Category Archives: Psikologi

MEMAHAMI TUNAGRAHITA


MEMAHAMI TUNAGRAHITA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya (Branata dalam Effendi, 2006:88). Penafsiran yang salah seringkali terjadi di masyarakat awam bahwa keadaan mental subnormal atau tunagrahita dianggap seperti suatu penyakit sehingga dengan memasukkan ke lembaga pendidikan atau perawatan khusus, anak diharapkan dapat normal kembali. Penafsiran tersebut sama sekali tidak benar sebab anak tunagrahita dalam jenjang manapun sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit, Mental retarded is not disease but condition (Kirk dalam Efendi, 2006:88). Jadi kondisi tunagrahita tidak bias disembuhkan atau diobati dengan obat apapun.

Dalam kasus tertentu ada anak yang menderita tunagrahita semu (pseudofeebleminded), dimana anak normal menyerupai keadaan anak tunagrahita jika dilihat selintas, tetapi setelah mendapat perawatan ia akan berangsur-angsur normal kembali. Hendeschee dalam Efendi (2006:89) memberikan batasan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang tidak cukup daya pikirnya, tidak dapat hidup dengan kekuatan sendiri di tempat sederhana dalam masyarakat.

Doll dalam Efendi (2006:89) berpendapat seseorang dikatakan tunagrahita jika: (1) secara sosial  tidak cakap, (2) secara mental di bawah normal, (3) kecerdasannya terhambat sejak lahir atau pada usia muda, dan (4) kematangannya terhambat.

Somantri (2005) berpendapat anak tunagrahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya sukar untuk mengkuti program pendidikan disekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak terbelakang mental membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus, yakni disesuaikan dengan kemampuan anak itu.

Untuk memahami anak tunagrahita atau terbelakang mental ada baiknya memahami terlebih dahulu konsep Mental Age (MA). Mental age adalah kemampuan mental yang dimiliki oleh seorang anak pada usia tertentu. Sebagai contoh anak yang berumur 6 tahun akan memiliki MA 6 tahun. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi dari umurnya (Cronology Age), maka anak tersebut memiliki kemampuan mental atau kecerdasan diatas rata – rata. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah CA-nya secara jelas. Misalnya anak normal mempunyai IQ 100, maka anak tunagrahita mempunyai IQ 70 yaitu ia mengalami keterlambatan 2 x 15 = 30 maka diperoleh IQ 70 tersebut. Penyesuaian perilaku maksudnya saat ini seorang dikatakan tunagrahita bukanlah hanya dilihat IQ-nya akan tetapi perlu dilihat sampai sejauh mana anak ini dapat menyesuaikan diri. Jadi bila anak ini dapat menyesuaikan diri maka tidaklah lengkap ia dipandang sebagai anak tunagrahita. Terjadi pada masa perkembangan maksudnya bila ketunagrahitaan ini terjadi setelah usia dewasa maka ia tidak tergolong tunagrahita.

Advertisements

KONSEP DASAR ESQ


KONSEP DASAR ESQ

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

  1. 1.        Pengertian ESQ (Emotional-Spiritual Quotient)

Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak akan pernah dapat hidup dalam keadaan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, ia harus melakukan hubungan dengan orang lain, oleh karena itu secara naluri manusia akan selalu ingin membentuk kelompok-kelompok sosial, guna memenuhi kebutuhan hidup mereka tersebut. Yang hal ini pada akhirnya terbentuklah apa yang disebut dengan masyarakat.

Masyarakat merupakan suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut system adat istiadat yang bersifat kontiniu dan yang terikat oleh satu rasa identitas bersama (Koentjoro Ningrat, 1990: 164). Kumpulan manusia tersebut bisa disebut mayarakat, apabila memiliki syarat-syarat antara lain: kesatuan dalam hidup, adanya interaksi antara sesama warga komunitas tersebut, adanya keterikatan satu identitas bersama. Seiring dengan perkembangan pola pikir manusia dan kemajuan peradaban, maka kondisi masyarakat pun juga selalu mengalami perubahan dan perkembangan menuju arah yang lebih baik.

Meminjam istilah Dr. Ali Syariati, yang dikutip oleh Ary Ginanjar Agustian (2001: XX), mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk dua-dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kebutuhan dunia dan akherat. Oleh karena itu manusia haruslah mempunyai konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelejensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ), sehingga melalui istilah dua-dimensial tersebut sebuah upaya penggabungan ketiga unsur tersebut haruslah dilakukan.

Dalam kajian kebangkitan postmodernpun disebutkan bahwa ternyata manusia tidak hanya menginginkan terpenuhinya kebutuhan materiil sebagaimana yang ingin dicapai oleh modernisasi, karena ketika manusia hanya oriented-materialistik maka hanya akan mengalami krisis dalam segala bidang, tercapainya kebahagiaan yang semu, dan tujuan yang hakiki manusia tidak akan pernah tercapai. Untuk keluar dari lingkungan krisis dan permasalahan tersebut, maka manusia harus kembali kepada hikmah Spiritual Ilahiyah yang terdapat dalam semua agama yang otentik (Syamsul Arifin, 1996: 34). Dalam hal ini berarti perlu adanya penyesuaian antara pencapaian kebutuhan materiil melalui pengembangan emosional seseorang (EQ), dan pencapaian kebutuhan Spiritual Ilahiyah, melalui pengembangan SQ (Spiritual Quotient). Dengan kesesuaian antara EQ dan SQ tersebut seseorang akan mampu bahagia di dunia dan akhirat.

Dalam kehidupan modern dan kondisi masyarakat yang semakin tertata inilah hendaknya antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi bisa berjalan bersama-sama. Oleh karena itu, dengan adanya konsep ESQ (Emotional-Spiritual Quotient) atau kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, diharapkan antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi tidaklah bertentangan namun mampu untuk berjalan bersama-sama dalam menghantarkan tujuan dan hakikat manusia yang sesunggguhnya.

Dalam agama Islam sebenarnya terdapat cara untuk menyepadankan dua kebutuhan tersebut, menumbuhkan kecerdasan emosional (EQ) dan tetap menjaga dan mengembangkan potensi ruhiyah Ketuhanan atau Spiritual Quetient (SQ), cara inilah yang disebut dengan jalan tarekat atau biasa disebut dengan pola hidup bertasawuf. Selama ini ada pandangan keliru, yang menganggap bahwa kehidupan tasawuf berarti meninggalkan kepentingan dan kehidupan duniawi guna menuju pada kehidupan akhirat semata. Pandangan ini sudah lama berkembang dalam dunia Islam, sehingga banyak kalangan umat Islam yang takut dan enggan masuk dalam ranah dunia tasawuf, hanya karena takut dengan rumor yang berkembang itu. Sebenarnya kehidupan tasawuf yang benar tidaklah meninggalkan kehidupan dunia demi akherat semata, namun mampu menyepadankaan dan memenej antara keduanya, karena memang Allah menciptakan keduanya tidak lain juga untuk manusia.

Untuk itu perlulah kiranya dikaji secara lebih mendalam mengenai kecerdasan emotional (EQ) dan kecerdasan Spiritual (SQ) serta bagaimana langkah-langkah dalam mengembangkan potensi ESQ guna mencapai tujuan manusia yang sesungguhnya, yaitu insan kamil yang mampu melakukan hubungan vertikal-horizontal sehingga hidup bahagia di dunia dan akherat.

 

Pengertian EQ (Emotional Quotient)

Istilah kecerdasan emosional atau yang di kenal dengan EQ (Emotional Quotient) pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh Psikolog Peter Solovey dari Harvard University dan John Mayor dari University of New Hampshire, untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya sangatlah penting bagi keberhasilan (Laurence E. Shapiro, 1999: 5).

Para ahli telah banyak yang mengungkapkan pengertian EQ (Emotional Quotient) antara lain, menurut Salovey dan Mayer yang di kutip oleh Lawrence (1999: 8), mengatakan bahwa EQ (Emotional Quotient) merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Sedangkan menurut Daniel Goleman (2002: 512), EQ (Emotional Quotient)  merupakan kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut ia akan dapat memperoleh keberhasilan.

Setelah di ketahui beberapa pendapat dari para ahli dalam mendefinisikan pengertian EQ (Emotional Quotient), maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional melingkupi dua kategori kecakapan yang harus dimiliki yaitu: pertama, kecakapan pribadi, yang melingkupi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi. Yang kedua, kecakapan sosial yang melingkupi empati dan ketrampilan sosial (bermasyarakat).

 

Pengertian SQ (Spiritual Quotient)

Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan temuan terkini yang secara ilmiyah pertama kali di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiyah tentang SQ (Spiritual Quotient) ini, pertama, riset ahli Psikologi atau syaraf, Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf  V. S. Ramachan dan timnya dari California University, yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia, ini sudah built-in sebagai pusat spiritual (Spiritual Center) yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Sedangkan bukti kedua, adalah riset ahli syaraf Austria Wolf Singer, pada era 1990-an atas the binding problem yang menunjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dan pengalaman hidup kita, suatu jaringan syaraf yang secara literal mengikat pengalaman kita bersama untuk hidup yang lebih bermakna. Pada God-Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yag terdalam (Ary Ginanjar, 2001: XXXiX).

Danah Zohar dan Ian Marshall sebagaimanaa yang di kutip Ary Ginanjar (2001: 57), mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, atau bisa juga di sebut sebagai kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain.

Akan tetapi teori SQ dari barat ini belum atau bahkan tidak menjangkau masalah Ketuhanan. Pembahasanya baru sebatas Biologi dan Psikologi semata, tidak bersifat transendental. Akibatnya masih banyak ditemukan kebuntuan.  Kebenaran yang sejati sebenarnya teletak kepada suara hati yang bersumber pada God Spot yang merupakan fitrah manusia untuk mencari eksistensi dirinya sebagai mahluk Tuhan.

Berbeda dengan pengertian SQ (Spiritual Quotient) yang telah diberikan oleh para ilmuan barat, para ahli agama yang menganggap bahwa kecerdasan spiritual merupakan suatu potensi yang ada pada setiap diri manusia yang bersumber kepada fitrah Ketuhanan, tidaklah hanya sebatas kepada tataran Biologi dan Psikologi sebagaimana yang dikatakan oleh para ilmuan barat.

Menurut Dr. H. M. Idris Abdul Shomad (2005: 22) mendefinisikan SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu sifat, sikap, dan perilaku takwa kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan amal sholeh (kebaikan-kebaikan) yang dilandaskan pada keimanan kepada Allah SWT.

Sedangkan menurut Ary Ginanjar Agustian (2001: 5), menjelaskan bahwa SQ (Spiritual Quotient) adalah kemampuan untuk memberikan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yag sesungguhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.

Dari beberapa definisi SQ (Spiritual Quotient) yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pada intinya SQ (Spiritual Quotient) merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan makna kehidupan yang berlandaskan iman dan takwa kepada Allah SWT, dengan menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya baik dhohir maupun batin untuk selalu melakukan hubungan, baik secara vertikal (manusia dengan Tuhanya) maupun horizontal (manusia dengan sesama mahluk Tuhan), sehingga tujuan manusia yang hakiki untuk bahagia di dunia dan akherat dapat tercapai.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Memahami Konsep Diri


MEMAHAMI KONSEP DIRI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Pengertian Konsep Diri

Konsep diri didefinisikan semua ide, pikiran, keyakinan, kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diri dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia.

Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan dan sosial yang mal adaptif.

Pembagian konsep diri :

1)   Gambaran diri (Body image)

Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar, sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi, penampilan, potensi tubuh saat ini dan masa lalu secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman yang baru. Sejak lahir individu mengeksplirasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain. Kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan (Keliat, 1992).

Gambaran diri berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistik terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan memberi rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992).

Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan.

2)   Ideal diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu (Stuart & Sundeen, 1998).

Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan-harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga, budaya) dan kepada siapa ia ingin melakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang dipengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan. Pada masa remaja ideal diri akan dibentuk melalui proses identifikasi pada orang tua guru dan teman.

Menurut Budi Ana Keliat ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri :

a)    Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya

b)   Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri

c)    Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.

Individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri, sehingga ia akan tampak menyerupai apa yang ia inginkan. Ideal diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat, 1992).

3)   Harga diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa sebarapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sundeen, 1998,).

Frekwensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu selalu sukses, maka cenderung harga diri tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992).

4)   Peran

Peran adalah pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya dimasyarakat (Keliat, 1992).

Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi dimasyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktrur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan , posisi yang tidak mungkin dilaksanakan (Keliat, 1992).

Stres peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas, peran yang tidak sesuai, dan peran yang terlalu banyak. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus dilakukan sebagai berikut:

a)    Kejelasan perilaku dan penghargaan yang sesuai dengan peran.

b)   Konsisten respons orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan

c)    Kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang diemban

d)   Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran

e)    Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuaian perilaku peran.

5)   Identitas

Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi, dan penilaian yang merupakan sintesa  dari semua aspek konsep diri sebagaii satu kesatuan yang utuh (Stuart & Sundeen, 1992, dikutip Keliat A; 1999).

Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat, akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat, 1992). Identitas jenis kelamin berkembang sejak bayi secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita yang banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT