Category Archives: Metodologi Penelitian

Metodologi Diklat KIR


metodologi-penelitian diklat KIR

Advertisements

PROBLEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


PROBLEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

(PTS)

By: Muhammad Fathurrohman

 Pendahuluan

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan sesuai dengan salah satu kompetensi yang harus dumiliki yaitu kompetensi penelitian (Permendiknas no 12 Th. 2007).

Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalahan tersebut menuntut jawaban dan solusi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah, mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.

Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.

Dalam makalah ini penulis akan paparkan definisi Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), ruang lingkup yang menjadi kajian dalam PTS, selanjutnya akan dibahas langkah-langkah dalam melakukan PTS, pembaca juga akan menemukan permasalah-permaslahan yang dialami pengawas dalam melakukan PTS, kemudian solusi yang ditawarkan oleh penulis terhadap permasalahan tersebut dan yang terahir penulis akan mencoba untuk membuat kesimpulan.

B.     Pengertian

Ketika guru berdiri di depan kelas melaksanakan tugasnya, ia banyak mendapat permasalahan yang medesak untuk dijawab, atau mendapat solusi yang langsung bisa mengobati masalah itu. Disinilah PTK/PTS diharapakan dapat meainkan peran. Adapun pengertian PTK, menurut Hopkins dalam Rochiati (2007), PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur yang dilakukan dalam tindakan subtantif, yaitu suatu tundakan yang dilakukan dalam disiplin inquiry, atau usaha seseorang dalam memahami permasalahan dan mencari solusinya sambila terlibat didalamnya. Sedangkan menurut Kemmis (1993) adalah sebuah bentuk pencarian solusi secara kemitraan terhadap situasi social tertentu termasuk masalah pendidikan. Penelitian Tindakan Kelas sebuah usaha guru dalam mengatasi masalah-masalah praktis pembelajaran guna memperbaiki proses belajar mengajar, serta melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Suharsimi (2002) menjelaskan PTK melalui gabungan definisi dari tiga kata yaitu “Penelitian” + “Tindakan“ + “Kelas”. Makna setiap kata tersebut adalah sebagai berikut.

     Penelitian; kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah.

     Tindakan; sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Tindakan yang dilaksanakan dalam PTK berbentuk suatu rangkaian siklus kegiatan.

     Kelas; sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan kelas saja, melainkan dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktikum di laboratorium, atau belajar tempat lain di bawah arahan guru.

Adapun definisi Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), adalah upaya pengawas atau kepala sekolah/madrasah dalam menyelesaikan permasalahan praktis kepengawasan melalui penelitian dengan menerapakan metode tertentu dalam rangka membantu guru dan atau kepala sekolah melaksanakan tugasnya.

C.     Pentingnya Tindakan Peneltian Sekolah

Saat ini, penelitian tindakan banyak dilakukan baik oleh  guru maupun  pengawas. Bila dilakukan guru umum disebut sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sedangkan bila dilakukan oleh pengawas sekolah, disebut sebagai Penelitian Tindakan Sekolah atau disingkat dengan sebutan PTS.

1.    Tujuan Penelitian Tindakan Sekolah

Tujuan utama Penelitian Tindakan Sekolah adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

Secara lebih rinci, tujuan Penelitian Tindakan Sekolah antara lain :

  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan, manajemen  dan pembelajaran, termasuk mutu guru, kepala sekolah, khususnya yang berkaitan dengan tugas profesional kepengawasan,  di sekolah-sekolah yang menjadi binaannya.
  2. Meningkatkan kemampuan dan  sikap profesional sebagai pengawas sekolah.
  3. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan

Ciri khusus dari Penelitian Tindakan Sekolah adalah adanya tindakan (acti-on) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan  untuk memecahkan permasalahan-permasalahan prak-tis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.

Selain itu, karena penelitian tindakan sekolah berkenaan dengan kegiatan nyata di sekolah-sekolah, maka perlu memperhatikan etika, antara lain:

  1. tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru, maupun kegiatan pendidikan yang berjalan di sekolah
  2. jangan terlalu menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dll).
  3. masalah yang dikaji  harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh pengawas sekolah.,
  4. dilaksanakan dengan  selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll).

 

2.    Langkah dalam Penelitian Tindakan Sekolah

PTS terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi.

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah, dimulai dengan siklus yang pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru bersama peneliti (dalam kasus ini bersama dengan pengawas sekolah) menentukan rancangan untuk siklus kedua.

Siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan siklus pertama, apabila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Namun biasanya pada siklus kedua terdapat berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.

Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka dapat dilanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu.

 

D.    Ruang Lingkup Masalah PTS

Tita Lestari (2009) menyatakan, melihat luasnya kajian di bidang pendidikan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian untuk pengembangan profesi pengawas sekolah, hendaknya difokuskan pada permasalahan yang dihadapi langsung secara nyata oleh pengawas dalam praktek tugas kepengawasan, yaitu tugas memantau, menilai, membina sekolah dan melaksa-nakan tindak lanjut.

Berikut, Tita memberikan beberapa contoh permasalahan yang dapat dikaji melalui PTS.

1. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

2. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam menyusun kurikulum muatan lokal yang penyusunannya melibatkan beberapa pihak terkait.

3. Bagaimana pemantauan terhadap sekolah dalam melaksanakan program pengembangan diri melalui kegiatan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler.

4. Bagaimana membina guru dalam merancang tugas mandiri tidak terstruktur untuk mencapai kompetensi tertentu

5. Bagaimana sekolah melalui MGMP dalam mengembangkan silabus secara mandiri atau cara lainnya berdasarkan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan penyusunan KTSP.

6. Bagaimana bentuk binaan terhadap hasil pelaksanaan pemantauan proses pembelajaran yang mencakup tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian hasil pembelajaran.

7. Bagaimana strategi supervisi proses pembelajaran melalui cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi.

8. Bagaimana model bimbingan terhadap guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran.

9. Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan manajerial kepala sekolah yang ditunjukkan dengan keberhasilan mengelola pendidik dan tenaga kependidikan dan siswa.

  1. Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sebagai sumber belajar siswa.
  2. Bagaimana teknik menilai sekolah dalam merumuskan dan menetapkan visi, misi dan tujuan  lembaga.
  3. Bagaimana teknik membimbing,  menyusun dan melaksanakan  rencana kerja jangka menengah (empat tahunan) dan rencana kerja tahunan.
  4. Bagaimana pendekatan yang dilakukan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran.
  5. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi diri untuk menyusun profil sekolah.
  6. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah untuk melaksanakan evaluasi kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.
  7.  Bagaimana arahan terhadap sekolah dalam melaksanakan sistem informasi manajemen untuk mendukung administrasi pendidikan.
  8. Bagaimana upaya mendorong sekolah untuk menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sistem pengelolaan pembelajaran.
  9. Bagaimana strategi melakukan evaluasi terhadap pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan pada sekolah-sekolah binaannya.
  10. Bagaimana pendekatan atau strategi untuk mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
  11. Bagaimana membimbing sekolah dalam menyusun pedoman pengelolaan keuangan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja (RAB).
  12. Bagaimana membimbing  sekolah dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran.
  13. Bagaimana upaya mendorong sekolah dalam menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, iptek, estetika, serta jasmani, olahraga, dan kesehatan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

 

Contoh  PTS  yang Terkait  dengan Tugas Pokok Pengawas

Dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009: 20), Tugas pokok pengawas sekolah/ madrasah mencakup enam dimensi utama, yakni mensupervisi (supervising), memberi nasehat (advising), memantau (monitoring), membuat laporan (reporting), mengkoordinir (coordinating), dan memimpin (performing leadership).

Keenam hal tersebut secara rinci disajikan dalam tabel berikut.

Dimensi Tugas Pengawas

Sasaran

Mensupervisi 1. Kinerja kepala sekolah

2. Kinerja guru

3. Kinerja staf sekolah

4. Pelaksanaan kurikulum/mata pelajaran

5. Pelaksanaan pembelajaran

6. Ketersediaan dan pemanfaatan seumberdaya

7. Manajemen sekolah, dll.,

Memberi Nasehat 1. Kepada guru,

2. Kepala sekolah

3. Tim kerja sekolah dan staf,

4. Komite sekolah, dan

5. Orang tua siswa

Memantau 1. Penjaminan/standar mutu pendidikan,

2. Proses dan hasil belajar peserta didik,

3. Pelaksanaan ujian,

4. Rapat guru dan staf

5. Hubungan sekolah dengan masyarakat,

6. Data statistik kemajuan sekolah

Membuat Laporan Perkembangan Kepengawasan 1. Kepada Dinas Pendidikan Kab./Kota

2. Dinas Pendidikan Provinsi

3. Depdiknas,

4. Publik

5. Sekolah Binaan

Mengkoordinir 1. Mengkoordinir sumber personal dan material

2. Kegiatan antarsekolah

3.Kegiatan pre/inservice training bagi guru dan Kepala Sekolah, dan pihak lain.

4. Pelaksanaan kegiatan inovasi sekolah

Memimpin 1. Pengembangan kualitas SDM di sekolah binaan

2. Pengembangan sekolah

3. Partisipasi dalam kegiatan manajerial di Dinas Pendidikan,

4. Berpartisipasi dalam perencanaan pendidikan di Kabupaten/Kota,

5. Berpartisipasi dalam seleksi calon kepala sekolah/ madrasah,

6. Berpartisipasi dalam merekrut personil proyek atau program-program khusus pengembangan mutu sekolah,

7. Pengelolaan konflik, dan

8. Berpartisipasi dalam menangani pengaduan

 

Pada kegiatan  pembinaan/supervisi, berikut disajikan contoh Penelitian Tindakan Sekolah  yang dapat dilakukan oleh pengawas sekolah.

Judul: Upaya peningkatan kemampuan guru matematika SMP dalam mengevaluasi hasil belajar siswa melalui lokakarya berkesinambungan, bagi guru-guru matematika SMP se wilayah X di Kabupaten Y tahun Z.

Suatu judul PTK, harus menuliskan (1) Masalah apa yang akan dipecahkan, (2) Melalui tindakan apa, dan (3) Siapa  yang akan ditingkatkan.

Pada contoh di atas, terlihat:.

Ü  Masalah: kemampuan guru-guru matematika dalam mengevaluasi hasil belajar siswa menunjukkan berbagai kelemahan dan perlu ditingkatkan.

Ü  Tindakan yang  dilakukan: Berdasar kajian awal diduga tindakan yang berupa lokakarya berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dapat menyelesaikan masalah.

Ü  Siapa yang akan ditingkatkan: guru-guru matematika SMP se wilayah X di Kabupaten Y tahun Z

Contoh lain tentang masalah dan tindakan yang dapat dilakukan melalui PTS  dapat dilihat melalui tabel berikut:

 

Apa yang akan ditingkatkan…. Tindakan yang akan dilakukan
  1. Guru dalam menyusun RPP
  2. Guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas/ laboratorium/ lapangan

Ü Menerapkan berbagai macam metode pembajaran

Ü Menerapkan berbagai teknik evaluasi proses dan hasll pembelajaran

  1. Guru dalam membuat, mengelola dan mengguna-kan media pendidikan dan pembelajaran
  2. Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
  3. Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian
  4. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas
Melalui berbagai kegiatan pembelajaran / pelatihan / diskusi / dll  yang dapat dilakukan bagi para guru, dalam waktu yang relatif terbatas

Ü Lokakarya

Ü Pelatihan

Ü Diskusi Kelompok Kecil

Ü Forum Diskusi

Ü Kerja kelompok

Ü dan lain-lain

 E.     Permasalahan Pelaksanaan PTS dan Solusinya.

Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk memaparkan beberapa temuan, atau keadaan permasalahan di kepengawasan Kab. Pasuruan yang berhubungan dengan kemampuan para pengawas dalam membantu madrasah dalam memecahkan permasalahan madrasah melalui Penelitian Tindakan Sekolah berdasarkan pada pengalaman penulis ketika menjadi pengawas dan ketikan melakukan Diklat PTS bagi pengawas antara lain:

  1. Kemampupada an menulis (writing skill) rendah, dengan kata lain, kemampuan mengungkapkan ide, pendapat atau gagasan dalam bentuk tulisan perlu mendapat perhatian tersendiri. Hal ini disebabkan ketikan mereka masih menjadi guru, kegiatan menulis karya tulis ilmiah sangat kurang. Kebiasaan menulis para pengawas ketika menjadi guru terbawa ketika mereka menjadi pengawas.

Solusinya.

Memang tidak mudah menyelesaikan maslah ini, kemampuan menulis seseorang memang berbeda, bukan berarti ia harus berhenti tidak menulis, akan tetapi terus dilatih, dimotivasi, diberi contoh, dan terus dibimbing, sehingga ia tidak putus asa. Pemberian contoh menuis cukup bagus, banyak orang tidak bisa menulis karena ia tidak tahu dari mana ia harus memulainya. Dengan adanya contoh tulisan ia bisa memulai untuk menuangan ide-idenya.

Peran motivasi, cukup besar dalam kesuksesan kegiatan seseorang termasuk menulis, baik motivasi intrinsic maupun ekstrinsik. Karena motivasi akan mempengaruhi daya juang, dan daya tahan seseorang dalam menghadapi tantangan.

Tujuan utama melakukan PTS adalah dalam rangka memecahkan masalah melalui kegiatan penelitian ilmiah. Oleh karena cara melakukannya harus menggunakan langkah-langkah ilmiah, agar apa yang menjadi temuannya menjadi temuan ilmiah. Dalam hal ini, perlu adanya pembimbing atau pendamping dalam melaksanakan kegiatan tersebut dari orang yang cukup pengalamannya, seprti dosen, atau nara sumber lain.

  1. Kemampuan teknis penelitian tindakan. Dalam melakukan Penelitian Tindakan Sekolah harus mengenali, memetakan permasalahan melalui pelaksanaan supservisi, data inilah yang tidak semua pengawas  mempunyai, atau melakukan pemetaan, sehingga akan jelas permasalahan mana yang memerlukan penelitian tindakan, dan mana yang memerlukan bentuk solusi yang lain.

Solusinya

Kegiatan PTS dilaksanakan karena memang ada masalah yang hanya bisa diselesaikan melalui kegiatan penelitian ini. Untuk memetakan masalah mana yang harus deselesaikan melalui kegiatan PTS dan mana yang mungkin bisa disesaikan dengan pendekatan lain, maka pengawas harus mempunyai data yang kongkrik hasil dari kegiatan supervisi pendidikan. Masalah yang diangkat dalam PTS harus masalah yang kongkrit yang dihadapi oleh guru atau kepala madrasah yang mendesak untuk dicarikan jalan keluar.

  1. Dalam melaksanakan  PTS, diperlukan Obat tau metode yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Tidak semua pengawas di Kabupaten Pasuruan mempunyai kompetensi tentang berbagai metode yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sekolah. Padahal kemampuan untuk menentukan metode yang tepat akan sangat menentukan hasil dari penelitian tersebut. Kalau metode tidak tepat maka hasilnya juga akan tidak tepat, yang pada ahirnya hasil penemuan tidak akan membantu guru dan kepala sekolah/madrasah menyelesaikan masalah.

Solusinya

Metode dalam menyelesaikan masalah penelitian dianggap sebagi obat atau terapi yang akan digunakan oleh dokter/tabib dalam mengatasi masalah atau menyelesaikan masalah. Memilih metode atau obat dalam menyelesaikan masalah penelitian akan sangat tergantung pada:

  1. Kemampuan, kompetensi serta wawasan pengawas sebagai peneliti akan sangat menentukan kreatifitas dalam mengimplementasikan sebuah metode atau pendekatan yang digunakan mengatasi atau mencari solusi dari permasalah guru dan kepala madrasah.
  2. Pengalaman, pengalaman seseorang dalam melakukan penelitian sangat membantu mereka dalam melaksanakan tugasnya, sekali seseorang melakukan penelitian tindakan sekolah, akan sangat mewarnai dalam kegiatan penelitian berikutnya, terutama dalam menyelsaikan permasalahan-permasalahan yang dihdapi ketikan melaksanakan penelitian.
  3. Ketrampilan, keberhasilan penelitian bukan berhenti setelah permasalahan penelitian terjawab melalui hasil penelitian, akan tetapi bagaimana peneliti itu mampu mengelaborasi temua-temuannya dalam bentuk laporan penelitian (tulis) maupun oral (lisan). Karena hasil penelitian akan memberi manfaat apabila hasil penelitian itu dibaca atau didengar oleh orang lain yang membutuhkan.
  4. Kedudukan referensi dalam sebuah penelitian adalah sangat penting, karena referensi merupakan pijakan dalam memilih obat, atau metode yang tepat, dalam memilih metode yang tepat peneliti harus mengetahui kandungan kegiatan yang bisa digunakan menyelesaikan masalah. Ia juga sebagai pisau analisis dalam menentukan trearment untuk mengatasi masalah penelitian.

Solusinya

Keterbatasan akan referensi dalam sebuah penelitian akan mencerminkan kemampuan akademik seorang peneliti. Semakin bagus referensi yang digunakan akan membantu  peneliti dalam menganalisis masalah. Untuk mengatasi keterbatasan referensi ini bisa diatasi dengan:

  1. Pengadaan melalui DIPA Kemenag, karena POKJAWAS tidak memiliki DIPA sendiri.
  2. Kerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat yang mempunyai perpustakaan lengkap yang bisa membantu pengawas untuk menulis PTS.
  3. Motivasi, motivasi pengawas dalam melakukan PTS bukan murni dalam rangka ingin membantu menyelesaikan masalah di madrasah/sekolah, akan tetapi lebih condong pada memenuhi kebutuhan kenaikan pangkat. Dengan demikian motivasi ini merupakan motivasi yang rendah tidak sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan PTS itu sendiri.

Solusinya

Motivasi adalah hal yang sangat personal, ia menyangkut masalah individu dalam memaknai kehidupannya termsuk tugas dalam pekerjaannya. Motivasi yang baik akan muncul ketika seseorang sangat menikmati perannya. Begitu juga para pengawas, ketika ia menikmati akan peran besar    yang ia tanggung, salah satunya adalah membantu guru dan kepala madrasah menyelesaikan permasalahnnya, maka melakukan PTS dalam rangka itu akan ia lakukan dengan baik, bukan hanya sekedar untuk memenuhi unsur-unsur yang harus ada dalam pengajuan penilaian angka kridit. Kalau motivasi melakukan PTS untuk pemenuhan unsur penilaian angka kiridit, maka kualitas dari PTS patut dipertanyakan, dan itu keluar dari tujuan utama melaksanakan PTS itu sendiri. Di sini peran Kepala Kemenag sebagai atasan langsung para pengawas untuk terus memotivasi merekan agar tugas-tugas yang ada pada pundaknya dapat dilaksanakan dengan baik.

 F.      Simpulan

Peneltian Tindakan Sekolah adalah sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru atau kepala madrasah. Melakukan PTS adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pengawas. Dalam melaksanakan tugas penelitian ini pengawas mengalami berbagai permasalahan di lapangan antara lain: kemampuan menulis (academic writing) pengawas, teknik penulisan karya tulis ilmiah termsuk, PTS, mencari metode atau model yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, jumlah referensi yang tersedia, serta motivsi dalam melakakukan penelilitian perlu mendapat perhatian khusus dari instansi Kementerian Agama. Dukungan Kemeterian Agama sangat diperlukan oleh pengawas baik itu dukungan moral maupun finansial, agar para pengawas dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

MEMAHAMI PENELITIAN TINDAKAN KELAS


MEMAHAMI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Latar Belakang Masalah

Penelitian tindakan berasal dari istilah bahasa action research. Penelitian ini merupakan perkembangan baru yang muncul pada tahun 1940-an sebagai salah satu model penelitian yang muncul ditempat kerja, tempat dimana peneliti melakukan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, kelas merupakan tempat penelitian bagi para guru, sekolah menjadi tempat peneliti dari para kepala sekolah. Penelitian ini juga dilakukan didesa tempat masyarakat beraktifitas, menjada tempat penelitian bagi para petugas penyuluhan masyarakat.

Ada beberapa keunggulan, ketika seseorang guru melakukan penelitian dengan menggukan metode tindakan antara lain, mereka tidak harus meninggalkan tempat kerjanya, mereka dapat merasakan hasil dari tindakan yang telah direncanakannya, bila perlakuan dilaksanakan pada responden maka responden dapat merasakan hasil perlakuan dari penelitian tindakan tersebut.

Penelitian tindakan merupakan suatu penyelidikan atau penelitian dalam konteks usaha yang berfokus pada peningkatan kualitas organisasi serta kinerjanya. Biasanya didisain serta dilakukan  oleh praktisi yang menganalisa data  untuk mengingkakan mutu praktek mereka. Penelitian tindakan dapat dilakukan dalam suatu tim atau oleh perorangan. Pendekatan penelitian dengan tim disebut sebagai Penelitian Kolaborativ. Penelitian tindakan memiliki potensi untuk menciptakan peningkatan yang relatif stabil disekolah. Hal ini memberikan kemungkinan baru kepada pendidik untuk melakukan refleksi terhadap cara mengajar mereka, mencari dan menguji ide, metoda, material baru, serta melihat seberapa efektifnya suatu pendekatan baru, berbagi upan balik dengan anggota tim lainnya, membuat keputusan mengenai pendekatan yang akan digunakan dalam satu tim mengenai evaluasi terhadap kurikulum, instruksi serta sistem evaluasi

B.     Pengertian Penelitian Tindakan (Action research)

Penelitian tindakan adalah suatu proses yang dilalui oleh perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan tersebut dan kemudian, setelah sampai pada tahap kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan, melaksanakan prosedur tersebut. Tujuan utama melakukan penelitian tindakan adalah untuk mengubah situasi, prilaku, organisasi dan termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja serta sarana dan prasarana.

Penelitian tindakan atau Action research merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian, dalam penelitian tindakan peneliti mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial pada waktu yang bersamaan dengan melakukan perubahan atau intervensi dengan tujuan perbaikan atau partisipasi. Action research dalam pandangan tradisional adalah suatu kerangka penelitian pemecahan masalah, dimana terjadi kolaborasi antara peneliti dengan client dalam mencapai tujuan.

Menurut Gunawan (2007), action research adalah kegiatan dan atau tindakan perbaikan sesuatu yang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya digarap secara sistematik dan sistematik sehingga validitas dan reliabilitasnya mencapai tingkatan riset. Action research juga merupakan proses yang mencakup siklus aksi, yang mendasarkan pada refleksi; umpan balik (feedback); bukti (evidence); dan evaluasi atas aksi sebelumnya dan situasi sekarang. Penelitian tindakan ditujukan untuk memberikan andil pada pemecahan masalah praktis dalam situasi problematik yang mendesak dan pada pencapaian tujuan ilmu sosial melalui kolaborasi patungan dalam rangka kerja etis yang saling berterima (Rapoport, 1970 disitasi Madya,2006). Proses penelitian bersifat dari waktu ke waktu, antara “finding” pada saat penelitian, dan “action learning”. Dengan demikian action research menghubungkan antara teori dengan praktek.

Dengan kata lain, penelitian tindakan adalah cara suatu kelompok atau seseorang dalam mengorganisasi suatu kondisisehingga mereka dapat mempelajari pengalaman mereka dan membuat pengalaman mereka dapat diakses oleh orang lain. Dalam kenyataanya, penelitian tindakan dapat dilakukan baik secara graup maupun individual dengan haraan pengalaman mereka dapat ditiru atau diakses untuk memperbaiki kualitas kerja orang lain.

C.    Karakteristik Penelitian Tindakan (Action Research)

Penelitian tindakan mempunyai beberapa karakteristik yang sedikit berbeda bila dibandingkan dengan penelitian formal lainya. Beberapa karakteristik penting tersebut diantaranya :

  1. Problem yang dipecahkan merupakan persoalan praktis yang dihadapai peneliti.dalam kehidupan profesi sehari-hari.
  2. Peneliti memberikan perlakuan yang berupa tindakan yang terencana untuk memecahkan permasalahan dan sekaligus meningkatkan kualitas yang dapat dirasakan implikasinya oleh subjek yang diteliti.
  3. Langkah-langkah penelitian yang direncanakan selalu dalam bentuk siklus tingkatan yang memungkinkan terjadinya kerja kelompok maupun kerja mandiri secara intensif.
  4. Adanya langkah berfikir reflektif atau reflective thinking dari peneliti baik sesudah maupun sebelum tindakan. reflective thinking ini penting untuk melakukan retrospeksi terhadap tindakan yang telah diberikan dan implikasinya yang muncul pada subjek yang diteliti sebagai akibat adanya penelitian tindakan.

D.    Tujuan Penelitan Tindakan (Action Research)

Tujuan dari penelitian tindakan ini antara lain :

  1. Sebagai alat untuk memperbaiki masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi khusus, atau untuk memperbaiki beberapa hal dalam lingkungan sekitar;
  2. Sebagai alat training in-service, yang dapat memperlengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analitisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya;
  3. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap sistem pembelajaran yang berkelanjutan yang biasanya menghambat inovasi dan perubahan;
  4. Sebagai alat untuk memperbaiki komunikasi yang buruk antara guru dan peneliti akademis, dan memperbaiki kegagalan penelitian tradisional untuk memberikan persepsi yang jelas;
  5. Meskipun kurang memiliki penelitian ilmiah sebenarnya; namun ini dapat menjadi alat untuk memberikan alternatif yang bagus bagi pendekatan yang lebih subyektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah di ruang kelas.

Menurut Sukardi, secara umum penelitian tindakan mempunyai tujuan sebagai berikut :

  1. Merupakan salah satu cara strategis guna memperbaiki layanan maupun hasil kerja dalam suatu lembaga.
  2. Mengembangkan rencana tindakan guna meningkatkan apa yang telah dilakukan sekarang.
  3. Mewujutkan proses penelitian yang mempunyai manfaat ganda baik bagi peneliti yang dalam hal ini mereka memperoleh informasi yang berkaitan dengan permasalahan, maupun pihak subjek yang diteliti dalam mendapatkan manfaat langsung dari adanya tindakan nyata.
  4. Tercapainya kontek pembelajaran dari pihak yang terlibat, yaitu peneliti dan para subjek yang diteliti.
  5. Timbulnya budaya meneliti yang terkait dengan prinsip sambil bekerja dapat melakukan penelitian dibidang yang ditekuninya.
  6. Timbulnya kesadaran pada subjek yang diteliti sebagai akibat adanya tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas.
  7. Diperolehnya pengalaman nyata yang berkaitan erat dengan usaha peningkatan kualitas secara professional maupun akademik.

E.     Langkah-langkah dalam Penelitian Tindakan (Action Research)

Penelitian tindakan secara garis besar, peneliti pada umumnya mengenal adanya empat langkah penting, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara intensif dan sistematis atas seseorang yang mengerjakan pekerjaan sehari-harinya. Keempat langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Perencanaan

Rencana merupakan serangkaian tindakan terencana untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Dalam penelitian tindakan, rencana tindakan harus berorientasi kedepan. Disamping itu perencana harus menyadari sejak awal bahwa tindakan social pada kondisi tertentu tidak dapat diprediksi dan mempunyai resiko. Oleh karena itu perencanaan yang dikembangkan harus fleksibel untuk mengadopsi pengaruh yang tidak dapat dilihat dan rintangan yang tersebunyi. Perencanaan dalam penelitian tindakan sebaiknya lebih menekankan pada sifat-sifat strategis yang mampu menjawab tantangan yang muncul dalam perubahan social dan mengenal rintangan yang sebenarnya.

Tindakan

Langkah kedua yang perlu diperhatikan adalah langkah tindakan yang terkontrol secara seksama. Tindakan dalam penelitian tindakan harus hati-hati dan merupakan kegiatan praktis yang terencana. Ini dapat terjadi jika tindakan tersebut dibantu dan mengacu pada rencana yang rasional dan terukur.

Observasi

Observasi pada penelitian tindakan mempunyai fungsi mendokumentasi implikasi tindakan yang diberikan kepada subjek. Oleh karena itu, observasi harus mempunyai beberapa macam unggulan sepert : memiliki orientasi prospektif, memiliki dasar-dasar reflektif waktu sekarang dan masa yang akan datang. Observasi yang hati-hati dalam hal ini sangat diperlukan untuk mengatasi keterbatasan tindakan yang diambil peneliti, yang disebabkan oleh adanya keterbatasan menembus rintangan yang ada dilapangan. Seperti dalam perencanaan, observasi yang baik adalah observasi yang fleksibel dan terbuka untuk dapat mencatat gejala yang muncul baik yang diharapkan atau yang tidak diharapkan.

Refleksi

Langkah keempat adalah langkah reflektif. Langkah ini merupakan sarana untuk melakukan pengkajian kembali tindakan yang telah dilakukan terhadap subjek penelitian dan telah dicatat dalam observasi. Langkah reflektif ini berusaha mencari alur pemikiran yang logis dalam kerangka kerja proses, problem, isu, dan hambatan yang muncul dalam perencanaan tindakan strategic. Langkah reflektif ini juga dapat digunakan untuk menjawab variasi situasi social dan isu sekitar yang muncul sebagai konsekuensi adanya tindakan terencana.

Langkah reflektif ini dalam praktis biasanya direalisasi melalui diskusi sesama partisipan, seminar antara partisipan maupun antara para peneliti dengan partisipan. Hasil reflektif ini penting untuk melakukan tiga kemungkinan yang terjadi terhadap perencanaan semula terhadap suatu subjek penelitian, yaitu diberhentikan, modifikasi atau dilanjukan ketingkatan selanjutnya. Disamping itu langkah reflektif juga berguna untuk melakukan peninjauan, membuat gambaran kerja yang hidup dalam situasi proses penelitian, hambatan yang muncul dalam tindakan dan kemungkian lain yang muncul selama proses penelitian.

Davison, Martinsons & Kock (2004), membagi Action research dalam 5 tahapan yang merupakan siklus, yaitu :

Melakukan diagnosa (diagnosing)

Melakukan identifikasi masalah-masalah pokok yang ada guna menjadi dasar kelompok atau organisasi sehingga terjadi perubahan, untuk pengembangan situs web pada tahap ini peneliti mengidentifikasi kebutuhan stakeholder akan situs web, ditempuh dengan cara mengadakan wawancara mendalam kepada stakeholder yang terkait langsung maupun yang tidak terkait langsung dengan pengembanga situs web.

Membuat rencana tindakan (action planning)

Peneliti dan partisipan bersama-sama memahami pokok masalah yang ada kemudian dilanjutkan dengan menyusun rencana tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada, pada tahap ini pengembangan situs web memasuki tahapan desain situs web. Dengan memperhatikan kebutuhan stakeholder terhadap situs web penelitian bersama partisipan memulai membuat sketsa awal dan menentukan isi yang akan ditampilkan nantinya.

Melakukan tindakan (action taking)

Peneliti dan partisipan bersama-sama mengimplementasikan rencana tindakan dengan harapan dapat menyelesaikan masalah. Selanjutnya setelah model dibuat berdasarkan sketsa dan menyesuaikan isi yang akan ditampilkan berdasarkan kebutuhan stakeholder dilanjutkan dengan mengadakan ujicoba awal secara offline kemudian melanjutkan dengan sewa ruang di internet dengan tujuan situs web dapat ditampilkan secara online

Melakukan evaluasi (evaluating)

Setelah masa implementasi (action taking) dianggap cukup kemudian peneliti bersama partisipan melaksanakan evaluasi hasil dari implementasi tadi, dalam tahap ini dilihat bagaimana penerimaan pegguna terhadap situs web yang ditandai dengan berbagai aktivitas-aktivitas.

Pembelajaran (learning)

Tahap ini merupakan bagian akhir siklus yang telah dilalui dengan melaksanakan review tahap-pertahap yang telah berakhir kemudian penelitian ini dapat berakhir. Seluruh kriteria dalam prinsip pembelajaran harus dipelajari, perubahan dalam situasi organisasi dievaluasi oleh peneliti dan dikomunikasikan kepada klien, peneliti dan klien merefleksikan terhadap hasil proyek, yang nampak akan dilaporkan secara lengkap dan hasilnya secara eksplisit dipertimbangkan dalam hal implikasinya terhadap penerapan Canonical Action Reaserch (CAR). Untuk hal tertentu, hasilnya dipertimbangkan dalam hal implikasinya untuk tindakan berikutnya dalam situasi organisasi lebih-lebih kesulitan yang dapat dikaitkan dengan pengimplementasian perubahan proses.

Hasilnya juga dipertimbangkan untuk tindakan ke depan yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan domain penelitian, terutama akibat kegiatan yang terjadi diluar rencana awal (atau kelambanan) dan cara di mana peneliti dapat kurang hati-hati melakukan penyelesaian kegiatan dan dalam hal implikasi untuk komunitas penelitian secara umum dengan mengidentifikasi keuntungan penelitian di masa datang. Di sini, nilai action research akan terangkat (bahkan sebuah proyek yang gagal dapat tetap menghasilkan pengetahuan yang bernilai), dan juga merupakan kekuatan status quo dalam lingkungan (organisasi) sosial untuk mencegah perubahan dari proses yang telah berlalu.

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat dengan jelas bahwa penelitian tindakan berurusan langsung dengan praktik di lapangan dalam situasi alami. Penelitiannya adalah pelaku praktik itu sendiri dan pengguna langsung hasil penelitiannya dengan lingkup ajang penelitian sangat terbatas. Yang menonjol adalah penelitian tindakan ditujukan untuk melakukan perubahan pada semua diri pesertanya dan perubahan situasi tempat penelitian dilakukan guna mencapai perbaikan praktik secara inkremental dan berkelanjutan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT