Tag Archives: Orientalis

BANTAHAN-BANTAHAN TERHADAP ORIENTALIS


BANTAHAN-BANTAHAN TERHADAP ORIENTALIS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Berbagai bantahan dari dunia Islam dikemukakan untuk menangkis tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para orientalis. Bantahan-bantahan tersebut datang dari para cendekiawan-cendekiawan muslim, seperti Fazlur Rahman, MM.Azami dan lain sebagainya. Di samping itu, penulis juga akan mengemukakan bantahan terhadap apa yang dituduhkan oleh orientalis tersebut.

Mengenai citra Muhammad yang didistorsikan, menurut penulis, hal itu adalah barang atau tuduhan lama yang sudah kerap terdengar ketika Muhammad sedang berdakwah. Maka dapat disimpulkan tuduhan tersebut sangat tidak beralasan. Sedangkan mengenai hadits dan sunnah yang diartikan sebagai adat atau kebiasaan nenek moyang, penulis mengutip bantahan yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman, menurutnya para orientalis gagal menemukan perbedaan penting antara hadits dan sunnah, akibatnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa sunnah Nabi dalam kenyataannya bukanlah dari Nabi, tapi merupakan tradisi umum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat Islam. Jadi mereka tidak dapat membedakan dan mencampuradukkan sunnah yang dipakai dalam arti kebiasaan dan sunnah yang disandarkan kepada Nabi. Hal itu wajar saja dilakukan oleh umat Islam, yang menggunakan bahasa Arab, karena bahasa Arab mempunyai maksud yang muradif.

Sedangkan mengenai tuduhan bahwa hadits dan isnad itu adalah buatan umat Islam pada abad kedua, penulis mengutip sesuatu yang dikemukakan Azami. M. M. Azami telah memaparkan secara rinci tentang bukti adanya tradisi tulis-menulis pada masa awal Islam. Menurutnya, beberapa sahabat yang telah melakukan tradisi penulisan hadits, misalnya Ummu al-Mu’minin Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin al-’Asy, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Namun kesadaran umum kaum muslimin untuk menulis ini baru mencuat ke permukaan setelah terinpirasi oleh kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz, yang pada periode inilah, pentingnya penulisan hadits Nabi Muhammad SAW baru terasa. Fenomena ini juga diperkuat oleh statemen orientalis lainnya, seperti Fuad Seizgin yang telah memberi ulasan tentang problem autentisitas hadits. Menurutnya, di samping tradisi oral hadits, sebenarnya juga telah terjadi tradisi tulis hadits pada zaman Nabi Muhammad, kendatipun para sahabat sangat kuat hapalannya.

Mengenai kritik matan hadits “keutamaan tiga masjid” yang dianggap palsu oleh Goldziher. Goldziher tampaknya salah dalam membaca sejarah. Ahli sejarah mengemukakan tentang tahun kelahiran al-Zuhri antara tahun 50 H sampai 58 H. Ia juga tidak pernah bertemu Abd Malik bin Marwan sebelum tahun 81 H. Di segi lain, pada tahun 67 H. Palestina berada dibawah kekuasaan Abd Malik bin Marwan. Sedangkan orang-orang Bani Umayyah pada tahun 68 H berada di Makkah. Sumber sejarah juga menunjukkan bahwa pembangunan kubah al-Shakhra itu baru dimulai tahun 69 H.

Alasan Ignaz Goldziher di atas sangatlah tidak representatif, tidak jujur dan terkesan mengada-ada. Kalaupun Nabi Muhammad Saw mendapatkan pengetahuannya dari orang Yahudi dan Kristen, bukan berarti Nabi Muhammad Saw menjiplak gagasan Yahudi. Jika pada kenyataannya ada guru yang mengajari Nabi Muhammad Saw tentang ajaran-ajaran Yahudi, tentunya guru tersebut akan menggugat bahkan menolak mentah-mentah hadits Nabi Muhammad SAW itu. Berikutnya mengenai tuduhan Ignaz Goldziher terhadap perawi hadits sangat tidak beralasan, karena pada kenyataannya tradisi periwayatan hadits terbagi menjadi dua, yaitu periwayatan bi al-lafdzidan periwayatan bi al-ma’na. Jenis periwayatan yang kedua yang telah disorot oleh Ignaz Goldziher dengan argumennya bahwa perawi hadits yang menggunakan tradisi periwayatan bi al-ma’na dicurigai telah meriwayatkan lafadz-lafadz yang dengan sengaja disembunyikan, sehingga redaksinya menjadi tidak akurat. Padahal, adanya tradisi periwayatan bi al-ma’na ini dikarenakan sahabat Nabi Muhammad Saw tidak ingat betul lafadz aslinya. Dan yang terpenting bagi sahabat Nabi adalah mengetahui isinya atau matan yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, tradisi ini tidak dikecam oleh Nabi Muhammad Saw, mengingat redaksi hadits bukanlah al-Qur’an yang tidak boleh diubah susunan bahasa dan maknanya, baik itu dengan mengganti lafadz-lafadz yang muradif (sinonim) yang tidak terlalu mempengaruhi isinya, berbeda dengan al-Qur’an sebab ia merupakan mu’jizat dari Allah yang mungkin diubah.

Mengenai tuduhan yang dilancarkan J.Schacht, semua pernyataannya telah dibantah antara lain oleh Profesor Muhammad Abū Zahrah dari Universitas Kairo, Mesir, oleh Profesor Zafar Ishaq Ansari dari Islamic Research Institute Islamabad, Pakistan, dan oleh Profesor Muhammad Mustafa al-Azami dari Universitas King Saud Riyadh, Saudi Arabia. Menurut Profesor Muhammad Musthafā al-A‛zamī, kekeliruan dan kesesatan Schacht dalam karyanya itu disebabkan oleh lima perkara: (1) sikapnya yang tidak konsisten dalam berteori dan menggunakan sumber rujukan, (2) bertolak dari asumsi-asumsi yang keliru dan metodologi yang tidak ilmiah, (3) salah dalam menangkap dan memahami sejumlah fakta, (4) ketidaktahuannya akan kondisi politik dan geografis yang dikaji, dan (5) salah faham mengenai istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama Islam.

Darmalaksana mencatat beberapa hal yang dianggap sebagai kekeliruan orientalis dalam memandang hadits, yaitu:

  1. Goldziher senantiasa menggunakan suatu kejadian yang bersifat khusus dan terbatas untuk menjadi bukti-bukti hal yang umum.
  2. Goldziher dan Schacht seringkali tidak melakukan analisis yang mendalam tentang bahan-bahan kesejarahan yang mereka pakai dalam pembuktian.
  3. Banyaknya penafsiran yang nyata salah dalam mengartikan ucapan-ucapan atau kejadian-kejadian yang diberitakan dalam sumber-sumber kesejarahan.
  4. Adanya sekumpulan obyektivitas paradoks dari keduanya sebagai orientalis non-muslim, yang setidaknya menyimpan misi-misi tersendiri.
  5. Mereka biasanya belum selesai dalam membaca sejarah dan langsung menarik kesimpulan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

PANDANGAN UMUM ORIENTALIS TERHADAP MUHAMMAD, HADITS, ISNAD DAN MATAN HADITS


PANDANGAN UMUM ORIENTALIS TERHADAP MUHAMMAD, HADITS, ISNAD DAN MATAN HADITS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Kajian orientalisme terhadap Islam tidak hanya terbatas pada satu bidang saja. Akan tetapi terdapat berbagai bidang yang dikaji oleh para orientalis terhadap Islam, salah satunya adalah hadits Nabi Muhammad saw. Untuk berbicara lebih detail mengenai pandangan orientalis terhadap hadits, serta seluk beluknya. Maka penulis akan mengulas terlebih dahulu pandangan umum orientalis mengenai citra Muhammad dan hadits serta perangkat-perangkatnya.

Tidak ada kepastian sejarah siapa orientalis pertama yang mengkaji hadits. Menurut perkiraan Azami, sebagaimana dikutip Yaqub, sarjana Barat yang pertama kali melakukan kajian hadits adalah Ignaz Goldziher, orientalis kelahiran Hongaria, yang menerbitkan buku berjudul Muhammadanische Studien. Namun menurut Wensinck, sebagaimana yang dikutip Darmalaksana, Snouck Hurgounjee adalah orang yang pertama kali mengkaji otentitas hadits, bukan Goldziher. Menurutnya, Snouck pertama kali mengaplikasikan teori tentang hadits dalam kajiannya tentang zakat, kemudian tentang. Menurut penulis, sebenarnya masalah siapa yang pertama itu tidak penting, yang penting adalah mereka sama-sama orientalis yang berusaha mendiskreditkan hadits dan Muhammad. Dan kalau disuruh memilih, penulis lebih cenderung memilih pendapat  Azami, karena Goldziher adalah orang pertama kali mampu meletakkan dasar skeptis terhadap hadits.

Citra Muhammad mengalami pendeskripsian yang berbeda-beda di kalangan para orientalis. Hal ini mereka gunakan sebagai pijakan untuk memahami hadits. Muhammad dipahami dalam dua posisi, yaitu: statusnya sebagai Nabi dan Rasul yang telah membebaskan manusia dari kezhaliman dan sebagai paganis dan penganut Kristen dan Yahudi murtad yang akan menghancurkan ajaran-ajaran Kristen dan Yahudi, intelektual pintar yang memiliki imajinasi yang kuat dan pembohong; tukang sihir yang berpenyakit gila atau ayan.

Bahkan kaum rivalis melukiskan, seperti yang dideskripsikan Herbelot, yang dikutip Said, “Inilah si penipu terkenal Muhammad pencipta dan pendiri suatu bid’ah yang telah diberi nama agama, yang kita sebut dengan Muhammadanisme. Para penafsir al-Qur’an dan doktor hukum Islam telah memberikan penghormatan dan pujian kepada Nabi palsu itu yang tidak pernah diberikan kepada para pengikut Aria, kaum Paulusia atau Paulunis dan kelompok-kelompok Bid’ah lainnya kepada Yesus Kristus.” Dante Alighieri menyatakan bahwa Muhammad adalah pemuka dari jiwa-jiwa terkutuk yang membangkitkan perpecahan dalam agama dan mengembangkan agama palsu.

Berbeda dengan orientalis lain, Boulavilliers melukiskan keunggulan Islam atas Kristen sambil menggambarkan Muhammad sebagai seorang penegak hukum yang bijaksana, penuh pencerahan yang membangun agama rasional untuk menggantikan dogma-dogma yang disangsikan dalam Yahudi dan Kristen. Bahkan Savary, seorang tokoh orientalis, jelas mengakui Muhammad bukan saja sebagai seorang Nabi, tetapi juga seorang tokoh intelektual besar. Ia mengatakan barang siapa yang melakukan studi kritis terhadap perjalanan Muhammad, ia akan terkagum-kagum terhadap capaian-capaian orang jenius itu dalam lingkungan sedemikian rupa. Meski dituduh sebagai idolator atau penyembah berhala, tetapi ia berhasil membangun agama rasional dan universal yang didasarkan pada ideologi monotheisme. Sedangkan menurut Watt, sebagaimana yang dikutip Ibrahim, Muhammad tidak dapat diterima di kalangan Barat, karena dinilai orang yang sangat licik dan tidak bermoral, Muhammad bukan suri tauladan. Dan menurut Watt juga, Muhammad adalah seorang yang gila dan sakit syaraf.

Sikap yang mendua tersebut telah membetuk sikap yang sama terhadap hadits. Bagi para orientalis, hadits sama dengan pandangan mereka mengenai citra Muhammad dan sesuai dengan apa yang mereka pahami tentang Muhammad. Jika diklasifikasikan, kelompok orientalis yang obyektif lebih sedikit daripada orientalis yang subyektif dan mencela hadits.

Hadits menurut orientalis yang mencela adalah hasil karya ulama dan ahli-ahli fiqih yang ingin menjadikan Islam sebagai agama yang multi dimensi, komprehensif dan mencakup segala aspek kehidupan. Mereka menganggap bahwa hadits tidak lebih dari ungkapan buatan semata. Dalam konteks lain, mereka juga memahami hadits hanya merupakan jiplakan Muhammad dan pengikutnya dari ajarah Yahudi dan Kristen.

Di samping itu, mereka mengkritik hadits dengan menggunakan bahasa sunnah. Seorang ulama mengatakan bahwa sunnah pada mulanya adalah istilah yang terdapat dalam kalangan bangsa Arab, yang kemudian mengerucut dan dipakai sebagai istilah untuk menunjukkan perbuatan-perbuatan Nabi. Para orientalis menyamakan hal tersebut dan mengatakan bahwa sunnah hanyalah tradisi, bukan perbuatan Nabi yang mempunyai kekuatan hukum. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Margoliouth, sunnah pada masa awal Islam berarti hal-hal yang sudah menjadi tradisi adalah bertentangan dengan teks-teks yang menjadi rujukannya.

Selanjutnya Margoliouth mengatakan, bahwa sunnah dipakai untuk beberapa pengertian, antara lain:

  1. Lawan dari bid’ah, atau perbuatan yang sudah dikenal, seperti dalam percakapan Utsman dan Ali pada tahun 34 H, “Maka ia menegakkan kembali sunnah yang sudah dikenal dan meninggalkan bid’ah’.
  2. Pekerjaan yang telah berlalu.
  3. Pekerjaan yang baik lawan pekerjaan yang buruk, seperti pidato Utsman: “…Dan sunnah yang baik yang telah dikerjakan Rasulullah dan dua khalifah sesudahnya.”
  4. Biasa dinisbatkan kepada yang lain, seperti sunnah allah, sunnah Islam, sunnah muslimin.

Intinya orientalis ingin membuat kerancuan pemahaman terhadap sunnah yang selama ini di kalangan kaum muslimin digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang berasal dari Nabi, dengan sunnah yang berarti kebiasaan yang ada pada masa lalu atau istilah-istilah yang pernah dipakai oleh orang-orang Islam pada masa lalu yang konteksnya bukan menunjuk pada sunnah Nabi. Pendefinisian sunnah seperti yang dilakukan Margoliuth adalah untuk meyakinkan bahwa sunnah adalah suatu kebiasaan yang dilakukan dalam suatu lingkungan bukan hadits Nabi Muhammad dan sunnah yang dimaksud oleh umat Islam sebagai hadits Nabi belum ada pada saat itu.

Tidak hanya itu saja, masalah isnad juga diperbincangkan di kalangan orientalis. Para orientalis sendiri berbeda pendapat dalam masalah isnad, namun perbedaan tersebut pada akhirnya akan menyimpulkan bahwa hadits itu tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad. Seperti halnya ungkapan Caetani, menurutnya orang yang pertama menghimpun hadits Nabi itu adalah Urwah, dan ia tidak memakai isnad dan tidak menyebutkan sumber-sumbernya selain al-Qur’an. Di samping itu, pada masa Abd al-Malik, juga belum ada penggunaan isnad. Maka dari itu, ia berkesimpulan bahwa isnad dimulai pada masa Urwah dan Ibn Ishaq. Jadi sanad adalah buatan orang-orang pada abad kedua, atau ketiga hijriyah. Berbeda dengan pendapat Horovitz, ia menyebutkan bahwa pemakaian sanad dalam meriwayatkan hadits sudah dimulai sejak sepertiga yang ketiga dari abad pertama hijriyah. Pendapat yang menarik lagi, adalah pendapatnya J Robson, menurutnya pada pertengahan abad pertama, mungkin sudah ada suatu metode semacam isnad, namun metode secara detail berkembang sedikit demi sedikit setelah itu.

Pada intinya pendapat-pendapat orientalis tersebut memang didasarkan pada metode ilmiah, akan tetapi menjadi tidak ilmiah, karena yang dikutip dan diteliti hanya sebagian teks saja. Dan kesimpulan yang diambil akan tetap menyatakan bahwa hadits atau sunnah itu tidak mungkin berasal dari Nabi dan hanya tradisi masyarakat Islam abad pertama, kedua dan ketiga. Demikian juga masalah keabsahan isnad.

Tidak hanya sanad saja yang diteliti, namun matan hadits juga tidak lepas dari penelitian para orientalis. Sebagai contoh adalah penelitian yang dilakukan oleh Wensinck, ia mengatakan bahwa hadits tentang akidah dan syahadat dan tentang Islam ditegakkan di atas lima pilar dibuat oleh para sahabat sesudah Nabi. Sebagai buktinya adalah statemen berikut ini:

“Nabi SAW tidak pernah mempunyai suatu ungkapan khusus yan mesti diungkapkan oleh orang-orang yang baru memeluk Islam. Ketika orang Islam bertemu dengan orang-orang Kristen di Syam dan mereka mengetahui bahwa orang-orang Kristen mempunyai ungkapan khusus, mereka lalu merasakan perlunya membikin ungkapan atau kalimat seperti itu. Maka mereka-pun mencetuskan semangat Islam dalam bentuk dua hadits tersebut. Karena hadits itu berisi dua syahadat, maka tidak mungkin hadits itu berasal dari Nabi SAW.” Sebenarnya kesimpulan Wensinck ini menyatakan bahwa ajaran Islam adalah hasil tiruan dari ajaran Kristen. Bahkan kesimpulan yang ia kemukakan lagi untuk mendukung teorinya tersebut adalah shalat itu baru selesai dalam bentuknya yang terakhir sesudah Nabi wafat. Hal ini malah menambah tidak rasional teori tersebut.

Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh orientalis yang memandang hadits beserta berbagai perangkatnya. Namun kesubyektifan mereka tetap menjadi tunggak yang paling utama. Sehingga kesimpulan yang diambil tetap saja mendistorsikan hadits. Diantara sederetan tokoh orientalis, tokoh yang paling mencuat di kalangan orientalis dalam memandang hadits adalah Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, karena karya dan penemuannya yang mampu membuat heboh kalangan ahli hadits. Maka dari itu, penulis akan membahasnya dalam sub-bahasan tersendiri tentang identitasnya dan pandangannya terhadap hadits.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORIENTALISME


SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORIENTALISME

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Orientalis mengkaji Islam mempunyai motif keagamaan dan politik. Hal itu sudah berlangsung cukup lama, bahkan fakta sejarah ada yang mengatakan sebelum perang salib, orientalis sudah muncul dan mulai melakukan pengkajian terhadap ketimuran, khususnya Islam. Yaqub, sebagaimana dikutip Darmalaksana mengemukakan, “sebagian peneliti menyatakan bahwa orientalisme mulai ada sejak abad X masehi.” Perkembangan orientalis dalam waktu ke waktu cukup pesat, sehingga memunculkan berbagai ilmuwan, baik yang obyektif maupun yang subyektif terhadap Islam. Berdasarkan pernyataan di atas, agar lebih jelas, penulis akan membagi periode sejarah orientalis menjadi tiga fase, yaitu: pertama, masa sebelum perang salib, kedua, masa perang salib hingga masa pencerahan Eropa, ketiga, masa pencerahan Eropa sampai perkembangan kontemporer.

1.   Masa Sebelum Perang Salib

Sejarah mencatat bahwa interaksi antara Barat dengan Timur sebenarnya sudah terjadi sejak zaman sebelum masehi, yaitu pada waktu Alexander mengadakan ekspansi ke Timur dan menguasai hampir separuh wilayah Asia. Dalam ekspansinya, ternyata yang dilakukan bukan hanya dalam bidang kemiliteran saja, namun juga mengambil kepustakaan, agama, dan lainnya. Kenyataan inilah awal mula perhatian Barat terhadap Timur.

Namun ketika Eropa mengalami kegelapan, yaitu pada abad pertengahan, Timur dengan kehadiran Islam telah banyak mengalami kemajuan di berbagai sektor, baik politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Bahkan ensiklopedi Islam menyatakan, bahwa bangsa Eropa banyak mengadopsi ilmu pengetahuan dan peradaban dari pihak Islam. Keberadaan perkembangan Islam yang luar biasa menjadikan bangsa Eropa tertarik untuk melakukan studi di Islam. Mereka banyak yang menerjemahkan al-Qur’an dan kitab-kitab ke dalam bahasa latin. Banyak orang Eropa yang belajar di Andalusia, yang konon dulu adalah pusat peradaban Islam, lalu setelah pulang mereka menyebarkan di wilayahnya masing-masing. Dalam suasana inilah, orientalisme telah dimulai dalam suasana yang sebenarnya, walaupun masih terbatas hanya pada satu tujuan, yaitu memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat dari dunia Islam ke Eropa dalam bentuk apa adanya.

Orang-orang Barat mulai berkecimpung dalam studi tentang dunia Timur adalah pada permulaan abad ke 7 H. 628 M dimana terjadi perang yang berkecamuk antara kaum Muslimin dan Kristen Romawi yang dikenal dengan perang Mu`tah. Ada lagi fakta yang mengatakan bahwa orang-orang Barat mulai berkecimpung dalam studi tentang dunia Timur adalah pada permulaan abad ke-10 M, yaitu ketika beberapa orang pendeta Barat khususnya di Andalusia (Spanyol) ingin memperlihatkan kebolehan dan kemampuanya setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah-sekolah studi ketimuran. Mereka menerjemahkan Al-Quran dan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Selain itu mereka juga menuntut ilmu dari intelektualis muslim dalam berabagai disiplin keilmuaan, khususny filsafat, kedokteran,dan ilmu-ilmu matematika. Diantara sekain banyak pendeta yang berkecimpung dalam bidang ini adalah seorang pendeta Prancis yang benama Gerbert. Dia terpilih sebagai Paus gereja Roma pada tahun 999 M, yaitu setelah ia menyelesaikan studinya diberbagai sekolah di Andalusia dan kembali ketanah airnya. Kemudian langkah ini diikuti oleh Butros (1092/1165 M), serta Geerand de Cremon (1114-1107M).

Pengkajian terhadap Islam semakin berkembang, dan lama kelamaan dilakukan oleh penguasa dalam bentuk studi penerjemahan. Bahkan mereka mewajibkan menguasai bahasa Arab agar mampu menerjemahkan bahasa Arab menjadi bahasa latin, yang akhirnya dapat disebarkan kepada masyarakat mereka. Inilah orientalisme awal yang berkembang dengan motif pemindahan ilmu pengetahuan, agar Eropa dapat maju setara dengan Islam.

2.   Masa Perang Salib Hingga Masa Pencerahan Eropa

Lama kelamaan interaksi antara Timur dan Barat dilakukan dengan kontak senjata, yaitu dengan adanya perang salib, yang diakhiri dengan jatuhnya konstantinopel ke tangan Eropa. Watt, dalam bukunya, secara panjang lebar mengemukakan bahwa serangkaian peristiwa perang salib di wilayah-wilayah Islam telah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap penyebaran kebudayaan Islam di Eropa dan pengadopsian ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang di Islam. Di wilayah-wilayah Islam, orang-orang Barat menyaksikan kebesaran peradaban yang timbul dari ilmu pengetahuan dan filsafat. Hal tersebut mendorong hasrat mereka untuk mempelajari lebih jauh lagi mengenai ilmu pengetahuan tersebut. Dengan perang salib, mereka seenaknya sendiri mengeruk kepustakaan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang Islam.

Ketika orientalisme pada perkembangan berikutnya berasimilasi dengan kolonialisme, imperialisme dan hasil yang dibawa setelah perang salib, aktivitas orientalisme mengalami puncaknya. Mereka banyak mendatangkan sarjana untuk mempelajari ilmu pengetahuan dalam wilayah Islam dan juga peradabannya. Tujuannya-pun berkembang dari sekedar pemindahan ilmu pengetahuan kepada upaya mengritik, mengecam dan menyerang Islam dari berbagai kepentingan. Watt menuliskan, terdapat empat pandangan Barat terhadap Islam, yaitu: pertama, agama Islam adalah agama palsu dan sengaja memutarbalikkan kebenaran secara sengaja. Kedua, Islam adalah agama kekerasan yang penyebarannya lewat pedang. Ketiga, Islam adalah agama pemuasan dan penikmatan diri, dan keempat, Muhammad adalah seorang anti Kristus.

Pada perkembangan ini, orientalis mengadakan pendistorsian terhadap agama Islam. Hal tersebut dikarenakan motif politik dan keagamaan. Pendistorsian tersebut dilakukan untuk menimbulkan image negatif terhadap Islam, baik dari para masyarakat Barat sendiri maupun masyarakat Timur yang tidak beragama Islam. Orang yang menghembuskan tuduhan-tuduhan terhadap Islam tersebut sebenarnya belum mempelajari secara detail mengenai Islam, atau mereka sudah mempelajarinya, namun tidak berani mengakui kebenarannnya karena terdapat faktor politik yang melatarbelakanginya.

   3.   Masa Pencerahan Eropa Sampai Perkembangan Kontemporer

Memasuki masa pencerahan, wujud orientalisme kemudian mengalami perkembangan yang cukup berarti dengan diwarnainya keinginan mereka untuk mencari kebenaran yang didasarkan pada obyektivitas kekuatan rasional, walaupun perkembangan ini tidak sampai pada satu wacana yang Islam sendiri membenarkannya. Pada saat itu, dunia Barat mencoba lebih obyektif terhadap Islam. Hal tersebut tampaknya dipelopori oleh filsafat rasionalisme yang berkembang di Barat.

Hal tersebut tampak dalam diri seorang orientalis yang bernama Richard Simon yang telah memaparkan bagaimana sebenarnya keimanan dan ritus-ritus kaum muslim berdasarkan wacana teologi muslim sendiri. Ia seorang Katolik Prancis yang karena kekagumannya terhadap Islam, dituduh sebagai ‘terlalu obyektif’ terhadap Islam. Pada periode ini sampai sekarang, tulisan-tulisan dan karya orientalis mulai ditujukan untuk mempelajari Islam seobyektif mungkin, agar mengetahui apa itu Islam sebenarnya. Bahkan Barat mendirikan jurusan khusus dalam berbagai Universitas untuk mempelajari Islam, baik dalam koridor perbandingan agama maupun studi Islam tersendiri. Mereka berusaha mendatangkan guru besar dari kalangan Islam, agar mereka memperoleh informasi yang lebih valid tentang Islam.

Dari hasil pembahasan di atas, dapat penulis ambil beberapa kesimpulan mengenai kemunculan dan terjadinya orientalisme disebabkan, antara lain: Pertama, terjadinya perang salib, imperialisme, dan kolonialisme. Kedua, interaksi Barat dengan orang Islam. Ketiga, penyalinan naskah-naskah dan manuskrip ilmu pengetahuan Islam ke dalam bahasa Latin.

Di samping itu, berdasarkan fakta sejarah, perjalanan citra Islam di mata orientalis juga mengalami perkembangan. Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: Pertama, citra Islam terdistorsikan dari citra yang sebenarnya. Kedua, citra Islam semakin agak obyektif, namun hal itu ditentang oleh penguasa, karena aspek politik yang mendominasi. Ketiga, ilmuwan sudah agak tidak terpengaruh dengan pengaruh politik, jadi ilmuwan masih komitmen dengan keobyektivannya. Keempat, obyektivitas semakin transparan karena semakin lengkapnya informasi mengenai Islam. Namun yang perlu dicatat di sini adalah Barat akan tetap tidak membiarkan dunia Timur atau Islam mengalami kemajuan dengan pesat. Maka umat Islam harus selalu waspada dengan tulisan-tulisan yang dipublikasikan oleh orientalis dan memeriksanya dengan lebih teliti.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT