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah praktis yang dihadapi manusia dalam hidupnya.” Maka dari itu, hendaklah setiap akademisi yang merupakan kiblat dari pengembangan ilmu pengetahuan atau pendidikan, mengadakan penelitian dalam diskursus ilmunya masing-masing.

Salah satu cabang penelitian jika dibagi menurut tujuannya yaitu penelitian deskriptif. Penelitian ini terdapat dalam pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian ini mempunyai tujuan dan orientasi yang berbeda dengan penelitian-penelitian lainnya. Penelitian ini juga biasa digunakan dalam skripsi, tesis atau bahkan disertasi. Sehingga penelitian ini penting untuk diketahui oleh mahasiswa, baik strata satu, strata dua, maupun program doktoral.

Agar mengenal lebih jauh mengenai penelitian deskriptif ini, maka penulis akan menyusun sebuah tulisan yang berjudul “Penelitian Deskriptif ” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada.

B.     Penelitian Deskriptif

Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Whitney berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Penelitian deskriptif, menurut Sudjana adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang. Sedangkan menurut Wasito, adalah penelitian yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya, sehingga hanya terbatas pada mengungkapkan fakta.

Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara komponen yang diselidiki. Secara lebih rinci, tujuan dari penelitian deskriptif adalah sebagai berikut:

  1. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada.
  2. Mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan fenomena
  3. Dalam penelitian ini tidak dilakukan manipulasi, hanya menggambarkan suatu kondisi apa adanya
  4. Metode deskriptif lebih luas dari survai (survai merupakan bagian dari deskriptif.)

Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai berikut:

  1. Kriteria umum
    1. Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
    2. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum
    3. Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
    4. Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
    5. Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
    6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan.
  2. Kriteria Khusus
    1. Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
    2. Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status
    3. Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

C.     Langkah-Langkah Pelaksanaan Penelitian Deskriptif

Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut:

  1. Perumusan masalah: Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
  2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah.
  3. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
  4. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit. Hal ini berlaku khusus bagi penelitian yang bersifat kuantitatif.
  5. Menentukan jenis informasi yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan informasi apa yang diperlukan untuk menjawab masalah atau pertanyaan yang telah dirumuskan di atas.
  6. Menentukan prosedur pengumpulan data. Setelah informasi yang diperlukan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menentukan cara pengumpulan data. Dalam hal ini diperlukan instrumen pengumpulan data yang tepat untuk mengumpulkan data, sehingga data yang dikumpulkan dapat tepat sasaran dan tidak salah.
  7. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
  8. Menentukan prosedur pengolahan data yang tepat. Untuk yang menggunakan pendekatan kuantitatif dapat ditempuh dengan membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan. Sedangkan untuk yang kualitatif dapat dimulai dengan mengumpulkan data yang mempunyai fokus yang sama lalu dilanjutkan dengan memberi kode.
  9. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
  10. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
  11. Menarik kesimpulan penelitian sebagai hasil dari penelitian.

Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverivikasikan, untuk penelitian kuantitatif. Sedangkan untuk penelitian kualitatif juga dirumuskan kerangka teori dan paradigma penelitian sebagai alur penelitian dan pijakan persepsi seorang peneliti.

D.     Jenis-Jenis Penelitian Deskriptif

Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

  1. Penelitian survei, Digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang suatu populasi dengan menggunakan sampel. Penelitian ini mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1) Informasi diperoleh dari sampel (bukan populasi), 2) Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan (lisan, tertulis), 3) Informasi dikumpulkan untuk mendeskripsikan aspek tertentu. Survei yang dilakukan tentunya juga dalam bidang pendidikan dan manfaatnya adalah untuk pemecahan masalah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijakan pendidikan, bukan untuk pengembangan ilmu pendidikan Islam. Oleh sebab itu, survei tidak menguji hipotesis.
  2. Penelitian studi tindak lanjut, penelitian jenis ni dilakukan dengan mempelajari perkembangan dan perubahan subjek setelah subjek sampel diberikan perlakuan khusus atau kondisi tertentu dalam kurun waktu tertentu sampai selesai.
  3. Penelitian studi kasus. Penelitian ini pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami kasus tertentu, misalnya mempelajari anak nakal, anak yang mengalami kekerasan atau anak yang berprestasi rendah dan lain sebagainya.
  4. Penelitian pengembangan, penelitian ini mempelajari karakteristik individu dan bagaimana karakteristik itu berubah dalam pertumbuhannya. Karakteristik individu mencakup segi-segi intelektual, emosional sosial dan kepribadian individu.
  5. Penelitian tindakan (action research): merupakan suatu pencarian sistematik yang dilaksanakan oleh pelaksana program dalam kegiatannya sendiri. Tujuannya adalah melakukan kegiatan penyempurnaan / perbaikan dari kegiatan yang sudah ada.Menggabungkan kegiatan penelitian dengan penggunaan hasil penelitian secara timbal balik sehingga membentuk spiral
  6. Peneltian perpustakaan dan dokumenter. Penelitian ini bersifat litered yang mengandalkan data dari berbagai referensi yang ada, baik dari buku-buku maupun akses internet.
  7. Penelitian kecenderungan; pada dasarnya meramalkan keadaan masa depan berdasarkan keadaan, gejala, data yang ada pada masa sekarang. Keadaan masa sekarang dapat diperoleh dari penelitian jenis lain, misalnya dengan survey atau studi kasus. Prediksi masa depan tersebut bisa dalam waktu jangka panjang atau bisa dalam waktu jangka pendek.
  8. Penelitian korelatif yaitu penelitian yang mencari hubungan timbal balik berdasarkan pendekatan yang dilakukan dengan mengambil dan mengemukakan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi. Penelitian ini digunakan karena berbagai alasan, pertama ingin mendiskripsikan terlebih dahulu situasi dan kondisi yang terjadi di lokasi penelitian, kedua ingin mencari pengaruh variabel-variabel yang ada dalam judul tersebut.

Jenis penelitian deskriptif cukup beragam, dan mencakup penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Maka sebagai seorang peneliti, hendaknya para mahasiswa atau dosen mengetahui hal itu semua.

Referensi

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:Rineka Cipta, 2006.

Kamarga, Hansiswany, Metode Penelitian Dalam Kurikulum Dan Pembelajaran, Makalah tidak dipublikasikan.

Nazir, Muh., Metodologi Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.

Sudjana, Nana, Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009.

Tanzeh, Ahmad, Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian, Surabaya: eLKAF, 2006.

Wasito, Hermawan, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1992.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

MEMAHAMI PENELITIAN KUANTITATIF


MEMAHAMI PENELITIAN KUANTITATIF

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Pengantar

Dalam kajian pendidikan dan penelitian khususnya terdapat dua macam penelitian, selain penelitian kualitatif yang bersifat alamiah yang memiliki ciri khas dan metode tersendiri. Terdapat pula penelitian kuantitatif yang bersifat ilmiah. Penelitian kuantitafif adalah salah satu model penelitian yang paling banyak diterapkan atau dipakai oleh kalangan mahasiswa maupun akademisi dan praktisi pendidikan guan meneliti permasalahan social atau suatu yang menarik dikaji dalam kaitannya dengan bidang pendidikan.

Biasanya sebagai peneliti yang sering kita jumpai, kalau mereka memang memiliki basic unggul dalam ilmu eksakta yang khususnya ilmu matematika. Maka mereka lebih cenderung untuk memiliki penelitian kuantitatif. Dalam artian seseorang yang terbiasa bergelut dengan angka angka dan rumus-rumus matematik, mereka akan memilih penelitian ini. Karena penelitian kuantitatif melibatkan pengukuran angka-angka dengan menggunakan metode statistic.

Enegenai penting dan sangat banyaknya penggunaan metode penelitian ini. Maka penulis merasa perlu guna menjelaskan bagaimana dan seperti apa ruang lingkup penelitian kuantitatif ini. Yang nantinya akan mengarahka kita untuk lebih cakap dan bahkan profesional, kaitannya dalam penggalian keilmuan yang khususnya dalam penelitian pendidikan Islam.

B.     Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam  riset-riset ilmu sosial.

Selanjutnya Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.

Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Istilah penelitian kuantitatif sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk membedakannya dengan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif secara luas didefinisikan sebagai pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka.

Dalam penelitian Kuantitatif ini menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

C.    Karakteristik Penelitian Kuantitatif

Di dalam penelitian Kuantitatif ini memiliki ciri-ciri khusus atau karakteristik tersendiri yang tentunya berbeda dengan penelitian yang lain diantaranya :

1. Desain ; a. spesifik, jelas, rinci b. ditentukan secara mantap sejak awal, c.   menjadi pegangan langkah demi langkah.

2. Tujuan : a. menunjukkan hubungan antar variabel, b. menguji teori, c. mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif.

3. Teknik Pengumpulan data : kuesioner, observasi dan wawancara terstruktur.

4. Instrumen Penelitian : test, angket, wawancara terstruktur dan instrument yang telah terstandar.

5. Data : kuantitatif ( angk-angka ), hasil pengukuran variabel yang dioperassikan dengan menggunakan instrument.

6. Sampel : besar, representative, sedapat mungkin random dan sudah ditentukan sejak awal.

7. Analisis : dilakukan setelah selesai pengumpulan data, deduktif dan menggunakan statistic untuk menguji hipotesis.

8. Hubungan dengan responden : dibuat berjarak bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif, kedudukan peneliti lebih tinggi dari pada responden.

9. Kepercayaan terhadap hasil penelitian dengan pengujian validitas dan reliabilitas instrument.

D.    Paradigma Penelitian Kuantitatif

– Menganjurkan pemakaian metode-metode kuantitatif.

– Bersandar pada positivisme logika; mencari fakta-fakta dan sebab-sebab dari gejala sosial dengan mengesampingkan keadaan individu-individu.

– Pengamatan ditandasi pengukuran yang dikendalikan dan blak-blakan (obtrusive)

– Bersifat obyektif

– Jauh dari data; bertolak dari sudut pandangan dari “luar”

– Penelitian bersifat tidak mendasar (ungrouned), ditujukan pada pengujian (verification-oriented), menekankan penegasan (confirmatory), reduksionis, inferensial, deduktif-hipotetik.

– Berorientasi pada hasil

– Reliabel; data ‘keras’ dan dapat diulang

– Dapat digeneralisasikan; studi atas banyak kasus

– Bersifat partikularistik

– Mengasumsikan adanya realitas yang stabil.

Sedangkan mengenai paradigma yang dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antar variable yang akan diteliti yang khusus terdapat pada penelitian survey terangkum sebagai berikut :

  1. Paradigma sederhana
  2. Paradigma sederhana berurutan
  3. Paradigma ganda dengan dua variabel Independen
  4. Paradigma ganda dengan tiga variabel Independen
  5. Paradigma ganda dengan dua variabel Dependen
  6. Paradigma ganda dengan dua variabel Independen dan dua variabel Dependen
  7. Paradigma jalur.
  8. E.     Macam-macam Penelitian Kuantitatif

1. Penelitian Survei

2. Penelitian Eksperimen

3. Penelitian Exposfacto

4. Penelitian Korelasional

5. Penelitian Komparatif

F.     Perbedaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif

Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang  kemudian menghasilkan data kuantitatif.

Menurut sifat dari suatu penelitian pendidikan, dalam penelitian kuantitatif penelitiannya bersifat ilmiah dan sedangkan pada penelitian kualitatif penelitiannya bersifat alamiah.Berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus, penelitian kuantitatif bermuara pada survey. Richard dan Cook seperti yang dikutip dalam bukunya Abdullah Fajar, beliau mengemukakan perbedaan antara paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut :

PARADIGMA KUALITATIF

PARADIGMA KUANTITATIF

Menganjurkan pemakaian metode kualitatif

Bersandar pada fenomenologisme dan verstehen; perhatian tertuju pada pemahaman tingkah laku manusia dari sudut pandangan pelaku itu sendiri.

Pengamatan berlangsung secara alamiah (naturalistic) dan tidak dikendalikan (uncontrolled)

Bersifat subyektif

Dekat dengan data; bertolak dari perspektif dari “dalam” individu atau masyarakat yang diteliti.

Penelitian bersifat mendasar (grouned), ditujukan pada penemuan (discovery-oriented), menekankan pada perluasan (expansionist), bersifat deskriptif, dan induktif.

Berorientasi pada proses

Valid; data bersifat ‘mendalam’, ‘kaya’, dan ‘nyata.

Tidak dapat digeneralisasikan; studi di atas kasus tunggal

Bersifat holistic

Mengasumsikan adanya realitas yang bersifat dinamik

Menganjurkan pemakaian metode-metode kuantitatif.

Bersandar pada positivisme logika; mencari fakta-fakta dan sebab-sebab dari gejala sosial dengan mengesampingkan keadaan individu-individu.

Pengamatan ditandasi pengukuran yang dikendalikan dan blak-blakan (obtrusive)

Bersifat obyektif

Jauh dari data; bertolak dari sudut pandangan dari “luar”

Penelitian bersifat tidak mendasar (ungrouned), ditujukan pada pengujian (verification-oriented), menekankan penegasan (confirmatory), reduksionis, inferensial, deduktif-hipotetik.

Berorientasi pada hasil

Reliabel; data ‘keras’ dan dapat diulang

Dapat digeneralisasikan; studi atas banyak kasus

Bersifat partikularistik

Mengasumsikan adanya realitas yang stabil

G.    Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dalam Penelitian Kuantitatif

Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur variabel yang kita teliti sebelumnya harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Bila  instrumen/alat ukur tersebut tidak valid maupun reliabel, maka tidak akan diperoleh hasil penelitian yang baik.Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat  pengukur betul-betul mengukur apa yang akan diukur.

Ada beberapa jenis validitas, namun yang paling banyak dibahas adalah validitas konstruk.  Konstruk atau kerangka konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggabarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok  atau individu yang menjadi pusat perhatian penelitian. Konsep itu kemudian  seringkali masih harus diubah menjadi definisi yang operasional, yang menggambarkan bagaimana mengukur suatu gejala. Langkah selanjutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan/ pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan definisi itu.

Untuk mencari definisi konsep tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara sebagai berikut :

  1. Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli. Untuk ini perlu dipelajari buku-buku referensi yang relevan.
  2. Kalau dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi konsep-konsep penelitian, maka peneliti  harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk tujuan ini peneliti dapat mendiskusikan dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep yang akan diukur.
  3. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden. Misalnya peneliti ingin mengukur konsep “religiusitas”. Dalam mendefinisikan konsep ini peneliti dapat langsung menanyakan  kepada beberapa calon responden tetnang ciri-ciri orang yang religius. Berdasar jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu konsep. Apabila terdapat konsistensi antra komponen-komponen konstruk yang  satu dengna lainnya, maka konstruk itu memiliki validitas.

Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen/alat pengukur ialah dengan mengkorelasikan skor/nilai yang diperoleh pada masing-masing pertanyaan/pernyataan dari semua responden dengan  skor/nilai total semua pertanyaan/pernyataan dari semua responden. Korelasi antara skor/nilai setiap pertanyaan/pernyataan dan skor/nilai total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu misalnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan/konsistensi  hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan mantap  atau konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama.

Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai.

Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut.

Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: a. teknik ulangan, b. teknik bentuk pararel dan c. teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua. Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengajukan instrumen kepada sejumlah responden kemudia dihitung validitas itemnya. Item yang valid dikumpulkan menjadi satu, item yang tidak valid dibuang.
  2. Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan. Untuk mebelah instrumen menjadi dua, dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut: 1). Membagi item dengan cara acak (random). Separo masuk belahan pertama, yang separo lagi masuk belahan kedua; atau (2) membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil. Item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu dan yang bernomor genap juga dijadikan satu. Untuk menghitung reliabilitasnya skor total dari kedua belahan itu dikorelasikan.

H.    Langkah-langkah Penelitian Kuantitatif

a. Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi  dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang berisi:

  1. Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
  2. Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
  3. Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian
  4. Penjelasan bahwa masalah  tersebut relevan, aktual  dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman
  5. Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
  6. Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu.
  7. Identifikasi Masalah

       b.  Identifikasi, Pemilihan  dan Perumusan Masalah

Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.

b. Pemilihan Masalah

1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)

2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)

3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti

4). Menghubungkan dua variabel atau lebih.

  1. Sumber Masalah

Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain.

  1. Perumusan Masalah

1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya

2). Jelas dan padat

3).  Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian

Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.

Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut :

1)      Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.

2)      Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.

3)      Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur.

c.Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian

1)      Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.

2)      Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis.

d.Telaah Pustaka

Manfaat Telaah Pustaka

1)      Untuk memperdalam  pengetahuan tentang masalah yang diteliti

2)      Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran

3)      Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa

4)      Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian.

e.Pembentukan Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisis data. Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.

Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus mempunyai relevansi yang kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih  maka dalam landasan teori harus dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.

f.       Perumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara  teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa merupakan kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang  akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

g.      Definisi Operasional Variabel Penelitian

Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat seperti konsep meja, kursi dan sebagainya dan ada konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seeprti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi operasional.Definisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.

Konsep yang mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:

  1. Variabel deskrit/katagorikal misalnya : variabel jenis kelamin.
  2. Variabel  Continues misal : variabel umur

Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:

  1. Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali memiliki lebih dari satudimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur, semakin baik ukuran yang dihasilkan.
  2. Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan, barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
  3. Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal, ordinal, interval, atau ratio.
  4. Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat ukur yang baru.

Contoh yang bagus proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark yang mengembangkan suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka konsep religiusitas mempunyai lima dimensi sebagai berikut :

  1. Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang beragama Islam. atau pergi ke gereja dan kegiatan ritual lainnya bagi yang beragama Kristen.
  2. Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misalkan apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain hal yang sifatnya dogmatik.
  3. Intellectual Involvement, sebenarnya jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan orang pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
  4. Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah di apernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
  5. Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin. Menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain.

Dimensi-dimensi yang disebut  di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan komponen alat pengukur yang terhadap dimensi tingkat religiusitas.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

MENGENAL PENELITIAN KUALITATIF


MENGENAL PENELITIAN KUALITATIF

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) dan Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Penelitian pada hakekatnya adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian terdiri dari fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah penelitian dapat timbul karena adanya kesulitan yang mengganggu kehidupan manusia atau semata-mata karena dorongan ingin tahu sebagai sifat naluri manusia.

Baik untuk masalah penelitian yang timbul karena adanya kesulitan yang dihadapi manusia maupun karena ingin tahu, diperlukan jawaban yang dapat diandalkan berdasarkan pengetahuan yang benar. Kebenaran yang dipegang teguh dalam penelitian adalah kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang bersifat relatif atau nisbi, bukan kebenaran yang sempurna dan bersifat mutlak. Penelitian berusaha memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran ilmiah yang lebih sempurna dari pengetahuan sebelumnya, yang kesalahannya lebih kecil daripada pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya.

Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para peneliti dan ilmuwan dalam ilmunya masing-masing. Secara akumulatif, pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang. Di samping itu, Tanzeh mengemukakan, “hasil penelitian juga memungkinkan menjadi metode yang lebih baik dalam memecahkan, menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah praktis yang dihadapi manusia dalam hidupnya.”

Pada dasarnya sebuah penelitiasn sosial dilakukan untuk memahami berbagai hal berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat. Namun demikian, berbagai pengalaman melakukan serangkaian prosedur penelitian menunjukkan bahwa ternyata metode penelitian kuantitatif tidak dapat sepenuhnya mengungkap kehidupan sosial secara rinci dan mendalam. Metode penelitian kuantitatif ternyata tidak dapat mengungkap dinamika sosial secara utuh. Banyak hal dari yang diteliti belum dapat dijelaskan atau bahkan memperoleh hasil yang membingungkan karena tidak ditemui adanya suatu kecenderungan tertentu. Dalam situasi seperti ini, maka metode penelitian kualitatif dapat dikatakan lebih memadai untuk diterapkan.

Dalam dunia manajemen, terutama manajemen pendidikan Islam, penelitian kualitatif menjadi salah satu dasar untuk menggali teori. Maka merupakan sebuah kewajiban bagi mahasiswa pasca sarjana konsentrasi manajemen pendidikan Islam untuk mengetahui apa sebenarnya dan bagaimana operasionalnya penelitian kualitatif tersebut. Tanpa mengetahui dan memahami penelitian kualitatif, maka seorang mahasiswa akan kesulitan dalam melakukan penelitian yang orientasinya mengembangkan atau membangun teori. Karena seseorang yang tidak mengetahui metodologi atau metode maka orang tersebut ibarat akan berperang namun tidak mempunyai senjata dan tidak mengerti cara menggunakannya.

Maka dari itu, untuk menjelaskan lebih lanjut apa itu sebenarnya penelitian kualitatif, penulis akan menyusun sebuah artikel yang berjudul “Penelitian Kualitatif dalam Manajemen Pendidikan Islam ” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca untuk mendalami penelitian kualitatif.

B.     Hakekat Penelitian Kualitatif

Istilah kualitatif menurut Kirk dan Miller sebagaimana yang dikutip oleh Moleong, pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif yang selalu melibatkan pengukuran pada suatu ciri tertentu. Maka sebenarnya penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata, dan perhitungan statistik lainnya.

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu poenelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif kedalam, etnomedologi, the Chicago School, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif. Namun istilah tersebut masing-masing hanyalah bentuk istilah lain dari penelitian kualitatif.

Terdapat beberapa definisi yang berbeda-beda namun mempunyai inti yang sama mengenai penelitian kualitatif, antara lain seperti yang dikemukakan Bogdan dan Taylor, metodologi penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Jadi menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Dalam penelitian ini, tidak boleh mengisolasikan individu ke dalam variabel atau hipotesis.

Sementara itu Miles & Huberman, sebagaimana dikutip Tanzeh dan Suyitno, mengemukakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertitik tolak dari realitas dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku manusia mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu. Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller, sebagaimana dikutip Moleong, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif  adalah tradisi tertentu dalam iulmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya.

Sementara itu Denzin dan Lincoln, sebagaimana yang dikutip Moleong, menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dari pengertian ini, ternyata para penulis masih tertarik pada persoalan latar alamiah dengan maksud agar hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan fenomena.

Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal itu merupkan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok. Ternyata definisi ini hanya mempersoalkan satu metode pengumpulan data yakni wawancara terbuka.

Cukup banyak definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli penelitian kualitatif. Namun semua definisi tersebut memandang dari perspektif tertentu. Maka penulis akan mencoba mensisntesiskan dari berbagai definisi di atas. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, motivasi dan lainnya, secara holistik atau utuh dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode penggalian data yang alamiah.

C.     Fungsi Penelitian Kualitatif

Setiap kegiatan yang sengaja dilakukan tentu mempunyai fungsi atau manfaat tertentu. Begitu pula dengan penelitian kualitatif, tentu juga mempunyai manfaat atau fungsi. Berikut ini adalah fungsi dan pemanfaatan penelitian kualitatif yang dikemukakan Moleong:

  1. Pada penelitian awal dimana subjek penelitian tidak didefinisikan secara baik dan kurang dipahami.
  2. Pada upaya pemahaman penelitian perilaku dan penelitian motivasional
  3. Untuk penelitian konsultatif
  4. Memahami isu-isu rumit sesuatu proses
  5. Memahami isu-isu rinci  tentang situasi dan kenyataan yang dihadapi seseorang.
  6. Untuk memahami isu-isu yang sensitif
  7. Untuk keperluan evaluasi.
  8. Untuk meneliti latar belakang fenomena yang tidak dapat diteliti melalui penelitian kuantitatif.
  9. Digunakan untuk meneliti tentang hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang subjek penelitian.
  10. Digunakan untuk lebih dapat memahami setiap fenomena yang sampai sekarang belum banyak diketahui.
  11. Digunakan untuk menemukan perspektif baru tentang hal-hal yang sudah banyak diketahui.
  12. Digunakan oleh peneliti bermaksud meneliti sesuatu secara mendalam.
  13. Dimanfaatkan oleh peneliti yang berminat untuk menelaah suatu latar belakang misalnya tentang motivasi, peranan, nilai, sikap, dan persepsi.
  14. Digunakan oleh peneliti yang berkeinginan untuk menggunakan hal-hal yang belum banyak diketahui ilmu pengetahuan.
  15. Dimanfaatkan peneliti yang ingin meneliti sesuatu dari prosesnya.

Sementara itu, Nana Sudjana mengemukakan bahwa metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded theory yakni teori yang timbul dari data, bukan dari hipotesis-hipotesis seperti dalam metode kuantitatif. Fungsi-fungsi tersebut merupakan fungsi dilakukannya penelitian kualitatif atau dapat dikatakan pemanfaatan metode penelitian kualitatif.

D.     Karakteristik dan Landasan Teoritis Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakan dengan penelitian lainnya. Bogdan & Biklen mengajukan lima buah ciri, sedangkan Lincoln dan Guba mengupas sepuluh ciri. Uraian di bawah ini yang merupakan pengkajian dan sintesis dari berbagai buku yang penulis temukan.

  1. Latar alamiah; Penelitian kualitatif dilakukan dengan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan karena ontologi alamiah menghendaki kenyataan keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.
  2. Manusia sebagai alat (Instrumen); Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal itu dilakukan karena, jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan yang ada di lapangan.
  3. Metode kualitatif; Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif, yaitu pengamatan, wawancara atau penelahaan dokumen.
  4. Analisis data secara induktif; Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif.
  5. Teori dari dasar (Grounded Theory); Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan substantif yang berasal dari data.
  6. Deskriptif; Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal disebabkan adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.
  7. Lebih mementingkan proses dari pada hasil; Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
  8. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus; Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkan adanya batas dalam penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
  9. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; Penelitian kualitatif mendefinisikan validitas, reliabilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
  10. Desain bersifat sementara; Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan. Jadi tidak menggunakan desain yang disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi.
  11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama; Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data.

Demikian tadi berbagai ciri-ciri atau karakteristik yang penulis rangkum dari berbagai buku yang penulis temukan. Penulis merasa ciri-ciri yang penulis kemukakan sudah mampu mewakili pendeskripsian penelitian kualitatif sehingga berbeda dengan penelitian yang lainnya.

Pada dasarnya landasan teoritis dari penelitian kualitatif itu bertumpu secara mendasar pada fenomenologi. Karena itu, fenomenologi dijadikan sebagai dasar teoritis, sedangkan yang lainnya dijadikan sebagai dasar tambahan yang melatarbelakangi secara teoritis penelitian kualitatif. Penulis akan mencoba menjelaskan sedikit mengenai landasan teoritis penelitian kualitatif, baik yang mendasar maupun yang tambahan.

  1. Fenomenologi; Diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia.
  2. Interaksi simbolik; Pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran; objek, orang, situasi, dan peristiwa yang tidak memiliki pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka. Dalam interaksi sosial, penafsiran merupakan hal yang esensial yang mempengaruhi definisi sosial.
  3. Kebudayaan; banyak antropolog yang menggunakan pendekatan fenomenologi dalam studi mereka tentang pendidikan. Kerangka studi antropologisnya adalah konsep kebudayaan.
  4. Etnometodologi; Ini bukanlah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk pada mata pelajaran yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari-hari – metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari. Ini menjadi landasan teoritis penelitian kualitatif, karena sejumlah orang pendidikan  telah dipengaruhi pendekatan ini dan sukar dipisahkan dengan penelitian kualitatif.
  5. Etnografi; Pendekatan ini dalam penelitian kualitatif terbanyak berasal dari bidang antropologi, karena yang diteliti adalah budaya. Semula gagasan budaya masih terikat gagasan etnis dan geografis, tetapi sekarang diperluas dengan memasukkan organisasi.
  6. Penelitian lapangan; Penelitian lapangan dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode mengumpulkan data kualitatif. Pendekatan ini terkait erat dengan observasi.
  7. Grounded Theory; Grounded Theory adalah pendekatan penelitian kualitatif yang mulanya dikembangkan oleh Glaser dan Strauss pada tahun 1960-an. Maksud pokok dari grounded theory, menurut Moleong, adalah untuk mengembangkan teori tentang minat terhadap fenomena.

Demikian berbagai landasan teori atau pijakan penelitian kualitatif. Dari berbagai aliran tersebut yang paling dominasi adalah fenomenologi, sedangkan yang lainnya adalah tambahan atau sekunder.

E.     Paradigma Penelitian Kualitatif

Harmon sebagaimana yang dikutip Moleong, mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. Sementara itu Capra, sebagaimana yang dikutip Moleong juga, mendefinisikan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya.

Dari definisi tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud paradigma adalah konstelasi yang tidak tertulis yang dialami oleh masyarakat yang membentuk visi khusus tentang realitas.

Ada bermacam-macam paradigma, namun yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivisme sedangkan paradigma alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis. Dari kedua paradigma di atas, penelitian kualitatif mempunyai paradigma alamiah atau (naturalistic paradigm).

F.      Fokus Penelitian dalam Penelitian Kualitatif

Suatu kegiatan penelitian dilakukan karena adanya suatu masalah. Demikian pula penelitian kualitatif dilakukan karena persepsi seseorang terhadap adanya suatu masalah bukan dengan blank atau sesuatu yang kosong. Moleong mencatat, terdapat tiga macam masalah, yaitu masalah untuk peneliti, evaluans untuk evaluator dan pilihan kebijaksanaan untuk peneliti kebijaksanaan. Pada dasarnya penentuan masalah bergantung terhadap paradigma yang dianut seorang peneliti.

Masalah merupakan sesuatu yang dibawa peneliti atau persepsi peneliti terhadap subjek penelitian. Namun peneliti harus merubah masalah atau ganti judul, ketika peneliti datang ke lapangan dengan membawa judul penelitian, setelah peneliti memasuki lapangan penelitian dan menemukan fenomena yang berbeda atau perkembangan fenomena. Jadi masalah dalam penelitian kualitatif bersifat fleksibel.

Masalah dalam penelitian kualitatif biasa ditulis dalam bentuk fokus penelitian. Tanzeh dan Suyitno menyatakan bahwa umumnya fokus penelitian diformulasikan dalam kalimat tanya yang jelas formatnya, singkat, tajam dan tidak mempunyai makna yang bias, namun kadang-kadang juga berbentuk kalimat pernyataan yang keduanya juga tidak menutup kemungkinan untuk disempurnakan setelah penulis terjun ke lapangan.

Pembatasan masalah merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif walaupun sifatnya masih tentatif. Menurut Moleong, hal tersebut berarti bahwa:

  1. Suatu penelitian tidak dimulai dari sesuatu yang vakum atau kosong. Implikasinya, peneliti seyogyanya membatasi masalah studinya yang bertumpu pada fokus. Hal ini yang memungkinkan adanya acuan teori dari suatu penelitian.
  2. Fokus pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah ataupun kepustakaan lainnya. Implikasinya, apabila peneliti merasakan adanya masalah, seyogyanya ia mendalami kepustakaan yang relevan sebelum terjun ke lapangan. Dengan jalan demikian fokus penelitian akan memenuhi kriteria untuk bidang inkuiri yaitu kriteria inklusi-eksklusi. Implikasi yang lain ialah peneliti harus memanfaatkan paradigma. Dengan fokus, peneliti akan tahu persis data yang perlu dikumpulkan dan yang tidak perlu dikumpulkan.
  3. Tujuan penelitian pada dasarnya adalah memecahkan masalah yang telah dirumuskan. Implikasinya, masalah perlu dirumuskan terlebih dahulu, barulah tujuan penelitian ditetapkan, bukan sebaliknya.
  4. Masalah yang bertumpu pada fokus yang ditetapkan bersifat tentatif, dapat diubah sesuai dengan situasi latar penelitian. Implikasinya, peneliti tidak perlu kecewa jika masalah atau fokusnya berubah. Dengan kata lain, peneliti hendaknya membiasakan diri untuk menghadapi perubahan dalam masalah penelitian. Jika perubahannya cukup besar dan memerlukan orientasi baru dalam dasar pemikiran, maka peneliti perlu mendalami kembali kepustakaan yang relevan dengan masalah baru itu.

Sementara itu Spradley dalam Sanapsiah Faisal sebagaimana yang dikutip Sugiyono, mengemukakan empat alternatif untuk menetapkan fokus, yaitu:

  1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan informan.
  2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizin domain.
  3. Menetapkan fokus yang memiliki temuan untuk pengembangan IPTEK.
  4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada.

Jadi pada intinya, peneliti datang ke lapangan dengan membawa fokus penelitian yang berupa persepsi masalah yang ada pada lapangan, namun masalah atau fokus tersebut bisa berubah ketika fenomena di lapangan tidak sama dengan masalah yang dibawa.

G.     Model Penelitian Kualitatif

Setelah mempelajari pengertian, paradigma, landasan dalam penelitian kualitatif, maka dalam subbab ini penulis akan mencoba mengemukakan model penelitian kualitatif. Menurut kesimpulan Muhajir, model kualitatif dapat dikelompokkan menjadi 4 model, yaitu model grounded research dari Glaser & Strauss, model ethnometodologi dari Bogdan, model paradigma naturalistik dari Guba & Lincoln, dan model interaksi simbolik dari Blumer.

Model pertama banyak memberi sumbangan operasionalisasi kualitatif, terutama dalam upaya mencari dan merumuskan teori berdasar data empirik. Tetapi bagaimanapun pada akhirnya kembali juga pada kerangka pikir kuantitatif yang selalu berupaya mencari teori yang berlaku universal lewat pembuktian empirik. Glaser & Strauss akhirnya juga memberi peluang pengembangan teori substantif menjadi teori formal. Teori formal dibangun bukan berdasarkan suatu area substantif, melainkan dibangun dari banyak area substantif yang beragam.

Model kedua memang lebih banyak memberi sumbangan pada banyak konsep berpikir kualitatif, tetapi dalam banyak hal masih terpaku pada pemikiran kuantitatif, seperti masih menggunakan konsep validitas, reliabilitas, dan sebagainya.

Model ketiga, yaitu model paradigma naturalistik, adalah model yang hampir sepenuhnya berhasil termasuk juga menggunakan konsep-konsep model pertama dan kedua yang memang cocok untuk ciri kualitatif, dan layak serta representatif untuk mewakili metodologi penelitian kualitatif. Oleh karena itu, berfikir kualitatif yang paling konsekuen adalah berfikir menggunakan model paradigma naturalistik.

Model keempat, yaitu model interaksi simbolik yang pada akhir perjalanannya, yaitu K.Denzin, penerus interaksi simbolik telah menjurus kembali ke pemikiran kuantitatif-statistik-positivistik, misalnya dalam  membangun scientific concepts (setidaknya pada waktu Denzin menulis disertasinya). Dalam tugasnya menjadi editor Handbook of Qualitative Research, 1994, bersama Lincoln, konsep Denzin sukar dilacak, karena Denzin menulis bersama Lincoln, tetapi nampaknya dari tulisan terakhirnya, tahun 1991 dalam artikel Current Perpectives In Social Theory, Denzin mengarah ke dekonstruktionist.

Demikian berbagai model penelitian kualitatif, menurut penulis yang paling tepat adalah penggunaan model Guba & Lincoln, walaupun tidak menutup kemungkinan menggunakan model yang lainnya karena kebutuhan.

H.     Tahap-Tahap Penelitian Kualitatif

Dalam penelitian kualitatif terdapat tahap-tahap tertentu yang harus dilalui oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif. Tahap-tahap tersebut sebagaimana dijelaskan Hendrarso, adalah sebagai berikut:

  1. Menetapkan fokus penelitian; Seorang peneliti harus menetapkan fokus penelitian terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Hal tersebut dilakukan agar penelitian yang dilakukan berada dalam satu koridor. Fokus penelitian dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan fenomena di lapangan.
  2. Menentukan setting dan subjek penelitian; Setting penelitian menunjukkan komunitas yang akan diteliti dan sekaligus kondisi fisik dan sosial mereka. Jadi setelah merumuskan fokus penelitian, peneliti harus menentukan setting dan subjek penelitian terlebih dahulu sebelum penelitian.
  3. Pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data; Penelitian kualitatif merupakan proses penelitian yang berkesinambungan sehingga tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data dilakukan secara bersamaan selama proses penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengolahan data tidak harus dilakukan setelah data terkumpul atau analisis data tidak mutlak dilakukan setelah pengolahan data selesai. Dalam hal ini, sementara data dikumpulkan, peneliti dapat mengolah dan melakukan analisis data secara bersamaan. Sebaliknya pada saat menganalisis data, peneliti dapat kembali ke lapangan untuk memperoleh tambahan data yang dianggap perlu dan mengolahnya.
  4. Penyajian data; Setelah tahapan di atas dilakukan, selanjutnya adalah menyajikan data. Prinsip dasar menyajikan data sama dengan menulis karya atau buku yaitu membagi pemahaman kita tentang sesuatu kepada orang lain.

Demikian tahapan yang harus dilalui oleh peneliti dalam penelitian kualitatif. Selamat meneliti dengan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan Islam yang konsentrasinya manajemen pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

 Bogdan, Robert C.,  Sari Knop Biklen, Qualitative Research For Education: an introduction to theory and methods ,London: Boston London, 1982.

Hendrarso, Emy Susanti, “Penelitian Kualitatif Sebuah Pengantar”,dalam Bagong Suyanto dan Sutinah (ed), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2007.

Moleong,Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Muhajir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi III, Yogyakarta: Raka Sarasin, 1996.

Mulyana, Dedy, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.

Sudjana, Nana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, Bandung: Alfabeta, 2008.

Tanzeh, Ahmad, Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian, Surabaya: eLKAF, 2006.

Taylor, Steven J., Robert C Bogdan, Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for Meaning, New York: Wiley and Sons Inc, 1984.

Sekian

Semoga Bermanfaat dan Barokah