Monthly Archives: April, 2013

TERSINGKAP KECERDASAN ULUHIYAH


TERSINGKAP KECERDASAN ULUHIYAH

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Yang dimaksud dengan kecerdasan Uluhiyah ialah kemampuan fitrah seseorang hamba yang shalih untuk melakukan interaksi vertikal dengan Tuhannya; kemampuan mentaati segala apa-apa yang telah diperintahkan, menjauhkan diri dari apa-apa yang telah dilarang dan dimurkai-Nya serta tabah terhadap ujian dan cobaan-Nya.

Sikap dan iktikad itu dapat eksis dalam diri seseorang disebabkan karena keberadaan dirinya sangat dekat dengan keberadaan Tuhannya. Sehingga kedekatan itu membuat seseorang dapat menyaksikan kebesaran dan kesucian-Nya (ihsan), melalui bimbingan dan petunjuk-Nya dalam mimpi, ilham dan kasysyaf yang benar dan terjaga. Dan tanpa kecerdasan Uluhiyah, sangat sulit seseorang melakukan interaksi vertikal yang bersifat transendental, empirik dan hidup, bukan spekulasi dan ilusi.

Firman-Nya :

 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat”. (Al-Baqarah, 2 : 186)

 “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Qaaf, 50 : 16)

Jadi, kecerdasan Uluhiyah adalah kesempurnaan fitrah yang dimiliki oleh seorang hamba yang shalih, yang mana kecerdasan itu termanifestasi pada kemampuan mengembangkan dan memberdayakan beberapa hal, sebagai berikut :

  1. Dapat merasakan kehadiran hakikat Wujud Allah dalam setiap kehidupannya.
  2. Dapat merasakan bekasan-bekasan pengingkaran, kedurhakaan dan dosa.
  3. Dapat menjalin hubungan rohaniyah yang baik dengan Allah, para Malaikat dan Arwah Rijalullah.
  4. Mengalami mukasyafah akal fikiran, qalb dan inderawi.

Berbahagialah orang-orang yang telah memperoleh anugerah dari Allah SWT berupa kecerdasan Uluhiyah, karena dengan kecerdasan itu hubungan pribadi, rahasia dan nyata antara hamba dan Khalik sangat terasa, hidup dan hangat. Di manapun dan waktu kapan pun ia berada di situlah senantiasa terjalin hubungan itu, tanpa seorang makhluk pun yang dapat mengetahui hubungan itu.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK


TEORI INTERAKSI SIMBOLIK

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

 

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sebagian dari fenomena interaksi kehidupan sosial manusia. Interaksionisme Simbolik. pada hekekatnya kehidupan sosial itu terdiri dari jumlah aksi dan reaksi yang tak terbilang banyaknya, baik antara perorangan maupun antara kelompok. Pihak-pihak yang terlibat menyesuaikan diri dengan salah satu pola perilaku yang kolektif. Kesatuan yang berasal dari penyesuaian diri itu disebut kelompok atau masyarakat. Oleh karenanya, pendidikan merupakan bagian dari interaksi sosial yang telah ada  bersamaan dengan kehidupan manusia. Orang bergerak untuk bertindak berdasarkan makna yang diberikan pada orang , benda, dan peristiwa. Makna-makna ini diciptakan dalam bahasa yang digunakan orang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri, atau pikiran pribadinya. Bahasa memungkinkan orang untuk mengembangkan perasaan mengenai diri dan untuk berinteraksi dengan orang lainnya dalam sebuah komunitas. Oleh karena itu makalah ini akan memaparkan teori sosiologi dalam pendidikan. Karena pendidikan juga melibatkan interaksi-interaksi sosial.

B.     Sejarah Teori Interksionisme Simbolik

Orang bergerak untuk bertindak berdasarkan makna yang diberikan pada orang , benda, dan peristiwa. Makna-makna ini diciptakan dalam bahasa yang digunakan orang, baik untuk berkomunikasi dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri, atau pikiran pribadinya. Bahasa memungkinkan orang untuk mengembangkan perasaan mengenai diri dan untuk berinteraksi dengan orang lainnya dalam sebuah komunitas.

Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran George Harbert Mead (1863-1931). Mead dilahirkan di Hadley, suatu kota kecil di Massachusetts. Karir Mead berawal saat beliau menjadi seorang professor di kampus Oberlin, Ohio, kemudian Mead berpindah-pindah mengajar dari satu kampus ke kampus lain, sampai akhirnya saat beliau di undang untuk pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago oleh John Dewey. Di Chicago inilah Mead sebagai seseorang yang memiliki pemikiran yang original dan membuat catatan kontribusi kepada ilmu sosial dengan meluncurkan “the theoretical perspective” yang pada perkembangannya nanti menjadi cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”, dan sepanjang tahunnya, Mead dikenal sebagai ahli sosial psikologi untuk ilmu sosiologis. Mead menetap di Chicago selama 37 tahun, sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1931.

Semasa hidupnya Mead memainkan peranan penting dalam membangun perspektif dari Mazhab Chicago, dimana ia memfokuskan dalam memahami suatu interaksi perilaku sosial, maka aspek internal juga perlu untuk dikaji. Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (seperti kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol).

Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain.

Selain Mead, telah banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan teori interaksi simbolik dimana teori ini memberikan pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia, dan banyak memberikan kontribusi intelektual, diantaranya John Dewey, Robert E. Park, William James, Charles Horton Cooley, Ernest Burgess, James Mark Baldwin. Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi simbolik, dimana pada saat itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi dua Mazhab (School), dimana kedua mahzab tersebut berbeda dalam hal metodologi, yaitu (1) Mazhab Chicago (Chicago School) yang dipelopori oleh Herbert Blumer, dan (2) Mazhab Iowa (Iowa School) yang dipelopori oleh Manfred Kuhn dan Kimball Young.

Mazhab Chicago yang dipelopori oleh Herbert Blumer (pada tahun 1969 yang mencetuskan nama interaksi simbolik) dan mahasiswanya, Blumer melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Mead. Blumer melakukan pendekatan kualitatif, dimana meyakini bahwa studi tentang manusia tidak bisa disamakan dengan studi terhadap benda mati, dan para pemikir yang ada di dalam mazhab Chicago banyak melakukan pendekatan interpretif berdasarkan rintisan pikiran George Harbert Mead. Blumer beranggapan peneliti perlu meletakkan empatinya dengan pokok materi yang akan dikaji, berusaha memasuki pengalaman objek yang diteliti, dan berusaha untuk memahami nilai-nilai yang dimiliki dari tiap individu. Pendekatan ilmiah dari Mazhab Chicago menekankan pada riwayat hidup, studi kasus, buku harian (Diary), autobiografi, surat, interview tidak langsung, dan wawancara tidak terstruktur.

Mazhab Iowa dipelopori oleh Manford kuhn dan mahasiswanya (1950-1960an), dengan melakukan pendekatan kuantitatif, dimana kalangan ini banyak menganut tradisi epistemologi dan metodologi post-positivis. Kuhn yakin bahwa konsep interaksi simbolik dapat dioperasionalisasi, dikuantifikasi, dan diuji. Mahzab ini mengembangkan beberapa cara pandang yang baru mengenai “ konsep diri ”. Kuhn berusaha mempertahankan prinsip-prinsip dasar kaum interaksionis, dimana Kuhn mengambil dua langkah cara pandang baru yang tidak terdapat pada teori sebelumnya, yaitu: (1) memperjelas konsep diri menjadi bentuk yang lebih kongkrit; (2) untuk mewujudkan hal yang pertama maka beliau menggunakan riset kuantitatif, yang pada akhirnya mengarah pada analisis mikroskopis.

Kuhn merupakan orang yang bertanggung jawab atas teknik yang dikenal sebagai “ Tes sikap pribadi dengan dua puluh pertanyaan [the Twenty statement self-attitudes test (TST)]”. Tes tersebut digunakan untuk mengukur berbagai aspek pribadi. Pada tahap ini terlihat jelas perbedaan antara Mazhab Chicago dengan Mazhab Iowa, karena hasil kerja Kuhn dan teman-temannya menjadi sangat berbeda jauh dari aliran interaksionisme simbolik. Kelemahan metode Kuhn ini dianggap tidak memadai untuk menyelidiki tingkah laku berdasarkan proses, yang merupakan elemen penting dalam interaksi. Akibatnya, sekelompok pengikut Kuhn beralih dan membuat Mazhab Iowa “ baru”.

Mazhab Iowa baru dipelopori oleh Carl Couch, dimana pendekatan yang dilakukan mengenai suatu studi tentang interaksi struktur tingkah laku yang terkoordinir, dengan menggunakan sederetan peristiwa yang direkam dengan rekaman video (video tape). Inti dari Mazhab ini dalam melaksanakan penelitian, melihat bagaimana interaksi dimulai (openings) dan berakhir (closings), yang kemudian melihat bagaimana perbedaan diselesaikan, dan bagaimana konsekuens yang tidak terantisipasi yang telah menghambat pencapaian tujuan interaksi dapat dijelaskan. Prinsip-prinsip yang terisolasi ini, dapat menjadi dasar bagi sebuah teori interaksi simbolik yang terkekang di masa depan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAAT