Islamic Thinking

Pendidikan Islam dan Perubahan-Perubahan Sosial

Oleh: Muhammad Fathurrohman

 

A.     Latar Belakang

Sejarah keberadaan pendidikan dalam Islam sangat berkaitan erat dengan perkembangan dan kemunduran peradaban kaum muslimin, sejarah pendidikan Islam diawali dengan munculnya pendidikan formal Islam pertama yang kontradiktif yaitu antara madrasah Nizhamiyyah yang didirikan oleh Wazir Nizhamiyyah pada tahun 1064 M, Madrasah al-Bayhaqiyyah yang didirikan Abu Hasan Ali al-Baiyhaqi pada tahun 1009 M, madrasah Miyan Dahiya yang didirikan oleh Abu Ishaq Ibrahm ibn Mahmud di Nishapur dan madrasah Sa’idiyyah yang didirikan pada masa Sultan Mahmud al-Ghaznawi (998-1030).

Munculnya paradigma formisme ini dalam pendidikan Islam antara lain terdiri dari; orientasi pendidikan pada akherat dengan menekankan pada pendalaman ilmu-ilmu keagamaan, pendekatan pendidikannya bersifat keagamaan yang normative, doktriner dan absolute, peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku yang loyal, memiliki sikap keberpihakan, dan memiliki pengabdian yang tinggi terhadap agama yang dipelajari.

Hal seperti ini bertentangan dengan konsep Islam, dimana bahwa Islam tidak membedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum dan atau tidak berpandangan dikotomis mengenai ilmu pengetahuan, namun realitas sejarahnya justru malah memberikan supremasi kepada ilmu-ilmu agama dalam rangka untuk menuju kepada Tuhan. Kondisi ini pernah terjadi dalam dunia Islam, yakni dengan memakruhkan dan bahkan mengharamkan mempelajari ilmu-ilmu umum yang menggunakan penalaran, akibatnya penyelidikan ilmiah yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran ayat-ayat kauniyah harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena dipandang sebagai ilmu subversive yang dapat menggugat kemapanan kalam dan fiqh.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa legalisme fiqh ini terjadi dalam lembaga pendidikan Islam, menurut Azyumardi Azra hal ini dikarenakan; Pertama Adanya pandangan yang tinggi terhadap ilmu-ilmu keagamaan sebagai jalan untuk menuju Tuhan. Kedua lembaga-lembaga pendidikan Islam dikuasai oleh mereka yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan (fuqaha) sehingga kelompok saintis tidak mendapatkan dukungan secara institusional, dan justru saintis merupakan tantangan bagi fuqaha. Ketiga hampir seluruh lembaga pendidikan Islam didirikan dan dikembangkan oleh para penyandang dana, dermawan dan penguasa politik dari kelompok ahli ilmu agama yang termotivasi akan mendatangkan banyak pahala karena mempelajari ilmu-ilmu agama. Disamping itu adanya penekanan dari penguasa politik untuk menegakkan ortodoksi Sunni karena alasan yang murni atau alasan politik yang lain.

Berdasarkan dari fenomena tersebut, dapat diketahui bahwa kemunduran Islam dalam bidang saintis dan teknologi disamping dipengaruhi oleh factor dari luar, juga banyak dipengaruhi oleh factor dari dalam umat Islam itu sendiri, yakni dari para penentu kebijakan lembaga pendidikan Islam yang sudah melakukan dikotomi terhadap pendidikan diluar ilmu-ilmu agama.

Pendidikan Islam disinyalir telah mampu melakukan perubahan-perubahan sosial di masyarakat. Pendidikan Islam mampu mengangkat status sosial orang Islam menjadi lebih terpandang di masyarakat. Maka dari itu, untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan Islam dan perubahan-perubahan sosial, penulis akan menyusun sebuah artikel yang berjudul ” Pendidikan Islam dan Perubahan Perubahan Sosial ” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada.

B.     Perkembangan Pendidikan Islam

Perjalanan agama Islam yang lahir di Mekkah dengan pengikut yang tidak lebih dari kalangan keluarganya sendiri sebagai peletak dasar keimanan dan kemudian hijrah ke Madinah yang kemudian menjadi berkambang yang akhirnya menaklukkan kota Mekkah kembali, merupakan perkembangan yang luar biasa. Kemudian pada masa kholifah dimana pengembangan agama Islam terus meluas dan kekuatannya menyebar jauh di Asia dan Eropa, kemudian diteruskan pada masa Umaiyah dan Abbasiyah pengembangan perluasan Islam dan jalur perdagangan terus dilakukan. Dengan penyebaran Islam yang sangat luas inilah kemudian dibutuhkan perluanya penanaman nilai-nilai ajaran agama Islam kepada pemeluknya yang sudah semakin meluas.

Dengan perkembangan perdagangan, maka muncullah kelas menengah yang kemudian tidak hanyak sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi, namun sudah mulai menekuni kegiatan-kegiatan cultural, pendidikan dan kemasyarakatan. Kesamaan bahasa dan pedoman dasar yakni Al Qur’an merupakan pengikat berbagai tradisi dari berbagai kelompok etnis. Hal ini menjadikan status bahasa Arab sebagai bahasa puisi dan prosa yang mampu mengungkapkan abstraksi-abstraksi filosofis, teologis dan saintifik, untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an. Dan pada masa kejayaan Jundi Shapur sebagai pusat pendidikan tinggi kerajaan Persia pada abad ke-6, kemudian bahasa Arab dijadikan sebagai landasan untuk perkembangan ilmu pengetahuan,

Pada masa al-Mansur perkembangan pendidikan Islam mengalami perkembangan yang pesat yakni dengan mendatangkan ilmuwan dari Yahudi, Kristen, Syria, Zoroaster, Hindu dan Persia di Jundi Shapur melalui kuttab dan masjid yang dipandu oleh seorang syekh yang dalam pembelajarannya menggunakan system halaqah.

Pada perkembangannya, pendidikan Islam mengalami transformasi yang cukup berarti. Selain dilaksanakan di rumah-rumah, pendidikan Islam juga dilaksanakan di kuttab dan masjid. Kuttab adalah tempat belajar yang terletak di rumah guru. Kuttab dipandang sebagai lembaga pendidikan dasar tertua yang pernah ada, dan dalam perkembangannya mengalami perluasan fungsi, tidak hanya untuk belajar tulis baca, melainkan juga untuk belajar al Qur’an.

Penentuan antara lembaga pendidikan tinggi dan pendidikan dasar pada awal perkembangan Islam sudah ada batasan-batasan yang jelas. Pendidikan dasar dari segi kurikulumnya adalah tentang baca tulis al Qur’an dan diikuti oleh anak-anak dengan bertempat di kuttab, sedangkan pendidikan tinggi materinya adalah pembahasan mendalam tentang al Qur’an, pesertanya adalah orang-orang dewasa dan bertempat di masjid.

Kemudian dalam perkembangannya, pembatasan pendidikan ini menurut Charles Michael Stanton diklasifikasi dari tempat pelaksanaan dan materi (ilmu) yang dikaji, yakni; pendidikan formal dimulai dari masjid jami’ (selain tempat ibadah juga pusat informasi dan penyambung hubungan antara pemerintah dan masyarakat), dan masjid non jami’ (pusat halaqah agama, yang hanya menyampaikan disiplin ilmu hadits, fiqh, tafsir, ushul fiqh, nahwu, sharaf dan sastra Arab). Berawal dari pengklasifikan disiplin ilmu inilah, maka disiplin ilmu yang lain seperti filsafat Yunani, sains dan ilmu yang berasal dari Timur tidak diajarkan, karena tidak dianggap sebagai ilmu agama. Masyarakat Islam lebih berkutak-kutik pada perkembangan fiqh saat itu, yaitu adanya aliran empat madzhab dalam fiqh.

Didirikannya lembaga wakaf pada masa pemerintahan Nizham al Mulk, merupakan awal dari sebutan lembaga pendidikan yang berpusat di masjid sebagai masjid-akademic yang sistemnya berbeda dengan masjid jami’ maupun non jami’. Perbedaannya terletak pada sistem pendidikannya, yaitu madrasah akademic (madrasah Nidzhamiyyah) ini merupakan wakaf, mengangkat tenaga pengajar khusus, staf maupun guru menerima mendapatkan penghasilan, mahasiswa/santri diasramakan dan mendapat beasiswa, semuanya dari pengelolaan wakaf yang disediakan oleh khalifah. Sistem inilah yang menjadi landasan dasar pendidikan formal Islam, yang diterapkan pula di perguruan tinggi Jundi Shapur di Baghdad. Hanya saja, kurikulum yang diberikan didominasi ilmu-ilmu agama dengan al-Qur’an sebagai porosnya. Menurut Stanton, ada satu hal yang menjadi kelebihan dari sistem pendidikan masjid/madrasah-akademik adalah mampu menciptakan satu atmosfir pendidikan khas yang memadukan kehidupan akademik dengan kehidupan sosial dari orang/masyarakat yang tinggal di lingkungannya.

Pada perkembangan selanjutnya setelah masyarakat muslim mulai terbentuk, pendidikan diselenggarakan dalam bentuk formal, sehingga menjadi salah satu pilar dari peradaban Islam. Dalam hal ini pendidikan Islam bentuk formal ditandai oleh munculnya madrasah sebagai lembaga pendidikan dan sekaligus sebagai jalur pendidikan. Di dalam madrasah berlangsung proses komunikasi pedagogis antara pendidik dan peserta didik, yang darinya diharapkan mengarah kepada tercapainya tujuan instruksional.

C.     Substansi Perubahan Sosial

Perubahan sosial di suatu masyarakat muslim biasanya ditunjukkan dengan berkembangnya peradaban di masyarakat muslim tersebut. Jadi bisa diambil konklusi bahwa substansi perubahan sosial tersebut adalah munculnya peradaban Islam yang kuat. Menurut Ibn Khaldun diantara tanda wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir komunitasbesar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu komunitas bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan/arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.

Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).

Syeikh Muhammad Abduh juga menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, dan India, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.

Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia. Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework. Ninian Smart menggunakannya untuk mengkaji agama, S.M. Naquib al-Attas, al-Mawdudi, Sayyid Qutb, memakainya untuk menjelaskan bangunan konsep dalam Islam, Alparslan Acikgence untuk mengkaji sains, Atif Zayn, memakainya untuk perbandingan ideologi, Thomas F Wall untuk kajian filsafat, Thomas S Kuhn dengan konsep paradigmanya sejatinya sama dengan menggunakan worldview sebagi kajian sains.

Meski mereka berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiyah, sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.” Penekanannya pada fungsi worldview sebagai motor perubahan sosial dan moral. Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”. Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu. Sebab, paradigma mengandung konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, yang merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains.Singkatnya, worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldcview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merobah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview.

Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung kesemuanya itu. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-tahawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep tersebut diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut dien, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).

Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nazariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia secara menyeluruh”. Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tahawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.”  Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud.

Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang, ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.

Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup. Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup. Untuk menjelaskan bagaimana pemikiran dalam peradaban Islam merupakan faktor terpenting bagi tumbuh berkembangnya peradaban Islam, kita rujuk tradisi intelektual Islam.

Tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, secara berturut-turut dari periode Makkah awal, Makkah akhir dan periode Madinah. Kesemuanya itu menandai lahirnya pandangan alam Islam. Di dalam al-Qur’an ini terkandung konsep-konsep yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan para ulama yang datang kemudian. Konsep ‘ilm yang dalam al-Qur’an bersifat umum, misalnya dipahami dan ditafsirkan para ulama sehingga memiliki berbagai definisi. Cikal bakal konsep Ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Jadi Islam adalah suatu peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.

Tradisi intelektual dalam Islam juga memiliki medium tranformasi dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut Ashab al-Suffah. Di lembaga pendidikan pertama dalam Islam ini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Ashab al-Suffah adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.

Perlu dicatat bahwa kegiatan keilmuan tersebut di atas, secara epistemologis wujud karena adanya pandangan alam (worldview), yaitu pandangan alam yang memiliki konsep-konsep yang canggih yang menjadi asas epistemologi untuk aktivitas keilmuan tersebut. Dengan adanya konsep yang canggih para ilmuwan anggota masyarakat yang terlibat akhirnya dapat mengembangkan istilah-istilah teknis dan bahasa khusus untuk itu. Bahkan konsep tersebut berkembang menjadi struktur konsep keilmuan atau scientific conceptual scheme. Dari konsep ‘Ilm ini pula kemudian lahir berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Ilmu Fiqih, Tafsir, Hadith, Falak, Hisab, Mawarits, Kalam, tasawwuf dan sebagainya.

Kemajuan tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan dalam Islam dirasakan oleh masyarakat Eropa pada zaman Bani Umayyah di Andalus Spanyol. Pada masa peradaban agung di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiyah ia harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universtias penting berada.

Di zaman kekhalifahan Bani Umayyah, misalnya Muslim telah banyak mentransmisikan pemikiran Yunani. Karya Aristoteles, dan juga tiga buku terakhir Plotinus Eneads, beberapa karya Plato dan Neo-Platonis, karya-karya penting Hippocrates, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain sudah berada di tangan Muslim untuk proses asimilasi. Puncak kegiatan transmisi terjadi pada era kekhalifahan Abbasiyyah. Menurut Demitri Gutas proses transmisi (penterjemahan) di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial,politik dan intelektual. Ini berarti bahwa seluruh komponen masyarakat dari elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya secara kultural sangat besar.

Jadi Muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani tersebut. Mereka mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Jadi proses asimilasi terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Artinya ummat Islam mengadapsi pemikiran Yunani ketika peradaban Islam telah mencapai kematangannya dengan pandangan hidupnya yang kuat. Di situ sains, filsafat dan kedokteran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam.Produk dari proses ini adalah lahirnya pemikiran baru yang berbeda dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani, misalnya konsep jawhar para mutakallimun dengan konsep atom Democritus. Jadi, tidak benar, kesimpulan Alfred Gullimaune yang menyatakan bahwa framework, ruang lingkup dan materi Filsafat Arab dapat ditelusuri dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistem ummat Islam. Sejatinya pemikiran Yunani tidak dominan, sebab jika demikian maka Muslim tidak mampu melakukan proses transmisi. Oleh karena itu Muslim lebih berani memodifikasi pemikiran Yunani ketimbang masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan. Muslim bahkan mampu mengharmonisasikan dengan Islam sehingga akal dan wahyu dapat berjalan seiring sejalan dan pemikiran Yunani tidak lagi menampakkan wajah aslinya. Berbeda dari Muslim, masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan yang mengaku mengetahui karya-karya Yunani, ternyata tidak mampu mengharmoniskan filsafat, sains dengan agama. Kondisi ini kelihatannya yang mendorong para teolog Kristen menggunakan tangan pemikir Muslim untuk memahami khazanah pemikiran Yunani. Terpecahnya kalangan teologi Kristen kedalam aliran Averoesm dan Avicennian merupakan bukti bahwa Kristen memahami Yunani melalui pandangan hidup Muslim.

Jika benar asumsi orientalis selama ini bahwa pemikiran Muslim didominasi pemikiran Yunani, maka wajah peradaban Islam di Spanyol mestinya adalah wajah Yunani. Tapi realitanya, Spanyol adalah satu-satunya lingkungan kultural Muslim yang dominan, padahal kawasan itu merupakan tempat pertemuan kebudayaan Kristen, Islam dan Yahudi. Yang pasti karakteristik penting peradaban Islam baik ketika di Andalusia maupun di Baghdad adalah semaraknya kegiatan keilmuan. Oleh karena itu dalam menggambarkan peradaban Islam Ibn Khaldun membahas secara panjang lebar ilmu-ilmu yang berkembang dan dikembangkan di kedua pusat kebudayaan Islam itu, seperti misalnya ilmu bahasa dan agama, aritmatika, aljabar, ilmu hitung dagang (bussiness arithmetic), ilmu hukum waris (faraid), geometri, mekanik, penelitian, optik, astronomi, dan logika. Termasuk juga ilmu fisika, kedokteran, pertanian, metafisika, ramalan, ilmu kimia dan sebagainya.

Namun, seperti yang diteorikan oleh Ibn Khaldun di atas, pemikiran yang berkembangan menjadi tradisi intelektual bukanlah satu-satunya faktor tumbuh berkembangnya suatu peradaban. Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer serta kesanggupan berjuang untuk meningkatkan kehidupan merupakan faktor lain yang mendukung tumbuhnya pemikiran dan peradaban. Selain itu Ibn Khaldun juga mensinyalir adanya hubungan kausalitas antara peradaban dan sains. Artinya semakin besar volume urbanisasi, semakin tumbuh pula peradaban dan sains. Ilmu akan berkembang hanya dalam peradaban yang penduduk perkotaannya meningkat.

D.     Kontribusi Pendidikan Islam dalam Perubahan Sosial

Islam dinyatakan Allah di dalam al-Qur’an melalui Muhammad adalah sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-âlamin), merupakan gambaran paling ideal. Secara normatif, al-Qur’an sebagai wahyu telah memberikan petunjuk-petunjuk keselamatan bagi manusia khususnya, Muhammad dilahirkan untuk memberikan contoh-contoh operasional terhadap petunjuk-petunjuk al-Qur’an itu di dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, hukum dan berbagai komponen kehidupan di masyarakat. Keteladanan Muhammad itu justru hadir di tengah-tengah masyarakat yang mengalami dekadensi moral yang luar biasa dan sulit dicari tandingannya yang dikenal dengan masyarakat Jahiliyah.

Keteladanan Nabi Muhammad tidak hanya berhenti pada pribadinya, melainkan harus dilanjutkan oleh pengikut-pengikutnya terutama para tokohnya baik penguasa Muslim, ulama, cendekiawan Muslim maupun penyandang profesi-profesi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dituntut untuk mentransformasikan pesan ayat-ayat al-Qur’an maupun contoh perilaku Nabi itu, dalam bentuk contoh-contoh baru dalam kehidupan modern sekarang ini yang begitu kompleks dan memperhadapkan mereka sendiri dengan berbagai tantangan multidimensional.

Mereka mendapat bagian untuk memainkan peranan yang sangat penting dan menentukan warna sejarah Islam berikutnya, apakah sejarah Islam menjadi makin cerah atau sebaliknya makin buram. Nurcholish Madjid mengutip pernyataan Marshall Hodgson sebagai berikut:

Sejarah umat manusia adalah sebuah ”percobaan” (venture) menciptakan masyarakat yang sebaik-baiknya, dalam konteks sejarah dan hukum-hukumnya yang efektif dan immutable itu. Maka suskes atau gagalnya percobaan itu tidaklah terutama terletak pada ketentuan-ketentuan normatifnya, melainkan pada faktor manusia, dan pengalamannya yang menyejarah dan bersifat kesejarahan.

 

Wahyu memberikan petunjuk dan tuntunan, sedangkan manusia yang mestinya harus membuktikan petunjuk dan tuntunan itu dalam kehidupan nyata. Sepanjang manusianya tidak bersedia mengaktualisasikan dalam kehidupan sosialnya, wahyu hanyalah tinggal ketentuan-ketentuaan normatif yang bersifat pasif. Misalnya wahyu mengutuk penindasan, tetapi jika manusianya tidak memerdekakan maka penindasan tetap berjalan terus-menerus tidak ada yang membendung.

Gambaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta terletak pada kondisi umatnya yang diharapkan serba memberikan banyak manfaat bagi orang-orang lain maupun makhluk-makhluk lain. Umat Islam yang diharapkan serba memberikan manfaat ini mestinya harus pandai dan kreatif secara intelektual, kuat dan dermawan secara ekonomi, dan bersikap ramah secara sosial. Gabungan dari ketiga hal itu merupakan kepribadian yang mampu menjadi pengayom pada orang lainnya.

Gambaran pertama sebagai orang Islam yang pandai dan kreatif secara intelektual. Keadaan ini diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan, produk-produk, dan pengaruh positif dari orang Islam itu kepada orang-orang lainnya, sehingga mencapai keunggulan dan menggiring kepada kebaikan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman, ”Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan di tengah-tengah manusia, Kamu menyuruh kebaikan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran [3]: 110). Al-Maraghi menafsirkan ayat ini bahwa kamu adalah sebaik-baik umat dalam wujud sekarang karena kamu melaksanakan tiga fungsi tersebut pada dirimu, sehingga Allah mencabut kejelekan darimu dan memuliakanmu dengan kebaikan. Sementara itu Azizy menyatakan bahwa khair ummat (sebaik-baik umat) itu akan terwujud jika umat Islam sanggup dan mampu menjalankan syariatnya. Khair umamah itu bukan derajat yang diberikan secara otomatis atau cuma-cuma, melainkan karena prestasi yang dimiliki umat Islam itu sendiri.

Prestasi ini dihasilkan oleh orang-orang Islam yang berilmu dan berkreasi, sebagai wujud pertanggungjawaban mereka secara intelektual. Prestasi dalam konteks sekarang ini terasa begitu berat lantaran tingkat kompetisinya sangat ketat dalam menghadapi prestasi-prestasi yang dicapai orang lain, terutama orang-orang Barat. Untuk mengimbangi prestasi mereka saja luar bisa beratnya bagi umat Islam, apalagi mengungguli prestasi orang-orang Barat yang terlanjur besar itu. Ini berarti perjalanan umat Islam untuk menyuguhkan prestasi yang unggul masih membutuhkan perjuangan yang cukup panjang.

Gambaran kedua adalah orang-orang Islam yang kuat dan dermawan secara ekonomi. Problem pertama dan utama yang dirasakan kebanyakan penduduk bumi ini adalah ekonomi. Secara khusus, ekonomi benar-benar dirasakan kebanyakan umat Islam di dunia ini terutama mereka yang hidup di negara-negara Muslim yang miskin. Kebanyakan negara Muslim merupakan negara miskin kendati ada beberapa negara Muslim karena kekayaannya yang melimpah ruah sehingga disebut negara petrodollar. Di sini terjadi kesenjangan yang sangat tajam secara ekonomis di dunia Islam.

Permasalahannya adalah mungkinkah umat Islam menjadi rahmat bagi sekalian alam ketika mayoritas mereka didera kemiskinan. Tentu saja tidak mungkin sehingga untuk mengaktualisasikan peran mereka sebagai rahmat alam semesta itu, ketidakmungkinan itu harus dipaksa menjadi sangat mungkin dengan bekal kekuatan ekonomi. Selanjutnya, mereka harus mempelajari dan berupaya secara maksimal untuk menempuh strategi pengembangan ekonomi agar sukses membangun kekuatan ekonomi yang bersifat humanis. Artinya, mereka harus memiliki perekonomian yang kuat dan menjadi dermawan dalam mentasarufkan atau mendistribusikan ekonominya kepada orang lain yang didera kemiskinan.

Adapun gambaran ketiga adalah orang-orang Islam yang ramah secara sosial. Sikap ramah dapat melahirkan sikap toleran kepada orang lain, bahkan mau memproteksi orang lain dari ancaman. Kehidupan Nabi di Madinah cukup menjadi contoh sikap toleransi Nabi dalam pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain. Nabi sangat berpengalaman hidup di tengah-tengah masyarakat yang pluralis baik dari sisi etnik, budaya maupun agama. Bagi Nabi, pluralisme ini tidak menjadi penghalang untuk berinteraksi sosial.

Dengan demikian, pluralisme bukan gejala baru bagi umat Islam. Pluralisme telah ada sejak masa Nabi bahkan sebelumnya. Nabi telah sukses menghadapi pluralisme ini, kendati melalui perjuangan dan pendekatan tertentu. Sedangkan pluralisme hingga kini masih menyisakan problem yang serius. Franz Magnis-Suseno menandaskan bahwa pluralisme adalah satu dari tantangan-tantangan terbesar bagi kemanusiaan kontemporer. Kondisi ini menunjukkan bahwa pluralisme belum tuntas dipahami dan ditoleransi oleh masyarakat modern sekarang ini, padahal telah diberi teladan oleh Nabi lima belas abad yang lampau. Ketika masyarakat sekarang ini masih mempermasalahkan apalagi menentang realitas beragam atau pluralisme berarti kemunduran yang luar biasa dibanding dengan keteladanan yang dipraktekkan oleh Nabi.

Nabi sangat menghargai perbedaan baik secara pribadi maupun dalam sistem perpolitikan negara yang dibangun. Sikap ini mengilhami para penguasa Muslim dalam menjalankan tugas kenegaraannya. Mereka menerapkan hukum Islam yang sangat longgar dalam memberikan kesempataan pelaksanaan hukum-hukum lain dari berbagai macam agama, sepanjang mereka turut membangun komitmen bersama-sama dalam membangun perdamaian dan tidak menyerang (menyatakan perang). Al-Faruqi menyatakan:

Hukum Islam merupakan satu-satunya hukum yang membolehkan hukum lain berlaku dan dijalankan. Di negara Islam, dimana hukum Islam berdaulat, hukum Kristen, Yahudi, Hindu dan Hukum lain yang ingin dilaksanakan non Muslim bersifat dejure.

Karena itu, negara Islam merupakan negara bebas. Masyarakatnya adalah masyarakat terbuka dan bebas, dimana siapapun disambut baik asal tidak melakukan agresi dan perang, serta menyatakan komitmen terhadap perdamaian dan pemikiran. Negara Islam terbuka bagi Muslim dan non Muslim. Non Muslim leluasa memakai hukumnya sendiri dalam mengatur kehidupan pribadi maupun sosialnya. Kehidupan warga Muslim diatur dengan hukum Islam. Begitu pula urusan negara Islam itu sendiri. Perang dan damai, warga dan non warga, moral publik dan tata kriminal juga diatur  hukum Islam yang menjadi sumber seluruh tata sosial.

 

Toleransi yang sangat tinggi yang ditunjukkan oleh para penguasa Muslim ini sebagai salah satu bentuk dari pelaksanaan pesan al-Qur’an yang menegaskan, tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. (QS. Al-Baqarah[2]: 256). Ayat ini menunjukkan etika dalam beragama yang tidak boleh merugikan orang lain dengan cara memaksa. Bagaimanapun pemaksaan selalu menyakiti hati orang lain yang dipaksa itu, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, bahkan bisa jadi bertentangan dengan hati nuraninya.

Persoalan beragama adalah persoalan hati, sehingga tidak patut dilakukan dengan kekerasan tangan. Sebagai umat Islam kita berkewajiban memerintahkan kebajikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) pada orang lain dalam kerangka mewujudkan keselamatan yang digariskan oleh Allah. Tetapi jika mereka tidak berkenan menerima seruan kita, lantaran mereka telah memiliki keyakinan kebenaran sendiri atas nama Tuhan, maka tidak perlu dipaksakan. Ajakan itu adalah kewajiban kita, sedang penolakan itu adalah hak mereka.

Intinya, gambaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta dapat tercermin dalam tindakan orang-orang Islam sebagaimana digambarkan oleh Nabi, ”Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain” (al-Hadits). Rahmat bagi alam semesta itu dapat diwujudkan dalam konteks perilaku umat Islam yang serba menumbuhkaan manfaat pada orang lain, yang dimulai dengan tutur katanya menimbulkan simpati, tindakannya memberikan keuntungan, keberadaannya memberikan pengayoman, dan pergaulannya menimbulkan kedamaian. Inilah refleksi dan aktualisasi dari penegasan Allah, dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya’ [2])

Pengaruh Hellenisme secara tidak langsung memberikan warna dalam perkembangan pendidikan Islam, hal ini ditandai bahwa ilmuwan muslim sudah tidak lagi membedakan antara pemikiran Aristoteles dan Plato walaupun mereka berseberangan. Mereka menerima karya-karya filsafat Yunani sebagai satu kesatuan bahkan diterjemahkan dalam bahasa Arab secara besar-besaran. Demikian pula umat Islam menerima wordview Neoplatonisme yang menawarkan sebuah teologi teori kesatuan yang menyatakan bahwa alam adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, alam dan kehendak Tuhan pasti sejalan, dimana hal ini dapat dipahami oleh akal manusia dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an.

Islam pada hakekatnya adalah religion of nature, segala bentuk dikotomi antara agama dan sain harus dihindari. Alam penuh dengan tanda-tanda, pesan-pesan ilahi yang menunjukkan kehadiran kesatuan sistem global. Semakin jauh ilmuwan mendalami sains, dia akan memperoleh wisdom berupa philosophic perennis yang dalam filsafat Islam disebut transendence. Iman tidak bertentangan dengan sains, karena iman adalah rasio dan rasio adalah alam. Konflik antara iman dan sains sesungguhnya hanya merupakan struggle antara dua kekuatan yang bertikai yakni kekuatan konservatif yang cenderung tertutup, memformalkan dan mendogmakan sesuatu dengan kekuatan progresif yang cenderung bersifat terbuka, mendeformalkan dan mendedogmaan.

Mulai masa Umayyah sampai Abbasiyah dan puncaknya pada al-Ma’mun hanya sedikit penerjemahan yang dilakukan, namun dengan berbekal pada metode dialektika, logika dan retorika, dan penyajian argumen dalam bahasa Arab, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan, bukan hanya pada bidang filsafat saja, namun ilmu kedokteran, matematika, sains, dan sastra, juga ikut mengalami perkembangan, yang tidak lain karena adanya pengaruh intelektual Hellenisme. Menurut Stanton, aliran yang muncul dalam Islam seperti jabariyah, qadariah, mu’tazilah adalah murni karena pengaruh Kristen.

Baru pada Asy’ariah itulah berdasar pada al-Qur’an dan hadits. Lalu muncullah para filosof muslim, mulai al-Kindi yang membagi dua ilmu pengetahuan menjadi ilmu Tuhan dan ilmu manusia dengan puncaknya pada filsafat, dilanjutkan oleh al-Farabi, yang lebih mengarah pada kogika, etika dan metafisika pengaruh dari Aristoteles, kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Sina yang lebih fokus pada bidang kedokteran, yang memandang penyembuhan manusia tidak hanya dari segi fisik saja melainkan juga penyembuhan jiwa. Pada masa ini penghargaan terhadap akal sangat tinggi, sehingga perbincangan mengenai agama mulai melemah. Maka lahirlah al-Ghazali yang berperan dalam mengakhiri debat antara akal dengan agama melalui konsep sufismenya, sehingga ia lebih dikenal sebagai seorang teolog daripada seorang sains. Baru setelah itu Ibnu Rusy yang kemudian menolak al Ghozali yang meyakini bahwa filsafat adalah cara terbaik untuk menyelesaikan pertentangan antara agama dengan akal, dimana pada saat itu mendapat perlawanan keras dari pihak pemerintah, sehingga ia dibuang dan karya-karyanya dibakar. Justru sejak saat itulah filsafat dan ilmu pengetahuan mendapat apresiasi dan mengalami perkembangan yang pesat di Eropa.

Dari sinilah, maka kemudian Islam banyak memberikan konstribusi terhadap ilmu pengetahuan kepada dunia barat, konstribusi tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Sepanjang abad ke 12 dan sebagian abad 13, karya-karya muslim dalam dalam bidang filsafat, sais telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin, khususnya dari Spanyol. Penterjemahan ini telah memperkaya kurikulum pendidikan dunia barat, khususnya di Northwest Eropa.
  2. Muslim telah memberikan sumbangan eksperiental mengenai metode-metode dan teori-teori sains ke dunia barat.
  3. Sistem notasi dan desimal Arab dikenalkan ke dunia barat.
  4. Karya terjemahan dari Ibnu Sina dalam bidang esehatan dipakai sebagai teks di lembaga-lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad 17.
  5. Ilmuwan-ilmuwan muslim dengan karya-karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa dan memperkaya kebudayaan Romawi kuno.
  6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit, dalam bentuk madrasah sebagai pendahulu berdirinya universitas di Eropa.
  7. Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persia sewaktu Eropa dalam kegelapan.
  8. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan dunia tinggi dunia Islam dan mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia barat.
  9. Ilmuwan-ilmuwan muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi serta makanan ke Eropa.

Kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan Islam ditandai dengan penterjemahan dan penulisan komentar-komentar dari sejumlah manuskrip oleh para sarjana-sarjana muslim, dengan dimulainya penentuan kurikulum pada sebuah lembaga pendidikan yang berisi tentang; nilai-nilai social, kebutuhan dan keinginan peserta didik serta mencari status dan isi suatu disiplin ilmu pengetahuan. Keunggulan dalam perkembangan ilmu Islam adalah sudah dilaksanakannya observasi, eksperimen dan analisis terhadap hasil observasi, diantaranya adalah; Ibnu Jabir Ibn Hayyan ahli ilmu kimia (721-815), al-Khawarizmi ahli matematika (wafat 863), al-Razi ilmu pengobatan observasi klinik (865-925), Ibn al-Haytham ahli optik (965-1039), Abu Rayhan al-Biruni ilmu alam (973-1051), Ibnu Rusyd, al-Khayyam kosmologi Islam; sebuah pengetahuan alam untuk mendukung konsep penyucian jiwa.

Karakter utama sains semakin didefinisikan dan diperjelas, untuk mendukung konsep penyucian jiwa. Dalam kerangka inilah dapat dianalisa bahwa pandangan Islam terhadap sains terikat oleh dua prinsip, yaitu: kesatuan dan hirarki yang berlandaskan agama. Kebenaran dan realitas hanya ada pada kehendak Illahi sebagaimana termanifestasi di alam raya dalam bentuk simbolis saja. Asumsi-asumsi ini sebagai faktor penyebab utama ilmu pengetahuan Islam mengalami kemandekan, dan muslim sulit menerima ilmu pengetahuan dan teknologi barat, sehingga menimbulkan schizophreunia (mengasingkan diri) di kalangan mahasiswa yang harus mempelajari sains dalam dua sistem nilai budaya yang berbeda.

Respon intelektual muslim terhadap perkembangan dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan non keagamaan disalurkan dalam pendidikan yang bersifat informal, lembaga informal ini menciptakan situasi yang produktif bagi para ilmuwan untuk memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan non keagamaan yang kemudian diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Dorongan untuk mempelajari ilmu-ilmu non agama ini adalah untuk mempertajam perangkat intelektual guna mempertahankan keimanan Islam yang baru dalam menghadapi agama-agama lain disamping itu juga karena adanya dorongan untuk memperluas kemampuan pengobatan dan pemahaman terhadap benda-benda alam.

Karena adanya penekanan dan perlakuan yang tidak berimbang antara pendidikan agama dan pendidikan non agama, maka menjadikan lembaga informal untuk bangkit dan meningkatkan materi pengkajian dan tempat pelaksanaannya, baik di rumah pribadi, rumah bangsawan, maupun rumah penguasa, sehingga perkembangan ilmu sains lebih mendapat respon melalui pendidikan informal. Sebagai contoh, al-Kindi mendirikan sekolah informal (berawal dari halaqah) berbahasa Arab, yang mengajarkan filsafat, yang kemudian dikembangkan oleh al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Lalu al-Khawarizm membuat laboratorium perbintangan, maraknya koleksi perpustakaan baik pribadi maupun di perguruan tinggi (masa al-Makmun) di Baith al-Hikmah, penerjemahan dan pencetakan manuscript ilmu pengetahuan baik sains maupun agama, dijadikannya rumah sakit dan klinik sebagai pusat kajian ilmu, menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan umum/sains justru yang menyebarluaskan adalah dari pendidikan informal. Sementara kurikulum pendidikan formal terbatas pada ilmu agama, fiqh dan madzhab, hal inilah yang menurut Stanton sebagai awal kemunduran umat Islam yang mengakibatkan terjadinya transmisi pendidikan tinggi ke Eropa. Sebenarnya intelektualisme Islam pada waktu suda sangat tinggi namun etos keilmuan itu justru diwariskan ke peradaban Barat.

Berawal dari respon inilah (lingkaran studi) kemudian mendapat pengakuan dari masyarakat yang akhirnya menjadikanya sebagai pendidikan formal dengan penambahan materi kajian. Dalam perkembangannya muncullah pengklasifikasian antara pendidikan informal dengan pendidikan formal dengan segala permasalahannya. Untuk lebih memudahkan pemahaman, pengklasifikasian tersebut dapat lihat dari beberapa faktor antara lain:

 

MASALAH

INFORMAL

FORMAL

Tujuan Pendidikan Menpersiapkan kaum muda dalam mengembangkan tanggung jawab keagamaan sejalan dengan keutuhan lingkungan Menpersiapkan kaum muda dalam mengembangkan tanggung jawab keagamaan dan kependidikan atau menduduki jabatan birokrasi dan pemerintahan sipil
Sumber Dana Mendapatkan dukungan dana dari sponsor Mendapatkan dukungan dana dari Negara dan sponsor
Kurikukum Ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu lain Ilmu-ilmu keagamaan
Legalisasi Tidak mendapat pengakuan hukum dalam struktur kemasyarakatan Mendapat pengakuan hukum dalam struktur kemasyarakatan
Pengawasan Dilakukan secara ketat oleh pemerintah dalam penentuan kurikulum dan penggunaan dana Dilakukan secara tidak begitu ketat oleh pemerintah dalam penentuan kurikulum dan penggunaan dana
Kebebasan Terbatas dalam menentukan mata pelajaran dan metode Longgar dalam menentukan mata pelajaran dan metode
Pendukung dan Tanggung Jawab Didukung oleh pribadi atau kelompok dan bertanggung jawab Kepada Masyarakat Didukung oleh kelompok dan pemerintah bertanggung jawab Kepada pemerintah
Dampak kreatifitas Hasil gagasan dan tulisannya dianggap oleh pemerintah sebagai penghianat yang mengakibatkan hukuman. Hasil gagasan dan tulisannya dibawah pantauan pemerinta sehingga untuk mendukung pemerintah.

 

Proyek membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan melalui satu dua bidang kehidupan. Ia merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Untuk itu maka program ini perlu disadari bersama sebagai sesuatu yang wajib (farÌ ‘ayn) dan merupakan tanggung jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat Muslim. Sabda Nabi jelas “Barangsiapa tidak perduli dengan urusan (masalah) ummat Islam maka ia bukan bagian daripada mereka” (al-Hadith).

Jika menengok sejarah kejayaan Islam di Baghdad maka kita akan temui gerakan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersinergi. Gerakan yang dimulai dengan penterjemahan karya-karya asing, khususnya Yunani itu bukan gerakan seporadis atau gerakan pinggiran. Gerakan itu didukung oleh elit masyarakat Baghdad: seperti khalifah dan putera mahkotanya, pegawai negara dan pimpinan militer, pengusaha dan bankers, dan sudah tentu ulama dan saintis. Ia bukan proyek kelompok tertentu. Selain itu, gerakan disubsidi oleh dana yang tak terbatas dari perusahaan negara maupun swasta. Dan yang terpenting, ia dilakukan dengan menggunakan metodologi ilmiyah yang akurat dengan alat filologi yang eksak, sehingga terma-terma asing dapat diterjemahkan dengan tepat.

Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah sentral sifatnya. Dari perkembangan ilmu inilah kemudian dikembangkan bidang-bidang lain baik secara simultan ataupun secara gradual. Ilmu, sudah barang tentu, diperlukan oleh semua kelompok apapun orientasi dan strategi perjuangannya. Pembangunan politik, ekonomi, pendidikan, perbankan Islam dan lain sebagainya tidak bisa tidak harus dimulai dari ilmu. Mungkin diagram dibawah ini dapat menggambarkan konsep tersebut.

Untuk memperbaiki keadaan ini, maka umat Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang beradab. Menurut al-Attas pembentukan individu yang beradab tersebut, secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas. Namun pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan berlandaskan pada interpretasi yang benarsehingga dapat melahirkan sarjana, ulama dan pemimpin Muslim yang mempunyai pandangan hidup Islam.

Perlu dicatat bahwa penekanan pada pendidikan tinggi merupakan salah satu tradisi dalam Islam dan menjadi perhatian utama para pemikir Muslim sejak dulu. Bahkan, target utama dan misi Nabi adalah untuk mendidik individu yang dewasa dan bertanggung jawab. Penekanan terhadap pendidikan dasar dan menengah sering dikaitkan dengan adanya pengaruh Westernisasi dan modernitas. Selain itu universitas juga merupakan tahap akhir dari penyiapan pemimpin-pemimpin masyarakat. Di semua negara universitas adalah tempat dimana individu-individu yang menonjol menjalani pendidikan dan latihan, guna mengatasi kemiskinan sumber daya alam dan manusia. Sebenarnya, pendidikan tingkat dasar dan menengah hanyalah persiapan menuju universitas. Betapapun baiknya reformasi pendidikan dasar dan menengah lanjutan, jika sistem pendidikan tinggi, terutamanya universitas, tidak direformasi sesuai dengan kerangka epistimologi dan pandangan hidup Islam, ia akan mengalami kegagalan. Dengan menekankan pendidikan tinggi maka kekurangan-kekurangan yang ada di pendidikan tingkat rendah dapat diperbaiki.

Agar universitas benar-benar Islami dan merupakan medium pengembangan individu, maka sebuah universitas harus merupakan refleksi dari insan kamil ataupun universal dan mengarah kepada pembentukan insan kamil. Contoh insan kamil dan universal itu yang sangat riel adalah figur Nabi Muhammad saw sendiri. Universitas dalam Islam harus merefleksikan figur Nabi Muhammad dalam hal ilmu pengetahuan dan amal sholeh, dan fungsinya adalah untuk membentuk laki-laki dan wanita yang beradab dengan menirunya semirip mungkin dalam hal kualitas sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing”. Berbeda dari Islam, universitas di Barat mencerminkan keangkuhan manusia. Meskipun mereka juga mempunyai konsep universal, namun karena pengaruh paham humanisme sofistik yang kuat maka manusia diletakkan di atas segala-galanya. Ungkapan Protagoras yang sering mereka kutip adalah bahwa: “manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, segala sesuatu yang ada adalah ada, dan segala sesuatu yang tidak ada adalah tidak ada”.

Pengertian ini juga terjadi di dunia akademis di mana seorang ilmuwan yang lebih muda mengikuti atau memakai pendapat atau teori ilmuwan senior yang lebih pakar. Oleh sebab itu ijtihad bukanlah berpendapat dengan sesuka hati atau dengan sebatas pengetahuan pribadi, tapi berpendapat berdasarkan pada pengetahuan ulama terdahulu yang memiliki otoritas dalam bidang masing-masing. Selain itu kurikulum di Universitas Islam perlu direkonstruksi agar dapat lebih mengarah kepada penanaman ilmu pengetahuan Islam yang berstruktur dan konseptual. Materi Aqidah pada jenjang pendidikan rendah dan menengah mestinya dikembangkan menjadi materi wajib pada jenjang pendidikan tinggi. Di perguruan tinggi ilmu tersebutdapat dikembangkan menjadi Ilmu Tafsir, ilmu Hadith, ilmu Fiqih, ilmu Kalamatau filsafat dan lain sebagainya.

Disini konsep-konsep tentang Tuhan, manusia, alam, akhlaq dan tentang agama dikaji secara mendalam. Itu semua hendaknya diajarkan sehingga dapat menjadi fondasi bagi pengkajian disiplin ilmu lain. Disini sumber pengetahuan inderawi, aqli dan intuisi disatukan dalam suatu cara berfikir yang integral dan tidak secara dualistis: obyektif dan subyektif, idealistis dan realistis. Dengan cara itu dikotomi ilmu pengetahuan, agama dan umum, yang telah begitu merasuk ke dalam kurikulum pendidikan Islam akibat dari sekularisasi pemikiran dapat secara perlahan-lahan dihilangkan.

F.      Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pendidikan Islam sejak kelahirannya mengalami berbagai pasang surut perkembangan, mulai dari masa keemasan, masa kejumudan dan perkembangan sinkronisasi dan integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan modern
  2. Perubahan sosial di suatu masyarakat muslim biasanya ditunjukkan dengan berkembangnya peradaban di masyarakat muslim tersebut. Jadi bisa diambil konklusi bahwa substansi perubahan sosial tersebut adalah munculnya peradaban Islam yang kuat.
  3. Pendidikan Islam memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perubahan sosial karena pendidikan Islam memberikan sumbangan ilmu-ilmu pengetahuan yang mampu mengubah pandangan orang dan mengembangkan kehidupan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam Sejarah dan Peranannya dalam kemajuan ilmu pengatahuan, Jakarta: Logos Publising House, 1994.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2008.

Azyumardi Azra, Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Moderniasasi menuju Millenium Baru, Jakarta, Logos, 1999.

Abdullah Idi & Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Cet. IV, Bandung: Mizan, 1998.

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, alih bahasa Ibrahim Husein, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

M. Athiyah Al Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, alih bahasa Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Muhammad Abdul Jabbar Beg, dalam The Muslim World League Journal, edisi November-Desember, 1983.

Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, New York: Charles Sribner’s sons, n.d.

Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem, Thomson Learning, Australia: A Modern Introduction, Wadsworth, 2001.

Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1996, jilid1. Nomor 1&2.

Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives Belmont, California: Wardsworth, 1997.

Alparslan Acikgence, Scientific Thought And Its Burdens, An Essay in the History and Philosophy of Science, Fatih University Publications, 2000.

Al-Mawdudi, The Process of Islamic Revolution, Lahore, 1967.

M.Sayyid Qutb, Muqawwamat al-Tasawwur al-Islami, Beirut: Dar al-Shurq, tt

Shaykh Óhif al-Zayn, al-IslÉm wa Idulujiyyat al-InsÉn, Beirut: Dar al- Kitab al-Lubnanu, 1989.

S.M.N, al-Attas dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995.

Ibn Khaldun, ‘Abd al-Rahman Ibn MuÍammad, The Muqaddimah: an Introduction to history, Penerjemah Franz Rosenthal, 3 jilid, editor N.J. Dawood. London, Routledge & Kegan Paul, 1978.

Rosenthal, F, Knowledge the Triumphant, Leiden, E.J.Brill, 1970.

Abu Nuaym Abu Nu’aym, Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Asbahani (d.430 A.H.) Hilyat al-Auliya’, 10 jilid, Mesir: al-Sa’adah Press, 1357, 1339.

Oliver Leaman, “Scientif and Philosophical Enquiry: Achievement and Reaction in Muslim History”, dalam Farhad Daftary (ed), Intellectual Traditions in Islam, I.B Tauris, London-New York: in association with The Institute of Ismaili Studies, 2000.

Sharif, M.M., A History of Muslim Philosophy, jilid. II, New Delhi: Low Price Publication, 1995.

Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society (2nd-4th/8th-10 centuries), London-New York: Routledge, 1998.

Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge: Cambridge University Press, 1985.

Alfred Gullimaune, “Philosophy and Theology” dalam The Legacy of Islam, Oxford: Oxford University Press, 1948.

Nurcholish Madjid, Langit Peradaban Islam, Jakarta: Paramadina bekerjasama dengan Dian Rakyat, 2009.

Ahmad Musthafa al-Maraghiy, Tafsir al-Maraghy, Jus III, ttp: Dar al-Fikr, tt.

A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam: Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Franz Magnis Suseno, ”The Challenge of Pluralisme” dalam Komaruddin Amin (eds), Quo Vadis Islamic Studies in Indonesia? [Current Trends and future Challenges], Makasar: Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama RI bekerjasama dengan PPS UIN Alauddin Makasar, tt.

Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, terj. Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1998.

Abdurrohman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik (Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam), Yogyakarta: Gama Media, 2002.

Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Westem Education, Colorado: tp, 1964.

Abdul Latif Tibawi, Arabic and Islamic Themes: Historical, Educational and Literary Studies, London: Luzac & Co., 1974.

James L. Jarrett, Educational Philosophy of the Sophists, New York:  Teachers College-Columbia University Press, 1965

Corliss Lamont, The Philosophy of Humanism, cetakan ulang edisi 1949, New York: The Wisdom Library, 1957.

5 responses

  1. i appreciate your thinking, and the way you express your ideas is amazing. lista de email lista de email lista de email lista de email lista de email

  2. When I first saw this title Islamic Thinking Muhammad Fathurrohman on google I just whent and bookmark it. Just a smiling visitor here to share the love (:, btw outstanding style and design. “Better by far you should forget and smile than that you should remember and be sad.” by Christina Georgina Rossetti.

  3. I just want to say I am just beginner to blogging and absolutely enjoyed this website. Very likely I’m want to bookmark your blog post . You surely have perfect posts. Cheers for revealing your blog site.

  4. I just want to say I am very new to blogging and site-building and really enjoyed you’re blog site. More than likely I’m want to bookmark your website . You certainly come with exceptional articles and reviews. Appreciate it for revealing your webpage.

  5. au jg tersepona dg posting2nya….hehee… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: