Sejarah

EKSISTENSI NABI MUHAMMAD

(Kajian Multi Peran Nabi Muhammad SAW)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.    Latar Belakang

Pribadi Muhammad sebagai pengemban risalah kenabian dan kerasulan memiliki berbagai dimensi yang merupakan perpaduan antara sisi kemanusiaan dan sisi ketuhanan. Nabi Muhammad  saw sungguh luar biasa. Salah satu bagian hidupnya yang membuat umat manusia kagum adalah saat-saat dimana beliau menjadi seorang pemimpin. Beliau pemimpin bagi Islam, sekaligus sebagai pemimpin negara, sekaligus pemimpin rumah tangga, sekaligus pemimpin bagi dirinya sendiri.

Ucapan-ucapan Nabi yang berkenaan dengan pembinaan akhlak yang mulia, bukan saja hanya pandai dalam berkata-kata saja namun beliau dalam hal perbuatan dan kepribadiannya juga mengandung akhlak yang mulia yang pantas untuk kita jadikan sebagai contoh. Beliau juga dikenal sebagai orang yang shidiq(benar), amanah(terpercaya), tabligh(menyampaikan dakwah), fathanah(cerdas). Selain hal tersebut beliau juga bergelar al-amin(orang yang terpercaya). Selanjutnya beliau juga taat beribadah, jauh dari perbuatan maksiat, pemaaf, dan lain-lain. Dengan segala sifat Nabi yang begitu mulia itu dan memang beliau adalah Rasul Allah maka kita wajib untuk mentaati dan mencontohnya. Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan kaitannya dengan kenabian/kerasulan Muhammad, yaitu posisi beliau yang menjadi kepala Negara dan di samping itu beliau juga manusia biasa.

Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama –seperti definisi Al-Sunnah– sebagai “Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya.” Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada “ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum”; sedangkan bila mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai al-Sunnah.

Sumber ajaran umat Islam yang pertama adalah al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk menata serta memberi petunjuk umat manusia. Sedangkan sumber ajaran yang ke dua adalah Hadits sebagai pedoman hidup dan untuk menjaga kemurnian ajaran agama tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari. Hadits mengajarkan kepada umat Islam supaya mereka dapat menjalankan ajaran agama dengan tepat. Tanpa menggunakan hadits, tidak akan utuh dalam memahami ajaran al-Qur’an terlebih bagaimana mengimplementasikan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memahami sebuah ayat sering kita harus memahami kondisi serta situasi ketika sebuah ayat turun (asbabun nuzul) hal ini tidaklah mungkin kita dapatkan selain dari keterangan sebuah hadits.

Meskipun begitu kita tidak bisa seenaknya saja mengambil hadits untuk langsung di jadikan sumber hukum Islam yang pertama tanpa menghiraukan keshahihan sanad maupun matannya. Melalui artikel sedikit ini, penulis akan berusaha memaparkan sedikit mengenai “Eksistensi Nabi Muhammad ”.

B.     Nabi Muhammad SAW.

Rasululloh SAW. lahir dari dilahirkan pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah (570 M). beliau adalah Muhammad saw. Bin Abdullah bin abdul muthalib bin hasyim bin abdi manaf bin qushay bin kilab bin murrah bin ka’ab bin lu’ayy bin ghalib bin fihr bin malik bin nadhr bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudhar bin nizar bin ma’ad bin adnan. Nasab adnan berakhir pada sayyidina Isma’il bin ibrahim alaihimas al-salam.

Sebelum beliau dilahirkan ayahnya telah wafat oleh karena itu kakeknyalah yang mengasuh beliau kemudian di susui oleh Halimatus Sa’diyah. Setelah kakeknya wafat beliau diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib.salah satu dari usaha Muhammad yang terpenting sebelum di utus menjadi rosul ialah berniaga ke syam membawa barang-barang Khadijah. Perniagaan ini menghasilkan laba yang banyak dan menyebabkan adanya pertalian antara Muhammad dengan Khadijah dan mereka kemudian mereka menikah. Waktu itu beliau berumur 25 tahun dan khadijah sudah janda yang berumur 40 tahun.

Nabi atau Rasul adalah seorang manusia biasa yang diangkat Allah dalam rangka mengemban misi ketuhanan untuk setiap manusia. Dalam kapasitasnya sebagai manusia, seorang Nabi atau rasul tentu terikat dengan hukum alamiahnya (lahir–berkembang–mati). Sementara itu, dalam kapasitasnya sebagai manusia pilihan Allah yang bertugas membawakan berita “langit” dan risalah ketuhanan, seorang Nabi atau Rasul mempunyai sejumlah kelebihan dibandingkan manusia pada umumnya. Dengan mengetahui karakteristik Nabi, diharapkan dapat diketahui kapan Muhammad berkedudukan sebagai Nabi atau Rasul, di mana semua tindakan beliau selalu bersifat mengikat (wujub al-qiyam = wajib dilaksanakan), dan kapan Muhammad berkedudukan sebagai manusia biasa, di mana tidak semua tindakan beliau selalu bersifat mengikat (wujub al-qiyam), melainkan hanya sebagai teladan baik (uswah hasanah) saja. Maka sangat perlulah kiranya kita melihat bagaimana kehidupan Nabi dalam berbagai posisi yang beliau emban.

Di sini penulis tidak akan membahas bagaimana awal mula kehidupan Nabi, mulai dari nasab, kisah masa kecil beliau atau tarikh nabi semasa hidup. Tapi akan dibahas mengenai kisah atau riwayat yang menunjukkan berbagai posisi yang dimiliki Nabi saw.

  1. 1.      Nabi Muhammad saw sebagai Nabi/ Rasul

Secara historis, perjalanan Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa risalah langit terbagi dalam tiga periode, yaitu pertama, periode  pra kerasulan, kedua, periode kerasulan dan ketiga, periode pasca kerasulan. Tahap kedua masa kenabian di awali dengan dengan kondisi demografis sosiologis Arab, yakni kondisi masa Makiyyah dan masa Madaniyah. Latar belakang kehidupan bangsa Arab yang begitu buruk lah yang menjadi sejarah awal perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan ajaran Islam.

Tepat pada umur 40 tahun, Muhammad bin Abdullah, suami dari Siti Khadijah, menerima tugas kenabian yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia. Tugas yang tentu saja tidak mudah, sehingga Nabi Muhammad SAW sendiri pada awalnya sempat ragu, apakah benar yang diterima adalah wahyu, dan apakah juga merupakan pengangkatan sebagai Nabi (yang menerima wahyu) dan Rasul (yang diutus menyampaikan misi). Tetapi sang pendamping Siti Khadijah, yang teguh hati, menenangkan, menentramkan, menguatkan dan memastikan bahwa yang diterima benar wahyu dan baginda benar-benar diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Dalam salah satu dialog yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA, pada awal penerimaan wahyu. Nabi Muhammad SAW pernah berkeluh kesah dan berkata pada Khadijah RA: “Wahai Khadijah, tidak ada sesuatu yang paling aku benci kecuali berhala dan para peramal itu, aku khawatir aku akan diangkat menjadi peramal”. “Tidak”, kata Khadijah. “Demi Allah, Dia tidak akan menghinamu, karena kamu adalah orang yang baik terhadap keluarga, suka menjamu tamu, berani mengambil tanggung jawab besar, memberi orang yang kekurangan, dan membantu orang-orang kesusahan. Kamu memiliki banyak sifat-sifat yang baik, yang dengan itu, kamu sama sekali tidak akan didatangi setan”, sambung Khadijah.(HR.Imam Muslim).

Pada kesempatan lain, Siti Khadijah memastikan dan meyakinkan: “Tenanglah wahai anak pamanku, dan tabahlah. Demi Dzat yang menguasai Khadijah, aku yakin kamu terpilih menjadi Nabi bagi umat ini”. Khadijah RA pun kemudian menenangkan Nabi SAW, dengan membawa beliau bertemu Pendeta Waraqah bin Nawfal, yang bisa meyakinkan bahwa yang ditemui Nabi SAW adalah benar Malaikat Jibril seperti yang juga datang kepada Nabi Musa AS.
Kekhawatiran Nabi ini mungkin muncul karena kebesaran misi kenabian yang harus diemban. Misi untuk melakukan perubahan besar pada kehidupan manusia,  dalam bahasa al-Qur’an dilukiskan sebagai misi ‘yukhrijuhum min azh-zhulumât ilâ an-nûr’: mengeluarkan manusia dari kehidupan yang penuh kegelapan, kemusyrikkan, kezaliman, menuju kehidupan yang penuh cahaya, ketauhidan dan keadilan. Firman Allah tentang misi Nabi kepada seluruh umat manusia, yang artinya :

الركِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)

“Alif Lâm Râ, (ini) adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, agar kamu (dapat) mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan izin Tuhanmu, yaitu ke jalan (Tuhan) Yang Maha Agung dan Amat Terpuji”. (QS. Ibrahim, 14: 1).

Lebih tegas lagi, misi kenabian itu dilukiskan al-Qur’an surat al-A’râf ayat ke-157:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“Mereka orang-orang yang mengikuti Nabi yang buta huruf, mereka temukan namanya tertulis dalam Kitab Taurat dan Injil, (misinya) menyeru mereka pada kebaikan, melarang kemungkaran, menghalalkan sesuatu yang baik bagi mereka, mengharamkan mereka (mengkonsumsi) sesuatu yang kotor, melepaskan mereka dari beban berat dan belenggu-belenggu yang (menggelayuti) mereka”. (QS. Al-A’râf, 7: 157).

Dalam suatu hadits di sebutkan bahwa sesungguhnya nama Nabi Muhammad telah di sandingkan di sisi Allah sebelum dunia ini ada, Al-‘Irbadh bin sariyah berkata, Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku adalah Nabi yang terakhir di sisi Allah pada saat Adam masih bercampur dengan tanah.” (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim,danAhmad).

Maisarah A-Fajr berkata, aku bertanya, “Ya Rasulullah kapankah engkau menjadi Nabi?” Beliau menjawab, “Pada saat Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan bumi, peristiwa di langit, menciptakan tujuh langit, menciptakan Arasy, lalu Dia menulis di tiang Arasy ‘Muhammad adalah penutup rasul’. Dia menciptakan surga yang mana Adam dan Hawa ditempatkan di sana, Dia menulis namaku pada pintu-pintu, daun-daun kubah, dan kemah-kemah, sedangkan Adam masih berada di antara Ruh dan Jasad. Tatkala Allah menghidupkan Adam, Adam pun melihat ke arah Arasy dan melihat namaku, Allah memberitahukannya bahwa itu adalah penghulu keturunanmu. Ketika Adam dan Hawa diperdayakan oleh setan, mereka bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah dengan menggunakan namaku.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ath-Thabarani).

Hadits lain yang cukup masyhur tentang kerasulan Muhammad adalah;  “Bu’itstu li-utammima makârim al-akhlâq” (Bahwa aku diutus (ke dunia ini), untuk menyempurnakan akhlaq mulia), (Riwayat Imam Malik) .

Kebaikan akhlaq adalah misi utama kenabian yang diemban Rasulullah SAW. Dengan demikian, misi kenabian bagi kemanusiaan adalah bagaimana menciptakan kehidupan yang penuh kasih sayang, tanpa kekerasan, kekasaran dan kesombongan serta ehidupan yang penuh dengan akhlak mulia. Dalam salah satu teks hadis lain, lebih tegas disebutkan: “Sesungguhnya, aku hanyalah diutus untuk menebar kasih sayang, dan tidak untuk pelaknatan”. (Riwayat Imam Muslim).

Misi ke-Rasulan tentu bukan misi yang ringan dan mudah. Hanya karena taufiq dan ma’unah (pertolongan) dari Allah SWT, serta keteguhan hati dan kekuatan moralitas Nabi SAW, yang membuat misi itu bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, 23 tahun. Tidak heran, sehingga saat sebelum Nabi SAW wafat, turunlah ayat “al-yawma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matî wa radhitu lakum al-islâma dînan”.

Tentu saja, kesempurnaan yang dimaksud adalah dalam hal prinsip untuk menegaskan ketauhidan dan keadilan, serta menegasikan kemusyrikan dan kezaliman. Karena dalam tataran praktis, ayat ‘kesempurnaan’ ini bukan ayat terakhir. Masih ada jeda waktu enam bulan paska turunnya ayat ini. Di mana Nabi SAW – pun, masih menerima wahyu ayat-ayat al-Qur’an. Di samping kesempurnaan al-Qur’an juga masih harus dijelaskan dengan teks-teks Hadis, ijma’, qiyas, kajian bahasa dan pendekatan-pendekatan ijtihad yang lain.

2.      Nabi Muhammad saw sebagai Pemimpin Umat/ Negara

Para Nabi dan Rasul yang di utus Alloh, dilihat dari pendekatan visi dan misi, dapat dibagi ke dalam dua bagian, pertama, Nabi yang hanya membawa doktrin teologis semata dan kedua, nabi yang membawa doktrin teolgis sekaligus membawa doktrin politis.  Doktrin Teologis adalah doktrin yang menekankan substansi moral dalam mempersatukan ideal moral manusia dengan ideal moral Tuhan tanpa melakukan perubahan sosial politik sebagai bagian dari proses ideal moral tersebut, sedangkan Doktrin teologis politis adalah doktrin yang mengedepankan ajakan moral sekaligus berusaha melakukan perubahan sistem untuk menata institusi-institusi sosial politik. Pendapat ini di sampaikan oleh Dedi Supriyadi dalam bukunya Sejarah perdaban Islam. Nabi-nabi yang termasuk Ulul ‘Azmi tergolong pembawa doktrin teologis politis.

Nabi muhammad juga termasuk golongan tersebut, karena selain beliau mengajarkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan hal-hal bersifat keakhiratan , juga berusaha beserta umatnya menata kekuatan untuk mengambil alih kepemimpinan orang Quraisy. Peran ini sebegitu dominan, terutama pada saat Nabi berada di Madinah.

Jika mau jujur sebetulnya hingga saat ini belum ada pemimpin negara yang mampu bersaing dengan Nabi Muhammad saw. “Kampanye” Cara yang beliau kerjakan pun  benar-benar terstuktur. Sahabat-sahabat yang menjadi tulang punggung beliau dalam perjuangan mempunyai kharisma yang cukup besar dalam golongannya masing-masing. Sebut saja Abu Bakar ra. yang mewakili kalangan tua dan tokoh masyarakat. Kemudian Ali bin Abi Thalib ra.  mewakili kalangan muda terpelajar. Khadijah ra. mewakili kalangan wanita pengusaha.  Zaid bin Haritsah ra.  mewakili kalangan tenaga kerja (khadam). Bilal bin Rabah ra. mewakili kalangan mantan budak. Ibnu Shihab Ar-Rumi mewakili belahan dunia barat (Romawi). Salman Al-Farisi mewakili belahan dunia Timur (Persia). Utsman bin Affan ra. mewakili kalangan saudagar. Asma binti Abu Bakar ra. mewakili kalangan aktivis perempuan. Aisyah binti Abu Bakar ra. mewakili kalangan wanita terpelajar. Umar bin Khattab ra. mewakili kalangan elit dan pejabat publik.

Usamah bin zaid ra. mewakili anak-anak belasan tahun (remaja lingkungan). Abdullah bin Umar ra. mewakili kalangan remaja terpelajar. Hasan bin Tsabit ra. mewakili kalangan pujangga seniman dan penyair.  Zaid bin Tsabit  ra. mewakili kalangan muda ahli bahasa. Al-Habbab ibnu Mundzir ra. mewakili kalangan militer dan ahli strategi perang. Nuaim bin Mas’ud ra. mewakili kalangan ahli rekayasa dan menejemen konflik. Ummu Aiman ra. mewakili wanita pekerja dan Ibu Rumah Tangga. Abdullah ibnu Mas’ud ra. mewakili kalangan Qurra’ (Qari Al-Qur’an).

Dengan mendasarkan nama-nama diatas, cukuplah kiranya fakta bahwa nabi adalah pemimpin yang disegani, dicintai, dihargai, dipuja, oleh semua lapisan rakyatnya. Lalu beliau telah mampu merangkul begitu banyak golongan dan mereka mendaulat Nabi sebagai pemimpin dan sikapnya tidak berubah beliau tetap saja sebagai pribadi yang sangat bersahaja dan patut ditiru. Berikut contoh kisah-kisah Nabi yang menggambarkan bagaimana Rasululloh menjadi pemimpin negara yang sangat bijak dan adil, serta peradaban yang beliau  bangun, antara lain;

  1. Peletakan asas-asas politik, ekonomi dan sosial, masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah adalah masyarakat Madinah. Karena di kota inilah kepluralitasan suatu negara sangat dijunjung tinggi, berbeda dengan di Makkah. Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakat Islam di Yasrib adalah:
    1. Nabi mengubah nama Yasrib menjadi Madinah. Nama ini menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad yaitu membentuk sebuah masyarakat yang maju dan berperadaban.
    2. Membangun Masjid Nabawi di Madinah.
    3. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah(mu’akhat).
    4. Membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang selain Islam
    5. Nabi Muhammad saw. membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan yang datang dari musuh-musuh Islam.
    6. Bersama-sama masyarakat Madinah membentuk Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan kenegaraan dan sebagai dasar  hubungan antar sesama anggota komunitas Islam maupun dengan komunitas selainya.
    7. Kisah Nabi saat memimpin Perang Uhud.
    8. Kemampuannya dalam mengadakan hubungan internasional dengan berkirim surat yang bertujuan untuk “memproklamirkan Islam” kepada para raja dan gubenur dari negara lain.

Ketika kemudian praktek kenegaraan yang dijabarkan oleh nabi, yaitu “Membangun negara Madinah dan pemerintahannya” ditinggalkan Nabi, meninggal dunia,  Praktek ini tetap dilanjutkan oleh penerus beliau, 4 khalifah yang terkenal (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) atau Khulafaurrasyidin Ahmadiyyin (Pemimpin yang cerdas dan mendapat petunjuk).

3.      Nabi Muhammad saw sebagai Manusia Biasa

Walaupun Nabi Muhammad begitu mulia dan agung, serta memiliki kedudukan yang langsung di bawah Alloh swt, pada  kenyataannya beliau adalah manusia biasa secara fisik. Dalam kapasitasnya sebagai manusia, seorang Nabi tentu terikat dengan hukum alamiahnya (lahir–berkembang–mati). Nabi juga makan, minum punya istri sebagaimana manusia biasa. Rasul adalah seorang manusia biasa yang diangkat Allah dalam rangka mengemban misi ketuhanan untuk setiap manusia. dalam kapasitasnya sebagai manusia pilihan Allah yang bertugas membawakan berita “langit” dan risalah ketuhanan. Seorang Nabi/ Rasul mempunyai sejumlah kelebihan dibandingkan manusia pada umumnya.

Berikut ini contoh kapasitas Nabi sebagai manusia biasa yang patut diteladani karena semua yang datang dari nabi adalah Sunnah dan sudah seharusnya di ikuti:

  1. Sebagai manusia biasa (basyar), Muhammad bisa melakukan “kekhilafan” sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam suatu kesempatan, Muhammad memang pernah mengambil suatu tindakan yang didasarkan atas sifat-sifat kemanusiannya, di mana ternyata tindakan yang diambil beliau langsung mendapat teguran keras dari Allah. Di antara contoh tindakan Muhammad yang didasarkan atas sifat kemanusian tersebut adalah ketika  beliau mengacuhkan Ibn Umm Maktum al-A’ma ketika para pembesar kaum Musyrik datang kepada beliau, di mana peristiwa ini lah yang menyebabkan turunnya Q.S. Abasa, (80):1-2.  Adapun contoh lain adalah peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya Q.S. al-Anfal (8): 67.
  2. Kaitannya dengan berbagai posisi yang di miliki Nabi saw selama hidup, baik sebagai Rasul, sebagai pemimpin umat ataupun sebagai manusia biasa, Abdul Harits dalam artikelnya tentang sebutan Nabi yang ada di dalam Al Qur’an menemukan lima macam sebutan untuk Rosululloh saw. Nama- nama itu pada dasarnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, yaiut:

1)      Muhammad dengan sebutan Ahmad

Sebutan “Ahmad” dalam al-Qur’an hanya ditemukan dalam satu ayat yaitu Q.S. al-Saf (61): 6. Penyebutan ini terkait dengan misi Isa Ibn Maryam sebagai seorang Rasul yang membenarkan firman Allah dalam kitab Taurat dan berita gembira tentang akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad.  Yang dimaksud Ahmad dalam ayat tersebut adalah Muhammad sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain (Q.S. al-Fath, 48:29).  Menurut Muhammad Taqiyuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan, Ahmad adalah nama kedua dari Muhammad saw. yang berarti orang yang memuji Allah lebih dari selainnya.

Sementara, menurut al-Ragib al-Asfahani, kata Ahmad mengisyaratkan kepada (kenyataan kondisi) Nabi s.a.w. baik pada nama maupun tindakan beliau. Hal ini merupakan peringatan bahwa nama Ahmad sebagaimana yang ditemukan dalam kenyataannya adalah seorang yang terpuji akhlaknya dan segala gerak-geriknya (ahwal)..  Jadi, kata Ahmad dalam al-Qur’an merupakan nama lain dari Muhammad yang pernah disinggung dalam kitab-kitab sebelumnya, terutama kitab Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru).

2)      Muhammad dengan sebutan Muhammad

Dalam al-Qur’an, penyebutan “Muhammad” hanya ditemukan dalam empat ayat saja, yaitu Q.S. Ali Imran  (3): 144; al-Ahzab  (33): 40; Muhammad (47): 2; dan al-Fath (48): 29. Kesemua ayat tersebut selalu dikaitkan secara langsung dengan sebutan “Rasul”, kecuali Q.S. Muhammad (47): 2, yang harus selalu ditaati. Akan tetapi, secara tidak langsung Q.S. Muhammad (47): 2 tersebut juga mengisyaratkan keharusan percaya (iman) terhadap risalah yang disampaikan oleh Muhammad, karena risalah tersebut merupakan kebenaran dari Allah. Jadi penyebutan “Muhammad” dalam al-Qur’an selalu dikaitkan dengan fungsinya sebagai seorang utusan (Rasul) Allah yang harus ditaati.

Di samping itu, kata “Muhammad” juga diangkat sebagai salah satu nama surat dalam al-Qur’an.  Secara umum isi dari surat Muhammad ini adalah seruan untuk selalu percaya (iman) terhadap risalah Muhammad sebagai sebuah kebenaran dari Allah (ayat 2).

3)      Muhammad dengan sebutan Rasul (utusan)

Kata “rasul” (termasuk bentuk pluralnya) dalam al-Qur’an disebut sebanyak 342 kali.  Berdasarkan penelitian Abdullah Yusuf Ali, pengertian harfiah kata “rasul” dalam seluruh ayat al-Qur’an adalah “orang yang diutus”.  Oleh karena itu, penggunaan kata “rasul” dalam al-Qur’an dapat dalam pengertian “malaikat” (seperti Q.S. al-H}aqqah (69): 40; al-Takwir (81): 19; Hud (11): 69, 77 & 81; al-Ankabut (29): 31 & 33; al-Mursalat  (77): 1; dan al-Zukhruf  (43): 80), juga dapat dalam pengertian “nabi” (seperti Q.S. Ali Imran (3):144; al-Maidah (5): 68; al-An’am (6): 48; dan al-Kahfi (18) 56), (Q.S. al-Mu’minun (23): 51).

Jika dilihat dari arti Rasul terkait dengan ketaatan, maka kewajian ketaaan yang terdapat dalam al-Qur’an selalu terkait dengan rasul, bukan nabi. Pada kutipan ayat pertama (al-Maidah  (5):15), kata rasul dikaitkan dengan ahl al-kitab, baik umat Yahudi dengan Kitab Suci Tauratnya ataupun umat Nasrani dengan Kitab Suci Injilnya. Di sini juga, kata rasul mengacu pada nur (Muhammad)  dan Kitab Suci al-Qur’an.  Sementara pada kutipan ayat yang kedua dan ketiga, secara tegas bahwa seorang rasul harus ditaati.

Dengan demikian, dapat ditegaskan di sini bahwa penyebutan Muhammad sebagai rasul mengacu pada dua sepesifikasi di atas. Muhammad adalah seorang yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah (Kitab Suci al-Qur’an) sebagai syari’at bagi umat Muhammad, dan seorang utusan Allah yang harus ditaati seruan-seruannya (baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun selain al-Qur’an, al-sunnah). Sebagaimana yang akan kita bahas pada fungsi Hadits terhadap Al Qur’an.

4)      Muhammad dengan sebutan Nabi

Kata “nabi” (tanpa hamzah) dalam al-Qur’an disinggung sebanyak 80 kali,  di mana akar katanya (n – b – a) yang berarti pembawa berita. Bila dilihat bentuknya, kata ini merupakan bentuk ism fa’il yang menyalahi aturan (anomaly), di mana bentuk yang semestinya adalah nabi’ (dengan hamzah). Penyimpangan ini adalah kesengajaan dimaksudkan untuk menempatkan pembawa berita yang “agung” (  dari Allah) pada derajat lebih tinggi daripada pembawa berita selainnya.

5)      Muhammad dengan sebutan Basyar (Manusia)

Dalam al-Qur’an, penyebutan kata basyar ditemukan dalam 47 ayat.  Kata basyar ini hampir semuanya mempunyai pengertian “manusia”  dalam arti lahiriah yang kasat mata dan dapat diraba, kecuali Q.S. al-Mudastir (74): 29, yang berarti kulit manusia. Menurut Musa Asy’ari, pengertian basyar adalah manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas lahiriyahnya yang dipengaruhi oleh dorongan kodrat alamiahnya, seperti makan, minum, bersetubuh, dan akhirnya mati.

Bila ke-47 ayat yang di dalamnya ditemukan kata basyar dicermati secara seksama, maka penggunaannya mempunyai konteks yang berbeda-beda. Allah menjelaskan melalui rasul dan nabi-Nya bahwa mereka (para rasul dan nabi) adalah manusia seperti mereka, hanya saja mereka diberi karunia (kelebihan) di banding yang lain. Di antara contoh ayat yang menjelaskan hal ini adalah Q.S. Ibrahim, (14):10-11. Kenyataan kemanusian Muhammad pun juga diakui olehnya sendiri dalam al-Qur’an, meskipun kemanusiaannya memang berbeda dari selainnya. Beliau adalah manusia yang diberi wahyu tentang tauhid kepada Allah (Q.S. al-Kahfi, 18:110 & Fussilat, 14:6).

Demikian pula dalam Q.S. al-Isra’ (17): 93-94 yang terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya (ayat 90-93 & 95) di mana orang-orang kafir tidak percaya kepada Muhammad karena ia tidak mampu membawakan mukjizat yang bersifat material (memancarkan air dari bumi, memiliki kebun kurma dan anggur dengan air sungai yang melimpah, menjatuhkan langit, mendatangkan Allah dan malaikat, memiliki rumah emas atau kemampuan naik ke langit).

C.    Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Rasul Atau Nabi

Rasul adalah utusan Allah di bumi untuk menyampaikan risalah atau wahyu kepada manusia dan memerintahkan agar manusia mau beriman dan menyembah Allah serta beribadah kepadaNya. Nabi Muhammad saw merupakan rasul yang terakhir yang diturunkan kepada semesta alam dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kehadiran Nabi Muhammad adalah untuk menegakkan dan menyebarkan ajaran yang berupa agama Islam di tanah Arab khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya.

Sebagai rasul dan Nabi yang diutus untuk semesta alam tentulah Muhammad saw diberi kitab yang memuat seluruh ajaran yang akan disampaikan kepada manusia. Kitab tersebut bernama al-Qur’an. Namun sebagaimana diketahui, bahwa isi al-Qur’an sangat ringkas dan padat sehingga tidak semua orang mampu memahaminya dengan baik, tanpa bantuan penjelasan dari Nabi Muhammad saw. Bahkan mengenai kejadian yang mengiringi al-Qur’an saja, manusia tidak mampu memahaminya dan tidak mempercayainya. Di situlah peran hadits sebagai penjelas al-Qur’an juga sebagai penjelas kronologi kejadian wahyu. Seperti dalam hadits berikut:

Ketika wahyu pertama yaitu ayat 1-5 turun pertama kali, yaitu di gua hira’. Selagi usia Nabi hampir mencapai 40 tahun. Gua hira’ terletak di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira dua mil dari Makkah.

Ayat 1-5 merupakan wahyu yang pertama kali turun dan sekaligus bukti kerasulan Nabi Muhammad. Adapun tentang kondisi Nabi sebelum turunnya wahyu tidak banyak ditemui riwayatnya. Namun diceritakan bahwa sebelum menerima wahyu pertama, Nabi sering bermimpi yang disebut al-ru’ya al-Shalihah (mimpi yang benar). Kemudian beliau ber-tahannuts di gua hira’. Dan pada suatu malam didatangi oleh malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5.

Riwayat ini dapat ditemukan dalam kitab Bukhari dan Muslim melalui jalur yang berbeda. Adapun riwayatnya adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ….

Artinya: “Yahya bin Bukhair meriwayatkan kepada kami, dia berkata Al-Lais telah meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah ibn Zubair dari Aisyah Ummu al-Mukminin bahwa beliau berkata: Wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah berupa mimpi yang baik dalam tidur, Muka beliau tidak melihat di dalam mimpi itu melainkan dating bagaikan cahaya subuh. Setelah itu, beliau suka menyendiri. Beliau menyendiri di Gua Hira’ untuk beribadah beberapa malam di sana. Setelah itu beliau kembali ke rumah untuk mengambil bekal, lalu kembali lagi ke Gua Hira’ sampai datang kepadanya al-haq (kebenaran) ketika beliau masih berada di sana. Tak lama berselang, datang malaikat seraya berkata iqra’ aku menjawab (saya tidak bisa membaca) lalu malaikat merangkul dan memelukku sehingga aku kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata iqra’ , aku menjawab (saya tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku lagi sampai aku kepayahan,, kemudian melepaskanku dan berkata iqra’,  aku menjawab (aku tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku sampai aku kepayahan, kemudian melepaskanku untuk ketiga kalinya, lalu ia berkata:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Setelah peristiwa yang mencekam itu. Rasulullah pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, sehingga bagitu sampai di rumah beliau berkata kepada istrinya Khadijah: “selimuti aku, selimuti aku”. Maka ia menyelimutinya, sampai ketakutannya hilang, lalu beliau menceritakan kepada Khadijah kejadian yang menimpanya, dan berkata: “aku khawatir terhadap diriku”. Tanpa berpikir panjang, Khadijahpun berkata: “Sekali-kali tidak begitu, demi Allah, Allah tidak akan mengecewakan kamu selama-lamanya. Engkau akan menghubungkan sillaturrahmi, memikul tanggung jawab, mengusahakan yang belum ada, memuliakan tamu dan membela kebenaran”.

Dari riwayat di atas dapat diketahui bahwa ayat tersebut turun dengan didahului oleh mimpi yang benar (ru’ya al-Shalihah). Mimpi tersebut menurut al-Kasymiri, berfungsi sebagai pengingat dan pertanda bahwa ia tersebut dalam keadaan hatinya tidak tidur, yang itu semua merupakan seperempat puluh enam dari masa kenabian. Mimpi tanda kenabian tersebut tidak hanya dialami oleh Nabi Muhammad saja, akan tetapi juga oleh beberapa Nabi sebelum Nabi Muhammad. Misalnya Nabi Yusuf sebagaimana yang ada dalam surah Yusuf ayat 4, yang bunyinya sebagai berikut:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4)

Artinya:    “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa tentang mimpi Yusuf yang dikemukakan oleh Yusuf kepada bapaknya. Mimpi tersebut akan menjadi sebuah kenyataan, yaitu ketika Yusuf sudah menjadi seorang gubernur. Hal itu merupakan salah satu pertanda kenabian yang dialami oleh nabi sebelum Muhammad.

Jadi intinya hadits merupakan bagian integral dari kerasulan dan kenabian. Hadits merupakan penjelas dan penjabaran dari sesuatu yang ada dalam al-Qur’an atau bahkan yang tidak ada dalam al-Qur’an. Di samping itu, hadits juga menjelaskan tentang sesuatu yang terjadi yang berkaitan dengan diri Nabi Muhammad.

D.    Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Hakim

Apabila kita pelajari dengan seksama, suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui hadits-hadits sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatkan kita menarik sebuah garis bahwa hadits Rasul sebagai dasar tasyri’. Rasul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya, mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas. Tak ada protokol-protokolan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, yakni tak boleh mereka terus masuk ke rumah dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliaulah, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majelis-majelis Nabi. Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota Madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka ke kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Sebagian sahabat sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan sebuah hukum kepada Nabi, seperti ceritanya Uqbah dalam syarah al-Bukhari. Apabila Nabi tidak dapat menjelaskan secara terus terang, karena tabu mengucapkannya, maka ia menyuruh istri-istrinya untuk menjelaskan hal itu. Biasanya hal itu terjadi dalam masalah-masalah kewanitaan, misalnya masalah haid.

Kitab Allah, juga secara sosio kultural memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan tuntunan umat Islam secara normal. Karena itu pula, pernyataan, pengalaman, persetujuan dan hal-ihwalnya sebagai hadits menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan peranannya. Karena merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.  Jelaslah bahwa Rasulullah telah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia dengan penuh amanah dan dengan segera menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Penjelasan mengenai isi dan kandungan al-Qur’an diberikan lewat berbagai ucapan, perilaku dan amalan yang dilakukan Nabi dalam ajaran lain, segala perbuatan, tindakan dan ucapan Rasulullah adalah tafsir ata konsepsi Islam secara keseluruhan. Sebab segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah adalah benar dan tidak ada yang sia-sia barang sedikitpun.

Al-Qur’an juga memuat ayat mutasyabihat, ayat muhkamat. Ada juga ayat yang bersifat mutlaq dan mujmal. Oleh karena itu, Rasulullah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukum syariat kepada orang banyak seperti, umpamanya, cara mengerjakan shalat, mengetahui waktu-waktu shalat, jumlah rakaat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan shalat. Begitu pula, beliau menjelaskan bagaimana cara mengerjakan ibadah haji, mengeluarkan zakat, jual beli yang sah dan sebagainya. Hal-hal demikianlah yang secara eksplisit tidak ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an

Hal ini menjelaskan kepada kita tentang tiadanya sisi perundang-undangan dalam ayat-ayat Makkiyah yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana nyata keberadaannya dalam ayat-ayat Madaniyah. Peranan Rasulullah yang lainnya adalah mengadakan hukum syariah, secara independent telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an berikut ini:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7)

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar taat pada Allah dan taat pada Rasul dalam segenap perintah dan larangannya yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan peranan hadits atau sunnah Nabi dalam menetapkan hukum syariah secara independent. Bahkan Nabi memberi kebebasan bagi para sahabatnya dalam memutuskan hukum, namun yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagaimana sabda Nabi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي عَوْنٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dari laki-laki teman Mu’adz; sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Mu’adz ke Yaman. Kemudian Nabi bertanya: “Bagaimana kamu memutuskan suatu perkara?” Mu’adz menjawab: “Saya memutuskan perkara tersebut berdasarkan kitab Allah.” Nabi berkata: “Bagaimana kalau tidak ditemukan di dalam kitab Allah?” Mu’adz menjawab: “Saya akan memutuskan berdasarkan sunnah Rasul allah.” Nabi berkata: “Bagaimana jika dalam sunnah juga belum ditemukan.” Mu’adz menjawab: “saya akan berijtihad.” Rasulullah kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan pada utusan Rasul-Nya.”

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Artinya: Dari Amr bin Ash, dia mendengar Rasulullah bersabda: “jika seorang hakim memberi keputusan menurut pengetahuan terbaiknya dan putusannya itu benar, ia akan menerima pahala ganda, dan jika putusannya itu salah, maka masih mendapat satu pahala.”

Dari kedua hadits tersebut, dapat diketahui bahwa Nabi adalah tokoh penegak hukum terkemuka dalam sejarah. Bahkan Nabi Muhammad termasuk dari 18 orang pembina hukum utama dunia. Jadi hadits pada masa Nabi Muhammad sudah merupakan salah satu sumber hukum, namun hadits pada masa itu belum dikodifikasikan.

E.     Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Kepala Negara

Nabi adalah pemimpin yang disegani, dicintai, dihargai, dipuja, oleh semua lapisan rakyatnya. Lalu beliau telah mampu merangkul begitu banyak golongan dan mereka mendaulat Nabi sebagai pemimpin dan sikapnya tidak berubah beliau tetap saja sebagai pribadi yang sangat bersahaja dan patut ditiru. Berikut contoh kisah-kisah Nabi yang menggambarkan bagaimana Rasulullah menjadi pemimpin negara yang sangat bijak dan adil, serta peradaban yang beliau  bangun, antara lain;

  1. Peletakan asas-asas politik, ekonomi dan sosial, masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah adalah masyarakat Madinah. Karena di kota inilah kepluralitasan suatu negara sangat dijunjung tinggi, berbeda dengan di Makkah. Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakat Islam di Yasrib adalah:
    1. Nabi mengubah nama Yasrib menjadi Madinah. Nama ini menggambarkan cita-cita Nabi Muhammad yaitu membentuk sebuah masyarakat yang maju dan berperadaban.
    2. Membangun Masjid Nabawi di Madinah.
    3. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah(mu’akhat).
    4. Membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang selain Islam
    5. Nabi Muhammad saw. membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasi gangguan yang datang dari musuh-musuh Islam.
    6. Bersama-sama masyarakat Madinah membentuk Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan kenegaraan dan sebagai dasar  hubungan antar sesama anggota komunitas Islam maupun dengan komunitas selainya.
    7. Kisah Nabi saat memimpin Perang Uhud.

Kemampuannya dalam mengadakan hubungan internasional dengan berkirim surat yang bertujuan untuk “memproklamirkan Islam” kepada para raja dan gubenur dari negara lain. Maka dari itu, Nabi merupakan sosok kepala Negara yang berhasil membina negaranya dari kondisi yang amoral menjadi bermoral.

Peran hadits dalam hal ini adalah sebagai hasil dari interaksi Nabi Muhammad sebagai kepala Negara dalam mengatur Negara dan rakyatnya. Hadits merupakan sesuatu yang include di dalamnya. Karena hadits merupakan bagian dari kegiatan Nabi Muhammad saw.

F.     Eksistensi Hadits Di Tengah Peran Nabi Muhammad Sebagai Manusia Biasa

Nabi adalah utusan Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Karena obyeknya adalah manusia, maka yang diutus juga seorang manusia. Disamping itu, banyak ungkapan dalam al-Qur’an yang mengemukakan bahwa Muhammad adalah manusia biasa. Dari sini, wajar kalau Nabi Muhammad juga makan, minum, tidur, beristri dan lain sebagainya sebagaimana layaknya manusia biasa. Hal inilah yang kadang memancing kesalahan kontroversi pemahaman, ada yang menganggap semua yang dilakukan Nabi itu adalah hadits, namun ada yang membeda-bedakan antara kegiatan yang bersifat basyariyah dengan kegiatan edukatif.

Nabi yang berperan sebagai manusia biasa juga pernah mengalami kesalahan, yaitu ketika Nabi memberi saran kepada salah satu orang untuk tidak mengawinkan pohon kurma. Namun, akibatnya pohon kurma itu tidak jadi berbuah. Pohon kurma akan berbuah apabila dikawinkan. Selanjutnya Nabi bersabda: “kamu lebih mengetahui tentang seluk beluk perkara duniamu”. Hal itu merupakan titik tekan bahwa Nabi Muhammad juga seorang manusia. Jadi eksistensi hadits ketika Nabi berperan sebagai manusia masih terpelihara kecuali dalam masalah dan hal-hal tertentu.

G.    Kesimpulan

  1. Nabi Muhammad SAW.

Dapat disimpulkan bahwa taat kepada Rasululloh saw adalah suatu kewajiban, sebab taat kepada Alloh juga di isyaratkan taat kepada Rasul. Dan setelah Rasul wafat ketaatan itu di wujudkan dalam menerima dan mengikuti Sunnah-sunnahnya. Oleh karena itu umat islam sejak periode-periode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan memakai sunnah-sunnah Rasul. Sebagai perwujudanya, hukum-hukum yang mereka terapkan sejak zaman Nabi tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan itu.

  1. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai Rasul atau Nabi adalah sebagai penjelas terhadap al-Qur’an dan sebagai penjelas kejadian yang di sekitar turunnya al-Qur’an.
  2. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai hakim adalah hadits merupakan penjelasan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya atau orang yang bertanya kepadanya.
  3. Eksistensi hadits ketika Nabi sebagai kepala Negara, hadits merupakan bagian yang include ke dalam peran Nabi tersebut.
  4. Eksistensi hadits ketika Nabi berperan sebagai manusia masih terpelihara kecuali dalam masalah dan hal-hal tertentu

DAFTAR RUJUKAN

Thahan, Mahmud, Taisir Mustalah al-Hadits, Surabaya: al-Haramain, tt.

Al-Tazi, Mustofa Amin Ibrahim, Muhadharat fi Ulum al-Hadits, Kairo: Matba’ah Dar al-Tasrif, 1971.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Terjemahan Hadits Shahih Muslim., Juz 1., oleh: H.A.Razak  & H. Rais Lathief., Jakarta:Pustaka Al-Husna,1978.

Muslim al-Hajaj, Shahih Muslim, juz 1, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Azami, M.M., Hadits Nabawi dan Sejarah  Kodifikasinya, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Al-Mubarakfury, Shafiyyurrahman, Al-Rahik al-Mahtum (Sirah Nabawiyah), terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2004.

al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il, Shahih Bukhari juz 1, Mauqi’u al-Islam: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Hajaj, Abu al-Husain Muslim ibn, Shahih Muslim, juz 1, Mauqi’u al-Islam: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

al-Kasymiri, Abu Abdillah, Faidhu al-Bari Sarh al-Bukhari, juz 1, Maktabah Miskah al-Islamiyah: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Aziz, Erwati, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003.

Ash Shiddiqiey, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1954.

AsSa’idi, Abdullah, Hadits_Hadits Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Yusuf, M., et.all, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Fakultas Ushuluddin, 2005.

Shahrur, Muhammad, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, terj Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: Elsaq Press, 2004.

Al-Tirmidzi, Abu Bakar, Sunan Tirmidzi, juz 5, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 22, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Antonio Muhammad Syafi’I  , Muhammad saw The Super Leader Super Manager, Jakarta: ProLM Centre and Tazkia Publishing, 2009.

SEJARAH KHULAFAUR RASYIDIN 1

(Kajian Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar Ibn al-Khaththab)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 A.     Latar Belakang

Kondisi bangsa Arab sebelum Islam sungguh sangat memperihatinkan. Sebenarnya mereka merupakan masyarakat yang beragama, yaitu mengikuti agama pendahulu mereka, seperti Yahudi, Nasrani bahkan agama Nabi Ibrahim, namun kenyataannya tidak seperti itu. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Mubarakfury, “mereka mengaku berada pada agama Ibrahim, justru kenyataannya jauh sama sekali dari perintah dan larangan syariat Ibrahim. Mereka mengabaikan tuntunan-tuntunan tentang akhlak yang mulia.” Jadi kebanyakan orang Arab hanya mengaku beragama, namun kelakuan dan pribadinya tidak mencerminkan orang yang beragama. Agama yang mereka anut rata-rata diwarnai dengan paganisme, begitu pula agama Yahudi maupun Nasrani yang mereka anut. Mereka banyak mengadakan pengubahan dan memberi model cara beribadah yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang aslinya. Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi bangsa Arab pada masa sebelum Islam sangat jauh dari jalan yang benar.

Selain tatanan dan nilai-nilai Jahiliyah yang mereka percayai dan mereka jadikan panutan, kondisi bangsa Arab secara moral terbilang lemah. Sebab pertaruhan dan perjudian telah menjadi kebiasaan, dan mereka merasa bangga dengan hal itu. Minuman keras meraja lela, dan perbudakan tersebar di mana-mana. Pertemuan-pertemuan diadakan dengan hiburan-hiburan, acara-acara nyanyian. Maka dari itu, Allah menurunkan utusan untuk menyeru kepada manusia agar mentauhidkan Allah, bukan menyembah berhala-berhala. Kurang lebih selama 23 tahun, Nabi mengemban tugas suci ini. Tentunya tugas ini tidak dijalankan dengan mudah begitu saja, namun mengalami berbagai cobaan dan halangan yang berat. Hal itu tidak menjadikan Nabi patah semangat atau putus asa. Bahkan pada masa sepuluh tahun terakhir, yaitu dekade Madinah, beliau berhasil membentuk masyarakat madinah yang beraneka ragam kultur dan budaya, menjadi masyarakat yang Islami. Namun karena Nabi juga merupakan manusia, maka dalam usia 63 tahun beliau pulang ke rahmatullah, yakni pada hari senin 13 Rabiul awal 11 H.

Setelah Rasulullah wafat, kemudian tampuk kekuasaan khalifah dipegang oleh Abu Bakar al-Shiddiq yang merupakan khalifah pertama. Pada masa pemerintahan Abu Bakar ini, banyak umat Islam yang murtad. Jadi Abu Bakar harus  mengemban tugas memerangi orang-orang yang murtad selain mengadakan pengembangan aspek-aspek lain. Tak lama kemudian Abu Bakar meninggal dunia karena usianya yang lanjut. Setelah Abu Bakar wafat, tampuk pemerintahan dipegang oleh Umar. Pada masa ini banyak diambil pola-pola baru dalam pemerintahan dan penerapan hukum Islam, karena Umar adalah orang yang bertipe liberal.

Maka dari itu, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pembahasan kekhalifahan pada masa Abu Bakar dan Umar, penulis menyusun sebuah tulisan yang berjudul ” Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar ibn Khaththab (Pembentukan Khilafah dan Perkembangan Islam sebagai Kekuatan Politik)”

B.     Biografi Abu Bakar al-Shiddiq

Abu Bakar al-Shiddiq (nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman al-Tamimy) dilahirkan pada tahun 573 M atau dua tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad. Nasabnya dari sisi ayah bertemu dengan nasab Nabi pada Murrah bin Ka’ab. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Quhafah) bin Amir, sedangkan ibunya adalah Ummu al-Khoir Salmah binti Sahr. Garis keturunannya bertemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.

Pada masa kecilnya Abu Bakar bernama Abdul Ka’bah, nama itu diberikan kepadanya sebagai realisasi nazar ibunya sewaktu mengandungnya. Kemudian oleh Rasulullah, namanya diganti dengan Abdullah. Gelar Abu Bakar diberikan kepadanya karena ia orang yang paling cepat masuk Islam, sedangkan gelar al-Shiddiq (amat membenarkan) diberikan karena ia adalah orang yang selalu membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa, seperti isra’ mi’raj dan lain sebagainya.

Selain julukan yang disebutkan di atas tadi, ia juga dikenal dengan julukan atau gelar al-‘Athiq, ada yang mengatakan bahwa itu berarti bersih atau baik yang berasal dari ‘ataqah, maksudnya keluarganya bersih dan baik. Menurut Abu Thalhah, gelar al-‘Athiq ini karena pada masa itu ibunya Abu Bakar setiap melahirkan putra selalu meninggal, lalu setelah ia melahirkan seorang putra ia membawanya ke ka’bah dan berkata “ya Tuhan, sesungguhnya ini adalah anak yang engkau bebaskan dari kematian, maka berikanlah ia kepadaku”. Dan anak itu lalu hidup, kemudian dikenal dengan nama ‘Athiq.

Di masa jahiliyah ia terkenal dengan orang jujur dan berhati suci. Tatkala Islam datang, maka segera dianutnya, kemudian ikut menyiarkan dan mengembangkannya. Dalam mengembangkan dan menyiarkan Islam, ia mendapat hasil yang baik. Banyak orang yang memelukj agama Islam atas usaha dan seruan Abu Bakar, seperti halnya Bilal bin Rabah, Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwan, dan sebagainya. Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Bahkan tercatat dalam sejarah, ia adalah pembela Nabi ketika Nabi disakiti dan menemani Nabi ketika Nabi hijrah.

Pengorbanan Abu Bakar terhadap Islam tidak dapat diragukan. Ia juga pernah ditunjuk Rasul sebagai penggantinya untuk mengimami shalat ketika Nabi sakit, dan tak lama kemudian Nabi wafat. Karena tidak ada pesan mengenai siapa pengganti Nabi di kemudian hari, terjadi perselisihan di antara umat Islam setelah Nabi wafat. Kaum Anshar merupakan kaum yang memiliki rasa lebih dalam hal berpolitik dibandingkan dengan kaum Muhajirin.

Pokok persoalan perselisihan adalah tidak ditemukannya aturan-aturan yang jelas tentang pengganti Nabi. Sedangkan yang ada hanyalah sebuah mandat yang diterima Abu Bakar menjelang wafatnya Nabi untuk menjadi badal imam shalat. Sesuatu yang masih merupakan tanda tanya terhadap mandat tersebut. Dalam pertemuan yang diadakan untuk membahas masalah pengganti Nabi tersebut, sebelum kaum Muhajirin datang, kaum khazraj telah setuju untuk mencalonkan Salad bin Ubadah, sebagai pengganti Rasul. Akan tetapi belum ada jawaban dari suku-suku yang lainnya. Kemudian golongan Muhajirin datang, dan terjadi perdebatan yang sengit. Golongan Anshar berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah orang anshar karena sudah menolong Nabi, sedangkan golongan muhajirin juga berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah orang muhajirin, karena mereka menyertai perjuangan Nabi dari awal. Perdebatan tersebut terjadi sengit dan akhirnya setelah dikemukakan alasan yang logis dari pihak Muhajirin, maka Anshar pun mengakui keberhakan golongan muhajirin. Dan setelah tenang, lalu Abu Bakar berpidato “Ini Umar dan Abu Ubaidah, siapa yang kamu kehendaki di antara mereka berdua, maka baiatlah”.

Baik Umar maupun Abu Ubaidah merasa keberatan dengan ucapan Abu Bakar dengan mempertimbangkan berbagai alasan, diantaranya adalah ditunjuknya Abu Bakar sebagai pengganti Rasul dalam imam shalat dan ini membuat Abu Bakar lebih berhak menjadi pengganti Rasul. Sebelum keduanya membai’at Abu Bakar, didahului oleh Basyir bin Sa’ad, kemudian diikuti oleh Umar dan Abu Ubaidah dan semua hadirin.

Dari paparan di atas, terlihat bahwa Abu Bakar dipilih secara aklamasi, walaupun tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas dan lain-lain. Setelah diangkat menjadi khalifah, beliau berpidato sebagai berikut:

“Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang yang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil hak-haknya. Insya Allah. Janganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad, maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali janganlah kamu menaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”

Pemerintahan Abu Bakar hanya berlangsung selama dua tahun. Kemudian ia mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar, namun sebelumnya ia telah meminta pertimbangan kepada beberapa sahabat-sahabat senior dan mereka mendukung pilihan Abu Bakar. Abu Bakar meninggal pada hari senin tanggal 23 agustus 624 M. Ia dimakamkan di samping makam Nabi. Ia meninggal pada usia 63 tahun dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 11 hari.

C.     Peradaban Islam Pada Masa Kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq

Abu Bakar membangun kekhalifahan yang pertama setelah Nabi wafat dan mengalami kemajuan yang pesat.  Hal itu pada dasarnya karena dukungan dari berbeagai elemen dan berbagai pihak. Adapun kebijaksanaan yang diambil Abu Bakar adalah sebagai berikut:

1.   Kebijaksanaan Keagamaan Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang datang dari umat Islam sendiri yang menentang kepemimpinannnya, yaitu timbulnya orang-orang yang murtad, orang yang tidak mau membayar zakat, orang yang mengaku Nabi dan berbagai pemberontakan.

Masalah murtad merupakan satu ancaman besar kepada negara Islam. Golongan ini dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama, yaitu orang-orang yang mengaku menjadi Nabi, termasuk di dalamnya Tulaihah bin Khuwalid, al-Aswad al-Anasi, Musailamah al-Kazzab, dan lain sebagainya. Golongan yang kedua, terdiri dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Tokoh golongan ini yang terkenal adalah Malik bin Nuwairah. Maka Abu Bakar melakukan tindakan dengan menarik zakat secara paksa untuk mengembalikan hak-hak orang miskin. Golongan ketiga, terdiri dari mereka yang murtad atau kembali ke agama asal mereka.

Untuk mengatasi hal tersebut, Abu Bakar membentuk sebelas pasukan tentara Islam yang diketuai oleh panglima-panglima terkenal, seperti Khalid bin al-Walid, Amr bin ‘As dan lain sebagainya. Namun sebelum memerangi golongan tersebut, Abu Bakar terlebih dahulu mengirimkan utusan yang isinya menyuruh mereka kembali kepada Islam. Dari situ ada yang menerima dan ada yang menolaknya. Konsekuensi dari yang menolak adalah diperangi. Maka terjadilah peperangan untuk menumpas kaum murtad di Yamamah.

Masalah yang kedua yang dihadapi oleh khalifah Abu Bakar adalah masalah al-Qur’an. Pada masa Nabi, al-Qur’an dihafalkan oleh para sahabat secara mutawatir dan juga ditulis dalam berbagai media penulisan, namun tulisan tersebut masih tercecer dan tidak terkumpul di suatu tempat. Akibat adanya perang Yamamah, maka banyak khufadz al-Qur’an yang gugur, maka Umar  bin al-Khaththab menemui Abu Bakar dan menyampaikan kegelisahan terhadap kelangsungan al-Qur’an karena banyaknya khufadz yang gugur. Maka kemudian Abu Bakar mengambil kebijakan untuk mengumpulkan dan menulis al-Qur’an dalam satu mushaf. Motif dari penulisan al-Qur’an pada masa ini adalah, sebagaimana diungkapkan oleh Abad, adalah menyelamatkan al-Qur’an karena pada masa itu banyak khufadz yang gugur.

2.   Penyebaran Islam Pada Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Setelah pergolakan dalam negeri berhasil dipadamkan, Abu Bakar menghadapi kekuatan Romawi dan Persia yang setiap saat berkeinginan menghancurkan eksistensi Islam. Untuk menghadapi Persia, Abu Bakar mengirim tentara Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Haritsah. Mereka berhasil merebut beberapa daerah penting Irak dari kekuasaan Persia. Sedangkan untuk menghadapi Romawi, Abu Bakar memilih empat panglima Islam terbaik untuk memimpin beribu-ribu pasukan di empat front, yaitu Amr bin ‘Ash di front Palestina, Yazid bin Abi Sufyan di front Damaskus, Abu Ubaidah di front Hims, dan Syurahbil bin Hasanah di front Yordania. Empat pasukan ini dibantu oleh Khalid bin Walid yang bertempur di front Siria. Perjuangan-perjuangan tersebut untuk membebaskan jazirah Arab dari Romawi dan Persia baru tuntas pada masa khalifah Umar bin Khaththab.

Di samping itu, Abu Bakar juga meneruskan kebijakan yang telah diambil oleh Nabi, yaitu mengenai tentara yang dibentuk dan diketuai oleh Usamah bin Zaid untuk memerangi penduduk Ghassan yang telah membunuh utusan Nabi. Sebelum pasukan ini digerakkan, Nabi telah wafat. Maka Abu Bakar mengambil keputusan untuk meneruskan apa yang telah diputuskan Nabi, walaupun yang kontra dengan keputusan tersebut. Hal itu dikarenakan Usamah masih terlalu muda untuk menjadi seorang panglima perang, sebab masih berumur 18 tahun. Ternyata keputusan yang diambil oleh Abu Bakar itu adalah keputusan yang tepat, karena setelah 40 hari diberangkatkan mereka pulang membawa kemenangan. Dan hal itulah yang selalu dikembangkan oleh Abu Bakar yaitu tidak mau merubah keputusan yang telah diambil oleh Nabi walaupun banyak yang tidak setuju dengan keputusan tersebut.

Keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar dalam membentuk beberapa pasukan dari segi tata negara, menunjukkan bahwa ia memegang jabatan tertinggi tentara Islam. Jika dilihat dan diamati, kepemimpinan Abu Bakar yang merupakan khalifah pertama kali dapat dikatakan telah lulus ujian. Ia berhasil menancapkan dan membangung bentuk kekhalifahan yang kuat di masa awal Islam. Pondasi yang dibangun oleh Abu Bakar ini cukup kuat. Ia juga berhasil menjembatani seluruh kekuatan yang ada untuk bersama-sama menciptakan pertahanan dan keamanan negara Madinah, menggalang persatuan umat Islam, mewujudkan keutuhan dan keberlangsungan negara Madinah dan Islam, bahkan menghimpun ayat-ayat al-Qur’an sehingga menjadi satu mushaf. Keberhasilan ini tentunya disebabkan adanya kedisiplinan, kepercayaan dan ketaatan yang tinggi dari rakyat terhadap integritas kepribadian dan kepemimpinannya.

3.   Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik Pada Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Mengenai masalah ekonomi, pada pemerintahan khalifah Abu Bakar terdapat sebuah lembaga mirip Bait al-Mal, di dalamnya dikelola harta benda yang didapat dari zakat, infak, sedekah, ghanimah, dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut juga digunakan untuk gaji pegawai negara dan untuk kesejahteraan umat sesuai dengan aturan yang ada.

Di samping itu, pada masa Abu Bakar zakat merupakan sesuatu yang harus dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kewajiban mengeluarkannya, karena zakat merupakan hak-hak fakir miskin. Zakat juga merupakan alat untuk memutarkan ekonomi, agar uang tidak hanya berputar di kalangan orang yang kaya saja. Abu Bakar sangat tidak menyukai orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan ia memerangi orang yang tidak mengeluarkan zakat tersebut sampai ia mau mengeluarkan zakat.

Dalam bidang politik kenegaraan dapat diuraikan sebagai berikut: bidang eksekutif dengan adanya pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah maupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Sementara itu, untuk daerah-daerah kekuasaan Islam, dibentuklah provinsi-provinsi dan untuk setiap provinsi ditunjuk seorang amir. Sementara dalam bidang pemerintahan, Abu Bakar melakukan penunjukan Umar sebagai penggantinya, karena ia khawatir peristiwa yang terjadi di Tsaqifah Bani Saidah akan terulang kembali dan akan membawa umat Islam ke dalam jurang perpecahan.

Dalam bidang legislatif, Abu Bakar menerapkan musyawarah untuk memutuskan dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dengan beberapa sahabat senior dan berkompeten dalam bidangnya. Di samping itu, pola yang demikian tersebut menyebabkan sahabat akan berpartisipasi sepenuhnya untuk melaksanakan keputusan yang diambil, karena keputusan tersebut adalah keputusan yang diambil secara bersama-sama.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan, Abu Bakar mengorganisasikan pasukan-pasukan militer untuk mempertahankan eksistensi keagamaan dan kenegaraan. Pasukan tersebut disebar untuk memelihara stabilitas di dalam maupun di luar negeri. Ia juga melakukan ekspansi untuk menaklukkan wilayah yang menentang Islam dan berusaha menggrogoti Islam. Di samping itu, Abu Bakar juga meneruskan kebijakan yang diambil Nabi Muhammad mengenai masalah tentara yang diketuai oleh Usamah bin Zaid untuk memerangi penduduk Ghassan yang telah membunuh utusan Nabi. Abu Bakar tidak mau mengubah keputusan yang telah diambil oleh Nabi, padahal pada waktu itu banyak sahabat yang menentangnya dengan alasan Usamah masih terlalu muda untuk berperang. Dan hal itu menjadi kenyataan, ternyata pasukan Usamah tersebut pulang dengan membawa kemenangan.

Sedangkan dalam bidang kehakiman, fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khaththab dan selama masa pemerintahan tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal itu karena kemampuan dan sifat Umar sendiri juga masyarakat pada waktu itu yang terkenal alim dan taat dalam menjalankan syariat agama.

Demikian peradaban yang berkembang pada masa pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar sebagai khalifah yang pertama berhasil menancapkan kuku kekhalifahannya dan berhasil membangun pemerintahan yang baik dan penuh dengan tanggung jawab. Pada masa selanjutnya setelah Abu Bakar meninggal, pemerintahan kekhalifahan dilanjutkan oleh Umar bin Khaththab.

D.     Biografi Umar Ibn Khaththab

Umar bin al-Khaththab memiliki nama lengkap Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abd al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin Razail bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luay adalah seorang khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Ia lahir di Mekkah dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat. Ia lahir empat tahun sebelum terjadinya perang fijar atau tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW.

Sebelum masuk Islam, Umar termasuk di antara kaum kafir Quraisy yang paling ditakuti oleh orang-orang yang sudah masuk Islam. Dia adalah musuh dan penentang Nabi Muhammad yang paling ganas dan kejam, bahkan sangat besar keinginannya untuk membunuh Nabi Muhammad dan pengikutnya. Dia sering menyebar fitnah dan menuduh Nabi Muhammad sebagai penyair dan tukang tenung.

Setelah Umar masuk agama Islam, pada bulan Dzulhijah enam tahun setelah kerasulan Nabi Muhammad, kepribadiannya bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya. Ia berubah menjadi salah seorang sahabat Nabi yang gigih dan setia, bahkan ia menjadi sahabat yang terkemuka dan paling dekat dengan Nabi.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa Abu Bakar mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar bin al-Khaththab ketika ia jatuh sakit. Hal itu dilakukan Abu Bakar karena berbagai faktor. Pertama, kekhawatiran peristiwa yang menegangkan di Tsaqifah Bani Sa’idah yang nyaris menyeret umat Islam ke jurang perpecahan akan terulang kembali, bila tidak menunjuk seseorang yang menggantikannya. Kedua, kaum Anshar dan Muhajirin saling mengklaim sebagai golongan  yang berhak menjadi khalifah. Ketiga, umat Islam pada saat itu baru saja selesai menumpas kaum murtad dan pembangkang. Sementara sebagian pasukan Mujahidin sedang bertempur di luar kota Madinah melawan tentara Persia di satu pihak dan tentara Romawi di pihak lain.

Berangkat dari kondisi yang demikian tersebut, maka tampaknya tidak tepat apabila pemilihan khalifah diserahkan secara langsung kepada umat Islam yang akan memungkinkan kontroversi yang berkepanjangan yang hal itu akan menyebabkan stabilitas politik yang labil. Maka penunjukan Abu Bakar terhadap Umar dengan melalui konsultasi dengan beberapa sahabat senior lainnya nampaknya merupakan hal yang tepat. Maka Umar bergelar Khalifah Khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah).

Sebagaimana Abu Bakar, Umar bin Khaththab juga berpidato sesudah dibai’at menjadi khalifah. Bagian dari pidatonya adalah:

“Aku telah dipilih menjadi khalifah. Kerendahan hati Abu Bakar selaras dengan jiwanya yang terbaik di antara kamu dan lebih kuat terhadap kamu dan juga lebih mampu untuk memikul urusan Kamu yang penting-penting. Aku diangkat dalam jabatan ini tidaklah sama dengan beliau. Andaikata aku tahu ada orang yang lebih kuat daripadaku untuk memikul jabatan ini, maka memberikan leherku untuk dipotong lebih aku sukai daripada memikul jabatan ini.”. “Sesungguhnya Allah menguji kamu dengan aku dan menguji aku dengan kamu dan membiarkan aku memimpin kamu sesudah sahabatku. Maka demi Allah, bila ada satu urusan kamu dihadapkan kepadaku, maka janganlah urusan itu diurus oleh seseorang selain aku, dan janganlah seseorang menjauhkan diri dari aku, sehingga aku dapat memilih orang yang benar dan memegang amanah. Jika mereka berbuat baik, tentu aku akan berbuat baik kepada mereka, dan jika mereka berbuat jahat, maka tentu aku akan menghukum mereka.”

Pidato tersebut menggambarkan bahwa Umar adalah seorang yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum. Di samping itu, Umar juga seorang yang menganggap bahwa jabatan khalifah adalah amanah dan ujian yang diberikan kepadanya. Segala urusan harus diurus dan diselesaikan dengan baik oleh khalifah dan juga khalifah harus memilih orang yang benar-benar bisa memegang amanah untuk membantunya.

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab ini, Islam mampu menguasai Persia. Maka dari itu, golongan atas kerajaan Persia berkomplot dengan orang Yahudi berencana membunuh Umar. Abu Lu’luah telah berhasil menyusup ke dalam masjid, di waktu Umar memulai shalat subuh, dikala itu hari masih gelap. Ditikamlah Umar dengan sebuah golok beberapa kali, diantaranya satu tikaman di bawah pusatnya. Maka pada waktu itu Umar wafat

E.     Peradaban Islam Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Umar bin Khaththab merupakan khalifah penerus Abu Bakar al-Shiddiq. Maka Umar meneruskan keberhasilan yang telah dirintis oleh Abu Bakar. Umar melakukan ekspansi untuk meneruskan ekspansi yang dilakukan oleh Abu Bakar, sehingga negara Islam menjadi negara besar dan Islam menjadi kekuatan politik. Di samping itu, Umar juga melakukan penataan ulang dalam segala bidang, sehingga peradaban Islam pada masa itu mengalami perkembangan yang cukup pesat.

1.   Ekspansi Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Selama sepuluh tahun pemerintahan Umar, sebagian besar ditandai oleh penaklukan-penaklukan untuk melebarkan pengaruh Islam ke luar Arab. Sejarah mencatat, Umar telah berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan imperium Romawi dan Persia yang dimulai pada awal pemerintahannya, bahkan sejak pemerintahan sebelumnya. Segala tindakan yang dilakukan untuk menghadapi dua kekuatan tersebut jelas bukan hanya dilandasi motif agama saja, namun juga motif politik.

Terdapat berbagai faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik antara umat Islam dengan bangsa Romawi dan Persia yang pada akhirnya mendorong umat Islam untuk melakukan penaklukan terhadap kedua wilayah tersebut. Faktor tersebut antara lain, pertama: bangsa Romawi dan Persia tidak menaruh hormat terhadap maksud baik Islam; kedua: semenjak Islam masih lemah, Romawi dan Persia selalu berusaha menghancurkan Islam; ketiga: bangsa Romawi dan Persia sebagai negara yang subur dan terkenal kemakmurannya, tidak berkenan menjalin hubungan perdagangan dengan negeri-negeri Arab; keempat: bangsa Romawi dan Persia bersikap ceroboh menghasut suku-suku Badui untuk menentang pemerintahan Islam dan mendukung musuh-musuh Islam; kelima: letak geografis kekuasaan Romawi dan Persia sangat strategis untuk kepentingan keamanan dan pertahanan Islam.

Untuk menghadapi kekuatan Romawi dan Persia, Umar mengutus Saad bin Abi Waqqas untuk menaklukkan Persia dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menggantikan Khalid bin Walid sebagai panglima tertinggi yang sedang menghadapi kekuatan Romawi di Siria. Pasukan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas berhasil menerobos pintu gerbang kekuatan Persia. Pertempuran antara keduanya tak dapat dielakkan lagi maka terjadi pertempuran lain di Qadisiyah. Dalam pertempuran ini, pihak Persia berhasil dipukul mundur oleh kekuatan Islam yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Pada tahun 637 M, Persia bermaksud membalas kekalahannya, sehingga terjadi pertempuran di Jakilah. Namun, maksud tersebut tidak dapat terwujud, bahkan pasukan Persia terdesak dan kota Hulwan dikuasai oleh pasukan Islam juga. Pertempuran terjadi di Nahlawan pada tahun 642 M. Dalam pertempuran ini, pasukan Persia dapat ditundukkan secara mutlak, sehingga wilayah kekuasaan Persia dapat dikuasai Islam. Begitulah usaha yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab untuk menaklukkan Persia yang selalu menjadi duri dalam daging dan menghambat perkembangan Islam.

Sementara itu, pertempuran dengan Romawi dilakukan di Kota Damaskus dan dipimpin oleh Abu Ubaidah. Ketika Romawi memutuskan  untuk melakukan serangan balsan secara besar-besaran terhadap para penyerang, pasukan Abu Ubaidah mampu menghadapinya dengan kekuatan penuh pada pertempuran Yarmuk pada tahun 631 M. Mesir secara keseluruhan berada di bawah kekuasaan Islam setelah penyerahan Iskandariyah, ibukota Mesir dan ibukota kedua bagi kekaisaran Romawi Timur pada tahun 642 M.

Maka dari itu, akhirnya Islam dapat menguasai Romawi dengan kekuasaan yang mutlak. Hal itu dikarenakan pasukan dan armada Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kekalahan yang telak.

2.   Kondisi Hukum, Politik, Ekonomi dan Sosial Pada Masa Kekhalifahan Umar Ibn Khaththab

Umar dikenal sebagai seorang negarawan, namun juga seorang ahli hukum yang selalu memahami Islam dengan menggunakan logikanya dan berusaha menemukan apa yang dikehendaki dibalik pelaksanaan hukum tersebut. Dalam masalah hukum, Umar telah mengemukakan pedoman dalam peradilan, yang telah menjadi rujukan pelaksanaan peradilan pada masa sekarang.

Umar terkenal dengan ketegasannya dan keadilan, serta kebijaksanaannya dalam memutuskan suatu hukum. Terdapat dua hal penting yang dapat diambil pelajaran dari beliau sampai masa kini. Kedua hal tersebut adalah: pertama, beliau sekalipun dikenal sebagai orang keras dan tegas menghadapi setiap pelanggar hukum Allah, dan orang-orang jahat, namun beliau mampu menguasai dan mengendalikan diri untuk tidak terburu-buru menjatuhkan suatu keputusan atau vonis. Kedua, beliau memanfaatkan tenaga ahli/penasehat ahli dalam hal ini sahabt Nabi yang terkenal dengan gelarnya bab al-ilm, yaitu Ali bin Abi Thalib. Maka kondisi dan keadaan hukum pada zaman Umar berjalan dengan tertib dan setiap warga sama derajatnya di hadapan hukum.

Kondisi ekonomi dan sosial pada masa khalifah Umar ini hampir sama dengan kondisi pada masa Abu Bakar. Jadi tradisi yang ada dalam pemerintahan Abu Bakar dalam bidang ekonomi dan sosial kemasyarakatan tetap dipelihara pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Sedangkan kondisi politik dan pemerintahan mengalami peningkatan.

Untuk menunjang kelancaran administrasi dan operasional tugas-tugas eksekutif, Umar melengkapinya dengan beberapa jawatan, antara lain:

  1. Dewan al-Kharraj (Jawatan Pajak)
  2. Dewan al-Addats (Jawatan Kepolisian)
  3. Nazar al-Nafiat (Jawatan Pekerjaan Umum)
  4. Dewan al-Jund (Jawatan Militer)
  5. Bait al-Mal (Lembaga Pembendaharaan Negara).

Umar juga menanamkan demokrasi, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar, secara intensif di kalangan rakyat, kalangan pemuda, kalangan para pejabat atau kalangan administrator pemerintahan. Ia selalu mengadakan musyawarah dengan rakyat untuk memecahkan masalah-masalah yang umum dan kenegaraan yang dihadapi. Ia bahkan menghormati warga non muslim dengan ikut dalam musyawarah dan dimintai pendapat.

Itulah perkembangan peradaban Islam pada masa Umar bin Khaththab. Sesuatu yang menarik dari Umar adalah ia selalu menyikapi dengan bijak masalah-masalah yang terjadi, bahkan mengenai hukum yang sudah ada nash-nya dalam al-Qur’an.

F.      Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Abu Bakar al-Shiddiq (nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman al-Tamimy) dilahirkan pada tahun 573 M atau dua tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad. Ia menjadi khalifah pertama dan memerintah selama kurang lebih 3 tahun. Ia wafat karena sakit yang dideritanya.
  2. Kondisi ekonomi pada masa Abu Bakar berkembang cukup pesat, walaupun terdapat gangguan dari orang-orang yang tidak mau membayar pajak yang akhirnya dapat ditumpas. Sementara kondisi pemerintahan yang dilakukan bersifat demokratis. Namun pemerintahan ini mendapat hambatan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Pada masa ini juga terjadi peristiwa kodifikasi al-Qur’an pertama kali.
  3. Umar bin al-Khaththab adalah seorang khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Ia lahir di Mekkah dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat. Ia lahir empat tahun sebelum terjadinya perang fijar atau tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW. Ia wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’luah.
  4. Pada masa Umar, kondisi perekonomian berkembang pesat, dan juga administrasi pemerintahan berjalan lancar, karena Umar adalah seorang negarawan yang handal. Di samping itu, hukum juga ditegakkan tanpa pandang bulu. Ekspansi yang dilakukan sudah berhasil menguasai Persia dan Romawi. Ia juga menerapkan sistem demokrasi dalam pemerintahannya.

G.     Saran-Saran

Berpijak dari kesimpulan di atas, maka dapat penulis kemukakan sarannya sebagai berikut:

  1. Hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah yang telah kita bahas, sebagai bahan pertimbangan dalam bertindak dan acuan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam hal yang sama.
  2. Hendaklah kita mencontoh kesalehan dan kebijaksanaan sahabat dalam mengambil keputusan dan menyikapi masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Akkad, Abbas Mahmud, Kecemerlangan Khalifah Umar bin Khaththab, terj.Bustani A.Gani dan Zainal Abidin Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Badruzaman, Abad, Ceramah Dalam Kuliah Pasca Sarjana S2 STAIN Tulungagung tanggal 24 November 2009.

Bik, Muhammad Khudhari, Itmam al-Wafa fi Sirah al-Khulafa, Mesir: Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1964.

Dewan Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeva, 2001.

Fauzan, M, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syar’iyah di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005.

Hodgson, Marshal G.S, The Venture of Islam Book 1, Chicago: Universitas Chicago Press, 1974.

Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, al-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah), terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2004.

Al-Nadwi, Syaikh Abu al-Hasan ‘Ali al-Hasani, Al-Sirah al-Nabawiyah (Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw), terj. Suryowidiatmoko, (ed), Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007.

Al-Najar, Abi al-Wahid, Al-Khulafa Al-Rasyidin, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1990.

Qardhawi, Yusuf, Meluruskan Sejarah Umat Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Mesir: Dar al-Mantsurat al-‘Asr al-Hadits, tt.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Syalabi, A, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT Pustaka al-Husna Baru, 2003.

Al-Syuyuthi, Jalal al-Din, Tarikh al-Khulafa’, juz 1, Mauqi’u al-Waraq: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Tim Penyusun, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Depag, 1982.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Rajawali Press, 2003.

KONDISI KULTURAL MASYARAKAT ARAB MEKKAH

(Kajian Pra Kelahiran Nabi Muhammad SAW)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Latar Belakang

Jazirah Arab merupakan sebagian dari bumi atau suatu daerah yang berupa pulau yang berada diantara benua Asia dan Afrika. Sejak dahulu daerah Arab terkenal dengan nama jazirah karena daerah Arab sebagian besar dikelilingi oleh sungai-sungai dan lautan sehingga terlihat seperti jazirah (pulau). Jika dilihat dari peta dunia, maka sebelah barat daya itu dibatasi wilayah Asia, sebelah barat laut merah, sebelah timur itu teluk Arab, dan sebelah selatan adalah samudra Hindia.

Para ahli sejarah membagi jazirah Arab ini menjadi lima wilayah, sebagai berikut:

  1. Hijaz; wilayah yang memanjang dari Ailah (Aqabah) sampai Yaman. Dinamai Hijaz karena itu merupakan rangkaian perbukitan yang memisahkan Tihamah (tanah yang menurun di sepanjang pantai laut merah) dengan Nejed.
  2. Tihamah
  3. Yaman.
  4. Nejed; yakni dataran tinggi yang memanjang dari pegunungan Hijaz dan berjalan ke arah timur sampai gurun Bahrain.
  5. ‘Arudh; wilayah yang berhubungan dengan Bahrain dari arah timur dan dengan Hijaz dari arah barat, wilayah ini juga dinamai Yamamah.

Daerah tersebut merupakan daerah yang strategis dan peralihan antara Persia dan Yunani atau Romawi. Di daerah tersebut masyarakatnya mempunyai kebiasaan dan peradaban yang sangat brutal. Maka dari itu, Allah menurunkan Rasul-Nya yang terakhir di daerah tersebut. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Rasul Allah adalah juga seorang manusia yang secara langsung berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Walaupun demikian, Allah memfilter segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh Nabi Muhammad.

Memang pada dasanya, kondisi sosial dan interaksi seseorang dengan masyarakat akan mempengaruhi jiwa seseorang tersebut, baik dalam hal bertindak maupun pemikirannya. Pola-pola kehidupan yang ia terima setiap hari akan tetap membekas dalam pikirannya dan selalu mempengaruhi pendapatnya, baik itu disadari ataupun tidak. Jika seseorang hidup dalam pola kehidupan yang lembut, maka orang tersebut akan cenderung bersifat lemah lembut dan sabar dalam mengambil keputusan. Sebaliknya jika seseorang hidup dalam pola kehidupan yang kasar, maka orang tersebut akan cenderung bersikap kasar dan suka marah-marah.

Namun hal ini tidak berlaku atas diri Nabi Muhammad saw. Walaupun Nabi hidup dalam kehidupan yang sangat keras, akan tetapi ia tetap menjadi pribadi yang santun dan selalu bersifat pemaaf. Nabi setelah Nubuwah, hampir setiap hari tidak ada yang terlewatkan tanpa pelecehan, penganiayaan dan penghinaan yang dilakukan atas dirinya. Namun hal itu tidak menggoyahkan semangatnya untuk tetap menjunjung tinggi agama Ilahi.

Setelah pengikut Nabi mulai banyak, maka banyak bermunculan hadits-hadits tentang aqidah Islam, ekonomi dan berbagai masalah. Hal itu dikarenakan berkembangnya Islam ke segala penjuru dan masalah yang semakin kompleks, walaupun pengikutnya masih sedikit. Segala masalah yang dihadapi oleh orang dikembalikan kepada Nabi. Dan pasti Nabi mampu menyelesaikan dengan baik.

Seperti apa yang penulis kemukakan di depan, bahwa kondisi sosial itu mempengaruhi kehidupan Nabi saw. Demikian juga kondisi yang ada di Mekkah saat itu, juga mempengaruhi pola kehidupan Nabi saw. Maka dari itu, penulis akan membahas mengenai “Kondisi Sosio Kultur Masyarakat Arab Mekkah” yang penulis tulis dalam tulisan ini.

B.     Kondisi Arab Sebelum Islam dan Kenabian

  1.    Kondisi Arab Sebelum Islam

Bangsa Arab pra Islam mempunyai peradaban yang tidak karu-karuan. Mereka suka bertindak brutal dan seenak hawa nafsunya. Kondisi yang kacau tersebut meliputi berbagai bidang, baik sosial, politik, budaya maupun ekonomi. Pada kesempatan ini, penulis akan berusaha menguraikan hal tersebut satu per satu, agar pemahaman pembaca lebih jelas.

a. Kondisi Sosial

Bangsa Arab pada masa pra Islam terdiri dari berbagai kelas. Kelas bangsawan lebih diunggulkan daripada kelas yang lainnya. Kelas budak paling dinistakan diantara kelas yang lainnya. Budak ibarat permainan kaum bangsawan. Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, ia harus banyak dibicarakan oleh kaum wanita. Seorang laki-laki dianggap pemimpin dalam keluarga dan tidak boleh dibantah perkataannya. Hubungan laki-laki dan wanita harus disetujui pihak wali wanita. Seorang wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri.

Pada masa itu terjadi beberapa jenis pernikahan yang semuanya mendiskreditkan wanita dan menjadikan wanita hanya sebagai pemuas hasrat sex laki-laki saja. Pernikahan-pernikahan tersebut antara lain: pernikahan spontan (tiba-tiba), pernikahan istibda’ (suami menyuruh istrinya berkumpul dengan orang lain, karena menginginkan keturunan yang pintar), poliandri (wanita dikumpuli banyak laki-laki dan setelah melahirkan anak, wanita tersebut memanggil dan menunjuk salah satu laki-laki yang mengumpulinya untuk menjadi ayah), pelacuran.

Jika dilihat dari kehidupannya, masyarakat Arab terbagi menjadi dua macam. Pertama, golongan baduwi. Adalah suku-suku yang tidak hidup menetap dan suka menyerang kabilah-kabilah yang dianggap musuhnya. Keberanian bagi mereka adalah kebanggaan. Kedua, golongan Hadlar, golongan ini hidup di kota-kota dan pedusunan. Rata-rata mereka mempunyai mata pencaharian yang tetap. Penduduk ini nampaknya lebih mempunyai peradaban dibanding orang Baduwi. Disamping akhlak yang tercela, masyarakat Arab pra Islam juga mempunyai akhlak terpuji, antara lain: kedermawanan, tepat janji, kemuliaan jiwa dan enggan menerima kehinaan, pantang mundur, dan lemah lembut.

Maka, kita tidak boleh langsung menyimpulkan sepihak, bahwa akhlak masyarakat Arab pra Islam tersebut hanya akhlak tercela. Kita juga harus melihat sisi akhlak baiknya juga, yang hal itu juga masih ada dalam diri sebagian masyarakat Arab, terutama mereka yang menyeru kepada agama  Tauhid.

     b. Kondisi Politik

Ketika Nabi Muhammad dilahirkan, tak satu pun negara besar di wilayah sekitarnya yang memikirkan Arab. Persia dan Bizantium, keduanya disibukkan dengan pertengkaran mereka yang melelahkan dan berakhir sesaat sebelum Nabi Muhammad wafat. Keduanya bersemangat untuk berebut mengelola wilayah Arab bagian selatan yang sekarang disebut Yaman. Tidak ada dari negara-negara besar, baik Persia maupun Bizantium yang tergiur untuk menguasai Arab dan tak seorang-pun bermimpi bahwa wilayah itu akan melahirkan  sebuah agama dunia baru, yang menjadi kekuatan dunia yang besar.

Pada saat itu, Arab dianggap sebagai negara yang tak bertuhan dan tidak agama yang mampu eksist bertahan di negara atau wilayah. Hal tersebut terbukti dengan adanya kaum Yahudi yang perilakunya sama dengan masyarakat Arab asli. Dan juga Arab berada di tengah-tengah konflik antara Bizantium dan Persia. Namun tidak ada yang tergiur untuk menguasai Arab.

     c. Kondisi Budaya

Bangsa Arab pada masa pra-Islam menyukai syair-syair yang diucapkan oleh para penyair. Karena syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar mendengarkan penyair melantunkan syair-syair mereka. Ada beberapa tempat penyair-penyair berkumpul, seperti pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majaz.

Selain kesenangan mendengarkan syair, budaya Arab pra Islam yang lain adalah menyebut kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal. Caranya dengan berkumpul bersama-sama di rumah orang yang telah meninggal dan makan-makan. Wanita datang silih berganti untuk membantu keluarga melakukan ratapan. Di samping itu, ada sebagian suku di Arab yang suka membunuh anak perempuannya ketika baru lahir karena takut memperoleh malu. Bangsa Arab juga senang bertenung dan meramal. Hal itu biasa dilakukan ketika akan menikah dan bepergian jauh. Bukti lainnya adalah Nabi pernah ditenung, sehingga diturunkan surah al-Falaq dan al-Nass.

    d.  Kondisi Ekonomi

Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa kaum yang berada di pegunungan disebut kaum Baduwi. Mereka hidup nomaden. Dalam kehidupannya mereka menggantungkan diri dari hasil ternak, dagingnya dimasak secara sederhana dan susunya menjadi minuman utama. Sedangkan pakaian mereka terbuat dari bulu dan rumah mereka dari kulit. Apabila mereka memerlukan barang yang bukan komoditas hasil peternakan, maka mereka memperolehnya dengan jalan barter. Sedangkan masyarakat yang tinggal di kota dan perdukuhan, mereka hidup menetap dan mempunyai mata pencaharian menetap. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah niaga. Namun perjalanan yang harus mereka tempuh sangat sulit dan biasanya dihadang oleh kaum baduwi.

Kondisi-kondisi yang demikian ini juga berlanjut pasca kelahiran Nabi Muhammad, sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi. Dan kondisi yang demikian ini mempengaruhi kehidupan Muhammad dan pemikiran para sahabat Muhammad kelak.

  2.    Kondisi Arab Sebelum Kenabian

Dengan kedudukannya sebagai pusat keagamaan, tempat perekonomian, pemimpin dalam aktivitas perdagangan, serta kemajuan dalam bidang peradaban dan sastra, Mekkah telah menjadi kota besar di Jazirah Arab. Selain tatanan dan nilai-nilai Jahiliyah yang mereka percayai dan mereka jadikan panutan, kondisi bangsa Arab secara moral terbilang lemah. Sebab pertaruhan dan perjudian telah menjadi kebiasaan, dan mereka merasa bangga dengan hal itu. Minuman keras meraja lela, dan perbudakan tersebar di mana-mana. Pertemuan-pertemuan diadakan dengan hiburan-hiburan, acara-acara nyanyian.

Kala itu, penduduk Mekkah lemah pemikirannya, tetapi rangsangan nafsunya begitu besar. Memang tidak ada kaitan antara kematangan fisik dengan kematangan psikis. Juga tidak ada pautan antara keterbelakangan berfikir masyarakat dengan keterbelakangan ambisi dan birahi. Di sebuah desa atau kalangan suku primitif, bisa kita lihat adanya perebutan harta dan kedudukan, demikian pula dalam masyarakat modern. Banyak orang yang kurang memiliki pengetahuan dan etika, namun mereka tidak pernah kekurangan cara untuk mampu memenuhi ambisi dan memperdaya sesama.

Ketidakpercayaan kepada Allah dan hari akhir, pemenuhan nafsu duniawi, gila hormat, haus akan kekuasaan, sikap pimpinan yang mengupayakan perdamaian atau perang demi memenuhi ambisi, merupakan tradisi turun-temurun yang mengarahkan kegiatan material moral dalam lingkup yang sempit. Tidaklah benar, bahwa Mekkah saat itu merupakan perkampungan yang belum berperadaban, terisolir di tengah gurun atau tidak memiliki selera duniawi selain dari mengisi perut.

Sebaliknya, wilayah ini memiliki kehidupan yang kompleks yang dipenuhi oleh manusia-manusia congkak dan mengingkari keberadaan Tuhan, orang-orangnya buta akan kebenaran, bahkan mengingkarinya. Dalam masyarakat yang tidak memiliki peradaban intelektualitas ini, kecongkakan individu sudah demikian parahnya, sampai-sampai menyaingi Fir’aun dengan tirani dan arogansinya.

Amir bin Hisyam (Abu Jahal) menyatakan kekufurannya terhadap risalah Muhammad saw. Ia berkata:

“Kami berbaring dengan Bani Manaf dalam hal kemuliaan

Ketika kedudukan Kami setara, ada yang mengatakan: diantara

Kami ada yang menjadi rasul yang menerima wahyu”

“Demi Allah, Kami tidak percaya padanya, dan Kami tidak akan

Mengikutinya, kecuali Kami juga menerima wahyu seperti dia!”

Diceritakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah berkata kepada Rasulullah “Jika kenabian itu benar adanya, mmaka akulah yang lebih berhak, karena aku lebih tua dan hartaku lebih banyak. Kesombongan yang tolol seperti itu yang melanda bangsa Arab pada zaman Nabi, dia tidak hanya rakus harta, kekayaan, bahkan mengklaim bahwa dirinya pantas menjadi Nabi. Padahal seorang Nabi memang betul-betul dipilih oleh Allah.

3.    Penyembahan Terhadap Berhala

Kondisi keagamaan lebih lemah daripada segi etika dan budaya, yaitu hukum-hukum mereka yang jauh dari kenabian; kebodohan merajalela; dan berhalaisme menyebar di mana-mana, yang mereka tiru dari bangsa-bangsa tetangga dan mereka telah melampaui batas. Dalam hal ini, mereka tenggalam dalam penyembahan berhala dan sangat mencintainya. Sehingga di bagian dalam dan halaman ka’bah terdapat 360 patung. Berhala yang paling besar menurut mereka adalah Hubal. Nama berhala inilah yang diteriakkan oleh Abu Sufyan  dengan ungkapannya yang terkenal “‘Alu Hubal” (tinggilah Hubal), letaknya di atas sumur di dalam Ka’bah, yang merupakan tempat dikumpulkannya hadiah (persembahan) untuk Ka’bah. Patung Hubal dibuat dari batu akik merah dalam bentuk manusia, yang pecah tangan kanannya. Suku Quraisy menemukannya dalam bentuk seperti itu. Lalu mereka tangan untuknya dari emas.

Di depan Ka’bah terdapat dua patung, Asaf dan Natlah. Posisinya dekat dengan Ka’bah, bahkan salah satunya menempel pada Ka’bah, sedang yang satunya di lokasi Zam-zam. Suku Quraisy memindahkan patung yang menempel dengan Ka’bah ke sisi lain. Mereka mempersembahkan korban dan menyembelih hewan di dekat kedua patung tersebut. Di atas bukit Shafa terdapat sebuah patung yang disebut Nahika Mujawidurlah (dialah sang pengatur angin). Di atas bukit Marwah juga terdapat sebuah patung yang  dinamai Muth’imuth Thaya (sang pemberi makan burung).

Patung al-Uzza berada di dekat Arafah. Mereka membuatkan rumah untukny. Patung ini merupakan patung yang paling agung bagi kaum Quraisy. Mereka mengundi nasib dengan anak panah di depan patung itu. Patung Dzul Khalasah berada di kota Mekkah bagian bawah. Mereka memakaikan kalung kepadanya, mempersembahkan biji gandum dan hasil pertanian. Mereka memandikannya dengan susu dan menyembelih qurban untuknya. Mereka juga menggantungkan telur-telur merpati pada patung tersebut.

Patung-patung banyak dijual di Mekkah. Orang-orang gurun datang untuk membeli dan membawanya pulang ke rumah-rumah mereka dan di dalam setiap rumah di Mekkah terdapat patung yang mereka sembah. Mereka  memiliki karakter kepemimpinan, kehormatan dan berbagai sifat luhur lainnya. Akan tetapi mereka telah sampai pada tingkatan irrasional yang parah, yakni berhalaisme, kepercayaan kepada khurafat-khurafat dan khayalan. Sungguh suatu tingkatan yang jarang dicapai, kecuali oleh sedikir suku-suku dan bangsa-bangsa. Demikianlah Mekkah pada zaman Muhammad belum menjadi rasul.

C.     Revolusi Aqidah di Mekkah Pada Masa Nabi Serta Ketauhidan Muhammad dan Pengikutnya

Seorang pencari Tuhan menyatakan hasratnya untuk dianugerahi pengajaran “Tuhanku, sekiranya kutahu betapa engkau ingin disembah, aku ingin menyembahmu tapi aku tidak tahu.” Para Nabi Yahudi, rahib kristen, penujum Arab meramalkan kedatangan seorang Nabi. Seorang rahib yang dijumpai Muhammad dalam perjalanan dagangnya ke Suriah selatan memeriksa punggungnya dan melihat tanda kenabian antara kedua bahunya”. Tidak ada sebongkah batu atau sebuah pohon yang dilewati, kecuali akan mengatakan “kedamaian atasmu wahai rasul Tuhan”.

Diapun mengasingkan diri diantara celah-celah batu gunung, pada suatu hari, mungkin ketika menginjak usia 40, sesuatu terjadi, suatu kontak dalam alam gaib, yang dikenal oleh para generasi kemudian dengan malam kekuasaan atau takdir. Dalam satu versi, seorang malaikat terlihat dalam bentuk manusia di cakrawala menyeru kepadanya agar menjadi utusan Tuhan. Dalam versi lain, ia mendengar suara malaikat menyerunya agar membaca, ia bertanya “apa yang akan kubaca?” dan suara itupun berkata:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Pada titik ini terjadi suatu peristiwa yang dikenal dalam kehidupan sebagai pengakuan pihak lain terhadap kekuatan ghaib; pengakuan itu diterima oleh beberapa orang yang telah membantunya. Mereka yang menanggapi seruan ini sangat sedikit jumlahnya, dan termasuk didalamnya Khadijah sang istri: “berbahagialah, wahai anak pamanku , dan jadilah orang yang berhati baik. Demi dia pada tangannya jiwa Khadijah , aku berharap semoga engkau menjadi nabi untuk umatnya”.

Sejak saat itu, Muhammad mulai menyampaikan kepada keluarga dekatnya serangkaian wahyu yang ia yakini telah diturunkan kepadanya oleh malaikat Tuhan, yakni: dunia ini akan berakhir, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan manusia, akan mengadili mereka semuanya. Kesenangan surga dan siksa neraka dilukiskan dengan cara yang gamblang.

Jika dalam kehidupannya, mereka berserah diri kepada kehendak Tuhan, maka mereka dapat mengandalkan rahmatNya ketika mereka akan datang ke pengadilan Tuhan; dan adalah kehendak Tuhan bahwa mereka harus menyampaikan rasa syukur dengan shalat secara teratur dan ibadah-ibadah yang lain dan dengan  amal kebajikan serta mengendalikan nafsu seksnya. Nama yang dipakai untuk Tuhan adalah “Allah” yang telah digunakan sebelumnya untuk salah satu dari dewa-dewa lokal (kini nama ini juga digunakan oleh penganut Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab sebagai nama tuhannya). Mereka berserah diri kepada kehendak Tuhan pada akhirnya dikenal dengan nama muslim, nama agamanya adalah islam yang terambil dari akar kata tersebut.

D.     Kondisi Sosial Setelah Adanya Nabi Muhammad

   1.   Kondisi Sosial

Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinya berbeda antara satu dengan lainnya. Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga. Sekalipun harus dengan yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seseorang ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka ia harus banyak dibicarakan kaum wanita. Jika seorang wanita menghendaki, maka ia bisa mengumpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika mau ia bisa menyalakan api peperangan dan pertempuran diantara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki-laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita. Seorang wanita tidak bisa menentukan pilihannya sendiri.

Nabi Muhammad tidak hanya menjadi pendiri suatu agama baru, pencipta suatu bangsa baru, tetapi juga seorang pembaharu (reformner) bagi suatu tatanan sosial yang besar. Sejak permulaan sejarah, dunia telah melihat banyak pembaharu pada setiap abad dan di setiap tempat, tetapi tidak seorangpun yang menyamai Nabi di dalam melaksanakan perubahan-perubahan  yang revolusioner dalam suatu masyarakat yang hampir mati dan dungu.

Nabi Muhammad memahami benar bahwa masyarakat Arab harus menghilangkan ketidak adilan sosial dan harus ada perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain karena kelahirannya dalam keluarga, suku bangsa atau marga tertentu. Karena itulah dia menganggap bahkan dirinya sendiri pun sebagai anggota umat manusia yang biasa.

Hal ini cukup terlihat dalam shalat yang biasa dilakukan sehari-hari. Ketika orang yang berkedudukan rendah dan tinggi, kaum kaya dan kaum miskin berdiri berdampingan di hadapan Zat yang Maha Tinggi, dimana langit dan bumi serta sistemnya berada di bawah kekuasaan-Nya. Seorang budak memperoleh hak yang sama sebagai warga negara, sebagai manusia yang merdeka. Zaid, seorang bekas budak, kadang-kadang dipercayai memegang kekuasaan memimpin bangsa Quraisy yang angkuh itu.

Di samping usaha menegakkan persamaan dan keharmonisan sosial, dia menciptakan kerukunan kembali diantara agama-agama dunia yang berselisih dengan menetapkan toleransi beragama. Dia menjelaskan bahwa umat Islam harus percaya kepada semua Nabi yang dikirim ke dunia dari waktu-ke waktu. Tidak boleh seorang pun mencela agama orang lain. Tujuannya adalah untuk menegakkan persaudaraan universal diantara umat manusia, sehingga semua umat manusia dapat hidup secara damai dan harmonis.

Praktek-praktek kejahatan zaman lama tidak lagi terdapat di dalam masyarakat Arab. Minum-minuman keras dilarang dan kebiasaan membunuh bayi perempuan ditentang dengan keras. Orang-orang diminta untuk menempuh kehidupan yang saleh dan penuh kebajikan. Orang-orang yang minum minuman keras, yang melakukan perzinaan dan pencurian, akan dihukum dengan berat. Nabi menganjurkan senegerinya untuk berusaha sekuat tenaga mencari ilmu pengetahuan. Maka dari itu, dengan mendukung alasan belajar dan memperoleh pendidikan, dia membantu perkembangan bagi suatu masyarakat Arab yang intelektual.

Nabi Muhammad saw. menghasilkan perubahan yang menyeluruh di dalam kondisi kaum wanita. Kaum wanita memperoleh tempat yang sama dengan kaum laki-laki dalam melaksanakan hak-hak hukum serta fungsi-fungsinya. Untuk pertama kalinya, di dalam hukum waris, hak-hak kaum wanita diakui, tidak hanya dalam harta kekayaan dari orang tua mereka, tetapi juga di dalam harta kekayaan suami-suami mereka yang telah meninggal dunia. Sebelumnya gadis-gadis tidak mempunyai pilihan apapun tentang perkawinan mereka, tetapi sekarang Nabi Muhammad memberi kebebasan kepada mereka. Sebab di dalam Islam, perkawinan dipandang sebagai suatu kontrak sosial yang diadakan oleh kedua belah pihak atas dasar persamaan dan dengan persetujuan dari kedua belah pihak. Sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, hak untuk menceraikan suami-suami mereka oleh istri-istri tidak terbayangkan, tetapi sekarang diberi hak untuk menceraikan suami-suami mereka dengan syarat-syarat tertentu. Tentu saja mereka diperingatkan untuk menempuh jalan lain. Karena menurut Nabi perceraian itu adalah sesuatu yang halal yang tidak disukai Allah. Sementara itu, Nabi menasehatkan kaum wanita untuk berbuat kebajikan dan penuh tanggung jawab terhadap suami-suami mereka.

Nabi mengizinkan poligami, bukan mewajibkan. Lagipula hal itu tidak diciptakan oleh Islam, tetapi adat kebiasaan yang telah lama di Arab yang timbul karena jumlah wanita lebih banyak dan mereka kekurangan laki-laki, karena sering terjadi peperangan antar suku. Nabi Muhammad mengatur sistem yang buruk ini dan menetapkan pembatasan-pembatasan yang berat atasnya. Al-Qur’an menyatakan: maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,

Nabi sungguh-sungguh percaya kepada prinsip persamaan manusia. Karenanya, di samping pembaharuan-pembaharuan yang lainnya, ia memulai langkah-langkah emansipasi bagi kaum hamba sahaya. Perbudakan merupakan lembaga kuno yang kehadirannya merupakan suatu faktor yang tetap di dalam kehidupan ekonomi dan sosial dari Timur tengah dan Eropa. Sebelum datangnya Nabi Muhammad tidak seorang pun yang berusaha untuk menghapuskan sistem ini. Akan tetapi, dia memahami kejahatan-kejahatan sistem ini dan dia segera mengambil tindakan untuk cepat menghapuskannya. Dia membuat emansipasi budak menjadi suatu perbuatan yang sangat dihargai dan dia memerintahkan agar memperlakukan hamba sahaya dengan baik dan manusiawi. Sebab, sebagian muslim, hamba dan majikan berdiri di atas pijakan yang sama. Budak-budak diizinkan menebus kebebasan mereka dengan cara mengumpulkan upah-upah mereka dan budak-budak yang melarikan diri dibebaskan setelah mereka sampai di negara Islam. Sejarah Islam penuh dengan gambaran tentang cara-cara budak muncul memperoleh kedudukan yang paling tinggi di dalam negara.

Nabi Muhammad merupakan seorang sosialis yang bertujuan menjembatani kesenjangan-kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin, orang-orang yang berkedudukan tinggi dan berkedudukan rendah. Dia membayangkan suatu masyarakat yang tidak mengenal lagi pemerataan oleh kelompok satu terhadap kelompok lain. Untuk membantu kaum yang miskin dan menderita, dan untuk meratakan pembagian kemakmuran, dia memperkenalkan zakat, sedekah, dan fitrah di dalam masyarakat Islam. Di samping itu ia mengatur akan status sosial seseorang, jangan didasarkan atas kedudukan ekonomi orang itu, tetapi atas dasar sejauh mana ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya.

Nabi Muhammad tidak datang untuk negara tertentu atau bangsa tertentu. Dia datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, misinya bersifat universal dan kosmopolitan (untuk seluruh dunia). Kita suci al-Qur’an menyatakan:” sesungguhnya kami mengutus engkau untuk seluruh umat manusia”. Memang, Nabi membaktikan seluruh hidupnya untuk meningkatkan derajat manusia dan untuk menyatukan bangsa-bangsa yang heterogen ke dalam suatu persaudaraan yang universal.

2.    Pendidikan

Al-Qur’an telah menyebutkan tugas utama Rasulullah saw dengan jelas, yaitu mengajar dan menyucikan mereka. Mengajar al-Qur’an dan hikmah serta mendidik  jiwa berjalan mengikuti keduanya. Sisi terbesar dalam kehidupan Rasulullah.saw. dihabiskan pada sisi ini, sebab sisi ini adalah munculnya segala kebaikan. Semua sisi kehidupan, baik itu politik, ekonomi, militer atau moral tidak akan lurus dan benar tanpa sisi ini. Musnahnya manusia, suatu bangsa dan kemanusiaan tidak lain karena menyeleweng dari ilmu yang benar karena kebodohan atau madharat yang tidak bermanfaat.

Umat tanpa ilmu dan tarbiyah yang menjelaskan kepada mereka sisi-sisi perilaku mereka yang terpuji dan membuat setiap individunya mengerti kewajibannya, akan menyebabkan kekacauan. Perilakunya tidak terarah dan teratur, semua anggotanya memiliki tindak-tanduk adat dan persepsi yang berbeda satu sama lainnya, sehingga mereka tidak akan beruntung dan jaya.

Dalam sejarah Muhammad saw., kita dapati satu kenyataan, beliau mulai membentuk umat baru yang memiliki pilar pemikiran, perilaku, moral, tasyri’, undang-undang, dan bahasa tersendiri dengan cara mendidik dan menumbuhkan individunya di dalam lingkungan tarbiyah beliau yang dalam segi akidah dan perilakunya terpisah dengan dunia lain.

Beliau mempersaudarakan semua umat ini secara sempurna. Kemudian membaca maju umat ini dalam satu arah. Setiap sikap anggotanya telah beliau tentukan tugas besarnya secara kolektif, serta beliau lukis keadaannya, beliau jelaskan pada mereka segala sesuatunya dalam segala segi. Beliau tuntun mereka dalam jalan ini beberapa saat, lantas beliau biarkan mereka berjalan menuju Rabbnya. Setelah beliau wafat, mereka tetap maju, tidak berubah, tidak ada yang diganti, apa yang diajarkan dan dididik Rasulullah saw. Masih ada dan akan tetap ada. Dari peninggalan kaum muslim yang agung yang kita saksikan, setiap mereka mengambil ajaran dan didikan Muhammad saw. secara konsisten, maka mereka aka selamat dan maju ke depan.

Setelah itu, kita kemukakan bahwa kesempurnaan seorang pendidik tampat dalam beberapa hal berikut:

  1. Kadar kemampuannya memindahkan jiwa dan akal manusia dari keadaan yang rendah ke keadaan yang tinggi mulia. Semakin tinggi ia mampu membawa manusia pada kemuliaan, membuktikan semakin sempurnanya ia mendidik manusia.
  2. Jangkauan luasnya wilayah manusia yang dapat ia bawa menuju  kesempurnaan insaninya. Semakin luas wilayahnya, semakin menunjukkan kesempurnaannya.
  3. Memanfaatkan ajaran dan didikan itu, kebutuhan manusia padanya dan kontinuitas ajaran dan didikan itu dalam memberikan pengaruhnya sepanjang zaman, sehingga manusia tidak bisa hidup dengan baik tanpanya.

Semua ajaran agama telah meninggalkan bekas dalam sejarah. Semua penganjur dakwah dan para Nabi telah meninggalkan dampak yang dalam pada peradaban dan kaum mereka, tetapi kita tidak mengetahui dalam sejarah manusia ada agama yang tersebar sedemikian cepatnya dan mengubah dunia secara langsung seperti yang dilakukan Islam. Dalam sejarah kita, tidak ada dakwah yang pemiliknya adalah seorang penguasa zaman dan kaumnya seperti Muhammad. Ia telah mengeluarkan umat pada eksistensinya, menjadikan mereka mampu beribadah kepada Allah di bumi, membuka mereka pada risalah yang suci dan mulia, meletakkan dasar-dasar keadilan dan persamaan sosial diantara kaum mukmin, dan mampu mengakarkan sistem, keteraturan, kataatan, dan kemuliaan pada kaum yang tidak mengenal kecuali kekacauan.

Inilah kesaksian kaum terpelajar yang tidak mengimani Muhammad, karena mereka dibutakan kedengkian salib yang mereka warisi. Mereka bersaksi, tetapi tidak beriman, dan kita tidak meninggalkan kesaksian mereka. Di depan kita ada kesaksian realitas atas semua sisi yang kita sebutkan di depan. Coba perhatikan tarbiyah Rasulullah saw.sebagai berikut:

Para sahabat Rasulullah saw yang beruntung dengan melihat dan mengimani beliau berjumlah puluhan ribu. Dari jumlah ini ada yang menemani beliau selama masa beliau diutus menjadi rasul, dan ada yang hanya melihat dan mendengar sabda beliau sekali. Jika kalian melakukan perbandingan antara hidup mereka sebelum berguru kepada Rasulullah saw dan hidup mereka setelah berguru kepada beliau, antara realitas mereka sebelum dan sesudah belajar kepada Rasulullah saw, antara tingkah laku sebelum dan sesudah meneladani Rasulullah saw, antara tujuan sebelum dan sesudah mendapat pentujuk Rasulullah saw, antara persepsi mereka tentang Allah, alam dan manusia sebelum dan sesudah mendapat penjelasan Rasulullah saw, kalian akan melihat hasil perbandingan itu dan melihat perpindahan yang jauh dan luas yang telah dilakukan Rasulullah saw kepada mereka dari satu putaran ke putaran yang lain, dari kehinaan menuju kemuliaan yang tak ada yang membandinginya.

Lihat Umar bin Khattab, di zaman Jahiliyah ia adalah seorang yang kesukuan dan pendek pikiran, tabiat, perasaan dan persepsinya. Seseorang yang kesukuan, dan pendek pikiran, tabiat, perasaan dan persepsinya adalah seseorang yang sempit wawasannya. Yang menjadi perhatian hidupnya adalah mabuk-mabukan, berfoya-foya, berbuat maksiat bersama teman-temannya. Seandainya bukan karena Rasulullah saw, maka ia tidak menjadi seorang umar yang baru, sang pembuat tatanan yang cerdas dan brilian, negarawan yang agung, simbol keadilan yang melambangkan ketegakan dan kerahmatan, luas wawasannya, benar jangkauan pemikirannya dan jitu firasatnya. Umar yang gaungnya memenuhi dunia, tak ada arti apa-apa, seandainya tidak terdidik dalam naungan Rasulullah saw. Dari Rasulullah saw ia mengambil ilmu, hikmah dan tarbiyah.

Lihat Abdullah bin Mas’ud, penggembala kambing yang rendah dan hina di suku Quraish, yang tidak tahu kecuali tuan dan orang-orang yang menjadikan sebagai pembantunya. Lelaki yang kurus kering, pendek dan kecil betisnya ini apa yang terjadi setelah terdidik oleh Rasulullah saw? Ia menjadi seorang manusia yang terhitung sebagai pendiri madrasah terbesar dalam fiqih Islam, yang Abu Hanifah bernisbat padanya.

Jika kita mempelajari profil manusia sebelum dan sesudah berinteraksi dengan Rasulullah saw, akan kita temukan perubahan pada segenap sisinya, dan semua kekuatan dan kemampuannya telah melesat pada jalan yang benar. Baik itu kekuatan jasmani, akal, psikis, ruh, nurani, maknawi, maupun kekuatan akhlak. Kekuatan-kekuatan ini semuanya bergerak maju pada arahnya yang benar dan jalannya yang lurus, hingga tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ada satu kekuatan tertentu yang rusak atau bekerja tidak benar.

Berkaitan dengan etos kerja Nabi bersabda

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Artinya: Kerja seseorang memikul kayu bakar dipunggungnya lebih baik dari pada ia meminta kepada seorang baik diberi atau tidak.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ ح و حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ التِّنِّيسِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى الْبُرُلُّسِيُّ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ عَنْ إِسْحَقَ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سُلَيْمَانُ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخُرَاسَانِيِّ أَنَّ عَطَاءً الْخُرَاسَانِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Artinya: Jika kalian berjual beli dengan menggunakan contoh barang, kalian rela dengan pertanian, kalian ikuti ekor-ekor sapi dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menghukum kalian dengan kehinaan dan tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali pada agama kalian.

Berkaitan dengan kekuatan seksualitas, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ فَلَقِيَهُ عُثْمَانُ بِمِنًى فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَخَلَوَا فَقَالَ عُثْمَانُ هَلْ لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي أَنْ نُزَوِّجَكَ بِكْرًا تُذَكِّرُكَ مَا كُنْتَ تَعْهَدُ فَلَمَّا رَأَى عَبْدُ اللَّهِ أَنْ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى هَذَا أَشَارَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا عَلْقَمَةُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ أَمَا لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ لَقَدْ قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: Hai pemuda barang siapa yang mampu biaya nikah maka hendaklah menikah dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa maka sesungguhnya itu adalah pencegah.

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: Nabi memerintahkan untuk mencari kemampuan(untuk menikah) dan melarang dari hidup membujang dengan larangan yang keras. Dan Ia bersabda: nikahlah dengan pasangan yang penuh kasih dan subur, sebab sesungguhnya aku termasuk orang yang bangga diantara para nabi di hari kiamat.

Sedangkan dalam hal pemenuhan hak dan kewajiban kepada istri, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُول ُجَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya: Anas ibn Malik berkata, tiga golongan datang ke rumah istri-istri Nabi untuk menanyakan tentang ibadah Nabi, maka ketika mereka diberi khabar mereka seperti melamun kemudian berkata: dan dimana letak kami yang merupakan umat Nabi SAW yang telah diampuni apa yang tedahulu dari dosanya dan apa yang belum terlaksana. Salah satu diantara mereka berkata, adapun saya sholat semalaman selamanya dan yang lainnya mengatakan saya berpuasa selama satu tahun dan tidak pernah berbuka, dan yang lainnya berkata: saya menyingkir dari para wanita dan tidak menikah selamanya. Maka kemudian Nabi SAW datang kepada mereka, kemudian berkata: kamu sekalian adalah orang-orang yang berkata demikian dan demikian. Ingatlah demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa padaNya dari kamu sekalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka dan aku sholat juga tidur dan aku menikahi wanita, maka barang siapa yang benci pada sunnahku maka bukan termasuk golonganku.

Berkaitan dengan kesehatan, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ هُوَ ابْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ قَالَ عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Artinya: Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melupakannya; sehat dan luang waktu.

Berkaitan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan beliau bersabda:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya: Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim, dan meletakkan ilmu pada selain ahlinya seperti halnya mengalungi babi hutan dengan permata, mutiara dan emas.

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ حَدَّثَهُ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَتْ لِي عَائِشَةُ يَا ابْنَ أُخْتِي بَلَغَنِي أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو مَارٌّ بِنَا إِلَى الْحَجِّ فَالْقَهُ فَسَائِلْهُ فَإِنَّهُ قَدْ حَمَلَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ فَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ عَنْ أَشْيَاءَ يَذْكُرُهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرْوَةُ فَكَانَ فِيمَا ذَكَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنْ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِي فِي النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالًا يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا حَدَّثْتُ عَائِشَةَ بِذَلِكَ أَعْظَمَتْ ذَلِكَ وَأَنْكَرَتْهُ قَالَتْ أَحَدَّثَكَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا قَالَ عُرْوَةُ حَتَّى إِذَا كَانَ قَابِلٌ قَالَتْ لَهُ إِنَّ ابْنَ عَمْرٍو قَدْ قَدِمَ فَالْقَهُ ثُمَّ فَاتِحْهُ حَتَّى تَسْأَلَهُ عَنْ الْحَدِيثِ الَّذِي ذَكَرَهُ لَكَ فِي الْعِلْمِ قَالَ فَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ فَذَكَرَهُ لِي نَحْوَ مَا حَدَّثَنِي بِهِ فِي مَرَّتِهِ الْأُولَى قَالَ عُرْوَةُ فَلَمَّا أَخْبَرْتُهَا بِذَلِكَ قَالَتْ مَا أَحْسَبُهُ إِلَّا قَدْ صَدَقَ أَرَاهُ لَمْ يَزِدْ فِيهِ شَيْئًا وَلَمْ يَنْقُصْ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi dengan mengambil para ulama maka ilmu ikut terangkat bersama ulama tersebut dan yang tertinggal bagi manusia adalah para pemimpin yang bodoh yang saling memberi fatwa tanpa ilmu maka mereka sesat dan menyesatkan.

Anda tidak akan menemukan satu pun kekuatan manusia, kecuali telah digerakkan Rasulullah saw. Pada jalannya yang benar. Akhirnya kalian akan takjub pada para sahabat beliau, anda akan takjub pada kesempurnaan profil mereka, ahli ibadah, pemberani, ahli perang, penegak keadilan, pengasiih dan penebar rahmat, ahli manajemen, ahli politik, ahli hikmah, dan pendidik. Setiap orang dari mereka adalah umat. Alangkah mudahnya bagi mereka mengendalikan umat.

3.    Hukum

Apabila kita pelajari dengan seksama, suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui hadits-hadits sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatkan kita menarik sebuah garis bahwa hadits Rasul sebagai dasar tasyri’. Rasul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya, mereka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas. Tak ada protokol-protokolan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau. Yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk ke rumah Nabi, di kala beliau tak ada di rumah, yakni tak boleh mereka terus masuk ke rumah dan berbicara dengan para istri Nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliaulah, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majelis-majelis Nabi. Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota Madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka ke kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Sebagian sahabat sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan sebuah hukum kepada Nabi, seperti ceritanya Uqbah dalam syarah al-Bukhari. Apabila Nabi tidak dapat menjelaskan secara terus terang, karena tabu mengucapkannya, maka ia menyuruh istri-istrinya untuk menjelaskan hal itu. Biasanya hal itu terjadi dalam masalah-masalah kewanitaan, misalnya masalah haid.

Kitab Allah, juga secara sosio kultural memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan tuntunan umat Islam secara normal. Karena itu pula, pernyataan, pengalaman, persetujuan dan hal-ihwalnya sebagai hadits menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan peranannya. Karena merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.  Jelaslah bahwa Rasulullah telah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia dengan penuh amanah dan dengan segera menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Penjelasan mengenai isi dan kandungan al-Qur’an diberikan lewat berbagai ucapan, perilaku dan amalan yang dilakukan Nabi dalam ajaran lain, segala perbuatan, tindakan dan ucapan Rasulullah adalah tafsir ata konsepsi Islam secara keseluruhan. Sebab segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah adalah benar dan tidak ada yang sia-sia barang sedikitpun.

Al-Qur’an juga memuat ayat mutasyabihat, ayat muhkamat. Ada juga ayat yang bersifat mutlaq dan mujmal. Oleh karena itu, Rasulullah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukum syariat kepada orang banyak seperti, umpamanya, cara mengerjakan shalat, mengetahui waktu-waktu shalat, jumlah rakaat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan shalat. Begitu pula, beliau menjelaskan bagaimana cara mengerjakan ibadah haji, mengeluarkan zakat, jual beli yang sah dan sebagainya. Hal-hal demikianlah yang secara eksplisit tidak ditemukan dalam beberapa ayat al-Qur’an

Hal ini menjelaskan kepada kita tentang tiadanya sisi perundang-undangan dalam ayat-ayat Makkiyah yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana nyata keberadaannya dalam ayat-ayat Madaniyah.

Peranan Rasulullah yang lainnya adalah mengadakan hukum syariah, secara independent telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an berikut ini:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7)

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar taat pada Allah dan taat pada Rasul dalam segenap perintah dan larangannya yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan peranan hadits atau sunnah Nabi dalam menetapkan hukum syariah secara independent.

  4.    Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja, kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sementara kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di Jazirah Arab kecuali pada bulan-bulan suci.

Tentang perindustrian atau kerajinan, mereka adalah bangsa yang paling tidak mengenalnya. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab, seperti Jahit-menjahit, menyamak kulit dan lainnya berasal dari rakyat Yaman, Hirah, dan pinggiran Syam. Dan hasil dari kerajinan tersebut mereka tukarkan dengan kebutuhan yang mereka perlukan.

  5.    Kondisi Politik

Sebelum datangnya Nabi Muhammad.saw, bangsa Arab tidak mempunyai kepaduan atau kesatuan diantara mereka. Secara politis, mereka merupakan bangsa yang terpecah belah dan penuh pertentangan. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy. Ada 5 faktor yang mendorong orang-orang Quraisy menentang seruan Islam. 1) Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib. Yang terakhir ini sangat tidak mereka inginkan. 2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy. 3) Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. 4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan berurat berakar pada bangsa Arab. 5) Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rizki.

Nabi menyadari hal itu dan berusaha membawa seluruh Arabia di bawah satu pemerintahan dengan mengikuti kebijakan perukunan kembali berbagai suku bangsa Arab yang sedang berperang. Dia berhasil di dalam usahanya itu. Nabi Muhammad tidak hanya mengarahkan tujuannya untuk membangun suatu bangsa yang di jazirah Arab saja, tetapi juga memimpikan pendirian suatu persaudaraan yang universal. Persaudaraan ini didasarkan atas agama, atas keturunan atau hubungan-hubungan keluarga. Dengan demikian, maka sangat bertentangan dengan cita-cita Arabia yang sudah teguh, dan telah mengakar di kalangan masyarakat Arab. Nabi Muhammad berhasil merubah Arab yang pada mulanya tidak diperhatikan oleh negara-negara lain, menjadi negara yang diperhitungkan keberadaannya dan dari politik yang ruwet menjadi politik yang jelas yang didasarkan pada wahyu, yaitu al-Qur’an dan hadits.

E.     Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut, maka kami dapat mengambil kesimpulan:

  1. Masyarakat Mekkah sebelum Islam dan datangnya Nabi memang sesuai jika disebut dengan Jahiliyah, karena pencurian di mana-mana, perzinahan sudah jadi budaya, dan lain sebagainya. Di samping itu, masyarakat pada masa itu menyembah berhala sebagai perwujudan dari menyembah Tuhan mereka. Namun masih ada sebagian kecil dari mereka yang mempunyai akhlak yang baik.
  2. Nabi Muhammad datang dengan membawa risalah kenabian, yang isinya adalah perbaikan aqidah masyarakat Arab Jahiliyah. Kedatangan Nabi Muhammad telah membawa perubahan yang sangat signifikan pada masyarakat Arab Mekkah.
  3. Kondisi sosial masyarakat Arab telah mengalami peningkatan yang signifikan antara sebelum Muhammad dengan sesudah Muhammad. Kondisi tersebut dalam bidang sosial, pendidikan, hukum, ekonomi, dan politik.

F.      Saran-Saran

Dari kesimpulan di atas, dapat disarankan hal-hal berikut ini:

  1. Hendaklah kaum akademisi mengambil hadits yang tepat dan shahih juga mempelajari asbab al-wurud-nya sehingga tidak salah dalam menilai dan menggunakan hadits.
  2. Hendaknya para akademisi apabila mengambil kebijakan juga memperhatikan kondisi sosial kultural yang ada di sekitarnya.

DAFTAR RUJUKAN

Ash Shiddiqiey, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1954.

AsSa’idi, Abdullah, Hadits_Hadits Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Al-Bukhari, Muhammad, Shahih al-Bukhari, juz 7, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Chalil, Moenawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: Gema Insani Pers, 2001.

Dawud, Abu, Sunan Abu Dawud, juz 9, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Ghazali, Muhammad, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, terj Kamdani, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2006.

Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional, tt.

Hanbal, Ahmad Ibn, Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Juz 25 Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Hawwa, Said, Nabi Muhammad saw, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, et.al, Jakarta: Gema Insani, 2003.

Hitti, Philip K., History Of The Arabs, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007.

Hourani, Albert, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Irfan Abu Bakar, Bandung: Mizan, 2004.

Mahmudunnasir, Syeikh, Islam, Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang Afandi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.

Majah, Ibn, Sunan Ibn Majah, juz 1,Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyur Rahman, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2007.

Muslim, Shahih Muslim, juz 13, Mauqi’u al-Hadits: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Al-Nadwi, Syaikh Abu al-Hasan ‘Ali al-Hasani, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad saw, terj. Suryowidiatmoko, (ed), Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007.

Shahrur, Muhammad, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, terj Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: Elsaq Press, 2004.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Yusuf, M. et.all, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Fakultas Ushuluddin, 2005.

 

SEJARAH KHULAFAUR RASYIDIN 2

(Kajian Khalifah Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A. Pengantar

Saat Nabi Muhammad SAW wafat, beliau tidak meninggal suatu wasiat untuk siapakah yang akan menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin umat Islam. Hal ini memberikan sinyal bahwa beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya, dan mengambil sikapnya sendiri. Oleh karenanya setelah itu kepemimpinan kaum Islam di pimpin oleh empat shabat berdasarkan pemilihan sahabat lain dengan jalan musyawarah.

Pemimpin atau Khalifah tersebut berurutan mulai: Abu Bakar As Siddig, Umar Bin Khottab, Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka berempat terkenal gigih dan mempunyai karakter kepemimpinan masing-masing. Mempunyai kelebihan masing-masing dan tak anyal juga mempunyai kelemahan masing-masing. Sebagai khalifah ke 3 da ke 4 beliau Ustman dan Ali mengalami banyak cobaan dari kalangan kaum Islam sendiri. Dri ketidak puasan, pemberontakan hingga pembunuhan terhadap khalifah terjadi.

Di era Ustman ,ia sedikit terlalu lunak dan sabar sehingga kepemimpinannya di salah gunakan oleh keluarga terdekatnya sehingga terkesan adanya praktik nepotisme dalam era kepemimpinannya. Sedangkan di era Ali Bin Abi Thalib, ia mendapakan tantangan dari Thalqah dan kawan-kawan, khawarij dan muawiyah yang semuanya mempunyai kepentingan tersendiri. Melihat begitu peliknya permasalahn yang mereka hadap dalam makalah ini penulis berusaha membeberkan tentang kejadian yang terjadi di bawah kepemimpinan Khalifah Ustman dan Khalifah Ali. Kerena dapat menjadi pelajaran bagi kita pemimpin-pemimpin bangsai di kemudian hari dan mengelola suatu institusi atau suatu lembaga dengan baik dan tidak melakukan praktek yang merugika pihak tertentu.

B. Khalifah Ustman Bin Affan

1. Riwayat Hidup Khalifah Ustman Bin Affan

Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay al-Quraisyi. Nabi sangat mengaguminya karena ia adalah orang yang sederhana, shaleh dan dermawan. Ia dikenal dengan sebutan Abu Abdullah. Ia dilahirkan pada tahun 573 M di Makkah dari pasangan suami isteri Affan dan Arwa. Beliau merupakan salah satu keturunan dari keluarga besar Bani Umayyah suku Quraisy.

Sejak kecil, ia dikenal dengan kecerdasan, kejujuran dan keshalehannya sehingga Rasulullah SAW sangat mengaguminya. Oleh karena itu, ia memberikan kesempatan untuk menikahi dua putri Nabi secara berurutan, yaitu setelah putri Nabi yang satu meninggal dunia .

Utsman bin Affan sebagaimana Abu Bakar beliau adalah seorang bangsawan Qurays yang masuk islam pada masa awal-awal kenabian. Beliau orangnya sangat pemalu dan perasa. Tapi memiliki kesolehan yang istimewa, hingga Beliau dinikahkan dengan Ruqayyah putri nabi. Ketika Ruqayyah wafat dia dinikahkan lagi dengan putri nabi yang lain yakni Ummu Kaltsum.Ketika Ummu wafat karena sayangnya nabi pada Utsman beliau berujar, ” Seandainya aku punya putri yang lain maka akan aku nikahkan lagi sama Utsman”, demikian sebagai gambaran keutamanaannya.
Ustman bin Affan masuk Islam pada usia 34 tahun. Berawal dari kedekatannya dengan Abu Bakar, beliau dengan sepenuh hati masuk Islam bersama sahabatnya Thalhah bin Ubaidillah. Meskipun masuk Islamnya mendapat tantangan dari pamannya yang bernama Hakim, ia tetap pada pendiriannya. Karena pilihan agamanya tersebut, Hakim sempat menyiksa Ustman bin Affan dengan siksaan yang pedih.
Di kalangan bangsa Arab ia tergolong konglomerat, tetapi perilakunya sederhana. Selama tinggal di Madinah, ia memperlihatkan komitmen sosialnya yang tinggi pada Islam. Seluruh hidupnya diabdikan untuk syiar agama Islam dan seluruh kekayaannya didermakan untuk kepentingan umat Islam. Ia menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda serta 1000 dirham dalam perang Tabuk, juga membeli mata air dari orang Romawi dengan harga 20.000 Dirham guna diwakafkan bagi kepentingan umat Islam. Beliau juga membelikan tanah 15.000 Dinar untuk memperluas masjid dan menambah lagi 10.000 Dinar.

Selama pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Ustman menjadi pejabat yang amat dipercaya yaitu sebagai anggota dewan inti yang selalu diminta pendapatnya tentang masalah-masalah kenegaraan, misalnya masalah pengangkatan Umar. Ustman bin Affan menjabat Khalifah pada usia 70 tahun hingga usia 82 tahun. Adalah Khalifah yang paling lama memerintah dibanding ketiga Khalifah lainnya. Ia memerintah Dunia Islam selama 12 tahun (24–36 H/644–656 M).

Di lain itu Ustman memiliki sifat dan perangai yang sangat pemalu. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :

أصدق أمّتي خياء عثمان.

“ umatku yang benar-benar pemalu adalah Ustman “

Rasa malunya bertambah pada waktu ia melihat orang. Sifat malunya tersebut membuat orang lain menjadi malu padanya. Bersumber dari Aisyah, yaitu ketika Rasulullah sedanga duduk-duduk dan pahanya terbuka, Abu Bakr meminta izin masuk diizinkan tanpa merupah posisi nya, ketika Umar datang meminta izin masuk diizinkan pula tanpa merubah posisi. Namun ketika Ustman yang masuk Rasul langsung menurunkan pakaiannya. Sesudah mereka semua pergi Aisyah berkata : “ Rasulullah, anda mengizinkan abu Bakr dan Umar masuk dengan keadaan Anda tetap begitu, tetapi sesudah Ustman yang meminta izin Anda menurunkan pakaian Anda. “ Kata Rasulullah kepada Aisyah:

يا عا ئشة, ألانستحي من رجل ولله إنّ الملائكة لتستحي منه

“ Aisyah kita malu bukan kepada seseorang yang malaikat sendiripun malu kepadanya.” Lalu Aisyah berkata: “ Rasulullah, mengapa saya tidak melihat kepedulian anda terhadap Abu Bakr dan Umar seperti kepada Ustman?” Dijawab oleh rasulullah : “ Ustman orang yang sangat pemalu. Saya kawatir kalau saya mengizinkannya dalam keadaan begitu ia tidak dapat mengutarakan maksudnya.”

Dalam pemerintahannya, banyak kemajuan yang telah dicapainya, disamping tidak sedikit pula polemik dan kesan negatif yang terjadi di akhir pemerintahannya. Secara dramatik bahkan muncul pendapat dan argumen bahwa Khalifah Ustman melakukan penyimpangan terhadap ajaran Islam, sehingga ia dianggap tidak layak menyandang gelar Khalifah ar-Rasyidin. Sebab selama menjadi Khalifah, ia diasumsikan banyak melakukan nepotisme dan tuduhan perilaku menyimpang lainnya
2. Proses Kekhalifahan Ustman Bin Affan

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, tepatnya ketika beliau sakit dibentuklah dewan musyawarah yang terdiri dari Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Abdur Rahman bin Auf. Salah seorang putra Umar, Abdullah ditambahkan pada komisi di atas tetapi hanya punya hak pilih dan tidak berhak dipilih.

Dewan tersebut dikenal dengan sebutan Ahlul Halli wal Aqdi dengan tugas pokok menentukan siapa yang layak menjadi penerus Khalifah Umar bin Khattab dalam memerintah umat Islam. Suksesi pemilihan Khalifah ini dimaksudkan untuk menyatukan kembali kesatuan umat Islam yang pada saat itu menunjukkan adanya indikasi disintegrasi.

Sahabat-sahabat yang tergabung dalam dewan, posisinya seimbang tidak ada yang lebih menonjol sehingga cukup sulit untuk menetapkan salah seorang dari mereka sebagai pengganti Umar. Tidaklah heran bila dalam sidang terjadi tarik ulur pendapat yang sangat alot, walau pada akhirnya, mereka memutuskan Ustman bin Affan sebagai khalifah setelah Umar bin Khattab. Diantara kelima calon hanya Tholhah yang sedang tidak berada di Madinah ketika terjadi pemilihan. Abdurahman Ibn Auf mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan musyawarah pemilihan Khalifah pengganti Umar. Ia meminta pendapat masing-masing nominasi. Saat itu, Zubair dan Ali mendukung Ustman. Sedangkan Ustman sendiri mendukung Ali, tetapi Ali menyatakan dukungannya terhadap Ustman. Kemudian Abdurahman bin Auf mengumpulkan pendapat-pendapat sahabat besar lainnya. Akhirnya suara mayoritas menghendaki dan mendukung Ustman. Lalu ia dinyatakan resmi sebagai Khalifah melalui sumpah, dan baiat seluruh umat Islam.

Pemilihan itu berlangsung pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 H atau 644 M dan dilantik pada awal Muharram 24 H atau 644 M. Ketika Tholhah kembali ke Madinah Ustman memintanya menduduki jabatannya, tetapi Tholhah menolaknya seraya menyampaikan baiatnya. Demikian proses pemilihan Khalifah Ustman bin Affan berdasarkan suara mayoritas.

Dalam sejarahnya kemudian, tarik ulur perbedaan pendapat tersebut mengandung banyak interpretasi. Misalnya, dikatakan bahwa dalam pemilihan Khalifah Ustman ditemui beberapa kecurangan, dan sebenarnya yang pantas menduduki kursi Khalifah setelah umar adalah Ali bin Abi Thalib. Keberhasilan Ustman bin Affan menjadi Khalifah ditentukan oleh peran lima tokoh yaitu Umar bin Khattab, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Mereka ini masuk Islam secara kolektif atas pengaruh Abu Bakar as-Shiddiq.

Dengan demikian, bila dewan itu dipetakan dapat ditemukan dua kekuatan yang bersaing, yaitu poros Abu Bakar dan Umar yang pro Ustman dengan poros Ali. Kini penganut Syi’ah berpendapat bahwa terbentuknya dewan musyawarah dengan 6 anggota tersebut merupakan “taktik politik” pro Ustman yang ingin agar Ustman menjadi Khalifah. Wacana ini sangat ditentang oleh Abdul Hamid kisyik dengan dasar kesalehan dan kerendahan hati Utsman, juga latar belakang sejarah Utsman yang berjuang demi Islam.

Terpilihnya Ustman sebagai Khalifah ternyata melahirkan perpecahan dikalangan pemerintahan Islam. Pangkal masalahnya sebenarnya berasal dari persaingan kesukuan antara bani Umayyah dengan bani Hasyim atau Alawiyah yang memang bersaing sejak zaman pra Islam. Oleh karena itu, ketika Ustman terpilih masyarakat menjadi dua golongan, yaitu golongan pengikut Bani Ummayah, pendukung Ustman dan golongan Bani Hasyim pendukung Ali. Perpecahan itu semakin memuncak dipenghujung pemerintahan Ustman, yang menjadi simbol perpecahan kelompok elite yang menyebabkan disintegrasi masyarakat Islam pada masa berikutnya.

3. Kepemimpinan dan Tindakan Khalifah Utsman Bin Affan

a. Perluasan Wilayah

Setelah Khalifah Umar bin Khattab berpulang ke rahmatullah terdapat daerah-daerah yang membelot terhadap pemerintah Islam. Pembelotan tersebut ditimbulkan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama (pemerintahan sebelum daerah itu masuk ke daerah kekuasaan Islam) ingin hendak mengembalikan kekuasaannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar Yazdigard yang berusaha menghasut kembali masyarakat Persia agar melakukan perlawanan terhadap penguasa Islam. Akan tetapi dengan kekuatannya, pemerintahan Islam berhasil memusnahkan gerakan pemberontakan sekaligus melanjutkan perluasan ke negeri-negeri Persia lainnya, sehingga beberapa kota besar seperti Hisrof, Kabul, Gasna, Balkh dan Turkistan jatuh menjadi wilayah kekuasaan Islam.

Adapun daerah-daerah lain yang melakukan pembelotan terhadap pemerintahan Islam adalah Khurosan dan Iskandariyah. Khalifah Utsman mengutus Sa’ad bin al-Ash bersama Khuzaifah Ibnu al-Yamaan serta beberapa sahabat Nabi lainnya pergi ke negeri Khurosan dan sampai di Thabristan dan terjadi peperangan hebat, sehingga penduduk mengaku kalah dan meminta damai. Tahun 30 H/ 650 M pasukan Muslim berhasil menguasai Khurazan.

Adapun tentang Iskandariyah, bermula dari kedatangan kaisar Konstan II dari Roma Timur atau Bizantium yang menyerang Iskandariyah dengan mendadak, sehingga pasukan Islam tidak dapat menguasai serangan. Panglima Abdullah bin Abi Sarroh yang menjadi wali di daerah tersebut meminta pada Khalifah Utsman untuk mengangkat kembali panglima Amru bin ‘Ash yang telah diberhentikan untuk menangani masalah di Iskandariyah. Abdullah bin Abi Sarroh memandang panglima Amru bin ‘Ash lebih cakap dalam memimpin perang dan namanya sangat disegani oleh pikak lawan. Permohonan tersebut dikabulkan, setelah itu terjadilah perpecahan dan menyebabkan tewasnya panglima di pihak lawan.

Selain itu, Khalifah Ustman bin Affan juga mengutus Salman Robiah Al-Baini untuk berdakwah ke Armenia. Ia berhasil mengajak kerjasama penduduk Armenia, bagi yang menentang dan memerangi terpaksa dipatahkan dan kaum muslimin dapat menguasai Armenia. Perluasan Islam memasuki Tunisia (Afrika Utara) dipimpin oleh Abdullah bin Sa‘ad bin Abi Zarrah. Tunisia sebelum kedatangan pasukan Islam sudah lama dikuasai Romawi. Tidak hanya itu saja pada saat Syiria bergubernurkan Muawiyah, ia berhasil menguasai Asia kecil dan Cyprus.

Dimasa pemerintahan Utsman, negeri-negeri yang telah masuk ke dalam kekuasaan Islam antara lain: Barqoh, Tripoli Barat, sebagian Selatan negeri Nubah, Armenia dan beberapa bagian Thabaristan bahkan tentara Islam telah melampaui sungai Jihun (Amu Daria), negeri Balkh (Baktria), Hara, Kabul dan Gzaznah di Turkistan.
Jadi 6 tahun pertama pemerintahan Ustman bin Affan ditandai dengan perluasan kekuasaan Islam. Perluasan dan perkembangan Islam pada masa pemerintahannya telah sampai pada seluruh daerah Persia, Tebristan, Azerbizan dan Armenia selanjutnya meluas pada Asia kecil dan negeri Cyprus, serta Rhodes dan Trasoxania. Atas perlindungan pasukan Islam, masyarakat Asia kecil dan Cyprus dan lainnya bersedia menyerahkan upeti sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya pada masa kekuasaan Romawi atas wilayah tersebut.

b. Pembangunan Angkatan Laut

Pembangunan angkatan laut bermula dari adanya rencana Khalifah Ustman untuk mengirim pasukan ke Afrika, Mesir, Cyprus dan Konstatinopel Cyprus. Untuk sampai ke daerah tersebut harus melalui lautan. Oleh karena itu atas dasar usul Gubernur di daerah, Ustman pun menyetujui pembentukan armada laut yang dilengkapi dengan personil dan sarana yang memadai.

Pada saat itu, Mu’awiyah, Gubernur di Syiria harus menghadapi serangan-serangan Angkatan Laut Romawi di daerah-daerah pesisir provinsinya. Untuk itu, ia mengajukan permohonan kepada Khalifah Utsman untuk membangun angkatan laut dan dikabulkan oleh Khalifah. Sejak itu Muawiyah berhasil menyerbu Romawi.
Mengenai pembangunan armada itu sendiri, Muawiyah tidaklah membutuhkan tenaga asing sepenuhnya, karena bangsa Kopti, begitupun juga penduduk pantai Levant yang berdarah Punikia itu, ramai-ramai menyediakan dirinya untuk membuat dan memperkuat armada tersebut. Itulah pembangunan armada yang pertama dalam sejarah Dunia Islam.

Selain itu, Keberangkatan pasukan ke Cyprus yang melalui lautan, juga mendesak ummat Islam agar membangun armada angkatan laut. Pada saat itu, pasukan di pimpin oleh Abdullah bin Qusay Al-Harisy yang ditunjuk sebagai Amirul Bahr atau panglima Angkatan Laut. Istilah ini kemudian diganti menjadi Admiral atau Laksamana. Ketika sampai di Amuria dan Cyprus pasukan Islam mendapat perlawanan yang sengit, tetapi semuanya dapat diatasi hingga sampai di kota Konstatinopel dapat dikuasai pula.

Di samping itu, serangan yang dilakukan oleh bangsa Romawi ke Mesir melalui laut juga memaksa ummat Islam agar segara mendirikan angkatan laut. Bahkan pada tahun 646 M, bangsa Romawi telah menduduki Alexandria dengan penyerangan dari laut. Penyerangan itu mengakibatkan jatuhya Mesir ke tangan kekuasan bangsa Romawi. Atas perintah Khalifah Ustman, Amr bin Ash dapat mengalahkan bala tentara bangsa Romawi dengan armada laut yang besar pada tahun 651 M di Mesir.

Berawal dari sinilah Khalifah Ustman bin Affan perlu diingat sebagai Khalifah pertama kali yang mempunyai angkatan laut yang cukup tangguh dan dapat membahayakan kekuatan lawan.

c. Kodifikasi Al-Quran, Mushhaf Ustmani

Penyebaran Islam bertambah luas dan para Qori‘ pun tersebar di berbagai daerah, sehinga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qiro‘at dari qori‘ yang sampai pada mereka. Sebagian orang Muslim merasa puas karena perbedaan tersebut disandarkan pada Rasullullah SAW. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak menimbulkan keraguan kepada generasi berikutnya yang tidak secara langsung bertemu Rasullullah.

Ketika terjadi perang di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Aliaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur‘an. Sebagian bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaannya. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada Khalifah Ustman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan dan penyimpangan pada kaum muslimin. Mereka sepakat menyalin lembaran pertama yang telah di lakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh istri Rasulullah, Siti Hafsah dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan yang tetap pada satu huruf.

Selanjutnya Ustman mengirim surat pada Hafsah yang isinya kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur‘an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushhaf dan setelah selesai akan kami kembalikan kepada anda. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Ustman. Ustman memerintahkan para sahabat yang antara lain: Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Zubair, Sa‘ad Ibn Al-‘Ash dan Abdurahman Ibnu Harist Ibn Hisyam, untuk menyalin mushhaf yang telah dipinjam. Khalifah Ustman berpesan kepada kaum Quraisy bila anda berbeda pendapat tentang hal Al-Qur‘an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena Al-Qur‘an diturunkan di kaum Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushhaf Khalifah Ustman mengembalikan lembaran mushhaf asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushhaf yang yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushhaf yang lain dibakar.
Al-Mushhaf ditulis lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya dipedomani, satu buah disimpan di Madinah untuk Khalifah Ustman sendiri dan mushhaf ini disebut mushhaf Al-Imam dan dikenal dengan mushhaf Ustmani.

Jadi langkah pengumpulan mushhaf ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan Khalifah Ustman bin Affan yakni dengan meneruskan jejak Khalifah pendahulunya untuk menyusun dan mengkodifikasikan ayat-ayat al-Qur an dalam sebuah mushhaf. Karena selama pemerintahan Ustman, banyak sekali bacaan dan versi al-Qur’an diberbagai wilayah kekuasaan Islam yang disesuaikan dengan bahasa daerah masing-masing. Dengan dibantu oleh Zaid bin Tsabit dan sahabat-sahabat yang lain, Khalifah berusaha menghimpun kembali ayat-ayat al-Qur an yang outentik berdasarkan salinan Kitab Suci yang terdapat pada Siti Hafsah, salah seorang isteri Nabi yang telah dicek kembali oleh para ahli dan huffadz dari berbagai kabilah yang sebelumnya telah dikumpulkan.

Keinginan Khalifah Ustman agar kitab al-Qur’an tidak mempunyai banyak versi bacaan dan bentuknya tercapai setelah kitab yang berdasarkan pada dialek masing-masing kabilah semua dibakar, dan yang tersisa hanyalah mushhaf yang telah disesuaikan dengan naskah al-Qur’an aslinya. Hal tersebut sesuai dengan keinginan Nabi Muhammad SAW yang menghendaki adanya penyusunan al-Qur’an secara standar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motif pengumpulan mushhaf oleh Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Ustman berbeda. Pengumpulam mushhaf yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dikarenakan adanya kekhawatiran akan hilangnya Al-Qur‘an karena banyak huffadz yang meninggal karena peperangan, sedangkan motif Khalifah Ustman karena banyaknya perbedaan bacaan yang dikhawatirkan timbul perbedaan.

4. Konflik dan Kemelut Politik Islam Hingga Akhir Hayatnya

Pemerintahan Ustman berlangsung selama 12 tahun. Pada masa awal pemerintahannya, beliau berhasil memerintahan Islam dengan baik sehingga Islam mengalami kemajuan dan kemakmuran dengan pesat. Namun pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tak puas dan kecewa umat Islam terhadapnya. Khalifah Ustman adalah pemimpin yang sangat sederhana, berhati lembut dan sangat shaleh, sehingga kepemimpinan beliau dimanfaatkan oleh sanak saudaranya dari keluarga besar Bani Umayah untuk menjadi pemimpin di daerah-daerah.
Oleh karena itu, orang-orang menuduh Khalifah Ustman melakukan nepotisme, dengan mengatakan bahwa beliau menguntungkan sanak saudaranya Bani Umayyah, dengan jabatan tinggi dan kekayaannya. Mereka juga menuduh pejabat-pejabat Umayyah suka menindas dan menyalahkan harta baitul maal. Disamping itu Khalifah Utsman dituduh sebagai orang yang boros mengeluarkan belanja, dan kebanyakan diberikan kepada kaum kerabatnya sehingga hampir semuanya menjadi orang kaya.

Dalam kenyataannya, menurut Mufradi, satu persatu kepemimpinan di daerah-daerah kekuasaan Islam diduduki oleh keluarga Khalifah Ustman. Adapun pejabat-pejabat yang diangkat Ustman antara lain:

1. Abdullah bin Sa‘ad (saudara susuan Ustman) sebagai wali Mesir menggantikan Amru bin Ash.

2. Abdullah bin Amir bin Khuraiz sebagai wali Basrah menggantikan Abu Musa Al-Asyari.
3. Walid bin Uqbah bin Abi Muis (saudara susuan Ustman) sebagai wali Kufah menggantikan Sa‘ad bin Abi Waqos.

4. Marwan bin Hakam (keluarga Ustman ) sebagai sekretaris Khalifah Ustman.
Pengangkatan pejabat dikalangan keluarga oleh Khalifah Ustman telah menimbulkan protes keras di daerah dan menganggap Ustman telah melakukan nepotisme. Menurut Ali , protes orang dengan tuduhan nepotisme tidaklah beralasan karena pribadi Ustman itu bersih. Pengangkatan kerabat oleh Ustman bukan tanpa pertimbangan. Hal ini ditunjukkan oleh jasa yang dibuat oleh Abdullah bin Sa‘ad dalam melawan pasukan Romawi di Afrika Utara dan juga keberhasilannya dalam mendirikan angkatan laut. Ini menunjukkan Abdullah bin Sa’ad adalah orang yang cerdas dan cakap, sehingga pantas menggantikan Amr ibn ‘Ash yang sudah lanjut usia. Hal lain ditunjukkan ketika diketahui Walid bin Uqbah melakukan pelanggaran berupa mabuk-mabukkan, ia dihukum cambuk dan diganti oleh Sarad bin Ash. Hal tersebut tidak akan dilakukan oleh Ustman, kalau beliau hanya menginginkan kerabatnya duduk di pemerintahan.

Situasi politik diakhir masa pemerintahan Ustman benar-benar semakin mencekam bahkan usaha-usaha yang bertujuan baik untuk kamaslahatan umat disalahfahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat. Misalnya kodifikasi al-Qur’an dengan tujuan supaya tidak terjadi kesimpangsiuran telah mengundang kecaman melebihi dari apa yang tidak diduga. Lawan-lawan politiknya menuduh Ustman bahwa ia sama sekali tidak punya otoritas untuk menetapkan edisi al-Qur’an yang ia bukukan. Mereka mendakwa Ustman secara tidak benar telah menggunakan kekuasaan keagamaan yang tidak dimilikinya.

Tentang tuduhan pemborosan uang negara antara lain pembangunan rumah mewah lengkap dengan peralatan untuk Ustman, istrinya dan anak-anaknya ditolak keras oleh Ustman. Demikian pula terhadap tuduhan keji tentang pemborosan dan korupsi uang negara untuk dibagi-bagikan pada saudaranya. Tuduhan lain terhadap Ustman yaitu mengambil harta baitul maal adalah tidak benar, karena beliau dan keluarga hanya makan dari hasil gajinya saja. Semua tuduhan tersebut di bantah oleh Ustman sendiri: “Ketika kendali pemerintahan dipercaya kepadaku, aku adalah pemilik unta dan kambing paling besar di Arab. Sekarang aku tidak mempunyai kambing atau unta lagi, kecuali dua ekor unta untuk menunaikan haji. Demi Allah tidak ada kota yang aku kenakan pajak di luar kemampuan penduduknya sehingga aku dapat disalahkan. Dan apapun yang telah aku ambil dari rakyat aku gunakan untuk kesejahteraan mereka sendiri .

Penyebab utama dari semua protes terhadap Khalifah Ustman adalah diangkatnya Marwan ibnu Hakam, karena pada dasarnya dialah yang menjalankan semua roda pemerintahan, sedangkan Ustman hanya menyandang gelar Khalifah.
Rasa tidak puas memuncak ketika pemberontak dari Kufah dan Basrah bertemu dan bergabung dengan pemberontak dari Mesir. Wakil-wakil mereka menuntut diangkatnya Muhammad Ibnu Abu Bakar sebagai Gubernur Mesir. Tuntutan dikabulkan dan mereka kembali. Akan tetapi di tengah perjalanan mereka menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang isinya bahwa wakil-wakil itu harus dibunuh ketika sampai di Mesir. Yang menulis surat tersebut menurut mereka adalah Marwan ibn Hakam.

Mereka meminta Khalifah Ustman menyerahkan Marwan, tetapi ditolak oleh Khalifah. Ali bin Abi Tholib mencoba mendamaikan tapi pemberontak berhasil mengepung rumah Ustman dan membunuh Khalifah yang tua itu ketika membaca al-Qur’an pada 35 H/17 Juni 656 M. Pembunuhan ini menimbulkan berbagai gejolak pada tahun-tahun berikutnya, sehingga bermula dari kejadian ini dikenal sebutan al-bab al-maftukh (terbukanya pintu bagi perang saudara).

Sebenarnya  kronologi pembunuhan Ustman yang bermotif politik itu lebih berpengaruh terhadap lembaran sejarah Islam dibandingkan dengan sejarah-sejarah Islam yang lainnya. Kesatuan umat Islam yang baru terbentuk oleh dua Khalifah pendahulunya mulai sirna dan keruwetan muncul di tengah-tengah umat Islam. Selanjutnya masyarakat Muslim terpecah menjadi dua golongan yaitu Umaiyah dan Hasyimiyah. Golongan Umaiyah menuntut pembalasan atas darah Ustman sepanjang pemerintahan Ali hingga terbentuknya Dinasti Umaiyah”.

Ibnu Saba’, nama lengkapnya Abdullah bin Saba’, adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ia merupakan provokator yang berada di balik pemberontakan terhadap Khalifah Ustman bin Affan. Ibnu Saba’ melakukan semuanya itu didasarkan motivasi dirinya untuk meruntuhkan dasar-dasar Islam yang telah dipegang teguh oleh umat Islam. Niatnya masuk Islam hanyalah sebagai kedok belaka untuk merongrong kewibawaan pemerintahan Khalifah Ustman, sehingga muncullah kerusuhan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan Islam di antaranya adalah Fustat (Kairo), Kufah, Basrah, dan Madinah.

Selain faktor dari luar tersebut (provokasi dari Ibnu Saba’), dalam internal kekhalifahan Ustman bin Affan terdapat konfrontasi lama yang mencuat kembali. Permasalahan tersebut semata-mata berupa persaingan yang di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Sedangkan Ustman sendiri merupakan salah satu anggota dari keluarga besar Bani Umayyah. Pada konteks sejarahnya, Bani Hasyim sejak dahulu berada di atas Bani Umayyah terutama pada masalah-masalah perpolitikan orang-orang Quraisy.

Lemahnya karakter kepemimpinan Ustman menjadikan kekuatan dan kekuasaanya semakin terancam. Artinya, pribadi Ustman bin Affan yang sederhana dan berhati lembut membuat para pemberontak lebih leluasa dalam melakukan provokasi dan kerusuhan di wilayah kekuasaan Islam. Sikap sederhana dan lemah lembut dalam ilmu politik sebenarnya kurang relevan diterapkan, apalagi pada saat itu kondisi pemerintahan dalam saat-saat kritis. Dan lagi-lagi pada beberapa kasus, Ustman bin Affan begitu mudah memaafkan orang lain, meskipun pada kenyataannya orang tersebut adalah termasuk kelompok yang memerangi dan sangat tidak suka dengan beliau. Demikianlah karakter kepemimpinan beliau.

B. Khalifah Ali Bin Abi Thalib

1. Riwayat Hidup Khalifah Ali Bin abi Thalib

Ali Bin Abi Thalib adalah khalifah keempat. Nama lengkapnya adalah Ali ibn Abi Thalib ibn Abd al Munthalib ibn Hasyim ibn Abi Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’ab. Pada awalnya sang ibu memberi nama Haidarah yang berarti singa namun oleh ayahnya diganti dengan nama Ali. Ia lahir di Masjidil Haram Makkah sesudah nabi Muhammad dilahirkan.

Sejak kecil ia dibesarkan dalam rumah tangga Nabi, sehingga ia amat suka mengikuti jejak beliau baik dalam pernyataan, kelakuan maupun pernyataan pengakuan. Ketika Nabi menerima wahyu yang pertama ia adalah anak kecil yang membenarkan dan masuk Islam yang pertama kali. Ia menemani nabi dalam perjuangan baik di Makkah maupun di Madinah. Ia diambil menantu oleh nabi dengan dinikahkan Fatimah. Dari sinilah keturunan Nabi berkelanjutan.

2. Masa Kekhalifahan, Tantangan Sampai Akhir Hayatnya

a. Masalah Thalqah dan Zubair dalam Menuntut Pembelaan untuk Utsman

Ali berusaha untuk melakukan qishash terhadap para pembunuh Utsman. Thalhah dan Zubair bersama sejumlah Shahabat berpendapat agar Ali segera menangkap para pembunuh dan melaksanakan qishash. Guna menjamin terlaksananya qishash dan menghindarkan fitnah, mereka menawarkan kepada Ali agar mendatangkan pasukan dari Bashrah dan Kufah untuk mendukungnya. Tetapi Ali meminta mereka agar menunggu sampai ia menyusun program yang baik untuk melaksanakan qishas.

Berkumpullah orang-orang yang berpendapat agar segera melaksanakan qishash di Bashrah agar dapat menjadi peringatan bagi penduduk Bashrah akan perlunya kerjasama dalam mengepung para pembunuh Utsman dan menuntut darah dari mereka. Diantara yang berpendapat demikian adalah Aisyah, Thalhah, Zubair dan sebagian besar shahabat.

Saat itu pasukan Ali berangkat ke sana guna melakukan ishlah dan menyatukan kalimat. Al-Qa’qa bin Amr sebagai utusan dari pihak Ali ra menemui Aisyah seraya berkata, “Wahai ibunda, apakah yang mendorong kedatangan ibunda ke negeri ini?” Aisyah menjawab, “Ishlah diantara manusia.” Kemudian Al-Qa’qa menemui Thalhah dan Zubair dan menanyakan hal yang sama. Keduanya menjawab, “Kami juga demikian.” Kemudian semua pihak berbicara dan berunding yang akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan ini kepada Ali. Ali pun bersyukur atas tercapainya kesepakatan tersebut.

Tetapi Abdullah bin Saba dan kawan-kawannya merencanakan untuk mengadu kedua belah pihak. Orang-orang yang melakukan konspirasi jahat ini bergerak sebelum fajar. Jumlah mereka hampir 2000 orang. Mereka melakukan serangan mendadak. Akhirnya orang-orang bangun dari tidurnya dan membawa pedang seraya berkata, “Para penduduk Kufah menyerang kita pada malam hari dan berkhianat kepada kita.“ Mereka mengira bahwa tindakan tersebut adalah rencana busuk dari Ali. Setelah mendengar berita ini Ali berkata, “Apa yang terjadi pada masyarakat?” Orang-orang yang berada di sekitarnya berteriak, “Orang-orang Bashrah menyerang kami di malam hari dan berkhianat terhadap kita.” Kemudian masing-masing pihak mengambil pedang dan baju perangnya tanpa mengetahui hakikat yang sebenarnya. Terjadilah peperangan di antara mereka. Pasukan Ali sekitar 20.000 orang, adapun pasukan Aisyah berjumlah sekitar 30.000 orang. Aisyah ikut maju dengan mengendarai onta.

Pasukan Abdullah bin Saba` tidak henti-hentinya melakukan pembunuhan dan tidak peduli terhadap penyeru dari pihak Ali yang menyerukan kepada mereka semua untuk berhenti. Ketika kedua pihak telah menyadari dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan, maka mereka saling menahan diri dan menghentikan peperangan.

Ketika pasukan Ali mendekati pasukan Thalhah dan Zubair, maka keluarlah Ali dengan menunggang baghal Rasulullah SAAW, kemudian memanggil Zubair dan berkata, “Wahai Zubair, demi Allah, apakah engkau ingat ketika Rasulullah bertanya kepadamu: ‘Wahai Zubair apakah kamu mencintai Ali?’ Lalu kamu menjawab: ‘Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku bahkan seagama denganku?’ Kemudian Nabi SAAW bersabda: ‘Wahai Zubair, demi Allah, satu saat engkau pasti akan memeranginya dan menzhaliminya.” Zubair menjawab, “Demi Allah, aku telah lupa akan hal itu. Tetapi sekarang aku telah teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama-lamanya.” Kemudian Zubair kembali dengan menunggang kendaraannya membelah barisan. Kemudian kedua belah pihak kembali berdamai.

b. Masalah Mu’awiyah dan perang Shiffin

Ali kembali ke Kufah yang telah dijadikan sebagai pusat khilafah. Sesampainya di Kufah, Ali segera mengirim Jurair bin Abdullah Al-Bajli kepada Mu’awiyah di Syam guna mengajak bergabung untuk membai’at Ali. Akan tetapi Mu’awiyah menolak kecuali jika pembunuh Utsman telah diqishash. Ali menganggap hal ini sebagai pemberontakan. Maka Ali mengirim pasukannya ke Syam pada 12 Rajab 36H. Mu’awiyah pun segera memberangkatkan pasukannya hingga kedua pasukan itu bertemu di Shiffin, di tepi sungai Eufrat. Selama dua bulan lebih kedua belah pihak saling mengirimkan utusan-utusan. Ali mengajak Mu’awiyah untuk membai’at. Dan Mu’awiyah menyerukan kepada Ali agar segera mengqishash pembunuh Utsman sebelum melakukan urusan lain. Selama perundingan itu mungkin telah terjadi beberapa pertempuran kecil.

Keadaan ini terus berlanjut hingga bulan Muharram 37 H. Lalu kedua pihak melakukan gencatan senjata selama sebulan dengan harapan dapat dicapai ishlah. Tetapi gencatan senjata berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Lalu Ali memerintahkan seorang petugas untuk mengumumkan demikian: “Wahai penduduk Syam, Amirul Mu`minin menyatakan kepada kalian bahwa aku telah memberi waktu yang cukup kepada kalian untuk kembali kepada kebenaran, tetapi kalian tetap tidak mau berhenti dari pembangkangan dan tidak mau kembali kepada kebenaran. Karena itu, kini aku kembalikan perjanjian ini kepada kalian dengan penuh kejujuran. Sesungguhnya Allah tidak mencintai para pengkhianat.”

Pada saat itulah kedua belah pihak memobilisasi pasukannya masing-masing. Terjadilah pertempuran selama 7 hari. Akhirnya Mu’awiyah dan pasukannya terdesak. Saat itulah Mu’awiyah dan Amr bin Ash berunding. Amr mengusulkan agar Mu’awiyah mengajak penduduk Iraq untuk berhukum kepada Kitab Allah. Lalu Mu’awiyah memerintahkan seorang petugas supaya mengangkat Mush-haf di ujung tombak dan menyerukan, “Ini adalah Kitab Allah diantara kami dan kalian.” Ketika pasukan Ali melihat hal ini terjadilah perselisihan diantara mereka, ada yang setuju untuk berhukum kepada Allah dan melaksanakan qishash dengan segera dan ada yang meninginkan peperangan terus berlanjut sebab menduga bahwa hal itu hanyalah tipu daya.

Maka Ali mengutus Al-Asy’ats bin Qais kepada Mu’awiyah untuk menanyakan apa sebenarnya yang dikehendakinya. Mu’awiyah menjelaskan, “Mari kita kembali kepada Kitab Allah. Kami pilih seorang wakil yang kami setujui dan kalian pilih pula seorang wakil yang kalian setujui. Kemudian kita semua menyumpah kedua wakil tersebut untuk memutuskan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Apa pun keputusan kedua wakil tersebut wajib kita ikuti.”

Penduduk Syam memilih Amr bin Ash, sedangkan penduduk Iraq memilih Abu Musa Al-‘Asy’ari. Maka diperoleh kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata hingga ada keputusan dari kedua hakim yang akan melakukan pertemuan di Daumatul Jandal pada bulan Ramadhan 37H. Ali kembali ke Kufah. Sementara pasukan Ali terpecah. Mereka yang menganggap bahwa tahkim tersebut adalah suatu kesesatan tidak lagi menganggap Ali sebagai khalifah. Mereka berjumlah 12.000 orang dan berhimpun di Harura`. Mereka inilah yang disebut khawarij.

Pada bulan Ramadhan 37H, dua hakim melakukan pertemuan di Daumatul Jandal. Lalu kedua hakim itu, yaitu Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari, memutuskan untuk mencopot Ali dan Mu’awiyah kemudian menyerahkan urusan ini kepada syura kaum Muslimin untuk menentukan pilihan mereka sendiri.

Mereka berdua menemui khalayak dan Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk berbicara terlebih dahulu. Maka Abu Musa berkata, “Wahai manusia, setelah membahas urusan ummat ini, kami berkesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih dapat mewujudkan persatuan selain dari apa yang telah aku dan Amr sepakati. Yaitu kami mencopot Ali dan Mu’awiyah.”

Setelah menyampaikan kalimatnya, Abu Musa mundur, kemudian giliran Amr untuk berbicara. Maka Amr bin Ash berbicara, “Sesungguhnya Abu Musa telah menyatakan apa yang kalian dengar. Ia telah mencopot kawannya dan aku pun telah mencopotnya sebagaimana dia. Tetapi aku mengukuhkan kawanku Mu’awiyah.” Setelah peristiwa ini orang-orang pun bubar dengan rasa kecewa dan tertipu.

c. Masalah Khawarij dan Terbunuhnya Ali

Setelah menolak keputusan tersebut yang merupakan rekayasa dari pihak Mu’awiyah, Ali berangkat memimpin pasukan besar ke Syam untuk memerangi mu’awiyah. Akan tetapi kaum khawarij telah melakukan kerusakan sedemikian rupa, maka Ali memerangi mereka terlebih dahulu. Akhirnya kaum khawarij dapat dikalahkan.

Berbagai situasi buruk terus menimpa Ali. Sebagian penduduk Iraq melakukan pembangkangan kepada Ali. Sementara masalah di Syam semakin meningkat. Abdur Rahman bin Muljim seorang tokoh khawarij ingin menikah dengan Qitham. Karena ayah dan saudara Qitham terbunuh oleh pasukan Ali, maka ia mensyaratkan kepada ibnu Muljim agar membunuh Ali terlebih dahulu.

Pada malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 40H, Abdur Rahman bin Muljim mengincar Ali di depan pintu yang biasa dilewatinya. Seperti biasa Ali keluar membangunkan orang untuk shalat shubuh, tetapi ia dikejutkan oleh Ibnu Muljim yang memukul kepalanya dengan pedang sehingga darahnya mengalir di jenggotnya.

Ketika sakaratul maut, Ali tidak mengucapkan kalimat apa pun selain La ilaha illallah. Beliau wafat pada usia 60 tahun. Khilafahnya berlangsung selama 5 tahun kurang 3 bulan. Sedangkan Ibnu Muljim, pelaksanaan qishashnya dilakukan oleh Hasan ra, kemudian jasadnya dibakar dengan api.

C. Kesimpulan

1. Khalifah Ustman Bin Affan

Khalifah Utsman adalah orang yang berhati mulia, sabar dan dermawan terutama untuk kepentingan jihad Islam. Usaha Khalifah Utsman dalam meluaskan wilayah Islam sangatlah banyak, diantaranya merebut daerah Iskandariyah dan Khurosan sehingga muncullah suatu usaha untuk membuat armada laut. Hal lain yang berhasil dilakukan oleh Khalifah Ustman dan sangat bermanfaat bagi Umat sepanjang masa adalah menyusun Mushhaf al-Quran yang dikumpulkannya dari istri Nabi Muhammad SAW yaitu Siti Hafsah. Yang kemudian mengirimkannya agar di perbanyak ke berbagai daerah otonomnya.

Kelemahan beliau yang mengangkat beberapa kerabatnya, menurut ibnu Katsir ia mengutamakan ahli dan kerabatnya karena Allah, demi untuk menenangkan mereka dari kesenangan hidup di dunia. Mungkin kecintaannya kepada mereka adalah didalam pengutamaan yang langgeng, mengalahkan yang sirna, sebagaimana Nabi SAW. beliau memberi kepada suatu kaum dan tidak memberi pada yang lain. Beliau memberi kepada satu kaum, karena khawatir Allah menjerumuskan mereka kedalam neraka dan meninggalkan yang lain dengan harapan Allah akan menjadikan petunjuk dan iman didalam hati mereka.

Meski begitu dapat disimpulkan pula bahwa kepemimpinan Khalifah Utsman sangat produktif. Banyak hal yang telah dicapai dengan gemilang dengan usia Utsman RA. yang sudah tua yakni 70 tahun di awal menjabat hingga 82 tahun ketika beliau wafat. Betapa usia tak menyurutkan niat beliau untuk mengabdi demi tegaknya bendera Islam dan tegaknya peradaban Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di dunia.

2. Khalifah Ali Bin Abi Thalib

1. Ali dan pihak Aisyah, Thalhah dan Zubair sama-sama sepakat bahwa pembunuh Utsman harus diqishash, akan tetapi kedua belah pihak berselisih mengenai mana urusan yang lebih dulu dilakukan. Akan tetapi kedua pihak ini kemudian melakukan perdamaian dan menyerahkan urusan ini kepada kebijakan Ali.

2. Yang memperkeruh keadaan di antara ummat Islam saat itu sebenarnya adalah konspirasi Yahudi yang didalangi oleh Abdullah bin Saba`.

3. ‘Ali merupakan khalifah yang sah setelah terbunuhnya Sayyidina Utsman, sebab orang-orang telah membai’at Ali sebagai khalifah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan. Adapun tindakan Mu’awiyah merupakan suatu pembangkangan terhadap khalifah yang sah. Akan tetapi pembangkangan mu’awiyah itu adalah berdasarkan ijtihadnya. Mu’awiyah berpendapat bahwa khilafah Ali belum sah tanpa bai’at dari Mu’awiyah dan penduduk Syam. Sebagaimana Ali pun telah mengakui akan hal itu, bahwa apa yang dilakukannya dan yang dilakukan Mu’awiyah adalah berdasarkan ijtihad masing-masing.

4. Jika kita memperhatikan sikap kaum khawarij sejak revolusi dalam rangka mendukung dan membela Ali hingga kemudian membangkang dan memusuhinya, maka mereka adalah merupakan korban ekstrimisme semata-mata. Kaum khawarij umumnya adalah orang Arab badwi yang berwatak keras. Mereka tidak terlalu paham mengenai kaidah-kaidah ilmu. Mereka menganggap tahkim kepada Abu Musa dan Amr sebagai tahkim kepada manusia. Padahal tidaklah Ali dan Mu’awiyah bertahkim melainkan kepada Kitab Allah. Akan tetapi Al-Qur`an adalah tertulis, dan yang membunyikannya adalah manusia. Maka mereka menjadikan Abu Musa dan Amr bin Ash sebagai mujtahid untuk memberi keputusan berdasarkan Al-Qur`an mengenai hal ini. Pengaruh-pengaruh ekstrimisme ini sampai sekarang masih tetap ada. Hobi mengkafirkan sesama muslim karena sebab ringan hanyalah merupakan cermin dari pola pikir ekstrim ini. Ekstrimisme ini merupakan pola pikir yang menolak ilmu dan syari’ah serta menentang segala kaidahnya. Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saaw bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa`i, Abu Daud)

DAFTAR PUSTAKA

Hasymy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Mufrodi, Ali Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Depag RI, 1987

Mubarok, Jaih Sejarah Peradaban Islam, Pustaka Islamika, 2008
Kisyik, Abdul Hamid, 10 Sahabat Yang Dijanjikan Masuk Surga, Surabaya: AMANAH, 1997.

Muhammadunnasir, Syed, Islam: Its Concepts and History, New Delhi: Kitab Bhavan, 1994

Sandik, Saputo, Islam Masa Khulafaur Rasyidin, http://www.scribd.com

Maryam, Siti dkk. (ed.), Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga dan LESFI, 2003

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992

Wikipedia, Khalifah Utsman: Kenangan Sepanjang Masa, http://www.wikipedia.com

Munawir, Imam, Mengenal 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, Surabaya: Bina Ilmu, 1985.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Muhammad Husein Haekal, Usman Bin Affan “ Umatku yang Benar-benar Pemalu Adalah Ustman “, Jakarta: Litera Antar Nusa, 2005.

Amin, Ahmad,  Islam dari masa Ke Masa, Bandung: CV. Rusyda, 1987

Manna’ Khalil Al Qattan, Studi Ilmu-ilmu Quran terjemahan Mudakkir, Bogor:Pustaka Litera antar Nusa, 2007.

4 responses

  1. When I first saw this title Sejarah Muhammad Fathurrohman on google I just whent and bookmark it. Apple now has Rhapsody as an app, which is a great start, but it is currently hampered by the inability to store locally on your iPod, and has a dismal 64kbps bit rate. If this changes, then it will somewhat negate this advantage for the Zune, but the 10 songs per month will still be a big plus in Zune Pass’ favor.

  2. I simply want to mention I’m all new to blogging and site-building and seriously loved this page. Likely I’m planning to bookmark your website . You really have really good well written articles. Thanks a lot for sharing your webpage.

  3. I simply want to tell you that I’m newbie to weblog and definitely liked you’re web-site. More than likely I’m going to bookmark your blog . You really have remarkable articles and reviews. Thanks a bunch for sharing with us your blog.

  4. gimanasihh gue kan carinyatelan nabi muhamad dan para nabi kok jadi ini sih
    oon loooo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: