Studi al-Qur’an

MEMPELAJARI LEBIH DALAM MENGENAI ASBAB AL-NUZUL

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

Pengertian Asbabun Nuzul

Secara etimologis asbabun nuzul terdiri dari dua kata yaitu asbab, jamak dari sabab yang berarti sebab atau latar belakang dan nuzul yang berarti turun. Secara terminologis, M. Hasbi Ash-Shiddieqy mengartikan asbabun nuzul sebagai peristiwa diturunkannya Al-Qur’an untuk menjadi pedoman hukum dari hari timbulnya kejadian-kejadian itu dan suasana dimana Al-Qur’an diturunkan langsung setelah terjadinya sebab itu ataupun lantara karena sesuatu hikmah.

Nurcholis Madjid menyatakan bahwa asbabun nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Qur’an kepada Nabi SAW, baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat.

Subhi Shahih menyatakan bahwa Asbabun Nuzul itu sangat berkenaan dengan sesuatu yang menjadi sebab turunnya sebuah ayat atau beberapa ayat, atau suatu pertanyaan yang menjadi sebab turunnya ayat sebagai jawaban, atau sebagai penjelasan yang diturunkan pada wkatu terjadinya suatu peristiwa.

Al-Zarqani berpendapat bahwa asbabun nuzul adalah keterangan mengenai suatu ayat atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu kasus pada waktu kejadiannya.

Dari pengertian tersebut di atas dapat ditarik dua kategori mengenai sebab turunnya suatu ayat. Pertama, suatu ayat turun ketika terjadi suatu peristiwa. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas tentang perintah Allah kepada Nabi SAW, untuk memperingatkan kerabat dekatnya (Q.S. 26:214). Kemudian Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan memperingatkan kaum kerabatnya tentang azab yang pedih. Ketika itu Abu Lahab berkata: “Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?”, lalu ia berdiri. Maka turunlah surat Al-Lahab.

Kedua, suatu ayat turun apabila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan  hukumnya. Seperti pengaduan Khaulah binti Sa’labah kepada Nabi saw, berkenaan dengan zihar yang dijatuhkan suaminya, Aus bin Samit, padahal Khaulah telah menghabiskan masa mudanya dan telah sering melahirkan lagi. Kemudian turunlah ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya”, yakni Aus bin Samit.

Asbabun nuzul menggambarkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki hubungan dialektis dengan fenomena sosio-kultural masyarakat. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa Asbabun Nuzul tidak berhubungan secara kausal dengan materi yang bersangkutan. Artinya, tidak bisa diterima pernyataan bahwa jika suatu sebab tidak ada, maka ayat itu tidak akan turun.

Komarudin Hidayat memposisikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana kitab suci yang lain dari agama samawi, memang diyakini memiliki dua dimensi; historis dan transhistoris. Kitab suci menjembatani jarak antara Tuhan dan manusia. Tuhan hadir menyapa manusia di balik hijab kalam-Nya yang kemudian menyejarah.

Macam-macam Redaksi Asbab al-Nuzul dan Maknanya

Asbabun nuzul mempunyai beberapa redaksi periwayatan dan makna.  Pertama, berupa pernyataan tegas dan jelas dengan menggunakan kata sebab, seperti “Sababu nuzulil ayah kadza”, dengan menggunakan fa’ ta’ qibiyah, yang bersambung dengan lafal nuzul, seperti “…fa’ anzallahu….”, tidak menggunakan kata sebab dan fa’ taqibiyah, tetapi dapat dipahami sebagai sebab dalam konteks jawaban atau suatu pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah, seperti hadis riwayat Ibnu Mas’ud, ketika Nabi saw ditanya tentang ruh.

Kedua, berapa pernyataan tidak tegas dan jelas, seperti ungkapan, “nuzilat hadzihil ayatu fi kadza”, “ahsibu hadzihil ayat nuzilat fi kadza”, atau “ma ahsibu hadzihil ayat nuzilat fi kadza”. Redaksi semacam ini bisa jadi merupakan penjelasan kandungan hukum ayat yang dimaksud. Dengan pernyataan itu dan pernyataan selanjutnya perawi tidak memastikannya sebagai asbabun nuzul. Redaksi-redaksi tersebut mengandung kemungkinan menunjukkan sebab nuzul dan hal yang lain. Pendpat senada dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Sementara Az-Zarkasyi menyatakan bahwa hal itu berdasar kepada kebiasaan sahabat dan tabi’in. bila seseorang di antara mereka menggunakan lafal tidak jelas seperti menunjukkan kandungan hukum dan bukan sebab turunnya ayat, maka hal itu merupakan jenis pengambilan dalil (istidlal) terhadap suatu ayat dan bukan periwayatan peristiwa.

Selanjutnya, jika ada dua redaksi yang menunjuk satu objek persoalan, maka redaksi yang tegaslah yang harus menjadi pegangan. Seperti riwayat muslim dari Jabir tentang sebab nuzul Q.S. Al-Baqarah [2]: 233 dan riwayat Bukhari dari Ibnu Umar Riwayat Jabir dipegang sebagai fa’ ta’qibiyah “fa’anzalallahu”, sedangkan riwayat dari Ibnu Umar dianggap sebagai penjelasannya.

Berbilang Asbab al-Nuzul Suatu Ayat

Kenyataan menunjukkan bahwa adakalanya terdapat beberapa riwayat tentang sebab turunnya suatu ayat. Dalam hal seperti ini para ulama ahli hadis mempunyai beberapa alternatif untuk menentukan riwayat-riwayat yang diterima sebagai penjelasan tentang sebab turunnya suatu ayat.

Pertama, bila salah satu di antara riwayat-riwayat bernilai shahih dan yang lain tidak, riwayat yang bernilai shahihlah yang diterima sebagai keterangan tentang asbabun nuzul.

Kedua, jika dua riwayat atau lebih sama-sama shahih, maka dilakukan tarjih. Pentarjihan itu dilakukan dengan mengambil hadis yang lebih tinggi tingkat keshahihannya atau hadis perawinya mengalami dan melihat langsung peristiwanya. Seperti riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud, dengan riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas tentang ruh pada Q.S. 17: 85. riwayat dari Ibnu Mas’ud dipandang sebagai sebab nuzulnya, karena Ibnu Mas’ud hadir dan melihat ketika peristiwa itu berlangsung, sedang Ibnu Abbas tidak. Manna’ Al-Qaththan menjelaskan bahwa jika benar ayat itu Makki dan diturunkan sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, maka pengulangan pertanyaan yang sama di Madinah tidak memerlukan penurunan wahyu untuk kedua kalinya. Akan tetapi yang diperlukan adalah agar Rasulullah saw, menjawab pertanyaan tersebut dengan ayat yang diturunkan sebelumnya.

Ketiga, jika dua riwayat atau lebih sama-sama shahih dan tidak bisa ditarjih, maka dikompromikan. Seperti riwayat Bukhari melalui jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang li’an  (menuduh isteri berbuat zina tanpa mengajukan empat saksi) yang tersebut dalam Q.S. 24: 6-9. Dibandingkan dengan riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad, kedua riwayat sama-sama shahih dan sulit dilakukan tarjih. Maka kedua riwayat dikompromikan, yakni peristiwa Hilal terjadi dan kebetulan Uwainir mengalami kejadian serupa, maka turunlah ayat diatas sebagai jawaban atas persoalan mereka. Menurut Az-Zarqani, tidak ada keraguan menempuh jalan kompromi ini, bahkan lebih utama daripada menolak salah satunya, karena tidak ada halangan untuk mengkompromikan.

Keempat, jika kedua riwayat atau lebih sama-sama shahih, sulit di tarjih dan dikompromikan, karena jarak waktu sebab-sebab tersebut berjauhan, maka dipanang banyak sebab turun dan nuzul ayat berulang. Namun Manna’ Al-Qaththan berpendapat bahwa berulangnya turun suatu ayat tidak begitu jelas hikmahnya. Ia lebih menekankan upaya pentarjihan.

Sebagai contoh, riwayat Baihaqi dan Al-Bazar dari Abu Hurairah tentang sebab nuzul Q.S. An-Nahl: 126-128, bahwa ayat-ayat itu turun pada waktu perang Uhud. Sedangkan menurut riwayat At-Tirmidzi dan Hakim dari Ubay bin Ka’ab, ayat-ayat itu turun pada waktu penaklukan kota Mekah. Kedua riwayat tidak dapat dikompromikan karena masnaya berjauhan. Maka dinyatakan bahwa ayat-ayat itu sekali waktu turun pada waktu perang Uhud dan waktu lainnya turun ketika fathu Mekkah.

Urgensi Mempelajari Asbabun Nuzul

Al-Qur’an merupakan formulasi kalamullah dalam bentuk tulisan yang diorientasikan bagi kemaslahatan manusia. Dalam hal ini manusia dijadikan objek yang harus menerima teks secara deduktif (doktrinal), yang berlaku dalam setiap teks-teks skriptual. Konsekuensinya, ketika Al-Qur’an telah menjadi mushaf, manusia harus memposisikannya sebagai objek penafsiran, demi efektifitas dan pengejewantahan aksiologi Al-Qur’an dalam kehidupan.

Mengenai universalitas makna dan elastisitas pemahaman sebuah teks, M. Quraish Shihab memverifikasi asbabun nuzul sebagai perpaduan antara pelaku, peristiwa dan waktu. Selama ini, menurut beliau, pemahaman ayat seringkali hanya menekankan pada peristiwnaya dan mengabaikan “waktu” terjadinya. Akibatnya muncul interpretasi-interpretasi searah teks tanpa menyangkut pautkan realitas sosial yang melingkupi objek aksiologisnya.

Berdasarkan pendapat di atas, ada sebuah tawaran metodologi yang akan mengefektifkan proses dialektis teks Al-Qur’an dengan sosiokultural yang menyertainya, yaitu ketika penafsiran pada teks dilakukan, maka setelah makna tekstualnya diketahui, teks itu dikembalikan ke zamannya ketika diturunkan (Asbabun nuzul) sesuai kondisi ruang dan waktu saat itu. Formulasi makna yang diperoleh kemudian diturunkan dan didialektikkan dengan psiko-sosial-kultural penafsir atau audiens bersangkutan dengan standar pertimbangan tertentu, seperti universalitas dan mashla-hatul ‘ammah. Maka implikasinya akan searah dengan kaidah para ahli fiqh yang menyatakan “taghayyurul ahkam bi taghayyuriz za-man wal makan”.

Selanjutnya, mengenai urgensi asbabun nuzul, al-Wahidi menyatakan bahwa tidak mungkin mengetahui tafsiran suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan penjelasan turunnya ayat. Sementara Ibnu Daqiq Al’Id menyatakan bahwa penjelasan tentang asbabun nuzul merupakan salah satu jalan yang baik dalam rangka memahami makna Al-Qur’an. Pendapat senada diungkapkan Ibnu Taimiyah, bahwa mengetahui asbabun nuzul akan membantu seseorang dalam memahami ayat, karena pengetahuan tentang sebab akan melahirkan pengetahuan tentang akibat.

Melalui asbabun nuzul, pertama, seseorang dapat mengetahui hikmah di balik syari’at yang diturunkan melalui sebab tertentu. Kedua, seseorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga, seseorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan. Keempat, seseorang mengetahui bahwa Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan bersama para hamba-Nya.

Studi tentang asbabun nuzul akan selalu menemukan relevansi-nya sepanjang perjalanan peradaban manusia, mengingat asbabun nuzul menjadi tolok ukur dalam upaya kontekstualisasi teks-teks Al-Qur’an pada setiap ruang dan waktu serta psiko-sosio-historis yang menyertai derap langkah manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2000

Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Eadi’i, Assohihul Musnad min asbabin nuzul, diterj. M. Azhar, Yogyakarta: Islamil, 2006

Akhmad Yasin Asmuni, Fadhoil Syahri Romadhon, Kediri: Hidayatut Thulab, tt

As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an dalam Soft Ware maktabah Syamilah, Juz I,

Ayatullah Muhammad Baqir hakim, Ulumul Qur’an, diterj. Nashirul Haq, Jakarta: Al-Huda, 2006

FKI LIM, Gerbang Pesantren, Kediri : Pon Pes Lirboyo, 2009

Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Bulan Bintang, 1989

M. Bakar Ismail, Dirasat fi Ulumil Qur’an, Kairo: Darul Manar, 1991

M. Chirzin, Permata Al-Qur’an, Yogyakarta: Qirtas, 2003

Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum An-Nash Dirasah fi Ulum Al-Qur’an, diterj. Khoiron Nahdyyin, Yogyakarta: Lkis, 2005

Nur Kholis, Pengantar Studi Al-Qur’an dan Al-Hadits, Yogyakarta: Treas, 2008

Subkhi Sholeh, Mabakhist fi Ulum Al-Qur’an, Beirut: Darul Ilmi Lilmalayin, 1988

4 responses

  1. When I first saw this title Studi al-Qur& on google I just whent and bookmark it. Youre so cool! I dont suppose Ive read anything like this before. So good to search out any individual with some unique thoughts on this subject. realy thank you for beginning this up. this web site is something that’s needed on the net, someone with a little originality. helpful job for bringing one thing new to the internet!

  2. The subsequent time I read a blog, I hope that it doesnt disappoint me as a lot as this one. I imply, I do know it was my option to learn, but I truly thought youd have something attention-grabbing to say. All I hear is a bunch of whining about one thing that you possibly can fix for those who werent too busy on the lookout for attention.

  3. I simply want to say I am just new to blogging and truly enjoyed this blog site. Likely I’m want to bookmark your site . You surely come with perfect articles and reviews. Cheers for revealing your web page.

  4. I just want to mention I am very new to blogging and absolutely loved this web site. More than likely I’m likely to bookmark your site . You actually come with exceptional articles. Bless you for sharing your website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: