Tag Archives: Hasyim Asy’ari

BIOGRAFI HASYIM ASY’ARI


BIOGRAFI HASYIM ASY’ARI

(Sekilas Membaca Pemikiran Hasyim Asy’ari)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari selasa 24 Dzulhijah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya merupakan ulama dari Demak, keturunan ke-8 dari Jaka Tingkir yang bernama K. Asy’ari. Ibunya bernama Halimah, putri K.Usman pemilik pesantren tarekat di Gedang yang kenamaan di Jawa Timur.

Ketika kecil, kakeknya sangat memperhatikannya. Kemudian pada tahun 1876 M, ia meninggalkan kakeknya dan memulai pelajarannya yang baru di pesantren orang tuanya sendiri di Keras. Menginjak usia 15 tahun, Hasyim berkelana ke berbagai pesantren, baik di jawa timur maupun madura. Ia diambil menantu oleh K.Ya’qub, pengasuh pesantren siwalan Surabaya. Kemudian ia dikirim mertuanya untuk belajar di tanah suci.

Selama di tanah suci, Hasyim belajar di bawah bimbingan ulama terkenal, seperti Syekh Amin al-Athor, Syekh Sultan Ibnu Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Mahfudz al-Tirmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain. Ia juga bersentuhan dengan paham Wahabi dan pembaruan Abduh yang sedang gencar-gencarnya. Ia tertarik dengan ide pembaruan tersebut, namun ia tidak setuju dengan pemikiran Wahabi yang keterlaluan. Inti dari ajaran Abduh adalah ingin mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni dan lepas dari pengaruh praktek-praktek luar. Ia juga bergagasan agar umat Islam melepaskan diri dari keterikatan pola pikir para pendiri Madzhab dan meninggalkan praktek tarekat.

Hasyim setuju dengan gagasan Abduh untuk membangkitkan semangat umat Islam tetapi ia tidak setuju dengan hal pelepasan diri dari madzhab. Karena tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan hadits tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang ada dalam sistem madzhab. Penafsiran al-Qur’an dan hadits tanpa mempelajari pemikiran para ulama madzhab, hanya akan menghasilkan pemutarbalikan ajaran Islam sebenarnya.

Setelah pulang ke tanah air, ia terlihat aktif mengajar di pesantren kakaknya, kemudian ia mendirikan pesantren di Tebuireng. Ia membawa perubahan baru dalam pengelolaan pesantren tersebut, yang dulunya hanya memakai sistem sorogan dan bandongan, sejak tahun 1916 M mulai diperkenalkan sistem madrasah dan tiga tahun kemudian mulai dimasukkan mata pelajaran umum, dimana langkah ini merupakan rumusan KH.Maksum menantu KH. Hasyim Asy’ari.

Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang produktif. Ia menulis sekitar 10 kitab, yang semuanya itu dikumpulkan dengan nama Irsyad al-Sari. Karya-karyanya antara lain: Adab al-Alim wa al-Muta’alim, Ziayadah al-Ta’liqat, al-Tanbihat al-Wajibah liman Yasna’ al-Maulid bi al-Munkarat, al-Nur al-Mubin Fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, Hassiyah ‘ala Fathi, dan lain-lain. Kitab yang terkenal adalah Adab al-Alim wa al-Muta’allim, secara global, kitab ini membahas empat persoalan pokok, yaitu keutamaan pendidikan, pendidikan akhlak bagi santri, akhlak bagi ustadz dan akhlak kepada kitab.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT